My Love My Bride

My Love My Bride
halusinasi


__ADS_3

Happy reading...


Perlahan awan yang menghalangi pandangan mulai menjauh. Gedung-gedung yang menjulang nampak kontras berdiri berdampingan dengan pemukiman warga.


Seulas senyum terukir dari balik kaca jendela pesawat yang sebentar lagi akan landing. Seorang wanita sengaja datang ke kota ini untuk memberi kejutan pada Riky, sang suami.


"Kak Riky, I'm coming!" Pekiknya dalam hati.


***


Di waktu yang bersamaan, Riky baru keluar dari ruang rapat. Di belakangnya, Andri sang asisten mengikuti. Begitu juga dengan Risa, sekertarisnya.


"Andri, tolong kamu pelajari berkas beberapa perusahaan yang akan mengikuti tender kita. Setelah selesai, kamu keruangan saya."


"Baik, Pak."


"Risa, sampai waktu makan siang saya tidak ingin diganggu."


"Baik, Pak."


Langkah ketiganya pun menuju tempat masing-masing. Andri berlalu ke ruangannya. Risa menghampiri meja kerjanya yang berada tak jauh dari ruangan Riky, sang CEO.


"Pak, barangkali anda mau kopi?" Tawarnya sebelum Riky masuk ke dalam ruangannya.


"Boleh," angguk Riky pelan.


Dengan senang hati Risa melangkah ke pantry. Ia membuatkan kopi kesukaan Riky. Setelah selesai, dibawanya kopi itu ke ruangan atasannya. Sebelum masuk, ia merapihkan pakaiannya. Melenggok anggun berharap bisa menarik perhatian sang atasan.


"Kopinya, Pak." Ujarnya lembut.


"Terima kasih," sahut Riky tanpa menoleh. Pria itu nampak sedang fokus pada berkas-berkas dihadapannya. Tak lama gerakan pena yang dipegangnya terhenti. Perlahan Riky menoleh dan Risa pun memasang wajah berseri.


"Sedang apa kamu berdiri di situ? Kita sedang banyak pekerjaan dan kamu hanya diam tidak melakukan apa-apa? Jadi kamu dibayar hanya untuk memperhatikan saya bekerja, begitu?" tanya Riky datar namun penuh penekanan.


"Tidak, Pak. Saya... saya menunggu perintah anda." Sahutnya gugup.


"Kerjakan tugas kamu!" Tegasnya.


"Baik, Pak. Saya permisi," pamit Risa. Wanita itu bergegas meninggalkan ruangan atasannya dengan raut wajah yang ditekuk.


Sepeninggal sekretarisnya, Riky membuang kasar nafasnya. Selain pekerjaan yang menumpuk, ia juga harus merelakan akhir pekan ini tidak pulang untuk bertemu istrinya.


Sementara itu Alena yang baru saja turun di depan gedung Bramasta Corp, menatap sesaat gedung di depannya. Ini kali pertama ia menemui suaminya di tempat kerja. Sebelumnya setiap kali ia datang ke kota ini, Alena langsung menuju apartemen suaminya.


"Selamat pagi, Nona! Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang security.


"Selamat pagi, Pak... Agus," sahut Alena yang membaca name tag pria di hadapannya.


Pria itu tersipu dan mengulangi pertanyaannya.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau bertemu Kak Riky," sahut Alena ramah.


"Kak Riky? Setahu saya hanya ada satu nama Riky di sini, Non. Pak Riky," ujar security bernama Agus itu.


"Iya itu, Pak Riky. Hehe," sahut Alena.

__ADS_1


"Kak Riky? Jangan-jangan dia adiknya si bos," batin Agus.


"Pak. Pak Agus... boleh saya masuk?" tanya Alena membuyarkan lamunan pria itu.


"Silahkan. Silahkan ke sebelah sini. Mari saya antar."


Alena hanya tersenyum melihat sikap pria itu. Ia mengekor dibelakang Agus yang mengarahkan langkahnya menuju lift.


"Terima kasih, Pak." Ucapnya sambil melambaikan tangan.


Agus mengangguk hormat dan berlalu setelah pintu lift benar-benar tertutup.


"Siapa, Pak?" tanya seorang karyawan bagian resepsionis.


"Adiknya Pak Riky." Sahutnya yakin.


"Oh, saya baru melihatnya. Yang saya dengar Pak Riky anak tunggal," ujar karyawan itu.


Agus termenung sesaat, kemudian raut wajahnya mulai terlihat khawatir.


"Aduh, bagaimana ini? Bisa ruwet urusannya," gumam Agus.


Dua karyawan bagian resepsionis saling menatap dan memberikan senyuman kecut untuk rekan security mereka.


Langkah Alena terasa ringan saat keluar dari lift. Security itu mengarahkannya ke lantai paling atas gedung itu. Alena memutar pandangannya, di lantai itu sangat sepi dan hanya ada beberapa ruangan saja. Dari tempatnya berdiri, Alena melihat seorang wanita terduduk di tempatnya.


"Mungkin itu sekretaris Kak Riky," gumam Alena. Ia pun berjalan menghampiri meja sekretaris tersebut.


Di sisi lain, Risa mengerutkan keningnya menatap wanita berpakaian casual yang berjalan ke arahnya. Ia merasa bingung karena merasa tidak mendapat pemberitahuan apa-apa dari bagian manapun, terutama bagian resepsionis.


"Yang ini ya..." Tunjuknya sambil berlalu.


"Eits, tunggu dulu. Kamu siapa? Ada perlu apa ke ruangan Pak Riky?"


"Saya Alena dan saya mau bertemu dengan..."


"Tidak bisa. Pak Riky sedang sibuk, tidak bisa diganggu." Sahutnya.


"Oh, begitu ya. Pak Andri!" pekik Alena mengangkat tangannya sambil menjinjit. Risa menoleh ke belakang, dan kembali menoleh saat mendengar suara pintu yang dibuka dan ditutup cepat oleh Alena.


Tangannya terkepal mendengar suara kunci pintu yang diputar. Ia merasa geram karena sudah dibodohi wanita muda yang baru saja ditemuinya.


Dengan kesal ia mengangkat gagang telepon dan menghubungi bagian resepsionis.


"Apa, adik Pak Riky? Kamu yakin? Ya sudah kalau begitu." Tutupnya.


Risa menatap pintu ruangan atasannya.


"Untung saja adiknya. Kalau bukan, aku pasti akan mendapat amukan Pak Riky." Gumamnya.


Sementara itu di dalam ruangan, Riky menatap tak percaya wanita yang sedang berdiri dihadapannya. Pria itu menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada pekerjaannya.


"Aku teramat merindukan Alena, sampai-sampai aku berhalusinasi melihat dia di ruanganku." Gumamnya.


"Tapi tunggu, tadi aku mendengar suara pintu dikunci. Apa suara itu dalam halusinasiku juga?" Batinnya.


Perlahan Riky mengangkat wajahnya. Menatap wanita yang sedang tersenyum manis sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Ah, tidak mungkin itu Alena. Jangan-jangan pas aku dekati, nanti dia berubah jadi si Risa. Bisa berabe," batin Riky.


"Aww!" Ringisnya pelan saat tangan yang dicubitnya terasa sakit.


"Kok masih ada? Len, Alena... Itu nggak mungkin kamu kan, Sayang?" Ucapnya pelan.


"Kok nggak mungkin? Kak Riky gitu ah, bukannya senang, malah meragukan. Bukannya disambut, malah dibiarkan." Gerutunya sambil menghampiri.


"Ini benar kamu, Sayang?" tanya Riky masih ingin lebih meyakinkan penglihatannya.


"Ya udah, Alena pulang lagi aja." Alena menghentikan langkahnya dan berbalik hendak menjauhi meja Riky.


"Eits, tunggu dulu. Jangan dong, Sayang." Riky bergegas beranjak dan mengahampiri Alena. Pria itu memeluk Alena dari belakang dan membalikkan badan wanita yang dipeluknya.


Riky memijit hidung Alena untuk beberapa saat. Ia baru tersadar saat Alena mencubit lengannya karena merasa sudah kesulitan bernapas.


"Kak Riky! Engap tahu..." Rengeknya.


"Ini beneran kamu, Sayang." Ujarnya langsung memeluk erat Alena.


"Memangnya kalau bukan Alena, siapa? Hantu?"


"Iya, tadinya kukira begitu. Makanya kupijit hidungmu. Ternyata ini semua bukan hanya halusinasiku saja. Terima kasih, Sayang. Aku kangen banget." Ujarnya lalu mengecup gemas bibir Alena.


"Bohong. Kalau kangen kok udah jam segini belum menelepon?" Gerutunya.


"Maaf, Sayang. Aku sibuk," sahut Riky langsung meraup bibir Alena dan mel*matnya.


Keduanya larut dalam kerinduan. Saling mel*mat dan bertukar saliva. Tak ingin membuat istrinya merasa pegal, Riky mengangkat kedua paha Alena yang refleks melingkarkan kakinya di pinggang suaminya.


Alena juga mengeratkan lingkaran tangannya di leher Riky saat pria itu berjalan menuju kursi kerjanya.


"Kak Riky katanya sedang sibuk?"


"Bisa ditunda, Sayang. Kamu lebih menggoda," sahut Riky yang kembali melahap bibir manis Alena.


Suara gagang pintu yang diputar, sesaat menghentikan kesibukan pasangan itu. Hanya sesaat, karena mereka melanjutkan aksinya setelah yakin tidak akan ada orang yang akan mengganggu.


Sementara itu di luar ruangan, Andri terlihat lega saat melihat Risa keluar dari pantry.


"Ada siapa di dalam? Kok dikunci," tanya Andri heran.


"Ada adiknya Pak Riky."


"Adiknya Pak Riky?" Gumamnya.


"Iya. Namanya Alena, Pak Andri kenal tidak?"


"Alena? Kamu yakin yang di dalam itu Nyo.. maksudku, Alena? Bagaimana postur tubuhnya?"


"Dia sepertinya gadis yang tomboy," sahut Risa.


"Gadis?" Andri terkekeh pelan, membuat Risa merasa heran dengan sikapnya itu.


"Kenapa, Pak?"


"Ah, sudahlah. Kamu jangan berani ganggu mereka ya. Aku akan kembali lagi ke ruanganku," ujar Andri berlalu dengan senyumnya. Membuat Risa semakin merasa bingung saja.

__ADS_1


__ADS_2