
Happy reading...
Cuaca yang cukup terik menyambut kedatangan pasangan muda di kota itu. Dengan raut wajah bahagia, keduanya melangkah meninggalkan bandara.
"Selamat siang, Bos."
"Siang, Ndri. Sorry ya, ngerepotin kamu."
"Enggak lah, Bos. Ini kan memang tugas saya. Bagaimana perjalanannya Non, lancar?" tanya Andri sambil membantu Riky memasukkan koper ke bagasi mobil.
Tanpa menjawab, Alena mengacungkan ibu jarinya. Ia pun masuk dan terduduk sambil menghubungi Papa Evan. Sesaat kemudian, mobil pun mulai melaju.
***
Riky terbaring dengan sebelah tangan menopang bagian kepalanya. Kedua maniknya berbinar menatap pantulan wajah wanita yang sedang mengenakan gaun tidurnya di depan meja rias.
Senyumnya merekah ketika wanita cantik itu tersipu menyadari tatapan mautnya.
"Kak Riky nggak bosan apa lihatin Alena terus?"
"Enggak akan pernah dong, Sayang. Kamu tahu, malam itu terlihat indah dengan adanya bintang-bintang. Kalau aku malam, maka hidupku terasa indah dengan adanya kamu sebagai bintangnya."
"Gombal," sahut Alena dengan wajah yang merona.
"Hehe. Aku lebih dari gombal," sahut Riky sambil beranjak dan mendekati istrinya.
"Lebih dari gombal? Apa? Gembel, haha..." kelakar Alena.
"Untuk kamu, aku rela jadi gembel. Asalkan kamu mendapatkan segalanya."
"Heh, punya suami gembel mana mungkin bisa punya segalanya," delik Alena sambil membalas pelukan Riky.
"Kan gembelnya cuma buat kamu, Sayang. Semua yang kupunya adalah milikmu."
"Ck, ada maunya nih pasti."
Riky tidak menjawab ucapan istrinya. Namun tatapannya sudah mewakili bahwasanya tebakan Alena memang benar adanya.
Tanpa basa-basi, diraupnya bibir sang istri. Alena refleks mengalungkan tangannya di leher Riky. Membalas gerakan bibir Riky yang mel*mat habis setiap bagian dari bibirnya.
Deru napas yang terdengar menandakan keduanya mulai memanas. Tak ingin membuang kesempatan, diangkatnya Alena dan ditempatkan di atas meja rias. Tatapan sayu dari kedua manik pasangan itu, sudah cukup untuk mengatakan bahwasanya mereka menginginkan sesuatu.
Menit demi menit pun berlalu, keduanya masih asik di tempat itu. Pantulan wajah Alena yang menikmati permainannya, membuat Riky semakin semangat untuk menghujamkan 'senjata'-nya.
Terlebih d*sahan Alena terdengar menggema dalam kamar mereka. Hingga menghadirkan seulas senyum kepuasan di wajah Riky. Diakhir permainan, keduanya mel*nguh panjang sebagai tanda kepuasan itu sudah sampai pada puncaknya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Riky dengan napas terengah.
Dikecupnya berkali-kali punggung Alena yang berkeringat itu. Alena kegelian saat kecupan Riky merambah ke bagian lehernya.
"Kak Riky makin hebat deh," puji Alena malu-malu.
"Kamu suka?"
"Hmm," angguk Alena cepat.
"Kepuasan kamu segalanya bagiku, Sayang," ujarnya, membuat wajah Alena merona.
"Kamu agak gemukan, atau 'ini' yang semakin besar?" tanya Riky sambil mer*mas kedua gunung kembar istrinya.
__ADS_1
"Gimana nggak besar, diuleni terus sama yang punya." Sahut Alena.
"Hehe, kan mumpung belum punya baby." Sahut Riky yang kembali mengecupi leher jenjang Alena.
"Udah ah geli. Udah lengket nih, ke kamar mandi yuk."
"Main lagi?" tanya Riky dengan sorot mata berbinar.
"Ish, masih lemes juga." Sahut Alena sambil iseng mencolek 'milik' suaminya. Ia berlalu sambil tersenyum tanpa sehelai pun pakaian yang menutupi tubuhnya.
"Lagi, Yang..." rengeknya.
"Enggak, Kak. Lena capek," sahut Alena yang telah masuk ke kamar mandi.
"Sebentar lagi 'ini' bangun loh," ujar Riky yang mengikuti langkah sang istri.
"Besok pagi aja ya, pegel tahu berdiri begitu."
"Tapi kan enak."
"Tetep aja pegel. Apalagi kalau mainnya lama," delik Alena.
"Ya udah deh, tapi janji pagi-pagi. Awas kalau bohong, dendanya double."
"Yee, enak aja."
"Emang enak kok."
"Iya-iya, Kak Riky menang."
Riky terkekeh pelan melihat raut wajah istrinya yang mendengus kesal, namun baginya itu sangat menggemaskan.
***
"Hari ini kamu gajian, Ris? Ini kan belum awal bulan?"
"Ya belum dong, Mas. Masa iya Risa udah gajian," sahut Risa dengan senyum tersungging di wajahnya.
"Kamu kok senang sekali, ada apa?" selidik Pras.
"Memangnya nggak boleh? Risa senang aja, semalam Mas Pras 'mainnya' oke." Dustanya sambil mengacungkan ibu jari.
Wajah pria paruh baya itu sumringah, ia pun meraih dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Ini, bonus untukmu." Ujarnya.
"Terima kasih, Mas. Mas Pras memang the best," ucap Risa mencium pipi Pras sambil menerima uang tersebut.
"Pastikan Zee makan sebelum kamu berangkat ke kantor. Mas mau tidur lagi, badan ini rasanya pegal."
"Mau Risa pijat, Mas?" Tawarnya.
"Nggak usah. Kamu urus saja Zee, minta pengasuhnya untuk menjaga dia dengan baik."
"Oke. Mas istirahat ya," ucap Risa sambil menyelimuti tubuh Pras.
Pras memiringkan badannya membelakangi Risa. Seringaian terlihat di wajah Risa yang sedang mengipas-ngipasi wajahnya dengan uang pemberian Pras.
"Dasar bodoh. Begitu saja percaya," decihnya dalam hati.
__ADS_1
Risa melenggang ke luar dari kamarnya. Menyapa putri semata wayangnya yang sedang dipangku Sri, pengasuhnya.
Setelah sarapan, Risa bergegas berangkat ke kantor. Ia terlihat semangat menyambut hari di pagi ini.
"Pak Riky pasti sudah kembali. Hmm, harusnya aku menanyakan pada Pak Andri di mana apartemen Pak Riky." Gumamanya merutuki diri.
"Aha! Bagaimana kalau aku menawarkan diri untuk menjadi asisten rumah tangganya? Kan gampang, tinggal bilang saja aku butuh uang tambahan untuk biaya hidupku dan juga anakku. Tidak sulit mengurus tempat tinggal pria yang tinggal sendiri. Siapa tahu suatu hari nanti Pak Riky minta pelayanan plus-plus dariku. Kalaupun tidak minta, aku tawari saja. Mana ada laki-laki yang bisa menolak pesonaku di atas ranjang." Ujarnya bermonolog.
Sesampainya di kantor, Risa menyempatkan untuk menyapa beberapa rekannya. Dengan bangganya ia melangkah menuju lift eksekutif yang tidak semua karyawan bisa menggunakannya.
"Eits, tunggu dulu. Aku juga mau masuk."
"Hmm, Pak Andri merusak pagi saya." Dengusnya.
"Lho, kenapa?" Andri terlihat bingung dengan ucapan sekretaris bosnya itu.
"Saya berharap Pak Riky yang satu lift dengan saya. Eh, kok malah bapak." Deliknya.
"Masih mending saya, Ris. Daripada kamu sendiri, nanti satu lift sama hantu. Mau?"
"Mana ada hantu pagi-pagi begini, Pak."
"Ya, siapa tahu."
"Oh iya, Pak Andri. Boleh saya tahu Pak Riky tinggal di mana?" tanya Risa mendadak menjadi lembut.
"Mau apa memangnya? Pak Riky tidak suka ada orang yang mencampuri urusan pribadinya. Jadi maaf ya, saya tidak bisa memberitahu kamu."
Risa mendelik dengan wajah yang cemberut. Andri mengerutkan keningnya melihat hal tersebut.
Keluar dari lift, mereka menuju tempat masing-masing. Setelah meletakkan slingbag-nya, Risa berniat membuka pintu ruangan CEO.
"Lho, kok di kunci?" gumamnya.
"Ada apa, Ris?" tanya Andri dari ambang pinti ruangannya.
"Ini loh, Pak. Kok ruangan Pak Riky dikunci?" sahut Risa sambil menggerak-gerakkan pegangan pintu tersebut.
"Dikunci? Apa jangan-jangan..."
"Sebaiknya saya menelepon bagian keamanan saja."
"Sebentar, Risa. Biar saya saja yang menelepon," cegah Andri.
Risa menatap heran pada Andri yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh, begitu. Pantas saja. Terima kasih, Pak Agus." Ujarnya pada orang di ujung ponsel.
"Pantas saja apa, Pak. Kok Pak Andri menelepon security di depan?" tanya Risa heran.
"Sudahlah. Kamu biarkan saja. Nanti juga terbuka sendiri," sahut Andri yang membuat Risa semakin bingung.
"Pak Andri aneh deh, mana bisa pintu itu terbuka sendiri." Ujarnya.
Namun baru saja Risa hendak terduduk, suara kunci pintu yang dibuka terdengar dari dalam ruangan. Ia menoleh pada Andri yang memberinya senyum tipis. Sesaat kemudian, pintu terbuka. Risa tertegun melihat sosok yang berdiri sambil tersenyum padanya itu.
"Selamat pagi, Non," sapa Andri.
"Selamat pagi, Pak Andri." Sahutnya.
__ADS_1