
Happy reading ...
Di dalam mobil yang membawa Salman ...
Dokter Said mendiagnosa Salman mengalami henti jantung. Dokter sekaligus sepupu Salman itu kini sedang berusaha untuk merangsang otot jantung dengan defibrilator.
Berkali-kali Said menempelkan alat itu. Daya kejutnya membuat tubuh Salman yang terbaring tersentak.
Dokter Said menatap nanar layar monitor. Tidak ada perubahan yang berarti atas apa yang telah dilakukannya. Beruntung mereka telah tiba di rumah sakit.
Beberapa orang berseragam putih yang telah menunggu bergegas menghampiri. Dengan langkah setengah berlari, mereka membawa Salman melalui jalur khusus yang memang tersedia.
***
Derap langkah terdengar seiring pintu lift yang terbuka. Para dokter terbaik yang dimiliki Al-Azmi Hospital dikerahkan untuk mengupayakan yang terbaik bagi Salman.
Di luar ruangan operasi, Meydina dan Ahmed menunggu dengan perasaan tak menentu. Meydina bahkan terhenyak dan sontak berdiri, tiap kali pintu dibuka oleh dokter yang keluar masuk dari ruangan itu.
Derap langkah kembali terdengar, bukan hanya berjalan kali ini terdengar berlari. Meydina menoleh, Alvin dan yang lainnya akhirnya datang juga.
"Mey ... bagaimana keadaan Daddy? Uncle, apa sudah ada kabar dari dalam?" tanya Alvin cemas.
Ahmed menggeleng pelan, sementara Meydina terisak dalam pelukan Maliek. Hal yang sama terlihat, Amiera menangis sesegukan dalam dekapan Rendy.
Hanya Laura yang tidak ada di sana. Istri Alvin itu susah payah menenangkan anak-anak yang merengek karena ingin ikut ke rumah sakit.
Mereka menunggu dengan hati yang penuh harap. Alvin terlihat gelisah dan bolak-balik di depan pintu. Ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Seingatnya, Daddy-nya itu terlihat baik-baik saja.
Dering ponsel mengagetkan Alvin, Laura yang menelepon. Tentunya menanyakan kabar Ayah Salman.
"Belum ada kabar," sahut Alvin pelan.
"Semua akan berjalan baik, Hubby. Tenanglah," ucap Laura.
"Aamiin. Semoga saja."
"Mami, kakak mau bicara dengan Daddy ...." Terdengar rengekan Zein di ujung ponselnya.
"Biarkan Zein bicara, Laura."
"Baiklah."
__ADS_1
"Daddy, kakek kenapa? Mengapa kakek dibawa ke rumah sakit?"
"Kakek sakit, Zein. Kakek Dokter sedang merawatnya."
"Kakak mau ke sana, Dad. Apa Mami menangis? Kalau kakek sakit, Mami suka menangis. Kakak mau menghibur Mami," rengek Zein.
"Tidak. Mami Zein tidak menangis," dusta Alvin sambil menoleh pada Meydina yang membenamkan wajahya di dada bidang Maliek.
"Daddy nggak bohong kan? Kalau Mami menangis, Zein marah pada Daddy."
"Mami orang yang tegar, Zein. Sudah ya, Daddy sedang menunggu kabar dari Kakek Dokter."
"Iya, Dad. Semoga kakek cepat sembuh."
***
Detik-detik berlalu, dan mereka masih menunggu. Sudah lebih dari dua jam, namun belum juga ada kabar.
Hati semakin cemas, saat melihat ekspresi serius dari mereka yang keluar masuk ruangan itu. Meydina selalu spontan mendekati siapa saja yang keluar untuk menanyakan kabar. Namun hanya kata-kata menenangkan yang didengar.
Dokter Said keluar dari ruangan itu. Anak menantu Salman langsung menghampirinya.
"Uncle, bagaimana kondisi Daddy?" tanya Amiera.
"Apa maksud, Uncle?" tanya Alvin. Ia menangkap maksud lain dari ucapan Dokter Said.
"Temui Salman selagi ada waktu. Tentunya, jangan putus harapan untuk terus mendoakan yang terbaik bagi ayah kalian. Alvin, ikut ke ruanganku. Kau tidak keberatan jika Alvin yang menjadi penanggung jawabnya kan, Mey?" ujar Dokter Said.
"Tentu tidak, Paman. Mey akan menemui ayah," sahut Meydina dengan suara yang parau.
"Kau bisa menemuinya setelah tim dokter selesai memasang peralatan yang diperlukan di sana. Bersabar sebentar lagi ya," ujar Dokter Said sambil mengusap lengan Amiera yang berada di sampingnya.
Meydina dan Amiera mengangguk pelan. Menatap sendu langkah Alvin yang berjalan beriringan dengan Dokter Said.
***
Suasana berbeda terasa di kediaman Salim. Widiya terlihat sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke kota D. Wanita paruh baya itu bersikeras untuk pindah ke kota tersebut. Ia ingin mendampingi menantunya selama menjalani masa kehamilan.
"Pa, terus kapan urusan rumah itu selesai? Papa sih, bukannya dari dulu." Ujarnya dengan wajah yang ditekuk.
Walaupun rumah yang mereka beli belum bisa dihuni, bukan alasan untuk tidak jadi pergi ke kota D. Widiya bertekad akan menginap di apartemen Riky sampai rumah itu siap huni.
__ADS_1
"Ma, sabar dong. Kan masih ada beberapa bulan ke depan. Kasihan Riky sama Alena kalau sekarang mama ke sana."
"Kok kasihan?" tanya Widiya heran.
"Ya iya, lah. Mereka pasti sangat senang dengan kehamilan Alena. Beri mereka ruang untuk menikmatinya hanya berdua. Biarkan mereka menjalani dan merasakan bagaimana itu kehamilan di trimester pertama. Kita dulu kan begitu, mama lupa ya?"
"Memangnya dulu kita gimana?" Widiya balik bertanya. Ia merasa kesal karena suaminya seperti tidak tertarik untuk menemui anak menantunya.
"Ya begitu. Tengah malam mama ingin dibelikan sate di jalan apa itu, papa lupa. Pokoknya jauh. Mama juga pernah minta es campur jam dua pagi. Mana harus beli, nggak mau yang bikin di rumah. Kan nyeleneh," kenang Salim sambil tersenyum.
"Nyesel mama. Kenapa dulu mintanya cuma makanan sih? Coba kalau mama ngidamnya berlian, kan lebih bagus. Nggak akan dibilang nyeleneh." Deliknya sambil berlalu meninggalkan Salim yang melongo. Namun kemudian kembali lagi.
"Pa, Ajeng kok belum pulang?"
"Iya. Kemana anak itu ya?"
"Terakhir mama telepon, katanya menginap di rumah teman. Tapi kok nggak pulang-pulang. Apa jangan-jangan menemui Hesty?"
"Bisa jadi. Coba mama telepon Hesty."
"Tapi kalau Ajeng tidak di sana, nanti Hesty jadi cemas." Sahutnya sambil mencoba menghubungi Ajeng lagi.
"Kok nggak aktif?"
"Mungkin sedang di cas."
"Mama jadi khawatir. Mana mama nggak punya nomer temannya satu pun juga."
"Coba lagi nanti. Siapa tahu diangkat," ujar Salim santai.
"Ish, Papa. Nggak ada seriusnya. Diajak menemui Alena santai-santai aja. Sama Ajeng juga, nggak ada khawatirnya," gerutu Widiya sambil berlalu.
Lagi-lagi Salim melongo mendengar pendapat istrinya tersebut. Pria paruh baya itu menoleh pada Paijo yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Kamu juga berpikir seperti itu, Jo?" tanya Salim dan mendapat anggukan dari Paijo.
"Kamu sama aja sama mama. Kamu kan bukan betina, kamu itu jantan. Harusnya kamu mendukungku. Awas ya, kalau pindah nggak akan dibawa," gerutu Salim.
Salim mendelik ke arah sangkar Paijo sambil menghabiskan sisa kopi dalam cangkirnya. Burung kesayangannya itu bergerak kesana-kemari seolah sedang melakukan protes terhadap pemiliknya.
"Awas kamu ya!" Salim mengacungkan telunjuknya pada Paijo.
__ADS_1
"Ma, kita jadi berangkat. Ayo siap-siap!" seru Salim dengan ujung mata melirik pada Paijo. Pria itu merasa puas melihat Paijo yang semakin cemas. Ia pun terkekeh sambil beranjak menuju ke dalam rumahnya.