My Love My Bride

My Love My Bride
menggoda Aldo


__ADS_3

Happy reading ....


Terlihat jelas rasa gugup yang tergambar dari raut wajah Kamil. Ungkapan Kamil pada orang tuanya yang meminta untuk menikahi seorang wanita menggema di kepala Andri.


Apakan wanita yang dimaksud itu adalah Ajeng? Apa selama ini Kamil memendam perasaan terhadap wanita yang akan dinikahinya?


"Kak, maaf Kamil tidak bermaksud apa-apa. Akan Kamil hapus sekarang juga."


Kamil mendekati Andri dan mencoba mengambil ponselnya, namun di jauhkan oleh kakaknya itu.


"Apa kamu masih mencintai Ajeng?" tanya Andri datar.


"Tidak. Kami hanya berteman," kilah Kamil.


"Heh, pembohong," decih Andri yang kembali meletakkan ponsel Kamil di atas nakas.


Andri sangat mengenal sosok adiknya. Kamil yang suka cengengesan itu tidak pandai berdusta.


"Kak, aku memang pernah suka sama Ajeng. Tapi itu sebelum aku tahu dia pacar kakak. Ajeng tidak pernah tahu perasaanku, karena bagi Ajeng aku ini tak lebih dari kenalan biasa." Ujarnya sambil mendekati nakas lalu melepaskan kabel dari ponselnya.


"Tapi kamu suka sama dia. Apa kamu pikir aku akan merasa baik-baik saja setelah mengetahuinya?" Andri menatap lekat pada Kamil yang sedang menghapus foto Ajeng dari ponselnya.


"Kamu bisa menghapus foto Ajeng dari ponsel itu. Tapi apa kamu menjamin bisa menghapus Ajeng dari hatimu. Apalagi kalau Ajeng jadi istriku. Kita akan ada dalam satu keluarga. Apa kamu akan mencintai kakak iparmu sendiri?"


"Tentu Kamil bisa melupakan Ajeng. Dia bukan siapa-siapa Kamil. Kami juga bukan pacar ataupun mantan pacar yang pernah punya kenangan. Jadi tidak sulit melupakan Ajeng, Kak. Santai saja, Kamil pernah mencintai beberapa teman wanita sebelum Ajeng, dan memang tidak sulit melupakannya. Seiring waktu berjalan, akan ada wanita lain yang menarik perhatian Kamil."


Kamil mengambil baju di dalam lemari dan mengenakannya. Andri menatap dengan perasaan yang tak menentu.


"Kak, jangan dipikirkan lagi. Percaya deh, Kamil tidak masalah dengan itu. Sejujurnya Kamil senang kakak akan menikahi Ajeng. Kenapa? Karena Ajeng membutuhkan figur suami yang dewasa. Yang bisa mengerti, memahami dan pastinya menerima dia seutuhnya. Sedangkan Kamil, kakak lihatkan? Masih suka nongkrong, ngumpul sama teman, kadang uang juga habis nggak jelas. So far, kalian serasi." Ujarnya sambil mengacungkan ibu jari.


"Kamu yakin tidak apa-apa?"


"Haha, udahlah Kak. Santai aja. Kamil udah punya incaran di tempat kerja." Tuturnya sambil mengedipkan sebelah mata.


"Cantik?"


"Cantik banget. Lebih cantik dari Ajeng." Kelakarnya.


"Cantikan Ajeng dong."


"Itu kan kata kakak yang lagi bucin," sahut Kamil sambil menyisir rambut dan menyemprotkan parfum sambil tersenyum.


"Kamil ke luar dulu ya, Kak. Nanti nggak usah dikunci. Kamil di warung depan kok." Andri mengangguk kecil dan menatap langkah adiknya yang meninggalkan ruangan itu.


Andri membuang kasar nafasnya. Senyum tipis tersungging mengingat selera mereka ternyata tak jauh berbeda.

__ADS_1


"Ok. Semoga kamu mendapat wanita yang lebih baik dan pastinya bisa membalas perasaan kamu, Mil. Terima kasih, sudah berbesar hati pada kakakmu ini." Ujarnya sambil menatap foto Kamil.


***


Suasana di kediaman Salim sangat ramai. Tingkah polah Nara dan Raya membuat kehebohan di dalam rumah.


Sementara itu Riky, Rafael, dan Andri berbincang di teras depan. Mereka sedang menunggu tamu yang sedang dalam perjalanan.


Suara klakson membuat mereka segera beranjak. Tak hanya sendiri, Aldo datang dengan keluarga besar Salman.


"Uncle!" seru Fatima dengan riang, menyusul dibelakangnya Amar, Zein, Arka, dan Queena.


"Gimana kabar ibu hamil? Agak pucat ya?" tanya Riky setengah menggoda pada Alvin yang menyapanya.


"Kehamilan yang sekarang, Laura nggak nafsu makan," sahut Alvin.


"Nafsu satu lagi tetap oke kan?" goda Riky.


"Hoo itu beda lagi. Nafsu nggak nafsu gue sikat, haha." Alvin dan Riky terbahak membuat Laura yang merona mendelik pada suaminya.


Salim, Widiya dan Nura menyambut kedatangan mereka. Arka langsung berlari pada Omanya.


"Mari silahkan masuk. Pak Aldo, Pak Bram, Pak Evan, ayo masuk!" ajak Salim.


"Mari Jeng Resty, Mey, Laura ... sehat?"


"Ngidam apa?" tanya Widiya lagi.


"Apa ya? Biasa aja sih, Tante. Nggak ada yang aneh-aneh."


"Queen senang mau punya adik?" tanya Widiya.


"Senang Oma," sahut Queena sambil tersipu. Mereka memasuki rumah dan menuju ruang keluarga. Di sana ada Salma yang sedang memangku Mima, Alya dan Alena. Fatima langsung menghampiri Baby Mima.


"Yang lain kapan nyusul? Amiera, Mey ... ayo jangan mau kalah sama Laura!" ujar Widiya.


"Alena nggak ditanya, Tante?" Amiera melirik pada Alena yang membulatkan mata ke arahnya.


"Hehe, nanti ngamuk kalau ditanya sekarang. Tenang aja, tahu-tahu udah begini." Widiya tersenyum tipis sambil menggerakkan tangannya membentuk lengkungan cembung di bagian perut. Amiera terkekeh sambil mengacungkan ibu jarinya.


Mereka pun menyapa Salma. Riky menggoda habis-habisan Aldo yang terpaku menatap Salma.


Malam ini Salma terlihat berbeda. Wanita itu terlihat elegan meski dalam balutan gaun sederhana dan make-up yang natural.


"Ciee, awas ileran. Ada laler nanti bisa-bisa, hap! Lalu ditangkap." Kelakar Riky dan membuat Aldo tersadar dari keterpanaannya

__ADS_1


"Rik, jangan lupa pasang CCTV di kamar Tante dari sekarang. Biar kita bisa lihat kuda hitam Tuan Salman beraksi di malam pertamanya. Jangan lupa minum jamu juga Pak Aldo, biar strong!" seloroh Rafael.


"Ish, ada anak-anak," tegur Alya sambil menepuk lengan suaminya yang kini tengah memangku Raya.


"Emang kakek punya kuda hitam, Mi? Dimana, kok aku nggak pernah lihat," tanya Fatima yang kini mendekati mereka.


"Ee, punya nggak ya? Pak Aldo, kuda hitam Kakek di mana?" tanya Meydina yang tersenyum kikuk. Aldo yang ditanya pun terlihat bingung dan salah tingkah.


"Uncle, kapan-kapan aku mau naik." Rengeknya.


"I-iya boleh. Uncle carikan dulu ya. Bilang sama Papi," sahut Aldo melempar pada Maliek.


"Kok jadi gue?" gumam Maliek.


"Papi, di mana kudanya. Aku mau lihat. Besok kan hari Minggu. Boleh ya, please." Maliek menatap wajah putrinya yang sedang menangkup kedua tangan di depan dada.


"Boleh, kudanya nanti dibawa uncle itu ke rumah kita. Oke, Uncle?" tanya Maliek penuh penekanan di akhir kalimatnya. Kedua matanya membulat sempurna pada Rafael.


"Awas Lo kalau nggak mau. Suruh siapa asal mangap aja," batin Maliek.


"Hahaha, mampus si Rafael. Kena batunya," batin Riky terbahak melihat Rafael yang kebingungan mau menjawab apa.


"I-iya. Siap, besok Uncle bawa ke rumah. Sekalian kita bikin sama kandang-kandangnya," sahut Rafael pada akhirnya.


"Emang ada, Yang?" tanya Alya pelan.


"Sstt, iyain aja dulu. Gimana nanti," sahut Rafael yang dibarengi isyarat mata.


"Mami, aku boleh nginep nggak di sini?" tanya Fatima pada Meydina. Rafael merasa lega karena pembicaraan kuda hitam itu teralihkan.


"Nggak, Sayang. Nanti aja kalau baby nginep di rumah Opa Evan baru boleh," sahut Meydina yang membuat Fatima memajukan bibirnya.


"Besok auntie ke rumah Opa. Fatum nginep ya," ujar Alena.


"Beneran besok, Auntie?" Alena mengangguk cepat.


"Asik. Kak! Besok kita jadi nginep di Opa!" Serunya pada Zein yang sedang bercanda dengan Arka dan Rendy.


"Nah! Karena Fatum mau nginep, kudanya nggak jadi uncle bawa ya?" ujar Rafael.


"Jadi dong, Uncle. Nginep kan malam, main kuda kan siang." Deliknya.


"Haha, Uncle ... naik kuda itu siang. Kalau kuda-kudaan baru malam, haha." Riky tertawa dengan lepas. Begitu juga Alvin dan Maliek. Sedangkan yang lain hanya bisa terkekeh mendengar kelakaran Riky.


"Kakak Zein mau ikut nginep juga?" tanya Alena sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Iya. Kakak kok yang punya ide itu," sahut Fatima polos.


"O ya?" Fatima mengangguk cepat dan membuat Alena mengulumkan senyum sambil menoleh pada Zein yang bertingkah seolah menghindari tatapannya.


__ADS_2