
Happy reading...
Alena memarkirkan motor maticnya di halaman parkir 'Queen Resto'. Ajeng mendahului turun. Gadis itu nampak terpukau memperhatikan kesekitar.
"Mau masuk nggak?" tanya Alena datar sambil melangkah meninggalkan Ajeng.
Ajeng mengekor dibelakang Alena dan sontak menghentikan langkahnya saat Alena berbalik.
"Kenapa helm-nya masih dipakai?" tanya Alena heran.
"Oh iya." Ajeng berbalik untuk menaruh helm yang dipakainya di motor Alena.
Alena meninggalkan Ajeng sambil menggeleng pelan.
"Pagi, Non!" sapa seorang pegawai pria yang sedang mengepel lantai.
"Pagi Kak Ari, Kak Laura sudah datang?"
"Sudah. Bu bos ada di atas," sahut pegawai bernama Ari itu.
"Kak, yang itu adik Lena lho. Jangan digombalin ya," canda Alena sambil menunjuk pada Ajeng yang berjalan mendekati mereka.
"Nggak berani saya, Non. Kalo sesama pegawai baru saya berani," sahut Ari sambil nyengir. Alena mengulumkan senyum mendengarnya.
"Jeng, tunggu di sana sebentar! Aku mau ke atas," seru Alena menunjuk ke area taman.
Ajeng menjawab dengan eksprasi wajahnya yang datar serta bahu yang diangkat perlahan. Alena yang sudah tahu sedikit perangai Ajeng tak mau ambil pusing, ia berlalu ke ruangan Laura.
Ajeng perlahan melangkah menuju taman yang ditunjuk Alena sambil memperhatikan area bagian dalam restoran tersebut. Sejujurnya ia merasa kagum dengan desain dan dekorasi tempat itu.
"Mas, Kak Laura itu siapa?" tanya Ajeng yang penasaran karena nama itu tadi disebut Alena saat di rumah.
Ari terlihat bingung. Bukankah wanita ini saudara Alena?
"Bu Laura kan kakak iparnya Non Alena. Istrinya Tuan Alvin," sahut Ari.
"Alvin? Apa Alvin yang katanya teman Kak Riky ya?" gumam Ajeng sambil berlalu.
Sementara itu di ruangan Laura, Alena sedang menanyakan perihal hasil test pack pada kakak iparnya.
"Sudah berapa lama kamu berhenti disuntik?"
"Satu bulan, Kak. Dan ini sudah lewat hampir seminggu," sahut Alena pelan.
"Sabar dong. Kamu kan menggunakan pencegah kehamilan hampir tiga tahun. Butuh proses untuk kembali subur," ujar Laura sambil tersenyum.
"Gitu ya, Kak?" Laura mengangguk pasti.
Alena menghela nafasnya, dan mencoba kembali bersemangat. Ia akan bersabar menunggu saat itu tiba.
"Itu siapa?" gumam Laura, saat melihat seorang gadis duduk di salah satu kursi taman.
Alena mendekati jendela lalu berkata, "Sepupunya Kak Riky. Namanya Ajeng."
"Datang sama kamu, Len?"
"Iya. Mama yang minta. Dia baru datang dua hari yang lalu."
"Oh."
"Nanti kalau Alena kuliah, Ajeng di sini dulu ya Kak."
"Iya. Santai saja. Anak-anak juga mau ke sini. Ke bawah yuk! Sebentar lagi restoran buka. Mau dibuatkan sesuatu nggak?"
"Apa ya?"
__ADS_1
"Kamu sih apa saja mau," kelakar Laura yang diangguki Alena.
Laura menghampiri Ajeng dan menyapanya. Dari raut wajahnya, Ajeng nampak sangat terpukau dengan kecantikan Laura.
Ajeng dan Alena terduduk di kursi yang berada didekat dapur. Aroma masakan mulai tercium dan pastinya mengggugah selera.
Beberapa orang mulai berdatangan. Alena yang mengenakan aksesoris tambahan ala waiters tanpa sungkan menyambut kedatangan mereka dengan ramahnya.
Ajeng memperhatikan sikap Alena dengan seksama. Istri sepupunya itu terlihat riang dan bahagia. Bagaimana tidak bahagia? Semua orang menyayangi Alena.
"Permisi, Non. Silahkan diminum. Sengaja tidak terlalu manis, karena yang akan meminumnya sudah manis."
Ajeng menatap heran pada pegawai pria yang tadi ditemuinya. Menyadari tatapan saudara Alena itu, Ari undur diri sambil merutuki dirinya sendiri.
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Laura memastikan adik iparnya itu mengisi perut sebelum berangkat kuliah.
"Jeng, tunggu di sini ya. Aku mau ke kampus."
"Iya, di sini saja. Kamu bisa berkeliling. Di sebelah sana ada kolam ikan, ada taman bunga juga. Nggak luas sih," ujar Laura menimpali.
"Iya, terima kasih Kak." Sahutnya pada Laura.
"Jangan sungkan ya. Kalau ada yang diinginkan, bilang saja pada salah satu dari mereka. Kakak mau menjemput dulu anak-anak di sekolah."
Ajeng mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Ia menatap punggung kedua wanita yang sedang mengobrol sambil diselingi tawa.
***
Siang ini, Laura yang menjemput Zein dan Queena di sekolah. Semalam Zein menginap di rumahnya. Bagi Zein, tempat tinggal Alvin sudah menjadi rumah kedua.
Sementara itu karena kejadian kemarin, Amar izin sakit tidak sekolah. Dan Meydina yang menjemput Fatima di TK.
Laura membawa kedua anak itu ke restoran miliknya. Anak-anak terlihat senang saat turun dari mobil. Beberapa pegawai restoran melambaikan tangan menyapa mereka.
"Habiskan dulu makan siangnya ya. Setelah itu baru boleh main," ujar Laura.
"Oke, Mom."
"Auntie, boleh nangkap ikan nggak?" tanya Zein.
"Boleh. Tapi makan dulu ya. Nangkap ikannya nanti ditemani sama Mas Ari."
"Asik."
Zein membisikkan sesuatu di telinga Queena. Sepupunya itu menggeleng sambil berkata, "Jangan Zein. Kasihan."
"Apa yang jangan, Queen?" tanya Laura heran.
"Kata Kakak Zein, Mas Ari-nya ceburin."
"Aww! Sakit tahu!" pekik Zein. Karena Queen menggigit tangan Zein yang membungkam mulutnya.
"Jangan dong, Kak. Kasihan Mas Ari. Dia nggak bawa baju ganti. Nanti kalau kedinginan terus sakit, bagaimana? Hmm, Mami kalau tahu marah nggak ya?" Laura berlagak seakan ia akan mengadu pada Meydina.
"Jangan, Auntie! Kakak cuma bercanda kok." Ujarnya dengan wajah memohon.
"Bohong," sela Queena.
"Beneraaan!" seru Zein.
"Oke, Auntie percaya. Habiskan makannya ya, Sayang."
Kedua anak itu mengangguk dan Laura pun pamit meninggalkan mereka.
Saat anak-anak itu sedang menikmati makan siang, Ajeng yang baru kembali dari berkeliling area restoran menautkan alisnya melihat anak-anak.
__ADS_1
"Kalian siapa?" tanya Ajeng yang terduduk di depan anak-anak.
"Auntie siapa?" Queena balik bertanya.
"Ajeng. Kalian?"
"Auntie tidak mengenal kami?" tanya Zein.
"Tidak. Memangnya kalian siapa?"
"Hmm, padahal kan kita terkenal ya Queen."
"Masa sih?" Ajeng mulai mengingat-ingat.
"Iya. Tuh, foto kita ada di sana." Zein menunjuk ke tempat pemesanan.
Ajeng menoleh ke arah yang ditunjukkan anak laki-laki di depannya. Kemudian kembali menoleh.
"Kalian bintang iklan?" Anak-anak menggeleng.
"Lalu?"
"Anak Mommy," sahut Queen sambil menunjuk pada Laura yang berada di meja kasir, menggantikan pegawainya yang sedang istirahat makan siang.
"Anak Kak Laura?"
Queena mengangguk.
"Auntie kok nggak pesan? Mau Kakak panggilkan Mas Ari nggak?"
"Nggak usah, tadi sudah."
"Kalau sudah, kok belum pulang?" tanya Zein lagi.
"Sedang menunggu Alena," sahut Ajeng ragu.
"Auntie Alena?"
Ajeng mengangguk.
"Auntie-nya mana?"
"Ke kampus dulu."
"Oh. Auntie siapanya Auntie Alena?"
"Sepupunya Kak Riky," sahut Ajeng datar.
"Sepupu itu apa?"
"Kata Daddy, sepupu itu seperti Queen sama Kakak."
"Oh. Terus..."
"Kak Zein! Jadi nggak nangkap ikannya? Cepat habiskan makannya." Queena mulai kesal dengan rentetan pertanyaan yang dilontarkan Zein.
"Jadi dong. Kamu sih, kenapa bilang sama Mommy Laura. Kan jadi nggak seru," gerutu Zein.
"Ya jangan diceburin. Yang lain aja," sahut Queena.
"Apa hayo?"
"Nggak tahu. Biasanya juga Kak Zein yang banyak ide."
"Kalau nggak diceburin, diapain ya? Auntie tahu nggak?" tanya Zein yang dijawab gelengan kepala serta raut wajah Ajeng yang bingung.
__ADS_1