My Love My Bride

My Love My Bride
Uncle bohong!


__ADS_3

Happy reading ....


Pukul sembilan malam, beberapa orang mulai terlihat di pintu kedatangan bandara. Rafael yang sedari tadi menunggu Riky tersenyum lebar melihat sahabatnya itu menyapa dari kejauhan.


Malam ini mereka berencana akan berkumpul di club yang biasa disambangi. Namun sebelum itu, Rafael akan mengantar Riky yang datang bersama Ajeng ke rumah keluarga Salim.


"Thanks, Bro. Lagi nggak sibuk kan?" tanya Riky.


"Santai aja."


"Gimana kabar twins?"


"Baik. Baby gimana?" Rafael balik bertanya dan dijawab acungan jempol oleh Riky. Mereka bertiga mulai menuju tempat parkir.


"Kok nggak dibawa? Lo lupa ya pernah janji sama anaknya Maliek."


"Fatum maksud Lo?" Rafael mengangguk.


"Gue cuma sehari, Raf. Besok malam juga balik lagi. Mungkin minggu depan keluarga gue semuanya ke sini."


"Oh ya?"


"Hmm, Tante Salma mau tinggal di sini sama Ajeng."


"Bagus dong." Rafael menoleh ke kursi belakang dan mendapat senyuman dari sepupu Riky tersebut.


Sepanjang perjalanan, dua sahabat itu membicarakan banyak hal. Termasuk kabar kehamilan Laura yang membuat sahabat mereka - Alvin sangat bahagia. Sementara Ajeng, senyum-senyum sendiri sambil berbalas pesan dengan Andri.


***


Pagi harinya, Fatum berlari ke arah pintu saat mendengar suara Riky sedang mengobrol dengan Papinya di teras. Putri Maliek itu terlihat kecewa mengetahui Riky datang seorang diri.


"Uncle bohong! Kenapa nggak sama baby?" Ujarnya lantang.


Riky dan Maliek saling menatap, Riky menggaruk tengkuknya merasa bingung harus menjawab apa.


"Maaf, Sayang, auntie sama Baby minggu depan mau ke sini. Sama Oma juga. Kalau sekarang, Uncle cuma satu hari. Nanti malam juga pulang lagi."


"Bohong!" pekik Fatima sambil berlalu ke dalam rumah.


"Kenapa, Sayang? Kok cemberut?"


"Aku marah sama Uncle." Deliknya sambil mengenakan sepatu.


Meydina menoleh pada Riky yang mendekati sambil nyengir.


"Oh, karena Baby Mima nggak dibawa ya? Kata Auntie, minggu depan ke sini sayang."


"Uncle bohong, Auntie juga." Gerutunya.


"Hai, Uncle! Baby apa kabar?" sapa Zein yang menuruni tangga.


"Hai, Kak. Baik, minggu depan ke sini," sahut Riky sambil melirik pada Fatima yang masih kesal padanya.


"Oh ya?" Zein berlalu untuk meminum susu UHTnya.


"Jangan percaya, Kak. Uncle bohong," ujar Fatima penuh menekanan.


"Rasain tuh. Dimarahin anak gue," kekeh Maliek sambil berlalu ke sofa.

__ADS_1


"Ish, Lo. Bukannya nolongin," ujar Riky pelan.


"Kalau Baby ke sini, kita menginap di rumah Queen yuk!" ajak Zein pada Fatima.


"Beneran, Kak? Boleh, Mi?" tanya Fatima antusias.


"Boleh nggak ya?"


"Boleeh, Mi ...." Rengeknya.


"Iya, boleh. Tapi jangan marah sama uncle ya."


"Enggak. Aku nggak marah kok. Tapi aku nggak mau bicara sama Uncle sampai Baby beneran datang ke sini," delik Fatima.


"He-em, setuju. Uncle udah bohong sama Baby," delik Zein.


"Loh, kok kakak jadi ikut-ikutan?" kening Riky berkerut.


"Biarin. Uncle memang salah kok."


"Uncle! Kapan datang?" sapa Amar yang tergesa-gesa menuruni tangga.


"Tadi malam," sahut Riky dengan tersenyum lebar. Riky dan Amar akan bertos-ria namun urung karena Zein menarik lengan adiknya tersebut.


"Nggak usah, Amar. Uncle udah bohongin Baby."


"Bohong apa, Kak?" Amar melambaikan tangannya pada Riky.


"Sstt, kita harus solider sama baby. Nanti dia nangis, ayo aja lah," ujar Zein pelan.


"Oh, oke."


"Bye, Mami! Bye, Papi!" seru ketiganya.


"Uncle, enggak!" seru Fatima karena melihat Riky yang juga melambaikan tangan akan mengucapkan sesuatu.


"O-oke, nggak apa-apa. Bye ...." Riky menatap nanar langkah anak-anak yang menuju ke luar.


"Maaf ya, Pak Riky," ujar Meydina yang menyusul anak-anak sambil mengulumkan senyumnya.


"Santai aja, Mey."


Riky menghampiri Maliek yang masih terkekeh karena ulah putrinya. Riky mendelik melihat Maliek yang seakan sedang menertawakannya.


"Fatum serem juga. Gue kira dia bakalan anggun seperti Queen. Eh, ternyata galak mirip Meydina." Dengusnya pelan.


"Mey nggak galak, Rik. Dia itu tegas. Lo tahu, diantara anak-anak gue, Fatum yang dominan mirip mendiang Ayah Salman. Bossy-nya itu loh, hehe Ayah banget."


"Bener. Belum lagi kalau dia udah bilang 'aku', kesannya dia banget gitu ya?" Maliek mengangguk masih dengan kekehan kecilnya.


Sementara itu di kediaman Salim, seperti biasa Salim selalu memulai hari dengan menyapa burung kesayangannya, Paijo. Kali ini, Paijo tidak sendiri, ada Mima yang berceloteh riang bersamanya.


"Uluuu, cucu Oma. Lagi apa, Cantik? Ngobrol sama Paijo?" tanya Salma lembut pada Mima yang berada pada bouncer-nya. Senyum lebar Mima terlihat sangat menggemaskan.


"Salma, semalam Pak Aldo menelepon."


"Aldo? Ada perlu apa dia menelepon kakak?"


"Melamar kamu," sahut Salim santai.

__ADS_1


"Apa, melamar?"


"Iya. Memangnya apalagi? Aku ini bukan pengusaha, Pak Aldo tidak akan membicarakan bisnis denganku. Karena aku ini walimu, ya dia meminta izin menikahimu padaku."


"Menikah?" Salma terlihat bingung sekaligus terkejut. Ia sempat berpikir Aldo hanya bercanda tentang ungkapannya malam kemarin.


"Ciee, yang bakal jadi Nyonya Aldo. Cuit-cuiit. Ayo, Jo! Biasanya kamu heboh," ujar Alena dengan raut wajah menggoda. Paijo menanggapi ucapan Alena dengan bunyi siulan dan membuat Salim senang mendengarnya.


"Terima aja, Tante. Pak Aldo orangnya baik. Nggak akan berani macam-macam, percaya deh."


"Lalu, Kakak jawab apa?"


"Ya setuju, apalagi?"


"Yee! Selamat, Tante."


"Bagaimana kalau acara lamaran kita adakan minggu depan? Di rumah kita di sana," usul Widiya sambil meletakkan camilan di atas meja.


"Setuju. Iya kan, Pa?"


"Boleh," angguk Salim.


"Tante, sekali lagi selamat ya."


"Sepertinya dalam waktu dekat ini, kita akan menikahkan dua orang."


"Dua orang? Maksud mama, Ajeng juga?"


"Iya. Besok, mamanya Andri mau berkunjung ke rumah kita. Mama yakin, beliau akan membicarakan lamaran, atau mungkin pernikahan. Kemarin kan Ajeng dari sana, dan katanya respon mereka baik."


"Asik, mau pesan baju ah sama Kak Ami. Biar couple-an sama Mima juga. Iya kan, Sayang?"


"Kamu gitu deh, Mama juga kan mau."


"Oke, kalau begitu kita pesan buat satu keluarga. Sarimbit ya, Ma?"


"Sip. Minggu depan kita ke butik Amiera. Mudah-mudahan secepatnya ya," ujar Widiya senang dengan raut wajah menggoda pada adij iparnya.


Alena pamit ke kamar membawa Mima yang ingin menyusu. Sementara Widiya ke dapur untuk melihat bahan makanan apa yang akan dibuat untuk makan siang nanti.


"Jangan salah paham, Salma."


Salma menoleh pada Salim yang juga menoleh padanya.


"Kami senang karena akhirnya kamu akan berkumpul bersama kami. Walau tidak satu atap, setidaknya kita bisa bertemu kapan saja. Sama sekali tidak ada maksud memaksa. Kalau kamu keberatan, kamu bisa menolaknya."


"Salma tidak berpikir seperti itu, Kak. Sejujurnya, Salma tidak tahu bagaimana perasaan Salma terhadap Aldo. Sejak melihat Mima, ada perasaan ingin tinggal di sini selamanya. Menikmati kebersamaan dengan kalian. Ikut membesarkan Mima dan juga anak-anak Riky dan Ajeng nantinya."


"Bukan saja anak mereka, tapi juga anak kamu."


"Salma sudah tua, Kak. Masa iya punya bayi," tutur Salma tersenyum geli.


"Kenapa tidak? Pak Aldo masih perkasa, apalagi dia menabung tenaga untuk malam pertama," goda Salim.


"Kakak bicara apa sih?" Salma memalingkan wajahnya yang merona.


"Jadi gimana, setuju?"


Salma tersipu malu tanpa menjawab sepatah katapun juga.

__ADS_1


"Diamnya kamu, kakak anggap setuju. Hmm?"


Salma tersenyum lebar melihat sorot mata kakaknya yang masih saja menggoda. Sudah lama mereka tidak seperti ini. Ya, sudah sangat lama. Hubungan adik-kakak yang pernah terpisah jarak, nyatanya kini kembali akrab.


__ADS_2