My Love My Bride

My Love My Bride
acara melepas Alena


__ADS_3

Happy reading...


Pagi ceria di rumah Evan. Secerah sinar mentari yang menghangatkan pagi.


Queen dan Zein bermain di taman belakang. Sementara Laura sedang berdiskusi dengan seorang pelayan mengenai menu apa saja yang akan di hidangkan nanti siang.


Sejak mengetahui keputusan Riky yang akan membawa Alena lebih awal, Evan berniat mengadakan acara makan siang keluarga. Meski berat, ia tahu harus merelakan putrinya yang dibawa ke luar kota. Ia harus menyadari tanggung jawabnya sudah berpindah tangan. Bagaimanapun juga Alena sudah berumah tangga.


"Selamat pagi, Pa." Alvin menghampiri Evan yang terduduk di teras belakang.


"Selamat pagi. Kamu mau ke rumah Meydina? Bagaimana keadaan daddy-mu, Vin? Apa minggu depan beliau akan ikut ke Timur Tengah lagi?"


"Alvin belum tahu, Pa. Sepertinya begitu. Menurut uncle, terakhir kali ke sana keadaan daddy sudah mulai kurang stabil. Dan sepertinya, daddy lebih nyaman dengan perawatan di rumah sakitnya."


"Akan lebih baik kalau Tuan Salman menjalani pengobatan dengan baik dulu di sana," saran Evan.


"Alvin juga sudah membicarakan ini dengan Amiera dan Mey. Tapi sepertinya daddy merasa bimbang. Di satu sisi daddy tidak ingin melihat keluarganya bersedih dengan keadaannya. Di sisi lain jika daddy berobat di sana, daddy berat meninggalkan keluarga. Terutama anak-anak, Pa."


"Papa mengerti. Anak-anak memang obat mujarab untuk menghibur hati. Susah juga kalau begitu ya," gumam Evan.


"Meydina akan mencoba memberi pengertian pada daddy," sahut Alvin.


"Iya, coba saja dulu. Semoga ada jalan keluar yang terbaik."


"Daddy, kapan Amar sama babby datang?"


Perhatian keduanya pun beralih pada Zein yang mendekati mereka, disusul dibelakangnya Queena.


"Sebentar lagi. Zein sudah sarapan belum? Kamu, Sayang?" tanya Alvin pada Queena yang duduk di salah satu pahanya dan dijawab gelengan kepala.


"Sudah minum susu. Nanti ah, sebentar lagi sarapannya. Nunggu mami datang," sahut Zein berlalu ke dalam rumah.


"Mandi dulu, Zein."


"Sebentar lagi, Dad. Masih keringatan, mau nonton kartun dulu. Queen! Sini ada kartun baru." Pekiknya kegirangan.


"Ish, ternyata cuma iklan." Desisnya kecewa.


"Ah, Kakak. Queen kira beneran kartun baru." Deliknya meninggalkan Zein yang cemberut menuju Mommy Laura.


***


Sementara itu di kediaman keluarga Salim, rumah terasa sepi. Ajeng yang baru keluar dari kamarnya merasa heran melihat rumah lengang tidak ada siapa pun juga.


Ajeng berjalan menuju ruang makan. Membuka lemari pendingin dan mengambil susu UHT yang kini jadi favoritnya. Saat hendak mengambil gelas, seorang ART rumah itu masuk dan menyapanya.


"Mbok, pada ke mana? Kok sepi."


"Ibu sama Bapak keluar, Non. Kalau Den Riky sama Non Alena belum turun." Sahutnya lembut.


Ajeng membawa gelas dan kotak susu ke teras belakang. Menikmati susu dingin di hangatnya pagi kini jadi kebiasaannya.


Ia menoleh pada sangkar Paijo. Kemudian menoleh pada pelayan pria yang membawa buah untuk Paijo.


"Mang, biar saya saja yang memberikan."

__ADS_1


Pelayan itu merasa bimbang. Sekilas ia melirik si Mbok yang juga memberinya tatapan membingungkan.


"Kok malah diam. Sini, gampang kan tinggal pasang aja." Ajeng mengambil alih buah itu. Dan mendekati sangkar Paijo yang cukup besar.


Sebenarnya Salim sudah memberi Paijo pakan veor, akan tetapi selalu ada buah segar yang bisa menjadi pilihan untuk makanan burung kesayangannya itu.


Dengan hati-hati Ajeng menempatkan buah itu. Ada sedikit perasaan takut karena Paijo bergerak liar seperti merasa terancam.


"Maaf ya, aku pernah ngisengin kamu. Bisa kan kita berteman? Lagi pula si jelek kan mau pergi. Dari pada kamu nggak ada teman, lebih baik kita berbaikan. Aku penasaran apa julukanmu untukku. Kak Alena yang cantik aja kamu bilang jelek, lalu aku apa?"


Entah disadari Ajeng atau tidak, beberapa pelayan mengulumkan senyum mendengar celotehannya. Tanpa diduga Paijo menyahutnya.


"Burik." Ujarnya masih dengan sikapnya yang gelisah.


"Ish, nggak ada yang lebih bagus apa? Aku mengerti sekarang, kamu memberi julukan buruk agar kamu cakep sendiri kan? Hayo ngaku," delik Ajeng.


"Terserah kamu deh," gerutu Ajeng kesal. Raut wajahnya berubah saat melihat Riky menyembul dari pintu. Ajeng tersenyum masam pada kakak sepupunya itu.


"Kamu kenapa? Jangan bilang kamu udah gangguin si Paijo."


"Enggak kok. Ajeng baru aja ngasih makan. Si Paijo tuh yang belagu. Kecakepan, masa Ajeng dipanggil 'burik'." Sahutnya dengan wajah yang ditekuk.


"Burik... Burik..."


"Tuh kan!"


Riky terkekeh pelan melihat Ajeng yang semakin kesal. Apalagi melihat Ajeng yang membalas dengan memeletkan lidahnya. Sekilas gadis ini ada kemiripan dengan Alena. Ia berharap, kehadiran Ajeng cukup bisa menggantikan kehadiran Alena untuk mengisi hari-hari kedua orang tuanya.


"Jeng, nanti ikut makan siang di rumah papaku ya."


"Oke."


"Masih sama, Kak. Tapi menurut perawat, belakangan mama terlihat bahagia. Tidak terlalu murung lagi."


"Syukurlah. Setidaknya tante sudah bisa tersenyum. Lalu bagaimana dengan Om Pras? Kamu belum memberitahukannya?"


"Belum, Kak. Ajeng berencana mendatangi papa di apartemennya."


"Apartemen? Maksud kamu?" Riky menatap heran pada Ajeng yang terlihat gusar.


"Sebelum memutuskan menjalani pengobatan, mama sudah menjual rumah tanpa sepengetahuan papa."


"Loh, kok bisa? Lalu papamu bagaimana?" Giliran Alena yang merasa heran.


"Rumah dan tanah itu sebenarnya peninggalan Kakek untuk mama dan tante. Rumah itu dulu punya kakekku. Karena mama dibawa papa, jadi yang menempati Tante Hesty."


"Oh, mama tahu Tante menjualnya?" Alena semakin penasaran.


"Tahu, Kak. Karena yang membeli bagian mama itu Tante Widiya. Jadi sekarang rumah itu sepenuhnya punya Tante. Dan mama mempercayakan pengelolaan uang dan pengasuhan Ajeng pada Tante."


"Kamu sendiri bagaimana, setuju tidak dengan keputusan mamamu itu?" tanya Alena, dan dijawab anggukan oleh Ajeng.


"Untuk apa juga Ajeng ikut papanya yang brengs*k itu," decih Riky.


"Ajeng percaya, mama pasti menginginkan yang terbaik untuk Ajeng. Dan Ajeng sudah putuskan memberitahukan semuanya pada papa. Ajeng tidak mau, papa berburuk sangka pada mama." Tuturnya.

__ADS_1


"Lena setuju. Papamu tidak harus menjenguk Tante Hesty jika dia tidak mau. Tapi setidaknya dia harus tahu keadaan Tante Hesty. Kebangetan banget ya kalau papamu tidak mengerti."


"Orang kalau sudah begitu, susah berubahnya. Oh iya, di mana apartemen Om Pras? Kakak bisa menemani kamu ke sana," tawar Riky.


"Tidak usah, Kak. Terima kasih. Ajeng akan mengurusnya sendiri. Menurut Om Edo, papa membeli apartemen di kota D. Mungkin dia tinggal dengan j*langnya. Kata Om Edo, mereka punya anak." Ajeng terlihat datar saat menuturkannya.


"Kota D?" Riky mengernyitkan keningnya. Ajeng mengangguk pelan. Riky dan Alena saling bertukar pandang.


"Kamu ikut kita aja besok, Jeng. Kamu juga bisa tinggal sementara di apartemen Kak Riky. Ada kamar tamu kok. Iya kan, Kak?"


"Iya," angguk Riky.


"Terima kasih, Kak. Tapi mungkin bukan dalam waktu dekat ini. Ajeng akan minta Om Edo untuk mencaritahu dulu siapa jal*ng yang dinikahi papa. Karena setahu Ajeng, papa sering gonta-ganti jal*ng. Tapi yang ini dinikahi, walaupun itu pernikahan siri." Sahutnya.


"Oke. Terserah kamu bagaimana baiknya saja. Kalau perlu sesuatu kamu bisa katakan pada kakak." Ajeng mengangguki ucapan Riky.


"Om Edo itu siapa?" tanya Alena.


"Adik papa, Kak."


"Ooh..."


***


Satu persatu kerabat Evan berdatangan. Tidak hanya keluarga Atmadja, tapi juga keluarga Salman dan pasangan Bramasta.


Anak-anak bermain riang, begitu juga dengan para orang tua yang mengobrol sambil diselingi candaan. Mereka begitu suka menggoda Alena yang akan tinggal lama bersama suaminya setelah kurang lebih tiga tahun ini menjalani long distance relationship. Setelahnya, mereka seperti berkelompok membicarakan banyak hal.


Jika Salman,Wira, Salim, Bram dan Evan, membicarakan perihal dunia bisnis. Lain halnya dengan Rendy dan empat sekawan. Alvin dan tiga kerabatnya menggoda Riky yang mungkin tidak bisa profesional di tempat kerja dengan adanya Alena.


Sementara tiga ibu sosialita yakni Resty, Widiya dan Nura, bergosip tentang arisan berlian yang sedang digandrungi teman-temannya. Sedangkan para wanita muda, mengobrol kesana-kemari sambil mengamati anak-anak bermain.


"Besok berangkat jam berapa, Len?" tanya Alya.


"Agak sore, Kak."


"Jangan lupa programnya, Len."


"Program apa, Kak Laura?" Meydina penasaran melihat senyum Laura yang terkulum.


"Ada deh, rahasia."


"Idih main rahasia-rahasiaan segala," delik Meydina.


"Sepertinya Amie ngerti deh."


"Apa?" tanya Meydina dan Alya bersamaan.


Amiera hanya tersenyum, membuat dua saudarinya mencoba menebaknya.


"Wah, yang benar Len? Sudah mulai programnya?" Meydina terlihat antusias.


"Ssttt, jangan keras-keras. Kan biar jadi kejutan," ujar Alena yang tersipu.


"Apaan sih? Kok Alya belum ngerti."

__ADS_1


Meydina membisikkan sesuatu di telinga Alya. Sesaat kemudian Alya tersenyum tipis dan mengangguk pelan melihat Alena yang meletakkan telunjuk di tengah bibirnya.


"Oke, semoga berhasil."


__ADS_2