
Happy reading...
"Semangat hari pertama, Non."
"Semangat dong, Pak. Terima kasih," sahut Alena sambil tersenyum.
"Saya sudah berpesan pada Bu Ike kalau mulai hari ini anda akan mulai magang."
"Terima kasih, Pak Andri. Maaf merepotkan," ujar Alena dengan kedua tangan ditangkupkan dan membungkukkan sedikit badannya.
"Anda berlebihan," sahut Andri melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Alena.
"Kalian sedang apa?" tanya Riky heran.
"Nggak sedang apa-apa," sahut Alena.
"Selamat pagi, Bos. Pastinya semangat dong ya," goda Andri dengan tangan mengepal terangkat di udara. Riky menyeringai, memahami maksud ucapan Andri. Ditariknya pinggang Alena ke dalam ruangan dan menutup pelan pintu ruangan itu.
"Apa? Dia sudah mulai magang? Ah, sial! Belum apa-apa sudah rusak rencanaku," umpat Risa dalam hatinya. Ia mendelik pada Andri yang terkekeh pelan melihat sikap atasannya tersebut.
"Aah, dia terlihat sempurna di luar. Tapi saat bersama wanitanya, dia tetaplah seorang pecinta yang rela melakukan apa saja demi pujaan hatinya."Gumam Andri pada dirinya sendiri.
Riky merupakan sosok panutan bagi Andri. Sikap tegas dan tanggung jawabnya terhadap pekerjaan patut diacungi dua ibu jari. Posisi yang didapat Riky saat ini, dinilai sangatlah pantas. Mengingat pria muda itu selain bertanggung jawab, juga sangat berbakat.
Sebelum bekerja dalam kantor yang sama, mereka sudah sangat sering bertemu, karena Riky sering mewakili Maliek di setiap urusan perusahaan. Bagi Andri, sosok Riky adalah rekan kerja yang menyenangkan dan dapat diandalkan.
***
Di ruang divisi keuangan, Ike yang merupakan pimpinan divisi itu sedang memperkenalkan Alena sebagai karyawan magang. Meski begitu, terlihat sikap hormat wanita itu pada Alena yang diketahuinya sebagai istri atasan mereka.
"Selamat datang kembali, Alena," sambut Feby.
"Terima kasih, Kak. Mohon bimbingannya ya," ucap Alena riang.
Ike mempersilahkan Alena menuju meja kerjanya. Sementara itu, ia masuk ke dalam ruangannya.
"Heh, aku yakin Risa sedang kepanasan. Dia kan sangat terobsesi pada Pak Riky. Biar tahu rasa," seringainya.
***
Tanpa terasa, libur kenaikan kelas sudah tiba. Selain karena mereka mendapat hadiah dari sang kakek karena naik kelas, anak-anak juga senang karena itu artinya mereka akan segera berangkat ke Timur Tengah.
Para ibu muda sibuk mempersiapkan acara liburan mereka. Sementara anak-anak sibuk mendiskusikan apa saja yang akan mereka lakukan selama liburan.
Tanpa mereka sadari, Salman memperhatikan dengan tatapan sendunya. Pria itu merasa bahagia sekaligus merana saat mengingat kondisi kesehatannya yang semakin menurun saja.
"Apa yang kupikirkan? Salman, berhentilah mengeluh. Seharusnya aku bersyukur. Karena setidaknya Tuhan telah memberiku kesempatan berada diantara mereka. Setelah semua yang kulakukan di masa lalu, aku masih bisa menjadi manusia biasa yang merasakan cinta dan kasih sayang terhadap keluarga. Terima kasih, Tuhan. Kau berikan aku semua ini, di saat Anita pun bahkan tidak bisa merasakannya." Gumam Salman bermonolog.
__ADS_1
Senyum di wajahnya mengembang saat Arka berlari kecil ke arahnya.
"Kakek, Aka mau hadiah juga. Kan Aka mau masuk sekolah," rengek Arkana yang baru datang dengan Mommy-nya, Amiera.
"Ada, Sayang. Kakek sudah siapkan. Sebentar ya, Kakek tanyakan pada Aldo dulu." Sahut Salman sambil menyambut uluran tangan Arka yang menuntunnya.
Salman pun memanggil Aldo. Pria yang juga disapa 'uncle' oleh anak-anak itu pun segera mengambil apa yang diminta.
"Dad..."
"Rendy juga ke sini?" tanya Salman saat Amiera menyalaminya.
"Tidak, Dad. Kak Rendy ke kantor." Sahut Amiera sambil menggandeng tangan Salman lalu terduduk di sofa.
"Kudengar belakangan ini dia sibuk sekali. Jangan terlalu lelah, biarkan asistennya juga ikut mengambil alih sebagian tanggung jawabnya. Bukankah kalian berencana memiliki momongan lagi?"
"Daddy tahu dari siapa?" Amiera mengerutkan keningnya. Salman hanya tersenyum dan Amiera pun menoleh pada Meydina dan Laura.
Meydina nyengir sambil mengangkat sebelah tangannya. Sementara Amiera mendelik dengan senyum yang terkulum.
***
Suasana malam di kediaman Salman selalu sunyi. Hingar bingar kota terdengar samar-samar karena letak rumah yang jauh dari jalan raya.
Dalam kesunyian itu, ada nafas yang memburu. Merasakan kenikmatan dalam balutan permainan malam.
Maliek menatap penuh cinta pada wanita di hadapannya. Mempertemukan kedua ujung hidung mereka dengan nafas yang terengah.
"Aku besok nggak ke kantor ya," ucapnya.
"Terserah Papi. Memanganya kenapa?" tanya Meydina sembari mengecup lembut bibir suaminya.
"Kamu jangan ke luar kamar," sambungnya.
"Hmm? Kenapa?" Meydina menautkan kedua alisnya.
"Temani aku seharian di kamar," sahut Maliek membenarkan posisi Meydina yang kini terduduk di atas perutnya.
"Ya nggak bisa dong, Pi. Yang ada anak-anak protes."
"Aku kan nggak akan ketemu kamu 3 hari, Sayang."
"Terus? Papi, mau jatahnya dibayar di muka gitu?" Delik Meydina.
"He-em. Ya, please ..." bujuk Maliek dengan tatapan menggoda.
"Mau berapa kali?" tantang Meydina dengan tangan yang mulai meraba bagian inti suaminya.
__ADS_1
"Sekuatnya Mami," sahut Maliek yang tak ingin kalah dengan mer*mas satu dari dua gunung indah yang terpampang di depannya.
Meydina menyeringi merasakan sesuatu yang dimainkannya mulai memgeras. Ia sengaja membuat Maliek menggila dengn berpura-pura tidak mengacuhkannya.
"Yang ... udah dong. Jangan dimainin terus, nanti beneran keluar di muka loh." Ujar Maliek yang sudah tidak tahan dengan permainan mulut Meydina yang membakar hasr*tnya.
"Coba aja kalau Papi berani. Tanggung sendiri akibatnya," sahut Meydina yang menghentikan aksinya.
Merasa mendapat peluang untuk membalas, Maliek yang sedari tadi telah siap, membalik keadaan dengan bergerak cepat dan membuat Meydina pasrah berada dalam kungkungannya. Pria itu tersenyum senang dengan sorot mata yang siap menerkam.
"Papi nggak siap nanggung akibatnya. Mami super tega kalau Papi berani ngeluarin di muka. Bisa seminggu nggak dikasih jatah." Ujarnya.
Meydina mengulumkan senyum mengingat raut wajah Maliek yang mengiba saat ia tak memberi jatah. Pria berkharisma dengan sejuta wibawa itu nyaris seperti anak kucing yang memelas meminta makan. Lucu dan menggemaskan.
Lamunan Meydina tersentak merasakan bagian intinya dihisap kuat oleh suaminya. Dari bawah sana, Maliek menyeringai melihatnya terbelalak dan meng*rang menikmati pergerakan jari-jarinya.
"Akh, Pi! Udah dong, masukin." Pintanya dengan tatapan sayu.
"Belum, Sayang. Ini belum seberapa. Kamu boleh keluarin di mukaku." Ujar Maliek seolah tahu istrinya itu akan mendapatkan pelepasan pertamanya di ronde kedua itu.
"Memangnya hanya kamu yang bisa membuatku 'gila'? Memohonlah, Sayang. Memohonlah supaya aku cepat memasukannya." Ujar Maliek setengah menantang, padahal dirinya sendiri sudah tak sabar ingin segera menghujamkan 'miliknya' yang sedari tadi sudah tegang.
***
Hari berlalu dengan cepatnya. Riky dan Alena menjalani keseharian mereka dengan perasaan bahagia.
"Sayang, aku makan siang dengan klien ya. Nggak apa-apa kan?" tanya Riky diujung ponselnya.
"Nggak apa-apa, Kak. Sejujurnya Lena senang. Karena nggak enak sama mereka yang selalu mengajak makan siang bersama tapi Lena tolak."
"Ya sudah, makan yang banyak ya Sayang. Bye," pungkas Riky dengan suara kecupan di ujung panggilannya.
Siang ini, ia dan Andri menghadiri undangan makan siang dari salah seorang klien mereka di sebuah restoran ternama. Setelah berbasa-basi, mereka pun memesan makanan.
"Apa kabar putri Evan Atmajda, Pak Riky? Apa sekarang kuliahnya sudah selesai?" tanya kliennya yang kebetulan kenalan Papa Evan.
"Baik, Pak. Kuliahnya sebentar lagi selesai," sahutnya.
Klien itu mengangguk pelan sambil tersenyum. Beberapa pelayan yang membawa makanan pun datang.
Riky mulai merasakan aneh di bagian perutnya saat aroma masakan itu tercium. Entah mengapa ia merasa perutnya seperti sedang diaduk-aduk.
Semakin lama, rasa tidak nyaman di perutnya semakin menjadi. Ia merasa heran, karena seingatnya ia tidak melewatkan sarapan.
"Pak Riky, anda baik-baik saja?" tanya Andri heran melihat wajah Riky memerah dan mengeluarkan keringat.
"Permisi sebentar, saya mau ke toilet dulu." Pamitnya.
__ADS_1
Riky berlalu diiringi tatapan heran dari asistennya. Setibanya di kamar mandi, ia langsung mengeluarkan makanan dalam perutnya yang sedari tadi meronta.
"Huft. Ada apa denganku?" Gumam Riky sambil memegangi perutnya.