
Happy reading...
Dalam keterpakuannya menatap bangunan itu, ada perasaan yang tak menentu. Bangunan yang berdiri kokoh itu seakan ingin menaungi hati-hati para penghuninya yang kebanyakan merasa rapuh.
Betapa tidak, mereka yang ada di sana adalah para pasien dengan penyakit yang mematikan. Dan saat ini, Ajeng tengah terpaku menatap nanar nama tempat tersebut. Tempat yang selama ini menjadi persembunyian Hesty, mamanya.
Ingin rasanya ia berlari ke dalam agar segera bertemu orang yang dirindukannya. Namun entah mengapa tubuhnya justru terpaku di sana. Hingga akhirnya, suara Widiya menyadarkan ketertegunannya.
"Ayo, Jeng. Mamamu pasti senang melihat kamu datang," ajak Widiya menggandeng tangan Ajeng.
Wanita paruh baya itu tahu benar bagaimana perasaan keponakannya. Di sisi lain, Salim mengusap lembut pucuk kepala Ajeng lalu menggenggam tangannya. Pria itu seolah ingin menguatkan Ajeng. Sentuhannya mewakili kata yang tak terucap, yakni ingin memberitahukan bahwa Ajeng tidaklah sendirian.
"Tan, apa mama tahu Ajeng akan datang?" tanya Ajeng dengan suara tertahan.
"Tidak. Hesty hanya tahu, Tante dan Om yang datang." Sahutnya pelan.
Ajeng terdiam, tak tahu harus bertanya apa lagi.
Di sisi lain tempat itu, Hesty baru selesai dengan sarapannya. Pagi ini raut wajahnya terlihat lebih cerah dari biasanya. Membuat perawat yang bersamanya merasa lega.
"Hari ini ibu terlihat senang, apa ada yang akan datang menjenguk?"
"Iya, Sus. Kakak saya," sahut Hesty dengan senyum terukir di wajahnya yang pucat.
"Saya kira putri ibu yang cantik itu."
"Bukan." Sahutnya pelan dan tertunduk sangat dalam.
Hesty terhenyak mendengar suara pintu yang diketuk. Ia menatap perawat itu yang memberinya anggukan pelan.
"Silahkan masuk," ucap perawat itu.
Hesty tersenyum lebar melihat wajah Widiya menyembul dari pintu. Kakaknya itu berjalan dengan Salim mengikutinya dari belakang.
Namun tak lama raut wajah Hesty menegang dengan mata yang membulat sempurna. Sosok yang berjalan di belakang Salim benar-benar diluar dugaannya.
Dalam posisinya yang masih bergeming, Hesty merasa ada sosok yang menubruk lalu memeluknya sangat erat. Isakan yang terdengar perlahan membuatnya tersadar.
"Mbak, ke-kenapa Ajeng ada di sini?"
"Karena Ajeng merindukanmu," sahut Widiya sambil mengusap punggung Hesty.
"Ta-tapi, tidak seharusnya dia di sini." Hesty menatap dengan gerakan mata yang bergetar pada Widiya, kakaknya.
"Ajeng rindu, Ma... Ajeng ingin bertemu mama." Lirihnya.
Perlahan tangan Hesty mulai mengusap kepala putrinya. Air mata yang tak tertahan, dibiarkannya berderai begitu saja. Di tatapnya wajah Ajeng dengan matanya yang basah. Sekali lagi Ajeng memeluk mamanya dan mereka pun menangis bersama.
__ADS_1
Saat tangis mereka mulai reda, Widiya pamit untuk menemui dokter. Bersama perawat dan Salim, Widiya meninggalkan ruangan itu
Hesty meraih tisu dan diusapkannya pada wajah Ajeng yang sembab. Masih dengan air matanya tak bisa berhenti membasahi pipi, Hesty mencoba untuk tersenyum.
Dengan perasaan gemas bercampur pilu, ia menciumi setiap bagian wajah putrinya. Seakan ingin menumpahkan rasa rindu, Hesty memeluk Ajeng lagi dan lagi.
Di sisi lain, Ajeng tak ingin banyak berkata apalagi bertanya. Ia hanya ingin menikmati kebersamaan mereka dan tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja.
"Bagaimana kuliahmu?"
"Lancar, Ma." Sahutnya sambil menatap wajah ibunya yang sendu dengan sorot matanya yang sayu.
"Kamu betah tinggal di rumah Tantemu?"
"Betah."
"Bagaimana hubunganmu dengan Alena? Mama harap kalian bisa akrab. Baik-baiklah dengan Alena. Dia itu istri kakak sepupumu, yang artinya kakakmu juga. Kan kamu sendiri pernah bilang ingin punya saudara perempuan," tutur Hesty.
"Iya, Ajeng sudah akrab kok dengan Kak Alena. Ajeng semakin betah tinggal di sana. Mama jangan khawatirkan Ajeng, di rumah itu hanya Paijo yang belum akrab sama Ajeng." Sahutnya.
"Paijo? Siapa dia? Mama tidak tahu ada nama itu di rumah Tantemu," tanya Hesty heran.
"Ada, Ma. Paijo itu nama burung beo peliharaan Om Salim. Dia jutek kalau Ajeng ada di dekatnya. Jadi Ajeng malas dekat-dekat apalagi akrab sama dia," sahut Ajeng dengan wajah yang ditekuk.
"Oalaah... Mama kira siapa. Burung toh." Hesty terkekeh pelan sambil mengusap sisa air matanya.
Melihat mamanya berekspresi seperti itu, Ajeng benar-benar merasa bahagia. Ia memang sengaja tidak membahas keputusan sang mama yang menyembunyikan kebenaran tentang penyakitnya selama ini. Ia tak ingin sang mama terbebani perasaan bersalah.
Di tempat lain, hari ini Alena cukup sibuk dengan tugas akhir sebelum magangnya di mulai. Ia ingin memastikan tidak kehilangan satupun nilai dari dosen pembimbingnya. Terlebih ia tidak ingin terbebani tugas lain saat magangnya audah di mulai nanti.
"Alena, tunggu! Bisa bicara sebentar?"
Alena menoleh ke arah suara yanh memanggilnya. Tatapannya terlihat datar pada Agam yang berlari kecil ke arahnya.
"Ada apa, Gam?"
"Kamu nanti magang di mana?" tanya Agam sambil tersenyum.
"Di kantor suamiku. Memangnya kenapa?"
Raut wajah Agam seketika berubah. Pria itu tersenyum kecut sambil menjawab, "Nggak apa-apa. Aku kira kamu akan magang di perusahaan kakakmu."
"Oh, tadinya sih iya. Justru itu, kakakku yang menyarankan magang di perusahaan tempat suamiku bekerja." Sahutnya.
"Oh, begitu..." Ucapnya dengan ekspresi kecewa.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ah, enggak. Soalnya aku sengaja ambil magang di kantor pengacara dekat gedung Al-Azmi Corp." Sahutnya pelan.
"Oh... hehe, maaf ya. Padahal kalau aku jadi magang di perusahaan itu, sesekali kita bisa makan siang bersama." Ujarnya basa-basi.
"Iya. Aku juga berharap seperti itu."
"Tapi kalau aku magang di sana, gimana gitu rasanya. Jadi lebih baik magang di tempat suamiku saja. Biar sekalian belajar jadi istri seutuhnya," ujar Alena santai. Namun membuat wajah Agam menegang.
Di ujung salah satu lorong kampus, Alena mengambil arah yang berbeda. Ia merasa kurang nyaman hanya mengobrol berdua dengan pria yang diketahui memendam rasa terhadap dirinya.
Sesaat sebelum meninggalkan kampus, Alena menerima panggilan telepon dari Riky. Kaduanya berbincang dengan diselingi kekehan kecil dengan raut wajah yang bahagia.
"Kak, udah dulu ya. Alena udah pakai helm nih," ujar Alena dengan suara telepon di loadspeaker karena merasa tidak ada siapapun di tempat itu.
"Kamu mau makan siang di mana, Yang?"
"Alena mau..."
"Len, helmnya kok belum di kaitkan? Sini aku kaitkan," ujar Agam yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang dan mengagetkan Alena.
"Sayang, itu siapa? Kamu sedang sama siapa?"
"Ini teman Lena, Kak." Sahutnya salah tingkah karena Riky mengalihkan panggilan itu pada panggilan video.
"Siapa itu, suami kamu ya? Ups, sorry."
"Sana ih," usir Alena sambil menjauhkan tubuh Agam serta menepis tangan yang hendak mengaitkan tali helmnya.
Dengan ragu, Alena menerima pengalihan panggilan. Ia tidak ingin Riky semakin salah paham.
"Kak..."
"Tadi siapa, Sayang?" tanya Riky dengan tatapan menyelidik.
"Teman Ale..."
"Kita makan siang di mana hari ini?" Agam menghampiri lagi dengan senyum tipis di wajahnya.
Alena manautkan alisnya, karena merasa tak pernah mengajak Agam makan siang bersama.
"Hari ini? Sayang, apa maksudnya itu? Apa kalian setiap hari makan siang bersama? Dan siapa dia? " Riky menatap nyalang pada pria di samping Alena.
Alena mencoba menjauhkan kamera ponselnya dan mendorong Agam agar menjauh darinya.
"Sayang, jawab aku. Siapa dia?" Nada suara Riky terdengar mulai tinggi.
"Dia Agam, Kak. Teman Alena, tapi bukan teman juga sih." Sahutnya sambil tersenyum kecut. Ia tahu saat ini Riky mulai emosi.
__ADS_1
"Agam? Yang nomernya aku blokir itu?"
"Iya, Kak." Sahutnya denga hati yang semakin menciut melihat sorot mata Riky yang tak lembut lagi.