My Love My Bride

My Love My Bride
hubungan baru


__ADS_3

Happy reading...


Sinar mentari yang masuk lewat ventilasi mengusik tidur Alena pagi ini. Wanita itu mengerjap dan tersentak menyadari ada seseorang yang memeluk dirinya.


"Aku kan sudah pulang ke rumah, dan ini memang kamarku. Lalu, siapa yang memelukku? Tidak mungkin Kak Riky," batin Alena sambil memandangi langit-langit kamarnya dengan perasaan was-was.


Perlahan ia memberanikan diri melirik pada pucuk kepala yang berada di bagian ketiaknya. Ia berusaha mengingat yang telah terjadi saat melihat rambut panjang orang yang sedang memeluknya itu.


Flashback on


Dengan ragu Alena membuka pintu kamarnya. Ia mengernyitkan kening melihat Ajeng berdiri menatap dirinya.


"Ada apa, Jeng? Jangan bilang kamu minta dikelonin," ucap Alena malas.


"Ada yang mau gue tanyain." Sahutnya ketus dan menerobos masuk ke kamar Alena.


"Kenapa sih ini anak? Nggak jelas banget," gerutu Alena pelan sambil menutup pintu kamarnya.


"Sebentar ya, aku mau ke kamar mandi dulu." Pamitnya.


Ajeng menunggu Alena dengan perasaan yang tak menentu. Ia cepat menoleh pada Alena saat keluar dari kamar mandi.


"Jelaskan apa maksud loe tadi," pinta Ajeng tidak sabar.


"Bisa sopan sedikit nggak? Jangan loe-gue gitu? Aku-kamu kan bisa," delik Alena yang berlalu menuju tempat tidurnya. Alena menyelimuti tubuhnya yang dirasa sangat dingin karena dari kamar mandi.


"Oke, sorry. Sekarang jelaskan, apa maksud ucapan kamu tadi." Alena menatap sesaat pada Ajeng lalu menyeringai.


"Duduk di sini. Memangnya kamu nggak merasa dingin?" Alena menepuk bagian kosong di sampingnya. Ia bisa melihat kecanggungan yang sangat kentara dari sepupu suaminya tersebut.


Ajeng mendekati tempat tidur dan terduduk di samping Alena. Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Ajeng sedang salah tingkah.


"Santai saja, aku nggak gigit kok." Alena mencoba mencairkan suasana. Ia menyadari Ajeng sudah sangat ingin mendengar apa yang akan disampaikannya.


"Begini, secara tidak sengaja aku mendengar percakapan mama sama Tante Hesty..."


Dengan rinci Alena menceritakan apa yang diketahuinya. Ia bisa melihat perubahan raut wajah Ajeng di setiap kalimat yang disampaikannya. Dan perlahan Ajeng mulai tertunduk, sepertinya gadis itu sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.


Alena menjeda kalimatnya. Perlahan tangannya merangkul bahu Ajeng dan menariknya ke dalam pelukan. Awalnya ia merasa ragu, khawatir Ajeng akan menolak sikapnya itu. Tidak disangka, Ajeng justru terisak di dadanya.


Tanpa disadari, butiran air mata menetas di pipi Alena mendengar isakan Ajeng. Terbayang olehnya bagaimana dulu ia juga pernah merasakan kesedihan yang sama. Namun ia masih beruntung karena sang papa sangat mencintai dirinya. Sedangkan Ajeng, selama ini ia meraskan sepi seorang diri.


Flashback off

__ADS_1


Baru saja Alena mengingat kejadian semalam, ia merasakan Ajeng beringsut dan tersentak saat menyadari posisinya yang memeluk Alena. Wajahnya merona karena malu dan juga salah tingkah.


"So-sorry, aku nggak sengaja." Ucapnya ragu.


Alena mengulumkan senyum dan terduduk. Ditatapnya wajah Ajeng yang terlihat sembab dengan area mata yang agak bengkak. Mungkin karena lamanya ia menangis semalam.


"Kenapa? Bengkak ya? Aku sudah lama tidak menagis. Jadi sepertinya semalam air mataku tumpah semua." Ujarnya canggung saat menyadari tatapan Alena.


"Teman?" Alena mengulurkan tangannya pada Ajeng.


"Heh, teman?" Seringainya.


"Iya. Bagaimana kalau mulai saat ini kita berteman dan hidup rukun di rumah ini?"


"Kamu itu istri kakak sepupuku. Masa iya jadi temanku? Bukankah seharusnya kamu jadi kakakku?" Deliknya.


Alena tersenyum lebar dan memeluk Ajeng. Gadis itu tentu merasa bingung dengan perlakuan Alena.


"Kamu tahu, aku ini punya banyak kakak. Kak Alvin, Kak Meydina, Kak Rendy, Kak Amiera, Kak Alya, tapi aku tidak punya adik. Dan sekarang aku senang sekali karena bisa merasakan punya seorang adik." Ujarnya dengan raut bahagia.


Ajeng tersipu sambil menunduk. Ia merasa malu jika harus mengakui bahwa ia juga saat ini merasa bahagia dengan perlakuan Alena. Tapi saat teringat kembali akan mamanya, raut wajah itu kembali muram.


"Kenapa? Kamu teringat mamamu?" Ajeng mengangguk pelan.


"Aku akan bicara dulu pada Tante. Bagaimanapun, aku ingin Tante mengetahui bahwa aku ingin menjenguk mama." Sahutnya.


"Baiklah. Tapi kalau kamu membutuhkanku, aku siap kapanpun. Ya selama aku masih di sini," ujar Alena yang meraih ponselnya.


"Maksudmu, kamu akan pindah?"


"Iya, aku akan magang di perusahaan Kak Maliek yang dipimpin Kak Riky. Aku juga ingin dong nempel sama suamiku sendiri. Hmm kalau tidak, akan ada rubah betina yang menggodanya."


"Oh ya? Aku kira kamu akan tetap di sini."


"Ya nggak dong. Setelah kuliahku selesai, aku sudah berjanji akan ada dimanapun Kak Riky berada. Tapi aku senang, karena sekarang ada kamu yang akan menemani mama. Mereka juga menyayangimu, Jeng. Terlepas siapa dirimu. Kalau padaku saja mereka bisa menyayangi setulus hati, apalagi terhadapmu yang jelas-jelas kerabat mereka. Iya kan?"


Ajeng tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


"Terima kasih ya, Kak. Maaf, jika sebelumnya sikap Ajeng menyebalkan." Ujarnya pelan.


Alena merangkul Ajeng dan menyiapkan kamera ponselnya.


"Ih, malu," tolak Ajeng.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kenang-kenangan awal persaudaraan kita. Say cheese!"


Satu kilatan blitz kamera menandai kebersamaan mereka. Baik Ajeng maupun Alena keduanya terlihat senang dengan hubungan baru mereka.


Begitu juga dengan seseorang di balik pintu kamar itu. Widiya sangat terharu dengan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya.


Widiya sempat masuk ke kamar Alena. Ia teramat merindukan menantu kesayangannya itu. Betapa terkejutnya Widiya mendapati Ajeng ada di sana. Tidur seranjang bahkan memeluk Alena. Karena penasaran, ia pun menunggu sampai keduanya bangun di depan pintu.


***


Di tempat lain, Riky tersenyum melihat wajah ceria istrinya di foto yang baru saja ia terima. Meski merasa heran dengan penampilan Ajeng, Riky tak mau terlalu memikirkannya.


Riky bersiap untuk bekerja. Ia harus membiasakan diri lagi menyiapkan segalanya seorang diri.


Setibanya di kantor, kedua alisnya tertaut melihat meja sekretarisnya masih kosong. Tidak biasanya Risa datang terlambat. Ia pun berlalu menuju ruangannya.


"Selamat pagi, Pak Bos." Andri yang baru memasuki ruangannya pun menyapa.


"Pagi, Ndri. Apa hari ini Risa tidak masuk?"


"Baru saja datang, Pak. Sepertinya dia terlambat."


"Oh, saya kira dia tidak masuk kerja. Nanti tolong minta dia membawakan salinan kerjasama kita dengan NK Corp."


"Baik, Pak. Saya permisi."


Beberapa saat kemudian, Risa pun memasuki ruangan Riky. Wanita itu tertunduk dengan raut wajahnya yang muram.


"Berikan berkas itu," pinta Riky datar.


"Maaf, Pak. Pagi ini saya datang terlambat. Anak saya sedang demam, jadi semalaman saya menjaganya sampai-sampai bangun kesiangan." Ujarnya.


Mendengar hal itu, gerakan tangan Riky yang memegang pena terhenti. Pria itu menatap heran pada Risa.


"Lalu kenapa kamu masuk kerja? Bukankah seharusnya kamu menjaga anakmu di rumah?"


"Saya tidak enak pada Pak Riky. Lagi pula ada Babysitter di rumah," sahut Risa pelan.


"Kamu yakin tidak apa kalau kamu tinggalkan begitu saja?"


"Sebenarnya saya khawatir, Pak. Tapi..."


"Pulanglah. Tidak setiap hari kamu ada di rumah. Setidaknya saat anakmu sakit, kamu ada untuk menemaninya." Tegasnya.

__ADS_1


"Ah, sesuai dugaanku. Pak Riky benar-benar seorang family man," batin Risa.


__ADS_2