
Happy reading ...
Malam yang semakin larut, tak lantas membuat semua terhanyut. Di kamarnya yang cukup luas itu, Andri masih terjaga dengan kegundahan yang dirasa hatinya. Ada apa ini? Mengapa wajah Ajeng menggelayut manja di pelupuk matanya?
Berkali-kali Andri mengusap kasar wajahnya. Pria itu bahkan sampai mencuci wajah di kamar mandi. Berharap bayangan wanita yang jadi teman adiknya itu hilang dari pandangannya.
"Ada apa denganku? Tidak mungkin aku jatuh cinta pada gadis muda itu. Aah, apa jangan-jangan aku ketularan si bos?" Gumamnya.
Andri mengingat-ingat, mamanya pernah mengatakan kalau adiknya mengantar gadis itu ke rumah sakit. Ia tidak menyangka kalau gadis yang pernah menginap di rumahnya tersebut adalah sepupu atasannya.
Abaikan tentang kenyataan itu. Karena ada yang tak bisa diabaikan dan sangat mengganggunya saat ini, yakni bayangan Ajeng yang tersenyum padanya seolah terlihat di mana-mana.
Sementara itu di tempat lain, ada pasangan yang sedang melepas rindu. Riky sangat bersyukur kemarahan istrinya reda oleh es krim yang tadi di belinya. Jika tidak, mungkin malam ini ia akan gigit jari tanpa bisa menikmati malam yang semakin dingin ini.
"Akh Kak, sakit. Jangan terlalu ditekan. Nanti kalau baby-nya kenapa-napa, gimana?" protes Alena di tengah-tengah permainan.
"Maaf, Sayang. Aku nggak sengaja. Terlalu semangat sih, hehe." Sahutnya sambil memposisikan kaki istrinya yang tadi ditekan ke bagian perut itu agar berada di pundaknya.
Riky kembali mengatur tempo, untuk memastikan Alena tetap menikmati permainan yang sudah cukup lama itu. Sesekali ia mengecup kaki jenjang istrinya sambil terus memaju mundurkan pinggulnya.
Saat dirasa sesuatu yang akan keluar itu sudah berada di ujung, Riky menghujam tanpa ampun membuat Alena kewalahan dan terhenyak saat hentakan kuat beberapa kali terasa di area intinya.
Raut wajah Riky terlihat puas dengan napas yang terengah. Pria itu tersenyum miring melihat istrinya yang terkulai kehabisan tenaga.
"Yee, rekor baru!" Serunya pelan saat menoleh pada jam dinding. Ia terkekeh melihat Alena mendelik dan menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya itu.
"Capek, Sayang?" tanya Riky sembari mencium pipi Alena.
"Udah tahu malah nanya," sahut Alena malas.
"Tapi puas kan?" Alena mencubit lengan pelan lengan Riky yang memberinya tatapan menggoda. Riky menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang tidak mengenakan apa-apa.
***
Pagi hari sebelum berangkat ke kantor, Riky dan Alena mengantar mama dan Ajeng ke bandara. Meski masih ingin menemani menantunya, Mama Widiya tetaplah harus pulang.
Mengingat waktu magang Alena tinggal beberapa hari lagi, ibunda Riky itu merasa cukup lega. Ia sudah tidak sabar menantikan kehadiran menantunya kembali ke rumah mereka.
Tentunya hal itu berbanding terbalik dengan yang dirasakan Riky. Setelah magangnya berakhir, Alena akan kembali ke rumah orang tuanya sampai acara wisuda selesai. Itu artinya, ia harus berjauhan lagi dengan wanita yang selalu dirindukannya tersebut.
__ADS_1
"Sabar, Kak. Kata mama, ada kemungkinan setelah wisuda kita semua pindah ke rumah baru. Jadi Alena bisa tinggal dengan mama, juga dengan Kak Riky. Juga dengan baby," ujar Alena yang mengerti arti raut wajah suaminya.
"Baiklah. Demi kebersamaan kita, papi akan menunggu dengan sabar." Sahutnya sambil mengusap perut Alena.
***
Hari berlalu terasa sangat cepat, sebagai tanda terima kasih sekaligus perpisahan dengan teman kerja satu divisi, Alena sengaja mentraktir mereka makan siang di sebuah restoran ternama yang telah dipesan Riky.
Keakraban yang dibalut suka cita itu sangat terasa. Alena merasa senang melihat Bu Ike kini tak sekaku saat pertama kali mereka bertemu. Terhadap bawahannya yang lain pun, Bu Oke sudah mulai mendekatkan diri.
"Len, maaf ya. Kita nggak ngasih kamu kenang-kenangan," ujar Feby yang diangguki teman lainnya. Bahkan ada yang menagkupkan tangannya di dada.
"Nggak apa-apa. Kebersamaan kita akan jadi kenangan yang tidak akan terlupakan."
"Duuh, so sweet."
Alena tersipu dan kembali meminta mereka untuk meneruskan makan siang.
Sore ini, Riky akan mengantar Alena pulang ke rumah orang tuanya. Dengan diantar Andri, mereka menuju ke bandara.
Setelah berpamitan pada Andri, Alena dan Riky berlalu sambil bergandengan. Andri yang menatap punggung mereka tiba-tiba terkesiap saat membayangkan yang sedang bergandengan itu dirinya dengan Ajeng.
***
Kurang dari dua jam perjalana udara, Riky dan Alena sudah tiba di bandara tujuan. Alena terlihat senang melihat seseorang yang menjemput mereka.
"Papa!" pekik Alena riang. Setengah berlari ia menghampiri Papa Evan yang berjalan ke arahnya. Riky mempercepat langkahnya, khawatir Alena menabrak seseorang atau sebaliknya.
"Pelan-pelan, Lena."
"Papa, Alena kangen." Evan tersenyum lebar sambil membalas pelukan putrinya. Ia menyapa Riky yang berada di belakang Alena.
"Kita mau ke rumah, Pa?"
"Iya."
"Asik. Lena sudah kangen sama Queena."
Evan menggandeng Alena sembari menanyakan kabar kehamilan pertama putrinya tersebut. Kakek Queena itu terkekeh saat Riky menceritakan perihal dirinya yang jadi pintar memasak.
__ADS_1
Perjalanan menuju rumah Evan pun terasa menyenangkan gelak tawa terdengar saling bersahutan.
Setibanya di halaman rumah, tatapan Alena berbinar melihat beberapa mobil yang terparkir dan tentu saja tak asing baginya. Dengan tergesa-gesa ia turun dari mobil papanya.
"Kok sepi?" gumam Alena melihat ke sekitar. Tak ada satu pun orang di luar, juga tak terdengar suara apapun dari dalam. Lalu mobil-mobil itu?
Dengan perasaan bingung Alena memutar gagang pintu. Dan saat pintu terbuka, taraa!
Alena terkejut sambil tersenyum menutup mulutnya sendiri. Bahagia dan haru bercampur jadi satu.
Bunyi-bunyian terdengar saling bersahutan. Alena terpukau dengan pesta penyambutan dirinya yang di luar dugaan.
"Auntie, selamat datang!" Anak-anak dengan kompak mengucapkannya. Mereka meniupkan terompet mini dengan riangnya.
"Selamat datang kembali di rumah, Alena," sambut Laura.
"Terima kasih, Kak."
Alena memeluk Laura. Meydina, Amiera, dan semua wanita yang hadir di sana. Ia juga menyapa para pria dengan gayanya yang ceria.
"Sehat?" tanya Alvin yang sambil mengecup kening Alena dan dijawab anggukan oleh adiknya tersebut.
"Auntie, Auntie ... di sini ada baby ya?" tanya Fatima yang menghampiri dan mengusap perut Alena.
"Iya, Sayang."
"Baby, lihat. Nanti Auntie Lena jalannya begini." Fatima terkekeh melihat Zein memeragakan jalan dengan kaki terbuka lebar ke samping sambil memegangi perutnya. Arkana dan si kembar pun ikut terkekeh dan menirukan gaya berjalan Zein.
"Ih, Kakak. Nggak begitu juga kali," delik Alena.
"Gimana dong? Begini?" Zein memeragakan hal serupa, namun kali ini sebelah tangannya menggaruk kepala.
"Haha, kalau itu jalannya monyet." Amar tergelak dan diamini tawa oleh anak-anak lainnya.
"Kakak Zein suka banget menggoda Auntie Lena. Balas dendam ya, dulu kan Auntie yang suka godain Kakak," ujar Amiera.
"Ooh, jadi Kakak ngebalas nih ceritanya? Awas ya, Auntie cium loh."
"Kabuur!" Zein memekik sambil berlari melihat Alena yang sudah bersiap akan beranjak dari duduknya. Tidak hanya Zein, Arka dan Nara juga ikut-ikutan berlari.
__ADS_1
Gelak tawa menggema di kediaman Evan. Alena merasa sangat bahagia melihat semua anggota keluarganya berkumpul menyambut kedatangannya.