My Love My Bride

My Love My Bride
kesal


__ADS_3

Happy reading...


Karena kesal dengan sikap Agam, Alena mematikan ponselnya dan mendorong pria itu sekuat tenaga. Dengan tatapannya yang tajam, Alena turun dari motor yang semula siap dihidupkan mesinnya.


"Maksud kamu apa sih, Gam?" Bentaknya.


"Aku cuma mau ngajak kamu makan siang, itu saja nggak lebih." Sahutnya dengan kedua bahu terangkat sedikit serta seringaian kecil di ujung bibirnya.


"Heh, kamu sengaja kan?" tanya Alena masih dengan nadanya yang tinggi.


"Iya, aku memang sengaja. Mengajakmu makan siang," kilah Agam yang berhasil membuat Alena merasa geram.


"Sorry ya. Aku nggak mau," tegas Alena, lalu membalikkan badannya hendak kembali menaiki motornya. Namun baru juga beberapa langkah, Agam sudah menarik lengannya.


Hampir saja Alena melayangkan tangannya ke wajah Agam. Gerakannya terhenti dan berganti dengan kepalan yang tertahan.


Sementara Agam yang sempat menutup mata menyadari gerakan tangan Alena, tersenyum kecut dengan wajahnya yang sok imut. Manatap wanita pujaannya berlalu setelah sebelumnya memberinya delikan tajam.


Masih dengan raut wajah yang kesal, Alena meninggalkan tempat parkir kampusnya. Meninggalkan pria yang menyebalkan dengan sikapnya yang kekanak-kanakkan.


"Gila loe, Gam. Bini orang loe ganggu," ujar Kamil yang datang menghampiri Agam. Ia sempat melihat bagaimana sikap Alena pada Agam juga sebaliknya.


"Suka-suka gue dong," sahut Agam malas.


"Hati-hati loh, suaminya bukan orang biasa. Anak orkay (orang kaya), Bro. Belum lagi si Alena juga bukan dari keluarga biasa. Loe tahu sendiri kakaknya CEO Al-Azmi." Tuturnya.


"Iya-iya, gue tahu," delik Agam kesal. Pria itu berlalu meninggalkan Kamil, sahabatnya yang hanya bisa menggelengkan kepala.


***


Langit sore yang mulai menjingga, mengiringi putaran roda mobil yang ditumpanginya. Lalu lalang kendaraan seperti bayangan yang tak bertuan dalam kemelutnya perasaan.


Satu helaan nafas yang dibuang memecah kesunyian. Membuat pasangan yang berada didepannya menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tadi mamamu bilang apa, Jeng?" tanya Widiya.


"Tidak banyak, Tante. Hanya berpesan agar Ajeng bisa belajar dengan benar untuk masa depan dan cita-cita Ajeng. Mama juga berpesan agar Ajeng belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, supaya tidak membuat malu Om dan Tante." Sahutnya pelan.


"Jeng. Mulai dari sekarang, anggaplah kami ini orang tuamu. Riky dan Alena itu kakakmu. Kami akan selalu ada untukmu, asalkan kamu mau terbuka pada kami. Iya kan, Ma?"


"Iya. Om kamu benar. Jangan merasa asing di rumah, kamu bisa melakukan apa saja dan meminta apa saja. Dan kami akan berusaha memenuhinya jika itu untuk kebaikanmu."


"Terima kasih Om, Tante. Ajeng akan berusaha lebih baik lagi."


"Pelan-pelan saja, kami tahu ini tidak mudah. Kamu anak yang kuat, pasti bila melaluinya."


"Tante bisa saja. Kapan kita ketemu mama lagi, Tan?"


"Kapan, Pa?" tanya Widiya pada suaminya.


"Setiap akhir pekan akan Om usahakan, tapi nggak janji ya."

__ADS_1


"Iya Om, terima kasih. Sebenarnya bisa saja Ajeng pakai motor ke tempat mama, tapi Ajeng takut tidak bisa konsentrasi saat pulang dari sana." Ujarnya pelan.


"Jangan, kecuali ada yang mengantarmu. Jeng, apa kamu akan memberitahukan tentang keadaan mamamu pada papamu?"


"Belum tahu, Tan. Sebenarnya Ajeng hanya ingin berdua dengan mama, tapi bagaimanapun juga papa punya hak mengetahuinya. Ajeng akan pikirkan lagi," sahut Ajeng pelan.


"Tapi Pras masih suka menghubungimu kan?" tanya Salim.


"Suka, tapi Ajeng mengabaikannya. Dan sekarang papa sudah lama tidak menelepon, mungkin sudah bosan."


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Kalau mengingat bagaimana papamu itu, Tante jadi geram. Laki-laki kok begitu," dengus Widiya kesal.


Ajeng tertunduk lalu kembali melihat ke luar jendela. Pekatnya jingga di ufuk barat, jadi pertanda hari yang akan berganti malam. Dan kegelapan pun akan menjelang. Namun asanya berbeda, ada secercah harapan yang akan menyinari kehidupannya saat ini dan nanti.


***


Hari berganti, Ajeng dan Alena semakin akrab saja. Keduanya kerap bercanda tanpa ada lagi kecanggungan, membuat Widiya dan Salim merasa lega.


Dan saat ini di kampusnya, Ajeng sedang celingukan mencari seseorang. Seseorang di fakultas hukum kampus itu.


"Wah, ada maba (mahasiswa baru) nih. Cantik lagi," gumam Kamil lalu menghampiri Ajeng.


"Cari siapa, Neng? Abang ada di sini kok," goda Kamil.


Ajeng mengernyitkan dahinya. Menatap heran pada mahasiswa yang sedang cengar-cengir nggak jelas itu.


"Aku nyari Agam. Abang tau nggak dia di mana?"


"Kalau ada ya nggak akan dicari dong, gimana sih? Aneh. Abang-abang jangan di sini, nanti gerobak baksonya ilang baru tahu rasa." Deliknya.


"Yee, dikira abang tukang bakso. Jangankan gerobak, hati Abang aja udah hilang. Hehe..."


"Apaan sih nggak jelas! Agam-nya mana, Loe tahu nggak?"


"Tega banget kamu, Neng. Sakit hati Abang kamu gituin," ujar Kamil dengan gayanya yang di buat-buat.


"Ish, ini orang stres mungkin ya. Terlalu banyak ngapalin pasal-pasal. Hii, anak hukum apa pada begini?" gumam Ajeng sambil bergidik ngeri.


"Ya udah deh kalau loe nggak tau," ujar Ajeng hendak berlalu.


"Eh, tunggu Neng. Abang tahu kok, Agam ada sekretariat BEM."


"Yang benar?"


"Iya. Masa ganteng begini Abang jadi tukang bohong," sahut Kamil.


"Ganteng apanya? Dari tadi omongan loe nggak jelas, sebelas duabelas tuh sama muka loe. Dasar abang-abang," gerutu Ajeng sambil melangkah meninggalkan Kamil.


Pria itu hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang gatal. Kemudian raut wajahnya kembali terlihat senang saat mahasiswi yang tadi digodanya memutar arah, kembali lagi pada dirinya.


"Kenapa, Neng? Ada yang lupa? Pasti kamu lupa ya mengembalikan hati Abang? Udah nggak apa-apa, bawa aja. Abang rela kok." Ujarnya.

__ADS_1


"Apaan sih loe, masih aja nggak jelas. Gue lupa mau nanyain, sekretariat BEM itu di sebelah mana? Kan gue anak baru, belum tahu banyak tempat ini. Anterin gue yuk!" ajak Ajeng.


"Yes! Nah begitu dong, Abang kan jadi senang. Bunga yang sempat layu, kini mekar kembali..."


"Ish, ternyata loe tukang bunga ya?" Deliknya.


"Untukmu, Abang rela jadi apa saja," sahut Kamil tanpa rasa malu.


Ajeng bergidik untuk kesekian kalinya. Ia merasa heran mengapa ada pria seaneh ini di kampusnya.


Mereka berjalan beriringan dengan Ajeng yang mencoba menjaga jarak dari Kamil. Namun entah mengapa, pria itu justru semakin menjadi dengan tingkah konyolnya.


"Gam! Tunggu sebentar, ada yang nyariin loe!" seru Kamil yang melihat Agam hendak meninggalkan ruang sekretariat.


Agam menghentikan langkahnya dan menatap heran pada dua orang yang mendekatinya.


"Siapa yang nyari gue?"


"Nih Neng Cantik," sahut Kamil.


"Gue Ajeng, nggak usah loe manggil gue Neng-neng lagi. Geli gue dengarnya," gerutu Ajeng kesal.


"Oh, dari tadi dong ngobrol. Bilang kalau nama kamu itu Ajeng."


"Nah loe nggak nanya, masa iya gua ngasih pengumuman." Deliknya.


"Hehe iya, ya. Lupa, Neng Ajeng. Abang permisi ya, mau ada perlu di perpustakaan." Pamitnya sambil melambaikan tangan perlahan namun masih bergeming.


"Ya udah sana. Kok masih diam aja," delik Ajeng yang masih tak habis pikir dengan sikap pria itu.


"Hehe, iya. Bye, Neng Ajeng cantik. Gam, ini yayang gue ya. Jangan loe embat." Ujarnya kemudian berlari kecil sabil melambaikan tangannya.


"Ajeng? Nama kamu Ajeng kan? Ada apa nyari aku?"


"Iya, Kak. Ini, Ajeng mau mengembalikan sapu tangan Kakak." Ujarnya sambil memberikan saputangan yang dirogohnya dari saku ranselnya.


"Oh, nggak usah. Aku udah nggak butuh. Untuk kamu saja," sahut Agam sambil memutar tubuhnya.


"Kak, tunggu. Bagaimana kalau sebagai ucapan terima kasih, Ajeng traktir makan siang?"


"Apa? Heh, traktir? Kamu pikir aku nggak punya harga diri mau ditraktir perempuan?" Ujarnya ketus.


"Maaf, maksud Ajeng..."


"Sudah-sudah. Kamu ambil saja sapu tangan itu. Aku nggak butuh," tegas Agam yang kembali memutar badannya hendak meninggalkan Ajeng.


Ajeng merasa kecewa dan menatap malas pada punggung Agam. Sampai suara seseorang mengagetkan dirinya.


"Hai, kamu Ajeng kan? Sepupunya Alena," sapa seseorang yang tak lain adalah Nindy.


"Iya, Kak."

__ADS_1


Mereka tidak menyadari Agam menghentikan langkahnya dan bergumam, "Sepupu Alena?"


__ADS_2