My Love My Bride

My Love My Bride
istri Pak Riky


__ADS_3

Happy reading...


Bunyi jam yang berdetak di dinding berpadu dengan suara guratan pena yang menggema di telinga Alena. Gadis manis itu menempelkan telinganya di meja sambil menatap wajah Riky yang terlihat serius dengan semua berkasnya.


Hari ini masih hari Jumat. Dan ia sengaja menyelesaikan tugas kuliahnya lebih cepat agar bisa datang ke kota ini.


Alena tak ingin suaminya merasa bersalah karena tidak bisa pulang di akhir pekan. Selain itu, ia juga malas mengikuti ospek yang akan diadakan kampusnya. Karena sebagai salah satu anggota organisasi, memang seharusnya ia ikut andil dalam acara tersebut.


Sesekali Riky menoleh dan tersenyum pada istrinya. Ia bahkan menyempatkan mencium pipi Alena di sela-sela kesibukannya.


"Sayang, istirahat di sofa. Aku akan memanggil Andri untuk membelikan makanan." Ujarnya sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga Alena.


"Nggak mau." Sahutnya malas.


Riky mengambil ponsel yang tergeletak di meja saat ada suara notifikasi pesan masuk. Pria itu mengulumkan senyum membaca pesan tersebut.


"Siapa?"


"Andri. Dia menunggu di depan pintu," sahut Riky yang beranjak dan berlalu hendak membukakan pintu.


"Maaf, Pak Bos." Ujarnya.


Riky kembali ke mejanya. Sementara itu Andri menutup rapat pintu dan tersenyum pada Alena yang sekilas menoleh padanya.


"Nyonya kapan datang? Kok saya tidak tahu. Kalau saya tahu kan bisa dijemput."


"Jangankan kamu, saya juga nggak tahu," ujar Riky sambil tersenyum dan mengusap lembut pipi Alena.


"Pak Andri, jangan panggil 'nyonya' dong. Lena kan sudah bilang berapa kali," protes Alena.


"Baik, Non." Sahutnya sambil tersipu.


"Pak Andri ngejek ya?" tuduh Alena.


"Tidak. Saya tidak seberani itu," sahut Andri sambil menggeleng.


Riky tersenyum tipis melihat raut wajah istrinya. Alena yang mencoba mengerti beranjak menuju sofa. Sambil menunggu Riky dan asistennya berdiskusi, Alena memainkan ponselnya.


Beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Nindy, sahabatnya. Kedua alis Alena tertaut membaca pesan dari Nindy. Ia pun kemudian menelepon sahabatnya itu.


"Halo, Len! Kamu di mana sih? Jam segini kok belum datang?"


"Aku ada di kota D. Memangnya ada apa Agam mencariku?" tanya Alena heran. Ia tidak menyadari, ada gerakan yang terhenti saat mendengarnya menyebut nama itu. Perlahan Riky menoleh ke arah Alena dengan tatapan penuh selidik. Kemudian ia kembali menggerakkan tangan yang sedang memegang pena sambil menajamkan pendengarannya.


"Aku juga tidak tahu. Dia menanyakan nomer ponselmu lagi. Katanya dia tidak bisa menghubungimu. Memangnya kamu memblokir nomer dia, Len?"


"Blokir? Seingatku enggak. Biarkan saja lah, aku juga males ketemu dia. Nggak jelas apa yang mau diomongin," sahut Alena datar. Menghadirkan senyum di wajah seseorang yang sedang berkutat dengan pena dan berkas-berkasnya.


"Terus, kamu nggak akan ikut acara ospek dong?"

__ADS_1


"Nggak. Aku mau honeymoon," gurau Alena.


"Wah! Yang benar Len, kemana? Eropa, atau ke private island?"


"Ke hatimu, eaaa." Kelakarnya.


"Ish, kamu ini. Aku serius, kamu mau haneymoon kemana? Soalnya aku mau request oleh-oleh nih."


"Yee, nggak jadi. Mana ada orang honeymoon dimintain oleh-oleh," delik Alena sambil mengulumkan senyuman.


Suara kekehan terdengar di ujung ponselnya. Alena tersenyum saat menyadari Riky tengah memperhatikan dirinya.


"Aku harus jawab apa kalau Agam tanya lagi?"


"Bilang aja begitu," sahut Alena.


"Bilang kamu lagi honeymoon gitu? Tega kau, Neng. Bunga cinta abang sudah layu sebelum berkembang." Kelakarnya.


"Bodo amat," sahut Alena asal.


Setelah membicarakan hal lain, Alena pun mengakhiri panggilannya. Bersamaan dengan Riky yang juga sudah selesai dengan lembaran berkas yang dipelajarinya.


"Non, anda ingin sesuatu?"


"Enggak, Pak Andri. Terima kasih."


"Kalau begitu saya pamit keluar."


Riky menepuk pelan bagian pahanya, mempersilahkan istrinya itu untuk duduk di pangkuannya.


"Ngobrol sama siapa tadi, Nindy?"


Alena mengangguk lalu membenamkan wajah di ceruk leher suaminya.


"Sayang, kamu mau honeymoon?"


"Enggak. Tadi cuma bercanda," sahut Alena.


"Yakin?"


"Iya. Kak Riky kan lagi sibuk banget. Jangankan honeymoon, pulang aja susah."


"Maaf ya..."


"Kenapa minta maaf? Alena bukan ingin haneymoon, tapi ingin makan. Lapar... ayo keluar," ajak Alena dengan gayanya yang manja.


"Ayo. Kasihan istriku kelaparan," ujar Riky sambil mencium gemas pipi Alena.


Alena mengenakan tas ransel yang dibawanya. Ia memang tidak pernah membawa apapun dalam perjalanannya ke kota ini. Karena semua sudah ada di apartemen Riky.

__ADS_1


Riky menggandeng mesra tangan Alena. Berjalan keluar ruangannya melewati Risa yang memberi mereka tatapan horor yang sulit diartikan. Apalagi saat Riky membenamkan wajah Alena di ketiaknya. Risa semakin bingung dengan apa yang lihatnya.


"Pak, Pak Andri." Panggilnya sambil mendekati Andri yang keluar dari ruangannya.


"Ada apa? Pak Riky masih di dalam?" tanya Andri heran.


"Itu tamu Pak Riky, siapanya sih? Aneh saja kelihatannya. Sama adik kok mesra begitu," ujar Risa.


"Pak Riky sudah keluar?"


"Sudah, baru saja masuk lift."


"Yang bilang itu adiknya, siapa?"


"Bagian resepsionis."


"Risa, yang tadi itu istrinya Pak Riky, Non Alena. Kamu tahu siapa dia? Dia itu saudari istrinya Tuan Maliek Bramasta. Adik Tuan Alvin, CEO Al-Azmi Corp. Kamu tahu kan Tuan Alvin?"


Risa mengangguk pelan.


"Nah, itu adiknya. Kalau Pak Riky sudah keluar, saya juga mau makan siang. Mudah-mudahhan si Bos kembali lagi ke kantor. Kalau ada nyonya, biasanya langsung ke apartemen minta dicas. Bisa-bisa nggak balik lagi, mana urusan masih banyak." Ujarnya sambil berlalu meninggalkan Risa yang masih mematung.


***


Di kediaman Salim, siang ini terasa sepi. Biasanya kalau ada Alena, rumah itu selalu saja ramai dengan celotehan Alena yang bersahutan dengan Paijo.


"Aah... rumah kok berasa kuburan, Jo. Kamu ngomong dong, jangan cuma rame kalau lagi ada si jelek. Mantuku itu cantik lho, Jo. Kok bisa kamu bilang dia jelek," ujar Salim sambil memposisikan buah pepaya di kandang Paijo.


"Terima kasih, terima kasih..."


"Jo, kamu kok nggak mau kenalan sama Ajeng. Aku perhatikan kalau ada dia kamu itu diam. Kenapa?" tanya Salim yang kini sedang menuangkan air minum ke tempat minum Paijo.


"Selamat siang, selamat siang."


"Paijo kalau nggak ada pawangnya jadi pendiam ya," ujar Widiya.


"Iya. Suka banget dia kalau lihat Alena."


"Tante, memangnya Kak Alena kemana? Ajeng nggak lihat dia dari tadi. Motornya juga ada," tanya Ajeng yang menghampiri Widiya di teras belakang.


"Alena ke kota D. Nyusul kakakmu. Katanya mau di sana satu minggu," sahut Widiya.


"Satu minggu? Memangnya nggak ada kuliah?"


"Tante nggak tahu. Sepertinya sebentar lagi Alena nyusun skripsi, jadi mungkin dia mau liburan dulu. Biar fresh," sahut Widiya.


"Mudah-mudahan nanti pulang bawa cucu ya, Jo," ujar Salim.


"Memangnya cucu bapak, burung. Bisa dibeli dipasar burung. Buat nemenin si Paijo," delik Widiya.

__ADS_1


"Eh, Ibu. Masa nggak ngerti maksud bapak sih."


"Iya-iya, ibu ngerti, Pak." Sahutnya sambil tersenyum.


__ADS_2