
Happy reading ....
Sepasang suami istri keluar dari mobil yang baru saja menepi di parkiran bandara. Sambil bergandengan, mereka memasuki area tersebut.
Setelah beberapa bulan menikmati kebersamaan, hari ini Riky harus rela kembali berpisah dengan istrinya. Pria muda berkulit hitam manis itu berkali-kali mengecup kening Alena.
"Mulai sekarang jangan naik motor ke kampus ya."
"Iya, Kak. Kalau nggak ada yang jemput, Lena akan minta dijemput Pak Supir."
"Memangnya siapa yang mau jemput?"
"Ya siapa aja. Bisa Papa, Kak Alvin, Kak Rendy, Kak Laura, Ajeng atau Kak Ami mungkin. Di sini Lena nggak sendiri, Kak. Nggak seperti di sana, hanya bergantung pada Kak Riky sama Pak Andri. Jadi jangan khawatir ya," tutur Alena.
"Iya, Sayang. Aku tahu. Tapi tetap saja aku khawatir. Kalau malam minta temani sama Ajeng atau mama. Kalau kamu merasakan kontraksi bagaimana?"
"Hahah, Kak Riky lucu deh. Ini baru mau trimester kedua, masih jauh Kak. Nanti kalau udah trimester tiga akhir, baru mulai ada kontraksi."
"Oh, gitu. Mami pinter deh." Pujinya.
"Nanti aja mujinya, kalau udah lulus kuliah. Udah ah, sana! Orang lain udah pada check in."
"Hmm, aku masih kangen. Baby, Papi berangkat ya. Baik-baik sama Mami." Satu kecupan diberikan Riky di perut Alena.
Alena melambaikan tangan dengan senyum yang dipaksakan. Bukan hanya Riky yang merasa berat, tapi juga dirinya. Setelahnya, dengan diantar supir, Alena berangkat ke kampus.
Senyum riang Nindy dan teman-temannya menyambut kedatangan Alena. Seperti halnya Alena, mereka juga baru menyelesaikan masa magang mereka.
"Jiahaha, kita-kita magang cuma dapat uang ya. Tapi kamu, dapat bonus juga," kelakar Nindy sambil mengusap perut Alena.
"Hehe, udah kaya sekretaris yang main sama bosnya ya," ujar Alena.
"Untung bosnya suami, kalau enggak?"
"Sugarbaby dong," sahut Alena dan disambut gelak tawa teman-temannya.
"By the way, selamat ya atas kehamilannya. Semoga lancar sampai lahiran."
"Aamiin, terima kasih."
Beberapa teman mulai berpamitan akan menemui dosen pembimbing mereka, meninggalkan Alena hanya berdua dengan Nindy.
"Len, perut kamu udah mulai kelihatan buncit. Jangan pake celana jeans dong, kasihan baby-nya."
"Hmm, aku juga udah mulai engap. Udah banyak juga yang ngomong gitu. Kamu temani aku belanja yuk. Aku malas milih-milihnya," ujar Alena sambil menyandarkan kepalanya di pundak Nindy.
"Siap. Sepulang dari sini ya." Alena mengangkat ibu jarinya. Dua sahabat itu menikmati sejanak udara kampus sebelum berhadapan dengan dosen mereka.
***
Meski terasa berat, hari-hari berlalu begitu cepat. Dengan keadaannya saat ini, Alena juga harus mempersiapkan diri untuk sidang skripsi. Beruntung dukungan datang dari banyak pihak. Termasuk Mama Widiya yang selalu memastikan menantunya itu tidak melewatkan makannya.
__ADS_1
Dan lusa, adalah acara wisudanya. Alena yang sedang menunggu kepulangan Riky menatap pantulan wajahnya sendiri.
Alena sangat mensyukuri kehidupannya. Jika dipikirkan lagi, semua yang dimilikinya saat ini berawal dari pertemuannya dengan sang kakak, Alvin. Dengan senyum yang terkulum, ia mengusap perutnya yang sudah memasuki trimester ketiga.
Tok ... tok.
"Sayang, Mama ganggu nggak?"
"Enggak, Ma. Masuk aja," Alena bangkit dari duduknya. Ia terlihat senang melihat Ajeng juga ada bersama mereka. Ajeng membawakan kebaya yang sengaja dikirim Amiera untuk dirinya.
"Waah, Kak Ami bilangnya besok baru selesai. Ternyata udah ada."
Alena nampak sangat senang. Kebaya itu terlihat indah dengan aksesoris obi sebagai pemanisnya.
"Coba dong, Kak. Uuh jadi pengen," ujar Ajeng.
"Gampang, nanti Tante pesankan. Kalau kamu wisuda atau menikah. Kita request model terbaik untuk kamu."
"Tuh, Jeng. Cepetan cari calon," goda Alena.
"Ish, kok jadi Ajeng. Ayo coba dong, Kak. Ajeng mau lihat."
"Yee, nanti aja kalau udah hari-H. Kan jadi nggak lucu kalau dipakai sekarang."
"Hmm."
"Riky pulang kapan, Len?"
"Sudah. Ajeng juga ikut dulu ke sana. Seminggu ya, Jeng?"
"Iya, Tante. Juga akan sering ke sana, siapa tahu ketemu calon."
"Bilang aja mau ketemu Andri," todong Widiya.
"Andri? Pak Andri?" Alena menatap tak percaya. Sementara Ajeng tersipu malu menyadari tatapan Alena yang menyelidik. Widiya pun pamit, meninggalkan mereka agar lebih leluasa berbagi cerita. Benar saja, Ajeng menceritakan banyak hal pada Alena.
"Hah? Pak Andri kakaknya Kamil. Kamil temannya Agam?" Alena benar-benar tidak menyangka akan hal tersebut.
"Iya. Sebenarnya Kamil itu sepertinya suka sama Ajeng. Perhatian, terus kalau dapat uang dari tempat magang beliin sesuatu ya walaupun nggak seberapa. Tapi gimana ya, Kak? Ajeng tuh nggak ada rasa lebih. Cuma nyaman aja jalan bareng dia. Orangnya kan kadang gokil," tutur Ajeng.
"Lalu, kalau sama Pak Andri?"
"Kalau Kak Andri, orangnya cool, Ajeng jadi penasaran aja pribadinya seperti apa." Sahutnya.
"Hmm, bisa ada perang saudara nih."
"Enggak lah. Mereka kan bukan anak kecil."
"Ya, semoga aja. Aku dukung pilihan kamu, siapapun itu."
"Thank you." Ajeng memeluk Alena.
__ADS_1
Sehari setelah acara wisuda, Salim dan istri akan menempati rumah mereka di kota D. Mereka akan menikmati hari sembari menanti kelahiran cucu mereka, meski untuk itu Ajeng akan tinggal sendiri. Untungnya, Ajeng memang mandiri sehingga Widiya merasa cukup lega.
Suara klakson mobil terdengar di depan rumah. Alena yang sedang menikmati camilan bersama Ajeng bergegas menyambut kedatangan sang arjuna. Salim sampai menggeleng pelan melihat sikap menantunya. Pasangan sudah hampir empat tahun menikah, tapi seperti pasangan yang baru menikah saja.
"Selamat malam, istriku sayang." Alena melingkarkan tangannya di leher Riky. Membuat suaminya itu membungkukkan tubuhnya agar Alena tidak berjinjit.
"Sudah makan?" Alena menggeleng dengan senyuman yang menggemaskan.
"Kok belum? Baby lapar?" Riky mendekatkan wajahnya pada perut Alena dan mengecupnya.
"Mau sama Papi makannya," sahut Alena manja.
"Boleh. Nih kebetulan, papi bawa makanan kesukaan mami," ujar Riky menunjuk pada beberapa plastik berisi makanan yang dibawanya.
"Yee, asik. Terima kasih. Kangen," ujar Alena yang kembali memeluk Riky.
"Aku juga, Sayang."
"Ehhem. Kita dianggap nyamuk nih, Jeng," sindir Salim yang pura-pura tidak melihat mereka.
"Sebentar lagi kita di fogging dong, Om," timpal Ajeng.
"Kita kabur yuk, sebelum diusir. Dunia ini milik mereka berdua," ujar Salim lagi.
"Kalian kenapa?" tanya Alena heran sambil menghampiri mereka.
"Sirik bilang, nggak usah nyindir. Pengen ya? Ingat umur, Papa udah tua, yang ada nanti encok."
"Iih, siapa yang sirik? Nggak banget."
"Udah deh. Kalian ini kalau ketemu udah kaya Tom and Jerry. Gimana nanti kalau satu rumah?" ujar Mama Widiya.
"Kalai satu rumah ya kejar-kejaran. Ya kan, Rik?"
"Idih, Om Salim. Udah mau jadi kakek juga masih kaya anak kecil."
"Eh, justru latihan lagi. Kan nanti kerjaan Om ngasuh cucu. Yuk Rik, main kucing-kucingan!"
"Nggak mau, udah nggak level. Mending kita kuda-kudaan ya, Sayang?"
Alena mencubit lengan Riky dengan wajah merona.
"Tuh kan, kita beneran dianggap nyamuk," ujar Salim.
"Enggak, Papa," sahut Alena.
"Enggak apa?" tanya Salim sambil tersenyum.
"Enggak salah," geleng Alena kemudian terkekeh pelan.
"Jiaah, sama aja dong." Salim terkekeh begitu juga Ajeng dan Mama Widiya.
__ADS_1
"Dasar, Kamu." Riky menarik Alena kedalam pelukannya sambil mencium gemas pipi istrinya itu.