
Happy reading ....
Awan tebal yang menggelayut di langit, seakan siap meneteskan butiran hujan di permukaan bumi. Suasana alam yang kelabu, mengiringi pemakan king of bussines siang itu.
Kabar meninggalnya Salman Al-Azmi menjadi trending topik hampir di setiap laman berita ekonomi dalam dan luar negeri. Jagad maya di ramaikan dengan ucapan bela sungkawa untuk keluarga besarnya.
Tak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun sama. Pemakaman Salman dihadiri banyak orang. Selain keluarga, para klien dan orang kepercayaannya juga hadir di sana. Bahkan tak sedikit dari mereka sengaja datang dari negeri tetangga.
Salman memanglah sosok yang arogan. Tak pernah segan menumbangkan lawan, apalagi yang mengancam laju perusahaannya. Namun tak dipungkiri, justru sikapnya itulah yang membuat Salman disegani. Dipuji, bahkan tak sedikit yang mengikuti.
Sayangnya, tidak semua orang kepercayaan Salman dapat hadir di sana. Misalnya saja Aldo dan Mike Anderson yang berada jauh dari negara tersebut. Mereka baru akan tiba esok hari. Karena pihak keluarga menginginkan pemakaman tidak ditunda-tunda.
Diantara kerumunan orang, isakan terdengar saling bersahutan di bagian depan. Meski Ahmed meminta agar mereka tak meratapinya, tetap saja air mata itu meluncur dengan sendirinya.
Pihak wanita dalam keluarga Al-Azmi, bergantian menenangkan Meydina dan dua saudarinya. Diantara cucu-cucu Salman, hanya Zein yang hadir di sana.
Saat satu persatu pelayat meninggalkan tempat pemakaman itu, anak menantu Salman masih terpaku. Sesekali, mereka masih mengusap air mata yang menetes begitu.
Meydina menatap nanar makam di samping makam ayahnya. Sebuah makam yang bertuliskan nama Badr pada nisannya. Diusapnya makam itu dengan hati yang pilu. Makam Badr memang sengaja dipindahkan ke tempat itu.
"Kebersamaan kami dengan ayah sudah berakhir. Mungkin sekarang giliranmu, Badr. Selama nafas ini masih ada, doa kami akan selalu terpanjat untuk kalian." Gumamnya dengan suara yang berat.
"Papi, Kakak masih ingin bermain dengan Kakek," isak Zein yang memeluk Papinya.
"Zein, selalu doakan Kakekmu ya. Kau adalah kebanggannya, kesayangannya, dan juga harapannya di masa depan. Rasanya masih terbayang kebahagiaan Salman di hari kelahiranmu. Kau harus tumbuh menjadi orang yang kuat dan hebat. Seperti halnya Kakekmu, mengerti?" hibur Ahmed.
Zein mengangguk sambil mengusap air matanya. Ahmed tersenyum tipis sambil mengusap rambut Zein.
"Sebaiknya kalian pulang, sepertinya akan turun hujan. Aku harap kalian bisa berlapang dada menerima kehendak Yang Masa Kuasa," imbuh Ahmed.
"Terima kasih, Uncle," ucap Alvin.
Ahmed mengangguk dan menepuk beberapa kali pundak Alvin. Adik Salman itupun berpamitan mendahului pulang.
Maliek menghampiri Meydina dan membantunya berdiri. Diusap-usapnya punggung Meydina sambil berkata, "Ayah sudah tenang di sisi Tuhan, Mey. Tugas kita sekarang hanya mendoakan."
"Seperti halnya yang telah di sampaikan Uncle Ahmed. Kita jangan meratapi kepergian Daddy. Bagaimanapun juga ini sudah jadi jalan takdirnya," ujar Alvin.
__ADS_1
Sesaat kemudian, mereka memutuskan untuk pulang. Satu persatu mereka berpamitan sambil mengusap nisan.
Kenangan dengan Salman mengiringi langkah mereka meninggalkan area pemakaman. Meydina berkali-kali menoleh masih dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Nak, apa kau tidak mempunyai teman wanita? Tidak baik gadis baik-baik sepertimu selalu berada di sekitar para pria ini."
Terngiang ucapan Ayah Salman saat pertama mereka bertemu di kampus dulu. Meydina tidak menyangka pria berwajah eksotis itu ayahnya.
Banyak hal yang telah mereka lalui bersama Salman. Amira bahkan masih terisak mengenang sosok pria yang punya cara sendiri untuk menyayangi.
Begitupun Alvin. Meski bukan ayah kandungnya, cintanya pada Daddy Salman tidak pernah berkurang.
Turun dari mobil, Meydina tertegun menatap rumah megah milik ayahnya. Rumah yang menjadi saksi bisu masa kecilnya itu, juga rumah yang menyimpan kenangan kedua orang tuanya.
Anak-anak berlarian menyambut kedatangan mereka. Amar memeluk maminya, sementara Fatima dipangku papinya.
"Pi, Kakek sendirian dong di dalam tanah." Fatima bertanya dengan polosnya. Maliek hanya bisa tersenyum kecut dan memeluk putrinya tersebut.
***
Alena dan keluarga Salim juga datang ke rumah itu. Setelah berdoa bersama, mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Jeng Widiya, kami turut berduka cita. Mohon maaf, kami baru tahu sekarang," ujar Resty.
"Terima kasih. Tidak apa-apa, Jeng." Sahutnya.
"Yang sabar ya, Nak. Rencana Tuhan pasti lebih baik," ujar Bram pada Ajeng.
"Iya, Om. Terima kasih," sahut Ajeng.
"Riky sama Pak Aldo mungkin baru sampai besok ya."
"Iya, Pa," sahut Alena.
"Maaf, Sayang. Bukannya kami tidak bahagia dengan kabar kehamilanmu. Tapi keadaan saat ini benar-benar di luar dugaan. Kemarin, saat Mey bilang Salman diperbolehkan dirawat di rumah, kami sudah merasa lega. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain," tutur Resty.
"Yang sabar, Jeng Resty. Tuhan Maha Tahu, mungkin ayah Meydina memang ingin meninggal di rumahnya dengan anak menantu dan cucu berada di dekatnya," ujar Nura.
__ADS_1
"Kasihan Mey dan Amira, mereka pasti merasa syok. Kita saja di sini merasa sangat terkejut dan kehilangan. Apalagi mereka," imbuh Resty.
Wira dan Evan, juga Rafael terduduk di teras depan. Tak lama Bram dan Salim datang menghampiri.
"Rasanya baru kemarin kita berkumpul dengan Tuan Salman," ujar Evan.
"Benar. Semoga amal ibadahnya diterima Tuhan," sahut Wira.
"Aamiin."
"Lalu Om, bagaimana dengan Al-Azmi Corp?" tanya Rafael pada Bramasta.
"Setahu Om sih, sudah dibagi."
"Oh ya? Bagaimana pembagiannya Om?" Tak hanya Rafael yang penasaran. Tiga pria yang bersamanya juga ingin tahu tentang hal itu.
"Meydina, 50%. Karena secara hukum, dia sah menjadi pewaris Salman. Jadi kalau ada pihak keluarga Al-Azmi yang menggugat atau apapun itu, posisinya kuat. Kalian tahu kan Salman punya banyak kerabat. Salman khawatir sepeninggalnya, mereka akan berulah. Karena bagaimanapun, Alvin tidak ada hubungan darah dengannya." Jelasnya.
"Lalu, Alvin dan Amira bagaimana?"
"Amira 20%, sedangkan Alvin 15%. Namun Alvin mendapatkannya bukan karena statusnya sebagai anak tiri Salman. Melainkan sebagai balasan atau upah karena menjadi perwakilan Zein. Jadi selama Zein belum mampu memegang kendali perusahaan, Alvin yang akan menggantikannya."
"Itu hanya perusahaan kan, Pak Bram?" tanya Salim.
"Benar, itu hanya perusahaan. Sisanya, seperti properti yang bentuknya macam-macam, hehe terlalu banyak sampai nggak bisa disebutkan satu persatu. Sudah diatur Salman. Tentunya supaya semua kebagian dan tidak menimbulkan perselisihan. Salman pasti sudah pertimbangannya dengan matang."
"Pasti. Dia sosok yang visioner. Pola pikirnya pasti sudah jauh ke depan dan tentunya bijak dalam mengambil keputusan," imbuh Evan. Tak dipungkiri ia sangat mengagumi Salman. Selain karena telah berjasa membesarkan Alvin, Salman memang sosok yang mengagumkan. Terutama dalam mengelola perusahaan.
🌿
Hai, Readers🤗
Maaf ya, kisah Salman berakhir sampai di sini😢 Semoga tidak ada sedih-sedihan lagi kedepannya.
Maaf juga belakangan ini jarang up🙏🙏 saya lagi sakit gigi😌 nulis part sedih membuat sakitnya makin menjadi🙈😂Semoga kedepannya bisa up teratur.
Terima kasih.
__ADS_1