My Love My Bride

My Love My Bride
Ajeng


__ADS_3

Happy reading...


Suasana berbeda sangat kentara di kediaman Salim. Pasangan suami istri itu menikmati makan malam hanya ditemani Ajeng, keponakannya.


Dalam diamnya, Widiya memperhatikan gerak-gerik Ajeng yang nampak muram. Gadis itu nampak enggan dan tidak menikmati makanannya.


"Jeng, kamu sudah menelepon mamamu?" tanya Widiya.


"Sudah, Tante." Sahutnya pelan.


"Mamamu bicara apa? Kok kamu kelihatannya sedih," tanya Widiya sambil melirik pada suaminya.


"Mama tidak bicara apa-apa, Tan. Mama selalu kesal kalau Ajeng menelepon. Sepertinya mama tidak ingin diganggu." Sahutnya.


"Mamamu pasti punya alasan sendiri mengapa bersikap seperti itu."


"Mungkin," sahut Ajeng singkat.


"Ayo habiskan makanannya. Sebentar lagi kuliahmu dimulai, kamu harus sehat. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Jadi jangan sedih begitu ya, harus semangat!"


"Terima kasih, Tante."


"Cita-cita kamu mau jadi apa, Jeng?" tanya Salim sambil meletakkan gelas air minumnya.


"Menikah sama cowok ganteng yang kaya, Om. Hehe..."


"Ah, Kamu. Om serius. Siapa tahu om bisa membantu kamu mewujudkannya."


"Dua-rius, Om. Beneran Om mau bantu? Kalau Om punya kenalan sesuai kriteria Ajeng, kenalkan ya Om."


"Ish, kamu kalau bicara kok asal begitu. Lihat, Om kamu ini sudah tua. Memangnya kamu mau dikenalkan sama opa-opa?"


"Oppa, Tante. Bukan Opa," sahut Ajeng sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Itu sih oppa Korea. Gimana kalau dapatnya Opa korengan," delik Widiya.


"Ogah." Sahutnya, yang di timpali kekehan pelan Salim dan istrinya.


Ajeng yang kembali menyuapkan makanannya berusaha menyembunyikan senyumnya. Ada rasa haru dan juga rindu menyeruak dalam hatinya.


Sudah lama kehangatan keluarga seperti ini tidak ia rasakan. Bahkan sangat lama sampai ia lupa kapan terakhir kali ia dan kedua orang tuanya duduk bersama untuk sekedar menikmati hidangan.


Malam mulai larut saat Ajeng pamit ke kamarnya. Perlahan ia membuka lebar-lebar jendela kamar. Melihat pekatnya malam dalam guyuran air hujan.


Ajeng menarik kursi mendekati jendela. Ia terduduk dengan tangan yang menopang dagu. Tatapannya terarah ke depan, mencoba mencari cahaya terang dalam malam yang gulita.


Satu helaan nafas dibuangnya kasar. Satu tangannnya meraih sesuatu di dalam laci. Setalah mendapatkannya, ia mengeluarkan satu dari dalam bungkusnya.


Kadua pipinya mencekung pertanda hisapannya yang kuat. Asap mulai mengepul dari mulutnya saat sigaret terjepit di kedua jarinya.


Tatapan Ajeng menerawang, mengingat kedua orang tuanya yang entah berada dimana sekarang. Sudah terlalu lama ia ditinggalkan hingga akhirnya dititipkan. Di sini, di rumah ini.


Terlalu sering ia mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Pertengkaran karena ayahnya yang mempunyai wanita simpanan, atau karena mamanya yang suka menghabiskan waktu dengan teman-temannya.


"Heh." Seringainya sambil kembali menikmati dinginnya malam dengan sisa sigaret di ujung bibirnya.


***


Sementara itu di sisi lain rumah itu, Widiya sedang berbicara dengan Hesty, adiknya. Wanita itu berbicara sambil sesekali mengusap kedua matanya dengan tisu yang disodorkan suaminya.


"Mengapa harus seperti itu, Hes? Mbak nggak mau kamu sendirian." Isaknya.


"Ini sudah menjadi keputusan Hesty, Mbak."


"Ya tapi setidaknya Ajeng harus tahu. Kasihan dia, selalu salah paham terhadapmu."


"Hesty tidak bisa, Mbak. Hesty tidak sanggup melihat Ajeng bersedih. Biarlah dia marah pada mamanya. Hesty rela, asalkan tidak melihat air matanya."

__ADS_1


Mendengar adiknya yang tersedu, Widiya juga menangis tersedu-sedu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sedih dan sepinya Hesty saat ini.


"Titip Ajeng ya, Mbak. Melihat Mbak Widiya yang sangat menyayangi Alena, Hesty berharap Mbak juga bisa menyayangi Ajeng. Tolong maklumi sikap Ajeng, maaf sudah merepotkan. Hesty tidak mungkin mempercayakan Ajeng pada Mas Pras." Tuturnya sambil terisak.


"Kamu jangan khawatir, Mbak sama Mas Salim di sini akan menyayangi Ajeng seperti halnya anak kami. Tapi mau sampai kapan kamu menyembunyikan semua ini, Hes? Seharusnya kamu bahagia karena anakmu sangat ingin bersamamu."


"Hesty sudah bahagia hanya dengan melihat namanya di layar ponsel. Hesty bahagia karena dia selalu ingin mendengar kabar mamanya. Bagi Hesty itu sudah cukup, Mbak."


"Baiklah, kalau kamu memang bersikeras dengan itu. Ini sudah malam, sekarang kamu istirahat ya. Ikuti apa yang disarankan dokter. Ingat Ajeng, dia merindukanmu. Dia ingin bertemu denganmu. Kamu harus kuat, yakin akan kesembuhanmu."


"Iya, Mbak. Terima kasih, salam untuk Mas Salim." Pungkasnya.


Widiya terisak setelah panggilannya diakhiri. Salim merengkuh pundak istrinya dan mengusap pucuk kepala Widiya. Tak ada kata yang mampu ia ucapkan untuk sekedar meredakan tangisan istrinya. Pria itu hanya bisa membiarkan air mata Widiya membasahi bagian dadanya.


***


Lain Ajeng dan mamanya, maka lain juga dengan Pras dan Risa. Malam ini mereka memadu kasih melepas rindu setelah cukup lama tidak bertemu.


Pria paruh baya itu terengah dengan keringat bercucuran dari keningnya. Sebisa mungkin Risa menahan perasaan jijiknya. Ia tak ingin membuat pria yang baru saja berc*nta dengannya itu marah.


Jika Pras melakukannya karena hasrat yang terpendam, maka Risa melakukannya karena tak ingin kehilangan sumber uang. Karena saat berc*mbu dengan pria itu, ada pria lain dalam khayalnya.


"Mas mainnya jadi lama, Risa suka." Dustanya.


"Harus dong. Kalau aku makin loyo bisa-bisa kamu selingkuh."


"Enggak dong, Risa ini tipe setia lho."


"Heh, masa sih? Awas saja kalau kamu punya laki-laki lain di luar sana."


"Ya, Mas juga jangan lama-lama dong mengabulkan keinginan Risa. Sumber uang Mas Pras kan banyak, masa iya Risa minta barang nggak seberapa saja mikirnya lama."


"Aku hanya ingin tahu, sampai mana kamu bisa sabar menunggu."

__ADS_1


"Risa sabar menunggu, Mas. Sampai lumutan juga tetap Risa tunggu." Ujarnya manja.


"Aku akan sabar menunggu, sampai aku dapat penggantimu. Heh, kamu pikir aku mau selamanya dengan tua bangka seperti kamu. Kamu pikir aku nggak tahu, kamu sanggup main lama juga karena obat yang kamu minum. Sudah tua masih saja ingin main lama, kena serangan jantung baru tahu rasa." Batinnya.


__ADS_2