My Love My Bride

My Love My Bride
perhatian


__ADS_3

Happy reading...


Sepulang dari makan siang, Riky dan Andri pun kembali ke kantor. Dalam perjalanan, berkali-kali Andri menyarankan Riky untuk ke dokter.


"Bos, anda yakin tidak ingin ke dokter?"


"Kamu ini cerewet ya? Ini cuma mual biasa. Mungkin asam lambungku sedang naik, istirahat sebentar juga membaik." Sahut Riky lemas.


"Eh, itu di depan ada apotik. Belikan aku sesuatu yang bisa membuat perutku nyaman, Ndri." Pintanya.


"Oke."


Andri menepikan mobilnya di depan apotik. Pria itu segera masuk dan saat kembali, ia sudah menenteng plastik kecil yang langsung diberikan pada Riky.


"Terima kasih," ucap Riky yang tersenyum tipis melihat minuman probiotik yang dibelikan asistennya.


"Untunglah, bukan obat atau semacamnya." Gumam Riky.


"Bagaimana kalau anda pulang, Pak? Anda harus istirahat," saran Andri.


"Sejak kapan aku jadi cengen, hmm? Akhh, lumayan. Perutku agak enakkan," sahut Riky sambil mengusap sisa minuman itu dari ujung bibirnya.


"Jadi kita kembali ke kantor saja, Bos?"


"Ya, iya laah. Memangnya mau ke mana? Kamu lupa ya, istriku kan ada di kantor. Tapi bukan berarti kamu bilang sama dia ya. Awas loh!"


"Hehe ... siap, Pak Bos."


***


"Kenapa ya, kok aku inget sama Kak Riky terus? Apa sebaiknya aku ke ruangannya saja? Tapi nggak enak juga sama karyawan lain. Aku harus bisa profesional, " batin Alena menatap ragu pada pintu lift eksekutif yang berada di samping lift yang sedang ditunggunya.


"Hai, Risa! Makan siang sama siapa?" sapa Bu Ike.


"Ada dong, sama someone spesial." Delikan ujung matanya mengarah pada Alena. Dengan anggunnya, Risa melenggang masuk ke dalam lift eksekutif.


"Bye ..." ujarnya sinis.


Mereka yang ada di sana terlihat jengah dengan sikap Risa. Tidak terkecuali dengan Alena. Ia hanya menggeleng pelan sambil membuang nafas perlahan.


Di bagian lain dari gedung itu, Riky baru saja memasuki lobi. Ia merasa lega karena perutnya sudah agak nyaman.


"Bagaimana keadaan anda, Pak?"


"Diamlah. Kamu cerewet sekali," dengus Riky yang justru merasa tidak nyaman dengan perhatian Andri.


"Anda harus mengurangi dulu kopi, Pak."


"Iya. Aku tahu," sahut Riky datar.


"Makanan pedas juga, Pak." Sambung Andri.


"Ck. Baik, Nyonya." Sahut Riky berdecak kesal. Mendengar jawaban atasannya, spontan Andri terdiam. Di belakang Riky, pria itu menepuk-nepuk pelan mulutnya.


Riky, mengulumkan senyum. Pantulan sosok Andri dari dinding lift membuatnya ingin tertawa.

__ADS_1


"Andri, apa menurutmu aku ini masuk angin? Pagi tadi Alena memaksa berangkat lebih awal. Mungkin airnya juga terlalu dingin. Tapi, apa aku sekarang selemah itu?"


"Mungkin anda kurang berolah raga, Pak. Jadi daya tahan tubuh anda menurun," sahut Andri pelan.


"Aku olah raga kok setiap hari. Dua kali sehari malahan. Pagi dan malam, apa itu masih kurang?"


"Itu sih beda, Bos. Anda secara tidak langsung membuat jiwa jomlo saya ini meronta," sahut Andri sekenanya.


"Makanya cari istri, biar bisa olah raga tiap hari." Kelakar Riky sambil berlalu meninggalkan Andri yang mendengus kesal.


Melihat kedatangan Riky, Risa segera bangkit dan menyambutnya dengan senyuman. Riky hanya mengangguk pelan, lalu masuk ke ruangannya.


***


Di kampusnya, Ajeng terduduk di salah satu kursi di taman. Ia menatap kosong pada layar ponselnya.


Di sana tertera alamat yang kini di tempati oleh ayahnya. Nafasnya terasa berat mengingat sikap laki-laki itu yang tidak sedewasa usianya. Lalu ia pun menelepon Tante Widiya.


"Tan, Ajeng nggak pulang ya. Mau nginep di rumah teman."


"Menginap di mana, Jeng?"


"Di rumah teman, Tan. Katanya biar lebih akrab. Oh ya, Tan. Boleh kan kalau Ajeng kapan-kapan mengajaknya menginap di rumah? Satu orang kok."


"Ya boleh dong, Jeng. Beberapa orang juga boleh, Tante malahan senang kalau rumah ini ramai."


"Oke, deh. Terima kasih, Tante." Pungkasnya.


Dengan tekad yang kuat, Ajeng berniat mendatangi ayahnya yang sudah lama tidak ditemuinya. Bahkan mereka juga sudah lama tidak saling bertanya kabar seperti biasanya.


"Ma, maafkan Ajeng. Kali ini Papa harus tahu. Bagaimanapun juga, dulu kalian pernah saling mencintai. Ajeng terlahir karena cinta yang ada diantara kalian. Walau sekarang keadaan tidak seindah dulu, Ajeng yakin masih terselip rasa itu di hati Papa." Gumamnya.


"Mau apa, Bang?"


"Jangan panggil 'bang' dong, Jeng. Kan aku bukan abang tukang bakso," protes lelaki itu yang tak lain adalah Kamil.


"Terus aku harus memanggil apa?" tanya Ajeng malas.


"Kakak. Iya, Kakak. Hehe ..."


Ajeng mendengus kesal melihat Kamil yang cengengesan nggak jelas itu. Walaupun merasa jengah, akhirnya ia bertanya juga.


"Mau apa, Kak?"


"Mau kamu, hehe. Maksudku kamu mau kemana?" ujar Kamil yang buru-buru bertanya melihat ekspresi Ajeng yang mendelik tak suka mendengar jawabannya.


"Aku harus pergi."


"Kemana?"


"Ke kota D. Kenapa, mau ikut?" tanya Ajeng asal.


"Wah, kebetulan sekali. Aku juga mau ke sana."


"Heh? Aneh." Ajeng berlalu begitu saja. Pikirnya, itu pasti jurus murahan yang sudah disiapkan pria yang suka cengengesan itu.

__ADS_1


"Aku serius. Kita bisa berangkat bareng. Biar kamu ada temannya." Setengah berlari, Kamil mengekor di belakang Ajeng yang berjalan dengan langkah seribu.


"Aku mau naik kereta."


"Aku juga."


"Jadwal keretaku malam ini."


"Sama, aku juga."


"Ish!"


"Ups. Untung masih pakem remnya, hehe."


Hampir saja mereka bertabrakan. Susah payah Kamil menghentikan langkah saat Ajeng berhenti mendadak di depannya.


"Aku serius. Nih lihat ya ..."


Ajeng menatap horor pria yang sedang merogoh sesuatu dari saku celananya. Ia tertegun melihat ke arah layar ponsel Kamil yang memperlihatkan bukti pembelian tiket kereta untuk malam ini.


***


Menjelang sore, sudah jadi kebiasaan Risa membuatkan kopi untuk atasannya. Dengan anggunnya, ia melangkah masuk setelah terlebih dulu mengetuk.


"Ini kopinya, Pak." Ucapnya lembut pada Riky yang terlihat fokus pada layar monitor.


"Saya libur dulu minum kopi, Risa. Bawa lagi saja," sahutnya.


"Kenapa, Pak?"


"Asam lambung saya sedang naik."


"Anda sedang tidak sehat, Pak?"


"Sedikit. Kamu bawa lagi saja kopinya."


Riky meregangkan tangannya yang terasa pegal. Ia menggerak-gerakkan jarinya yang dirasanya agak kram.


"Ada apa denganku hari ini?" gumamnya.


"Biar saya pijat, Pak."


Tanpa ragu, Risa berjalan cepat menghampiri Riky.


"Tidak. Tidak usah, Risa. Kamu bawa saja kopinya."


Nampaknya Risa menulikan pendengarannya. Wanita itu tanpa ragu meraih pundak Riky dan mulai memijatnya.


"Ini akan membuat anda merasa sedikit lebih baik, Pak." Ujarnya.


"Hentikan, Risa! Aku tidak membutuhkan pijatanmu ini."


"Sebentar saja, Pak." Setengah memaksa, Risa terus memijat pundak Riky yang hendak beranjak dari duduknya. Ia benar-benar tidak perduli jika saat ini Riky merasa risih.


"Enak kan, Pak?" bisik Risa sambil mendekatkan wajahnya di telinga Riky.

__ADS_1


Ceklek.


Keduanya terperanjak. Seketika wajah Riky memucat melihat istrinya sedang berdiri menatapnya penuh tanya.


__ADS_2