My Love My Bride

My Love My Bride
Adik?


__ADS_3

Happy reading...


Beberapa karyawan di divisi keuangan mulai berbisik setelah asisten CEO Andri memperkenalkan Alena di hadapan mereka. Selain karena parasnya yang ayu, juga karena beberapa dari mereka ada yang sempat melihatnya datang bersama CEO perusahaan itu.


"Jadi menurutmu, dia siapanya Pak Riky?" bisik seorang karyawan wanita setelah Andri meninggalkan ruangan.


"Mungkin adiknya. Nggak mungkin kan kalau istrinya, kelihatannya masih sangat muda."


"Oh..."


Obrolan keduanya terhenti saat Alena yang baru keluar dari ruangan kepala divisi keuangan menghampiri mereka.


"Hai, Kak! Siapa namanya?" tanya Alena sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


"Feby." Sahutnya menyambut uluran tangan Alena.


"Alena. Kalau kakak siapa?" tanya Alena pada wanita di dekat Feby.


"Chelsy."


"Alena. Salam kenal kakak-kakak semua! Mohon bimbingannya ya," sapa Alena sambil melambaikan sebelah tangannya pada rekan kerjanya.


"Alena, kamu akan kerja di sini?" tanya Feby.


"Belum tahu, Kak. Untuk sementara Alena ikut belajar saja. Rencananya mau magang sih, tapi belum tahu juga. Hehe..."


"Enak ya jadi adiknya boss. Bisa magang sesukanya," sindir Feby.


"Adik?"gumam Alena pelan.


"Apa mereka berpikir aku ini adik Kak Riky? Biarlah..." Batinnya.


Sementara itu di sisi lain kantor, sebisa mungkin Riky fokus pada pekerjaannya. Ia tidak ingin kehadiran Alena justru membuatnya bersikap tidak profesional.


"Risa, apakah Andri sudah berangkat untuk menghadiri dari di perusahaan H?"


"Sudah, Pak. Baru saja," sahut Risa.


"Baiklah, kalau begitu. Apa hari ini saya ada rapat lain dengan klien?" tanya Riky masih dengan gerakan tangannya yang memeriksa berkas-berkas.


"Siang ini Bapak ada janji dengan Ibu Elina, perwakilan dari JK Contruction."


"Elina? Baiklah, jam berapa?"


"Jam dua belas, Pak."


"Kamu boleh keluar," ujar Riky.


Risa mengangguk pelan kemudian berlalu dari ruangan. Pagi ini, wanita itu sudaj dibuat geram dengan kabar yang didengar bahwasanya Alena juga datang ke kantor dan ikut bekerja.


Risa merogoh ponselnya dan seulas senyum terukir saat ia membaca beberapa pesan dari aeirang teman di divisi keuangan.


"Heh, jadi dia mengaku sebagai adiknya Pak Riky? Baguslah kalau begitu." Batinnya.


***

__ADS_1


Waktu berlalu begitu cepat. Tidak ada kesulitan berarti bagi Alena yang memang cukup pandai dalam mata kualiah akuntansi. Hanya beberapa kali ia bertanya pada Feby. Selebihnya, ia berkutat dengan kesibukan sendiri.


"Len, makan siang bareng yuk!" ajak Chelsy.


Alena mendongak melihat beberapa rekan barunya yang berdiri sudah bersiap akan meninggalkan ruangan. Ada rasa canggung untuk menolak, namun ia mengingat Riky yang ingin makan bersama.


"Bilang jangan ya sama Kak Riky," batin Alena.


"Sebentar ya," ujar Alena. Ia merogoh ponsel untuk menghubungi suaminya, namun tidak diangkat.


"Oke, ayo!" sahut Alena sambil menyambar slingbag miliknya.


"Mau makan apa, Len?"


"Apa saja deh."


"Ke resto di seberang jalan yuk, banyak pilihan menunya."


"Oke."


Mereka pun berlalu meninggalkan gedung tersebut. Alena tersenyum pada Agus, security yang pernah ditemuinya beberapa hari yang lalu.


"Untung benar, dia adiknya Pak Riky. Jika tidak, bisa-bisa aku dipecat hari ini." Gumamnya.


Suasana resto nampak cukup nyaman. Begitu juga dengan menu yang ditawarkan, cukup terjangkau untuk kantong karyawan. Sambil menunggu pesanan datang, mereka pun berbincang.


"Alena, Pak Riky itu orangnya seperti apa sih kalau sedang di luar kantor? Aku membanyangkan, Pak Riky pasti terlihat cool saat memakai pakaian santai. Ah, gantengnya..." ujar Feby.


"Ah kamu, Feb. Bilang aja kalau kamu membayangkan dada bidang Pak Riky yang pastinya sixpack itu," kelakar sorang rekan pria.


"Yee, nggak apa-apa kerempeng. Idol Korea pada kerempeng banyak fans-nya."


"Ya kalau itu idol, lah kamu? Pokoknya Pak Riky the best. Ganteng, hitam manis... coba ya kalau dia mau ngelirik aku, rela deh apapun akan kuberikan."


"Ish dasar kamu. Yang aku dengar dari Bu Ike, Pak Riky itu sudah punya istri. Tapi nggak tinggal di sini. LDR gitu..." ujar Chelsy.


"Yang benar, Len? Pak Riky sudah menikah?" tanya Feby.


"Sudah," angguk Alena yang mencoba menahan diri agar tidak marah.


"Yaa aku kecewa. Belum apa-apa sudah patah hati. Tapi kalau LDR-an gitu kira-kira Pak Riky tipe setia nggak ya? " tanya Feby.


"Sepertinya setia. Tapi kalaupun dia selingkuh, nggak akan ngelirik kamu. Ada Risa di jajaran paling depan. Ya nggak?" ujar Chelsy.


"Risa?" Alena menautkan kedua alisnya.


"Iya, sekretarisnya Pak Riky. Sejak pertama kerja di perusahaan, dia sudah naksir Pak Riky. Dan setahuku, dia sedang gencar-gencarnya mendekati Pak Bos itu."


Alena tertegun mendengarnya. Terlintas bagaimana ekspresi Risa saat berada di dekat suaminya.


"Alena. Kok melamun? Ayo di makan!"


"Iya," sahut Alena pelan. Dengan perasaan yang mulai kesal, ia menyuapkan makan siangnya dengan semangat.


***

__ADS_1


Seorang wanita berpakaian formal dengan anggunnya melenggang keluar dari loby perusahanaan. Tatapannya langsung tertuju pada restoran yang berada di seberang jalan. Ia pun melangkahkan kakinya menuju restoran itu. Untuk makan siang sendirian karena mitra bisnisnya menolak saat diajak makan siang bersama.


Saat ia memasuki area restoran, seorang pelayan mengarahkannya oada sebuah meja yang masih kosong. Namun tiba-tiba saja tatapannya teralihkan pada beberapa orang yang sedang mengobrol sambil menikmati makanan. Seseorang dari mereka membuatnya menghentikan langkahnya.


"Kalau aku tidak salah, yang satu itu kan sepupunya Rendy. Mmm... ah ya, Alena! Tapi kok dia di sini, bukannya dia..." Batinnya sambil menoleh ke arah gedung perusahaan.


"Permisi," sapa wanita itu.


"Iya, anda siapa ya?" tanya Chelsy mewakili teman-temannya yang juga menoleh pada wanita itu.


"Kamu Alena kan, sepupu Rendy Atmadja?" Tanyanya.


"Iya. Kakak siapa, temannya Kak Rendy?" Alena balik bertanya sambil menelisik pada wanita di hadapannya.


"Kamu lupa ya. Saya Elina, teman SMA Rendy dan Meydina."


"Oh.."


"Kok kamu makan di sini? Apa karena Pak Riky sedang meeting dengan saya?"


"Iya, hehe.." Sahutnya ragu.


"Meeting-nya sudah selesai. Pak Riky juga tadi menolak makan siang dengan saya karena katanya mau makan siang dengan istrinya. Saya pikir itu hanya alasan, ternyata memang benar." Ujarnya sambil tersenyum.


Elina tidak menyadari, ucapannya sukses membuat beberapa orang di sana saling menatap bingung dan bertanya-tanya. Dan Alena menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Maksud anda apa ya?" tanya Feby heran.


"Maksud saya yang mana?" Kini giliran Elina yang merasa bingung.


"Yang itu, yang katanya..."


"Yang! Kok nggak ngajak sih kalau mau makan siang di sini," ujar Riky yang berjalan ke arah meja mereka dengan langkah besarnya.


Feby dan teman-temannya sontak menoleh. Mereka terkejut melihat atasan mereka menghampiri meja.


"Pak Riky," sapa Elina.


"Bu Elina juga di sini."


"Iya, Pak. Kebetulan saya melihat istri anda." Sahutnya.


"Anda mengenal istri saya?" Riky terlihat heran.


"Tentu. Dulu saya sering melihatnya bersama Rendy dan Meydina."


"Jadi anda teman Meydina dan Rendy? Teman SMA?"


"Iya, Pak."


"Wah, ternyata..." ujar Riky sambil tersenyum.


"Istri? Jadi, Alena ini istri Pak Riky?" tanya Feby dengan wajahnya yang mulai memucat.


"Iya. Apa jangan-jangan kalian tidak mengetahuinya?" tanya Elina heran dan dijawab gelengan kepala secara serempak dari mereka yang duduk di sana.

__ADS_1


__ADS_2