My Love My Bride

My Love My Bride
loyalitas Aldo


__ADS_3

Happy reading ....


Seusai makan malam, sebagian dari mereka pun menuju ke hotel. Sedangkan Andri pamit pulang ke rumahnya.


Di rumah Salim hanya ada tiga kamar kosong, satu kamar Ajeng dan dua kamar tamu. Masing-masing kamar ditempati Evan, Alvin, dan Wira. Sisanya, menginap di salah satu hotel milik keluarga Rafael yang ada di kota itu.


Alvin dan Riky sengaja mengantar sampai ke hotel. Seperti biasa, empat sekawan tak pernah melewatkan kebersamaan tanpa menikmatinya di sebuah bar. Pilihan mereka kali ini lounge bar hotel yang cukup mewah dan pastinya nyaman.


Keluarga Maliek memilih tipe connecting room, Zein dan Amar berada dalam kamar terpisah, namun masih dalam satu ruangan. Amar dan Zein berpamitan tidur di kamar mereka. Sementara Fatima yang sudah tertidur dalam gendongan Maliek akan tidur dengan Mami dan Papinya.


Setelah menidurkan Fatima, Maliek berpamitan pada Meydina. Ia dan ketiga sahabatnya akan berkumpul di lounge bar hotel itu.


"Jangan mabuk ya, Pi," ujar Meydina pelan sebelum membalas ciuman suaminya. Maliek mengangguk sambil mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Meydina. Keduanya pun berpagutan seakan tidak pernah ada bosannya bertukar saliva.


Setelah meninggalkan kamar, Maliek berjalan menuju lift dan berpapasan dengan Rafael yang baru keluar dari kamarnya.


"Mereka udah di sana?" tanya Maliek dan dijawab dengan acungan jempol oleh Rafael. Keduanya pun berlalu.


Sebuah ruangan yang cukup luas, dengan gaya formal yang elegan menyambut kedatangan dua pria yang nampak gagah walau hanya mengenakan setelan kemeja polos.


Sepanjang langkah mereka, tak lepas dari tatapan para pengunjung yang berdecak mengagumi. Belum lagi saat dua pria itu bergabung dengan dua pria lain yang sedari tadi mencuri perhatian. Pesona empat pria itu mengalahkan keindahan kota dengan gemerlapnya lampu di luar sana.


"Anak-anak udah tidur?" tanya Alvin.


"Udah," sahut Maliek sambil menerima gelas yang disodorkan Riky.


"Kenapa milih ini sih? Mey nggak suka kalau gue mabuk," protes Maliek, karena Riky dan Alvin lebih memilih whisky yang kadar alkoholnya tinggi.


"Siapa yang antar kalian kalau mabuk, heh?" tanya Rafael yang juga sedang menyesap minumannya.


"Suruh aja pegawai Lo nganterin kita," sahut Alvin santai.


"Malu dong, di rumah kan banyak orang tua, masa iya kalian mabuk," ujar Rafael.


"Kalian kenapa sih, jadi pada bawel. Ya udah deh pesankan yang lain, Rik," titah Alvin.


"Oke-oke." Riky hendak memanggil seorang pelayan, namun urung saat melihat punggung pria di meja bartender.

__ADS_1


"Bukankah itu Aldo?" Ujarnya dan ketiga sahabat Riky pun menoleh.


"Benar. Dia sendiri atau sedang menunggu seseorang?" ujar Rafael.


"Aku akan menghampirinya. Tak apa kan kalau dia bergabung dengan kita?"


"Tentu. Kenapa tidak," sahut Alvin.


Riky beranjak dari tempat duduknya. Berjalan mendekati Aldo yang langsung menoleh saat merasa ada yang mendekatinya.


"Hehehe, kau waspada sekali. Apa jika dalam keadaan mabuk kau masih tetap akan waspada?"


"Heh, aku tidak akan mabuk hanya dengan sebotol whisky," sahut Aldo.


"Wow, benarkah?"


"Tentu. Kami dilatih untuk mampu mengendalikan diri agar bisa menjadi tangan kanan Tuan Salman. Kau tahu, aku pernah hampir mati karena merasa terbakar di sini," ujar Aldo menunjukkan bagian dada dan perut.


"Tapi aku jarang melihatmu minum."


"Itu terjadi selama pelatihan. Karena pada dasarnya, Tuan Salman tidak suka jika anak buahnya atau siapapun berbau alkohol."


"Tidak. Aku hanya sebentar, dan akan kembali lagi ke kamarku. Besok pagi aku akan memeriksa keadaan pesawat bersama kru sebelum pulang."


Riky tertegun dan mengangguk mengerti. Loyalitas Aldo terhadap keluarga Al-Azmi patut diacungi empat ibu jari.


"Aku benar-benar kagum padamu. Setelah Tuan Salman tiada pun, kau masih sangat setia."


"Tentu, aku harus setia. Sekarang, Nona Meydina dan putra-putrinya adalah tuanku. Akan kupastikan mereka baik-baik saja." Tegasnya.


"Saya sudah selesai, silahkan kembali pada mereka. Selamat malam," ujar Aldo dan melambai sekali pertanda berpamitan ke arah meja Maliek dan teman-temannya.


Riky kembali ke mejanya setelah memesan minuman dengan kadar alkohol yang sangat rendah. Belum juga ia mendudukkan bokongnya, Rafael bertanya, "Aldo balik lagi? Mungkin dia malu gabung sama kita."


"Bukan itu, dia besok pagi mau cek pesawat sebelum di pakai pulang," sahut Riky.


"Ooh."

__ADS_1


"Vin, kalau seandainya Lo jahat nih, mau ngerebut perusahaan dari Zein, kira-kira apa yang akan terjadi?" tanya Riky membuat heran ketiga sahabatnya.


"Ya mati," sahut Alvin singkat.


"Ya iya laah, dibejek sama si Maliek," ujar Rafael.


"Sebelum Maliek, gue udah diburu sama Sami, Aldo, dan teman-temannya. Lo pikir setelah Daddy nggak ada, gampang dan bisa seenaknya? Saudara Daddy juga nggak akan bernyali, apalagi gue."


"Oh, gitu ya," sahut Riky dan Rafael hampir bersamaan.


"Di belakang mereka tuh, ada semacam organisasi bentukan yang kalau Lo tau, dih ngeri," ujar Alvin.


"Kalau Maliek selingkuh kira-kira gimana ya?" tanya Rafael setengah menggoda sahabatnya itu.


"Langsung dicincang burungnya, hahaha." Riky dan Rafael tergelak, begitu juga dengan Alvin.


"Enak aja, gue nggak akan pernah selikuhin Mey," delik Maliek.


"Coba aja, haha. Gue jamin, saham Bramasta Corp. langsung anjlok dalam 1x24 jam," sahut Alvin.


"Jangan deh, Liek. Jangan ya, kalau mau selingkuh sama gue aja. Nggak akan ada yang curiga," kelakar Rafael, membuat Riky dan Alvin berhenti tertawa.


"Canda, Bro. Sorry!" Imbuhnya, sambil tersenyum masam, melihat ketiga temannya menatap horor pada dirinya.


***


Pagi ini sinar matahari terasa hangat dengan udaranya yang sejuk menyegarkan. Aldo mengemudikan mobilnya menuju bandara.


Pria itu sudah membuat janji dengan kru dan tim Aircraft Maintenance Engieer (AME) untuk memeriksa kesiapan pesawat sebelum nanti malam digunakan untuk pulang.


Setelah semua sudah layak terbang, Aldo mengurus banyak hal yang menyangkut pesawat pribadi Tuan Salman yang terparkir di bandara komersial kota itu. Lalu ia pun akan kembali ke hotel lagi.


"Pak, tolong antar saya ke alamat ini ya." Suara seorang wanita yang berdiri sambil memperlihatkan alamat di ponselnya pada pengemudi taksi membuat Aldo menoleh sesaat.


Di saat Aldo akan membuka pintu mobilnya, gerakan tangannya terhenti. Kening Aldo berkerut seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Ah, tidak mungkin dia. Tapi mirip," gumam Aldo.

__ADS_1


Aldo menghampiri wanita yang akan masuk ke dalam taksi itu.


"Salma." Panggilnya.


__ADS_2