
Happy reading ...
Siang yang cukup terik menyambut kedatangan Riky dan keluarganya di kota D, kecuali Papa Salim. Karena papa memilih menggunakan kendaraan rida empat bersama Paijo dan supir.
Di luar bandara, Andri sudah menunggu. Pria itu nampak berbeda saat mengenakan pakaian casual di hari liburnya.
Riky dan Alena terlihat sangat bahagia. Karena dengan berkumpul di kota D, mereka tidak akan lagi menjalani hubungan jarak jauh dan bisa selalu bersama.
Tidak hanya mereka, Ajeng juga terlihat bahagia. Wajahnya bersemu sejak melihat sosok yang menjemput mereka.
"Nak Andri, apa kabar?"
"Baik, Bu. Bagaimana kabar ibu? Bapak di mana?" Andri celingukan mencari sosok ayah atasannya. Ia merasa heran karena Salim tidak ada di sana.
"Bapak pakai mobil. Dia nggak mau ribet ngurusin burungnya. Katanya takut stress kalau naik pesawat. Apalagi kan kita juga butuh supir, jadi ya mungkin malam baru sampai," sahut Widiya.
"Oh, begitu."
"Ehhem, kok Ajeng nggak ditanya, Kak Andri? Hmm malah nyari yang nggak ada," sindir Ajeng dan membuat Andri salah tingkah.
"Kalau ada ngapain di cari? Udah, ayo masuk. Lapar kan? Kita cari tempat makan," ujar Riky, membuat Ajeng memajukan bibirnya dengan wajah ditekuk. Namun ia kembali tersenyum setelah melihat senyuman terkulum di wajah Andri.
"Diih, ini anak dua kenapa? Senyam-senyum?" Riky mengerutkan keningnya.
"Ish, kaya nggak pernah muda aja," gerutu Ajeng sambil masuk ke dalam mobil.
"Emang masih muda kok. Aah, ngerti deh. Hayoo ngaku," todong Riky pada Andri yang siap menyalakan mesin mobilnya.
"Ngaku apa, Bos?" Andri berusaha menghindari tatapan Riky.
"Jangan-jangan kalian ada main ya di belakangku?" Tanyanya sambil menoleh pada Ajeng dan Andri bergantian.
"Iya juga nggak apa-apa dong, Kak. Dua-duanya masih single kok," bela Alena.
"Single sih, tapi yang ini karatan," kelakar Riky.
"Ish si Bos." Decihnya.
"Ngaca dong, Rik. Kamu juga dulu begitu. Teman-teman kamu udah punya buntut, kamu pacar aja nggak punya. Untung Alena mau," delik Mama.
"Yaa, Mama. Sekali-kali dibela gitu anaknya." Riky mendelik pada Andri yang terkekeh.
***
Setelah menikmati makan siang, mereka menuju ke rumah baru keluarga Salim. Raut wajah Widiya terlihat sangat bahagia saat melihat betapa suaminya sangat mengerti seleranya.
__ADS_1
Ia memang tidak mau ambil pusing tentang rumah ini. Baginya yang terpenting rumah ini nyaman untuk berkumpul bersama dengan anak menantu dan juga cucu mereka. Namun tanpa diduga, ternyata hasilnya sangat memuaskan.
"Wah! Bagus sekali, Tante. Di taman juga sudah ada ayunan untuk bersantai. Pasti untuk Kak Lena," ujar Ajeng.
"Ya enggak lah, untuk siapa aja," sahut Alena.
"Ke sana yuk, Kak!"
Ajeng dan Alena terlihat sangat senang. Terlebih di samping dalam rumah itu juga ada private swimmingpool.
"Aah, Ajeng bakalan betah di sini dan males pulang!" Serunya.
"Setiap weekend aja ke sini, Jeng," saran Alena.
"Hmm, tapi kan suka ada tugas."
"Kalau kamu sering ke sini, nanti ada yang nggak bisa diajak lembur," sindir Riky.
"Kamu ini, Rik. Bukannya didukung," delik Mama.
"Yang, lihat kamar kita yuk." Ajaknya.
"Ayo. Ma, Alena lihat kamar dulu ya."
"Iya, sana lihat. Kira-kira Riky bisa nggak nyiapin semua untuk kamu."
"Si Bos bukan lihat kamar, tapi mau ngamar." Andri balas menyindir.
"Hehe, tahu aja. Jangan ganggu ya." Riky mengedipkan sebelah matanya dan membuat Andri bergidik geli melihatnya. Riky pun terkekeh melihat ekspresi asistennya tersebut.
Memasuki kamarnya, Alena merasa tercengang melihat desain kamar barunya. Perpaduan warna cat dan interior sangatlah serasi, yang pastinya akan membuat betah penghuninya.
"Bagus sekali, Kak. Terima kasih." Alena memeluk Riky dan mendongakkan wajahnya.
"Suka?" Alena mengangguk cepat.
"Yaa, gagal deh."
"Kok gagal? Kan Alena suka."
"Justru karena kamu suka, uangku tidak jadi kembali. Aku bilang pada desainer interiornya, kalau istriku tidak suka dia harus mengembalikan uangku."
"Ish, pelit." Alena akan melepaskan pelukannya, namun ditahan oleh Riky. Pria itu menangkup wajah istrinya lalu mendaratkan kecupan lembut di bibir Alena.
"Aku bercanda, Sayang." Ujarnya.
__ADS_1
"Iya, Lena juga tahu."
Alena kembali mengeratkan tautan tangannya di pinggang Riky.
***
Semangat pagi keluarga Salim sangat kentara dengan suara Paijo yang sedari tadi meramaikan suasana. Seperti biasa, Papa sendiri yang merawat burung kesayangannya itu. Pria paruh baya itu ingin memastikan Paijo tidak terpengaruh oleh perjalanan panjang mereka kemarin.
Di sisi lain, Widiya sedang bercengkrama di dapur dengan beberapa pelayan sambil menyiapkan sarapan. Sementara Ajeng, sibuk berselfie-ria dan mengunggahnya di sosial media.
Lain halnya dengan Riky dan Alena. Mereka tak ingin melewatkan sejuknya udara pagi tanpa 'berolah raga'. Deringan ponsel di atas nakas mau tak mau memaksa mereka menuntaskan olah raga pagi di atas ranjang. Setelah memberikan ponsel pada Alena, Riky berlalu ke kamar mandi.
"Auntie!"
"Hai, Queen. Selamat pagi, Sayang." Alena menarik selimut sampai menutupi lehernya.
"Auntie belum bangun? Ih, malas."
"Hehe, jangan ditiru ya."
"Auntie, lihat rumah barunya dong. Bagus nggak?"
"Bagus. Kalau Queen ke sini pasti betah."
"Oh ya? Lihatin dong kalau memang bagus. Queen juga mau minta dibuatin rumah sama Daddy. Rumah barbie, pasti lebih bagus dari rumah Auntie."
"Hihi rumah barbie sih mainan. Yang suka dibuatin Amar kan? Hmm Auntie belum bisa nunjukin, belum mandi. Coba telepon Auntie Ajeng deh. Ya?"
"Hmm, oke deh. Bye, Auntie."
"Bye, Sayang."
Alena menggeliat dan tersenyum melihat kesekitar kamarnya. Ia kembali memeluk bantal guling dan bermalas-malasan untuk sekedar menikmati suasana kamar itu.
"Kak Riky, cepetan! Lena mau ke kamar mandi." Serunya malas.
"Sebentar lagi, Sayang. Mau bareng?"
"Enggak ah." Sahutnya.
Alena tersenyum mengusap perutnya yang sudah membesar. Hari ini, ia dan Riky berencana akan memeriksakan kandungan yang selama ini rutin dilakukan.
Namun begitu, mereka sengaja meminta dokter merahasiakan jenis kelamin calon bayi mereka. Mengetahui semua hal baik, sudah cukup bagi pasangan itu.
🌿
__ADS_1
Happy weekend, Readers🤗
Jaga selalu kesehatan kalian ya.