
Happy reading ....
Alvin dan Rendy masuk ke kamar Baby Mima. Bergantian memberi selamat dan memeluk Alena. Kemudian Alvin menoleh dan mendekati Zein yang sedang menatap lekat pada keponakan barunya.
"Baby-nya lucu ya," ujar Alvin. Zein hanya tersenyum lebar.
"Kenapa?" tanya Rendy yang juga menghampiri dan mengacak kasar rambut Zein.
"Baby-nya pesek seperti Auntie." Kelakarnya.
"Masa sih?" tanya Alvin dan Rendy bersamaan.
"Coba saja Daddy perhatikan." Zein terkekeh pelan melihat wajah Alena yang merengut sambil memegangi hidungnya.
"Kakak nggak sopan begitu," tegur Meydina.
"Canda, Mi. Nggak kok, Baby-nya lucu. Cantik, hehe. Peace!" Ujarnya. Zein mengangkat dua jarinya yang membentuk huruf 'v' diarahkan pada Alena yang mendelik sambil tersenyum.
"Hidung kakak kan turunan Kakek Salman, ya jangan dibandingkan. Kalau dibandingkan, ya memang pesek," gerutu Alena.
"Tuh, Auntie-nya marah kak. Minta maaf," ujar Meydina.
"Sini minta maaf," ucap Alena sambil menunjuk pada pipinya.
"Iiih, nggak mau. Dari pada cium Auntie, lebih baik cium Baby," sahut Zein bergidik pelan.
"Ya udah sini cium Baby-nya," ujar Alvin dengan gerakan tangan meminta Zein kembali mendekati Mima.
Zein pun menurut. Putra sulung Meydina itu mendekati ranjang bayi dan mencium kening Mima.
"Kok jadi bangun?" Zein terperanjak melihat Mima yang menggeliat.
"Nah loh, Kakak. Dicium apa digigit?" canda Amira.
"Masa kakak gigit Baby?" Zein semakin bingung karena Mima mulai merengek.
"Ya kali aja gemes," sahut Amira datar sambil mengangkat bayi itu dari ranjangnya.
"Udah ah, bye Beib." Ujarnya, kemudian berlalu dengan langkah seribu meninggalkan kamar itu.
"Dia bilang apa barusan?" Amira mengerutkan keningnya menatap pada Meydina.
"Beib, hahaha." Entah mengapa itu terdengar lucu dan membuat mereka tergelak.
"Hadeuh, ada-ada aja itu anak kamu, Mey," ujar Mama Resty sambil menggeleng pelan.
"Itu cucu mama," timpal Meydina.
"Jangan-jangan nurun dari daddy-nya. Masih kecil udah manggil 'beib' aja," celetuk Rendy.
"Iih, amit-amit. Jangan ... jangan. Jangan sampai nanti Zein jadi casanova seperti Kak Alvin." Meydina mengetuk lutut dan keningnya bergantian. Membuat yang lain kembali terkekeh sambil menoleh pada Alvin yang tersenyum masam.
***
__ADS_1
Suasana di kediaman Salim malam ini benar-benar sangat ramai. Aldo, Riky, Andri, Rafael, Alvin, Rendy, juga Maliek yang memangku Fatima mengobrol di teras luar.
Di kursi taman, para supir juga sedang mengobrol. Sedangkan orang tua mengobrol di ruang tamu bersama Alena dan Baby Mima.
Widiya terlihat sangat sibuk. Bukan hanya mempersiapkan makan malam, tapi juga menerima telepon dari kerabat jauh dan kenalan yang memberinya selamat atas kelahiran cucu pertamanya.
Laura bersama dua adik iparnya Meydina dan Amiera ikut membantu menata menu di meja makan. Sementara Alya, sibuk mengawasi putra-putrinya yang berlarian kesana kemari bersama anak-anak yang lain.
Gelak tawa terdengar bersahutan, sekilas Widiya tertegun, lalu tersenyum lebar. Dalam hati Widiya bergumam, "Seandainya saja Ajeng ada di sini." Widiya menghela nafasnya dan kembali dengan keriangan saat berbincang dengan para wanita dari keluarga Al-Azmi tersebut.
Di teras, Fatima tidak mau jauh dari Papinya. Sepertinya putri Maliek itu mulai mengantuk dan ingin ditemani sang papi.
"Sayang kenapa? Di dalam sama Mami ya, di luar dingin," ujar Maliek sambil menciumi wajah Fatima yang menjawab dengan gelengan kepala. Maliek merasa tak enak hati, karena adanya Fatima membuat para pria itu tidak bisa merokok.
"Sama Uncle, yuk!" tawar Rendy sambil mengulurkan tangan dan lagi-lagi Fatima menggelengkan kepala.
"Sama Daddy mau?" tanya Alvin yang kini terbiasa dengan sebutan itu.
"Nggak mau. Maunya sama Papi," sahut Fatima manja dan melingkarkan tangannya di leher Maliek.
"Ini juga Papi. Yuk!" tawar Riky. Fatima menggeleng pelan sambil tertunduk.
"Fatum mau tidur? Makan dulu, Sayang."
"Mau susu aja, Pi." Rengeknya.
"Ya udah kalau begitu. Minta susu sama Mami, atau panggil kakak. Zein! Ke sini!"
"Ada apa, Pi? Baby kenapa?" Zein langsung membungkukkan badannya untuk melihat wajah Fatima yang menelusup di tengkuk leher Maliek.
"Oke. Sama kakak?" Fatima menggeleng lagi.
Zein berlalu untuk meminta susu Fatima pada maminya. Tidak lama kemudian Zein kembali dengan segelas susu hangat di tangannya.
"Kata mami di dalam, Pi. Dingin ...."
Maliek hendak berdiri, namun lagi-lagi Fatima menggelengkan kepalanya. Mau tak mau Maliek kembali terduduk. Setelah meminum susunya, Fatima mencoba tertidur sambil memeluk papinya.
Tak lama Meydina menghampiri dan meminta mereka ke ruang makan.
"Fatum sama Mami, Papi mau makan dulu." Fatima mengeratkan pelukannya dengan mata yang terpejam. Maliek memberi isyarat untuk membiarkannya begitu dan meminta Meydina untuk ke dalam. Riky datang dengan selimut yang dibawanya.
"Hmm, Sayang Papi kenapa? Yang lain pada seneng, kok kamu suntuk begitu?" tanya Maliek sambil membetulkan posisi putrinya.
"Iya, tadi nggak begini," timpal Riky yang duduk menemani Maliek di teras.
"Pak Riky mau Mey ambilkan?" tanya Meydina yang membawakan satu piring nasi beserta lauknya untuk Maliek.
"Enggak, Mey. Aku nggak lapar."
Meydina mendekatkan satu kursi, dan duduk di samping Maliek. Ia kemudian menyuapi Maliek dan membuat Riky mengulumkan senyuman.
"Fatum mau?" Fatima menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa sih?" tanya Meydina lagi.
"Mami ...."
"Apa?" Meydina menatap sesaat pada putrinya.
"Mau punya Baby."
Meydina mengerutkan keningnya dan menoleh pada Maliek yang juga menoleh padanya.
"Baby?" tanya Meydina, kembali menoleh pada putrinya.
Fatima mengangguk, lalu berkata, "Kakak Zein ada Kakak Amar, aku sendiri."
"Ada Kakak Queen, Arkana juga ada," ujar Maliek.
"Mau yang masih baby." Rengeknya.
Riky terkekeh melihat kebingungan di wajah Maliek dan Meydina. Setelah berdehem, Riky pun berkelakar, "Minta sama Mami dan Papi membuatkan baby untuk Fatum."
"Bisa dibuat, Uncle?" Fatima langsung terduduk dan menatap orang tuanya dengan wajah ceria saat melihat Riky menganggukkan kepala.
"Mau .... Buatin, Mi. Pi ...." Riky langsung tergelak dan membuat dua orang di depannya membulatkan mata. Fatima terus merengek dan membuat orang tuanya serba salah.
"I-iya deh, Papi pesan dulu ya. Fatum mau yang seperti apa? Teman papi ada yang bisa membuatnya. Nanti kita ke tempatnya biar bisa milih, terus kita juga akan pesan untuk dibuatkan baju sama Auntie Ami," ujar Maliek dengan ide konyolnya.
"Kok teman papi?"
"Jangan mau, itu manekin baby. Atau kalau nggak boneka yang kalau empengnya lepas bunyi owe ... owe!" sahut Riky yang masih saja terkekeh.
"Nggak mau boneka!"
"Udah aah. Jangan aneh-aneh deh. Ke dalam yuk! Kita ajak main Baby Mima. Mumpung Auntie-nya mau makan. Ayo!" Fatima segera turun dari pangkuan papinya dan menyambut tangan Mami Meydina. Mereka melangkah ke ruang keluarga dan langsung menghampiri Alena yang sedang makan dengan Mima yang dibaringkan di sampingnya.
Tidak hanya Alena, di sana juga ada Alya dan Amira yang sedang menyuapi anaknya.
"Baby nggak jadi tidurnya?" tanya Zein yang memghampiri mereka.
"Mami, kita menginap di hotel?" tanya Fatima. Meydina yang menghabiskan sisa makanan Maliek mengangguk cepat.
"Besok ke sini lagi?"
"Iya, kenapa?"
"Bawa aja baby-nya."
"Hah? Jangan dong ...," ujar Alena.
"Ide bagus tuh. Kita culik yuk!" sahut Zein dan membuat adiknya mengangguk senang.
"Jangan ...."
"Auntie pelit," delik Fatima.
__ADS_1
"He-em, pelit," timpal Zein. Membuat Alena hanya bisa menggeruk tengkuk lehernya.