My Love My Bride

My Love My Bride
tidak peka


__ADS_3

Happy reading...


Mentari Senin pagi ini cukup menghangatkan siapa saja yang sudah memulai aktivitasnya di luar sana. Jalanan mulai terlihat padat dengan kendaraan mereka yang hendak menuju tempat bekerja.


Selain menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, selama berada di kota ini Alena berniat ikut ke kantor. Hal itu ia lakukan untuk menambah pengetahuan bahan skripsi yang akan disusunnya.


Getaran posel yang berbunyi menjeda Alena yang sedang mengenakan pakaian semi formalnya hari ini. Di layar ponsel tertera nama Alvin, sang kakak yang menghubunginya.


"Hallo, Kak Alvin!"


"Hallo juga, Len. Masih di apartemen Riky?"


"Iya, Kak. Alena seminggu di sini. Kakak masih di rumah Om Salman ya? Sepertinya baru bangun tidur, suaranya serak begitu."


"Iya, di sini masih dini hari. Kakak kebangun barusan Queen ingin bicara sebelum berangkat sekolah."


"Oh, tidur lagi aja."


"Mau sebentar lagi. Alena, kamu sebentar lagi skripsi kan?"


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Kenapa nggak sekalian magang di situ aja. Lumayan kan tiga bulan, kamu bisa tinggal sama Riky."


"Iya, juga ya? Tadinya Alena mau magang di parusahaan Kak Alvin, hehe."


"Kalau menurut kakak, lebih baik magang di situ aja. Kan bisa menyelam sambil minum air."


"Maksudnya apa sih Kak? Kalau Kak Riky bilang begitu biasanya ngajak 'main' di kamar mandi, Kak Alvin nggak nyuruh Alena berendam kan?"


Alena tersenyum mendengar kekehan ringan di ujung ponselnya. Ia belum mengerti maksud ucapan kakaknya.


"Kakak dengar dari Laura, katanya kamu sudah berniat mempunyai momongan. Kalau kamu di situ, kan bisa saja dua-duanya didapat. Skripsi iya, usaha dapat momongan juga iya. Hmm? Dan yang pasti Riky pasti akan sangat bahagia kalau kamu ada di sana."


"Iya sih, tapi Alena nggak enak sama karyawan lain Kak."


"Memangnya kenapa? Toh nanti juga kamu kerja di sana. Kalaupun kamu kedepannya nggak kerja, setidaknya kamu dapat pengalaman bekerja yang menyenangkan. Berangkat dan pulang sama suami. Bisa makan siang sama suami. Dan kamu bisa memperlihatkan pada karyawan lain kalau Riky sudah beristri. Biar nggak ada yang berani, biasanya perempuan suka begitu."


"Gitu ya?"


"Kok gitu ya, sih? Nanti kakak bicara sama Maliek ya. Pokoknya kamu tahu beres. Kakak juga kan ingin secepatnya punya keponakan dari kamu."

__ADS_1


"Iya deh, gimana kakak aja. Tapi jangan dulu bilang sama Kak Riky ya. Biar jadi kejutan, hehe."


"Oke. Sudah ya, kakak mau tidur lagi. Salam untuk Riky."


"Siap."


Alena mengulumkan senyumnya dan terhenyak saat Riky bertanya, "Apa yang jangan dulu bilang sama aku, Yang?"


"I-itu rahasia," sahut Alena sambil nyengir.


"Mmm, belajar rahasia-rahasiaan ya sekarang." Ujarnya sambil berlalu.


"Bukan begitu, Kak. Maksud Alena biar jadi kejutan." Alena mengekor di belakang suaminya.


Riky mengenakan pakaian yang sudah disiapkan istrinya tanpa berkata-kata. Pria itu sepertinya merasa kesal karena berpikir istrinya menyimpan rahasia.


"Kak Riky marah ya? Ya sudah, Alena nggak jadi ikut ke kantor kalau begitu." Deliknya hendak berlalu namun terhenti karena Riky menarik pinggangnya.


"Bilang dulu apa yang kamu sembunyikan dari aku," ujar Riky sambil mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Alena.


"Kalau bilang nggak jadi kejutan dong."


"Aku mau keterbukaan dari kamu, bukan kejutan."


"Dasar istri nggak peka," ujar Riky sambil mengecup gemas bibir Alena.


"Nggak peka bagaimana?"


"Memangnya kamu nggak lihat aku senang kamu ada di sini. Dan Alvin, kenapa harus bicara sama Maliek? Tanpa dia bicara pun kamu bisa bekerja di perusahaan itu."


"Ya mungkin biar lebih jelas aja. Kalau Kak Maliek sendiri yang bilang sama kepala divisi keuangan, jadi nggak ada yang berani macam-macam sama Alena. Nggak enak juga sih sebenarnya. Oh mungkin biar tidak terkesan nepotisme. Mentang-mentang suaminya CEO, istrinya juga ikut-ikutan kerja di perusahaan. Begitu mungkin maksud Kak Alvin," ujar Alena beralasan. Ia tak ingin Riky merasa tersinggung dengan apa yang dilakukan kakaknya.


"Bukan cuma mentang-mentang istri CEO, tapi juga mentang-mentang kakaknya ipar Maliek Bramasta sekaligus CEO Al-Azmi Corp. Itu yang pasti," sahut Riky sambil tersenyum.


"Terserah deh, bagaimana pikiran orang saja. Terus, boleh nggak Alena magang di sini?"


"Kamu masih nanya juga? Benar-benar tidak peka."


"Kok masih bilang nggak peka sih?"


"Sayang, baru kemarin aku bilang sama kamu. Aku sudah tidak sabar menunggumu bergabung di perusahaan, eh kamu malah nanya boleh apa enggak. Kalau tidak peka lalu apa namanya, hmm?"

__ADS_1


Melihat ekspresi wajah suaminya yang seperti kesal namun juga gemas, Alena hanya nyengir kuda. Bukan hanya Riky, ia pun tentu ingin melihat wajah segar suaminya seperti pagi ini setiap hari.


Alena terlihat anggun mengenakan kemeja polos yang dipadu padankan dengan pencil skirt bermotif. Walau terkesan sederhana, rok yang panjangnya menutup lutut itu memperlihatkan kakinya yang jenjang.


Riky menatap kagum pada istrinya. Ia tidak menyangka, Alena yang selama ini berpenampilan asal-asalan bisa terlihat formal juga.


"Nanti kalau di kantor ada karyawan laki-laki yang minta nomer telepon, jangan di kasih ya." Pesannya.


"Kok begitu. Nanti Alena dibilang sombong dong."


"Biarin. Percuma juga punya nomer kamu, kalau akhirnya aku blokir." Sahutnya cuek.


"Blokir? Oh, jangan-jangan yang memblokir nomer teman Alena juga Kak Riky ya?"


"Siapa, Agam? Memang iya," sahut Riky sambil kembali fokus pada kemudinya.


"Mmm pantas saja. Kenapa memangnya Kak, kok diblokir?"


"Ya karena dia bilang kamu itu sunshine-nya dia. Nggak tahu apa, kamu itu hanya milikku."


"Ternyata Kak Riky posesif juga," ujar Alena mendelikkan matanya sambil mengulumkan senyum.


"Iya laah. Kamu itu istriku, cintaku, belahan jiwaku, segalanya buatku. Aku nggak rela kalau ada mata lain yang menatap dengan cinta sama kamu. Nanti matanya aku colok baru tahu rasa," tegas Riky.


"Ih, serem. Nggak laah, biarkan orang lain dengan perasaannya. Yang terpenting, cinta Alena hanya untuk Kak Riky seorang." Ujarnya sambil tersenyum manis.


Riky tersenyum dan menggenggam tangan Alena. Dikecupnya berkali-kali punggung tangan itu lalu di letakkan di bagian dadanya.


"Kalau ada yang minta nomer ponsel kamu, suruh aja minta izin padaku."


"Terus, bakal diizinin nggak?"


"Enggak. Yang ada aku akan pecat dia."


"Ish, jangan dong. Kasihan..."


"Biar saja. Sudah tahu ada suaminya kok masih berani mendekati. Pokoknya kalau kamu ada waktu senggang, kamu harus ke ruanganku. Jangan basa-basi sama karyawan laki-laki, aku nggak suka." Tegasnya.


"Tahu begini lebih baik Alena magang di perusahaan Kak Alvin deh. Di sana enak ada Kak Rendy juga, dari pada di sini. Belum apa-apa sudah banyak aturan." Deliknya.


"Nggak gitu dong, Sayang." Ujarnya lembut sambil mengusap rahang Alena dengan punggung jarinya.

__ADS_1


Alena menoleh, sambil tersenyum ia berkata, "Lena tahu, Kak. Karena itu juga berlaku untuk Kak Riky. Awas aja kalau ada yang berani dekat-dekat."


Keduanya pun tersenyum dengan perasaan yang berbunga-bunga. Mereka semakin semangat menjalani hari dengan adanya orang terkasih.


__ADS_2