
Happy reading ....
Saat malam tiba, hanya mama dan Riky yang menemani Alena di ruangannya. Satu jam yang lalu, Alena sudah merengek minta pulang. Istri Riky itu tidak betah berlama-lama di rumah sakit.
Keinginan Alena didukung oleh ibu mertuanya. Pasalnya, Widiya merasa kurang bebas bila di rumah sakit dan ingin segera membawa cucunya ke rumah mereka.
"Kak Lena, selamat menjadi seorang ibu!" Seruan Ajeng menggema di ruangan itu.
"Terima kasih. Kapan ke sini, Jeng?"
"Kapan ya? Sepertinya belum bisa dalam minggu ini deh, Kak. Maaf ya, kan baru kemarin Ajeng lama di sana. Banyak tugas ...."
"Iya, nggak apa. Tadinya kalau kamu mau ke sini biar sekalian sama Kak Laura dan yang lainnya."
"Pengen sih. Tapi gimana, malam ini juga sepertinya Ajeng lembur."
"Jangan terlalu malam tidurnya. Jaga kesehatan," ujar Mama Widiya.
"Dengar tuh," ucap Alena.
"Siap, Tante."
"Kapan mau ngasih Tante cucu, Jeng?"
"Hahaha, kapan-kapan deh. Ajeng pesankan dulu ya." Kelakarnya.
"Ya sudah sana, kerjakan tugasnya. Jangan telponan sama Kak Andri terus."
"Nggak kok."
"Nggak salah," timpal Mama Widiya. Lagi-lagi terdengar gelak tawa Ajeng.
"Udah dulu ya, bye Baby! Bye Mami Baby! Bye Oma Baby! Papi Baby-nya mana?"
"Lagi keluar sebentar. Ya sudah, Bye." Panggilan pun ditutup. Alena tersenyum melihat Mama Widiya yang seakan tak bosan-bosan memandangi wajah putrinya.
"Hidungnya mirip kamu, alisnya mirip Riky, bentuk wajahnya juga mirip kamu, untung rambutnya nggak mirip kamu, Len." Ujarnya pelan.
"Memangnya rambut Lena kenapa, Ma?" tanya Alena sambil memegangi rambutnya yang diikat.
"Ya gitu deh," sahut Mama sambil tersenyum.
"Dia pasti cantik seperti maminya," tambahnya lagi.
"Kata dokter boleh nggak Ma pulang besok?"
"Boleh, mungkin siang."
"Queen bersaudara kapan ke sini?"
"Besok sore. Cukup nggak kalau semua menginap di rumah?"
"Siapa aja memangnya? Sama Jeng Nura sama Jeng Resty juga?" Alena mengangguk.
"Tapi sepertinya keluarga Kak Maliek sama Kak Amira nginap di hotel deh."
"Berarti cukup. Mama pulang besok pagi nggak apa-apa kan? Mau nyuruh pelayan bersihin kamar, belanja untuk makan malam."
"Boleh, Ma. Jangan khawatir, ada Kak Riky."
"Oke. Oma besok pulang dulu ya, Sayang. Mau nyiapin untuk menyambut Kakak Queen, Kakak Zein, Amar, Raya, Arka, siapa lagi ya? Oh iya, Kakak Fatum, Kakak Nara juga. Waah, Mima-nya Oma paling bontot, paling imut." Celotehnya.
__ADS_1
Mama tersenyum sambil menghela nafasnya.
"Mama seneng deh, Len. Punya keluarga besar seperti ini. Dari dulu, di keluarga mama, setelah Hesty meninggal ya cuma ada Ajeng. Dari keluarga Papa, juga cuma ada Salma. Itupun sangat jarang ketemu."
"Siapa Ma, jarang ketemu?" tanya Riky yang baru masuk sambil menjinjing plastik makanan yang dipesan istrinya.
"Tantemu, Salma. Sejak suaminya meninggal dalam tugas, dia mengabdikan diri di daerah pedalaman. Kasihan, anak juga belum punya."
"Katanya mau pulang?"
"Iya, tapi nggak tahu kapan. Padahal kalau dia ada di sini, mau mama suruh nemenin Ajeng di rumah kita. Udah nggak usah pergi-pergi jauh lagi. Jadi susah kalau mau ketemu."
"Lena baru dengar. Adik papa?"
"Iya. Tapi udah lama nggak ketemu. Ada mungkin lima apa enam tahun ya, Rik." Riky mengangguk pelan.
"Usianya?"
"Lumayan beda jauh dari papa. Salma itu jiwa sosialnya tinggi. Jadi ya gitu, dia suka membantu, mengedukasi warga di pedesaan."
"Guru?"
"Dokter. Hanya saja izin prakteknya sudah dicabut. Tapi tetap jadi rujukan warga di sana. Mudah-mudahan besok atau lusa dia datang. Papamu tadi nelpon, cerita udah punya cucu. Dia seneng banget, bilangnya ingin lihat Mima. Semoga saja, kelahiran cucu Oma ini bisa membuat Oma Salma pulang ya."
"Aamiin."
***
Senja mulai menyapa saat pesawat milik keluarga Al-Azmi itu mendarat di bandara komersial kota D. Keluarga besar Alvin itu satu persatu menuruni tangga pesawat termasuk juga anak-anak yang terlihat bahagia.
Sudah ada Riky, Andri, supir keluarga Riky, juga supir perusahaan Bramasta Corp. yang sengaja diminta oleh Malik. Juga satu mobil sengaja disediakan untuk membawa hadiah-hadiah yang mereka bawa.
"Selamat, Bro. Jadi bapak juga ya," ujar Alvin yang bersalaman ala mereka, lalu berpelukan.
"Terima kasih, Om."
"Jiaahaha, baru satu Rik. Nambah lagi," kelakar Rafael.
"Siap." Mereka pun bersalaman dan berpelukan."
"Liek."
"Selamat ya."
"Thanks." Hal yang sama juga dilakukan bersama Maliek. Mereka pun bergantian memberi selamat.
"Pak Aldo, lama nggak ketemu. Saya sudah punya buntut, Pak Aldo kapan nyusul?"
"Kapan ya? Hahaa coba lihat buntutnya, panjang nggak?" canda Aldo. Riky dan Rafael tergelak begitu juga dengan Evan.
Rombongan keluarga itu cukup menarik perhatian orang-orang yang ada di bandara. Gaya mereka yang memang berkelas dengan wajah-wajah yang rupawan mengundang decak kagum yang melihatnya.
"Uncle, Baby-nya lucu nggak?" tanya Fatima yang berjalan sambil menggenggam tangan Riky.
"Lucu dong," sahut Riky bangga.
"Lucuan juga Baby," sahut Zein.
"Iya deh. Buat Kakak Zein, Baby Fatum paling lucu. Mau Uncle gendong?" Tawarnya.
"Nggak ah. Aku kan udah gede," sahut Fatima.
__ADS_1
"Dengar tuh, Mey. Fatum udah gede katanya, buatin lagi adik. Biar nggak dipanggil Baby terus sama Zein." Kelakarnya, dibalas delikan oleh Meydina.
Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, mereka pun tiba di kediaman Salim. Satu persatu mobil menepi di depan rumah, juga ditepi jalan. Salim dan Widiya langsung menghampiri untuk menyambut tamu mereka.
"Jeng Resty! Jeng Nura! Apa kabar?"
"Baik, Jeng Widi. Selamat ya, jadi Oma juga."
"Iya dong, sekarang saya, Oma."
Mereka saling menyapa, dan memberi selamat. Setelah menyapa para bapak, Salim menyapa anak-anak dengan riangnya.
"Opa. Paijo di bawa ke sini nggak?" tanya Amar.
"Ada di belakang. Mau lihat?" Tidak hanya Amar, Arka, Nara dan Raya juga mengangguk senang.
"Tapi sudah gelap. Besok lagi ya," sesal Salim. Anak-anak tadi terlihat kecewa.
"Arka boleh ngasih makan?"
"Boleh."
"Asik."
"Nara juga ya, Opa."
"Tentu."
"Asik." Nara bertepuk tangan karena senang.
Salim mengajak anak-anak masuk ke rumah. Queen yang bergandengan dengan Fatima mendahului dan langsung diarahkan oleh Widiya menuju kamar Baby Mima.
"Auntie!" pekik anak-anak itu. Hampir saja membuat Mima terbangun dari tidurnya.
"Hai, Sayang-sayangku. Sini-sini peluk Auntie."
"Sayang."
"Papa!" Alena langsung memeluk Papa Evan yang menghampirinya. Berkali-kali Evan mengecuk pucuk kepala putrinya.
Para pria kecuali Evan dan Alvin, menunggu di ruang tamu. Sementara para wanita berjalan menuju kamar Baby Mima.
"Kak Mey, Kak Laura! Aah Kak Ami, Kak Alya! Tante ...." Alena sampai berkaca-kaca melihat semua keluarganya berkumpul di sana. Mereka terlihat gemas saat melihat Baby Mima yang terlelap.
Amar, Arka dan si kembar keluar dari kamar. Mereka berlarian ke teras belakang karena ingin melihat Paijo. Walau tidak bisa mendekatinya karena hari sudah gelap dan kandangnya juga ditutup tirai agar tidak kedinginan.
Sementara itu Queen dan Fatum bergabung dengan para ibu di kamar itu.
"Fatum, Baby-nya lucu ya," ujar Queen dan diangguki cepat oleh Fatima.
Tak lama Zein masuk ke kamar. Dengan gayanya yang cool, putra sulung Meydina itu menjawab sapaan heboh Alena seperlunya.
"Kak, lihat deh baby-nya Auntie lucu loh," ujar Alena.
"Lucuan juga Baby," sahut Zein sambil mendekati ranjang bayi.
"Eeh lihat dulu, Kak. Lucu, ngegemesin," ujar Oma Resty.
Zein menatap dengan seksama pada bayi itu. Keningnya berkerut, dengan alis yang tertaut.
***
__ADS_1
Kira-kira Zein akan bilang apa ya?🤔😁😁