
Happy reading ....
Riuh suara orang-orang mulai terdengar samar di telinga Aldo. Aroma alkohol yang cukup menyengat, membuat Aldo semakin menajamkan indera penciumannya.
Aldo terperanjat, memaksa diri untuk sadar sepenuhnya. Ini ... Club? Aldo mencoba untuk menerka. Sepertinya ia sedang berada di sebuah ruangan khusus yang cukup luas di dalam sebuah club malam.
Aldo mengucek mata, mencoba meyakinkan pandangannya.
"Tidak mungkin. Ini pasti mimpi. Mereka tidak mungkin ada di sini," gumam Aldo sembari menyeringai tipis. Aldo menggeleng-gelengkan kepalanya yang terasa agak pusing.
"Pak Aldo! Surprise!" Seruan Rafael dan Riky mengalihkan pandangan Aldo. Kedua manik Aldo terbelalak, melihat semua teman-teman yang pernah dekat dengannya ada di tempat itu.
"Ehhem, Pak Aldo melotot juga ya lihat yang bohay (body aduhai)," goda Rafael. Karena memang tak hanya teman-teman, beberapa wanita berpakaian seksi juga ada di sana.
Aldo tersadar sepenuhnya saat dua wanita berpenampilan terbuka itu mendekatinya. Ia hendak bangkit, namun sayang kalah cepat dengan gerakan mereka.
Kedua wanita itu menahan lengan dan pundak Aldo dengan gayanya yang menggoda. Belahan dada yang menyembul keluar membuat Aldo susah payah mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan tersebut.
"Gimana, Do? Oke nggak ide gue?" tanya Alvin sambil tersenyum dan mengangkat gelas wine-nya.
"Gila kamu, Vin," delik Aldo.
"Haha, santai, Aldo. Kita ke sini demi kamu." Mike menjabat tangan Aldo.
"Thanks, Mike. Sami, wah nggak nyangka kamu datang juga," ucap Aldo sembari mengulurkan tangan pada Sami.
"Tentu aku datang," sahut Sami.
"Dia nggak tahu aja, gue sampai ngancam Sami demi datang ke sini," ujar Alvin yang disambut kekehan oleh teman-temannya.
"Come on, Guys! Angkat gelas kalian! Kita bersulang dan nikmati malam ini dengan bersenang-senang," seru Rafael.
Aldo menerima gelas berisi minuman yang disodorkan salah satu wanita di sampingnya. Mereka pun kompak mengangkat gelas sambil berseru, "Cheers!"
"Selamat Aldo! Kami tidak menyangka, satu minggu lagi, gelar jomlo abadi akhirnya akan kau tanggalkan," ujar salah satu teman Aldo dan disambut tawa oleh yang lainnya.
"Sebagai teman, kami hanya mau mengingatkan. Jangan lupa diasah dulu sebelum digunakan. Hahaha!" Rafael yang menimpali merasa geli dengan ucapannya sendiri.
Wajah Aldo memerah, bahkan sudah hampir seperti kepiting rebus. Namun ditengah rasa malunya, ia berusaha terlihat tegas saat meminta para wanita itu meninggalkannya.
__ADS_1
"Kenapa kalian masih di sini?" Aldo menatap tak suka pada keduanya silih berganti.
"Maaf, Tuan. Tugas kami belum selesai," sahut salah satunya.
"Tugas? Tugas apa?" Aldo terlihat bingung. Ia langsung menepis tangan kedua wanita itu yang mencoba mengusap rahangnya.
"Kenapa, Aldo? Lo nggak suka? Padahal Alvin udah bayar mereka mahal lho," seloroh Rafael.
"Vin, nggak deh. Please, suruh mereka out dari ruangan ini," pinta Aldo sambil terus menepis setiap sentuhan kedua wanita itu. Ia tidak mungkin marah di situasi seperti saat ini.
"Kenapa? Lo tahu, kenapa gue bayar mereka?" tanya Alvin.
"Enggak. Memangnya kenapa?" tanya Aldo apa adanya.
"Ya buat nge-tes. Junior Lo itu masih bisa berdiri apa nggak?" kelakar Alvin.
Lagi-lagi ruangan itu terdengar riuh oleh gelak tawa mereka. Hanya beberapa yang terlihat calm, siapa lagi kalau bukan dua menantu Tuan Salman, Maliek dan Rendy. Keduanya hanya menyeringaikan senyuman tipis. Berbanding terbalik dengan dua menantu keluarga Atmadja, Riky dan Rafael yang tertawa lepas.
"Raf, sana pegang, kali aja udah keras," kelakar Riky.
"Sialan, Lo. Kenapa harus gue?" delik Rafael.
"Vin, sebaiknya acara malam ini nggak usah ada j*lang deh," usul Riky setengah berbisik.
"Kenapa? Sebelumnya Lo oke-oke aja."
"Lo lihat tuh Rafael, bisa kambuh kegilaannya. Gue juga nggak mau, Tante Salma dapat bekas j*lang," ujar Riky.
"Santai, Bro. Aldo nggak bakalan sampai 'main'," sahut Alvin.
"Iya sih, tapi Lo lihat kan, dia juga nggak nyaman."
"Oke."
Alvin pin kemudian dengan lantang mengumumkan keputusannya. Aldo terlihat lega melihat para wanita itu meninggalkan ruangan. Tak ada yang kecewa, karena bagi mereka mendapatkan hal seperti itu sangatlah mudah.
Gelak tawa kembali terdengar. Malam ini tak ubahnya reuni bagi Aldo. Hampir semua teman seperjuangannya semasa awal karir di Al-Azmi Corp hadir.
Masa sulit yang pernah mereka lalui, kini indah untuk dikenang. Bahkan tak jarang mereka terkekeh mengingat kegilaan di masa itu. Seiring bertambah usia, kebanyakan dari mereka sudah berkeluarga, meski tak sedikit yang hanya tinggal bersama dengan wanitanya.
__ADS_1
Pukul dua dini hari, acara pun usai. Ada beberapa pegawai club yang sengaja disiapkan untuk mengantar tamu ke hotel. Sementara itu Alvin, Riky, Rafael dan Maliek, diantar pulang oleh Rendy.
Aldo dan Rendy membantu mereka sampai masuk ke dalam mobil. Empat sekawan itu benar-benar mabuk hingga berceloteh tidak jelas.
"Terima kasih untuk kejutan malam ini," ujar Aldo pada mereka sebelum mobil itu meninggalkan club. Aldo menggeleng pelan sambil tersenyum menyadari mereka bahkan tidak mengerti ucapannya.
Namun kemudian dari kursi belakang, Rafael berucap, "Kau suka? Tapi aku tidak. Semuanya membosankan tanpa j*lang." Rafael sudah tak sadar dengan ucapannya sendiri.
"Aww." Rafael memegangi kepalanya yang terkena kaca mobil karena ditoyor Riky.
"Siapa bilang tidak ada. Aku tadi melihat ada wanita memakai gaun putih yang sangat cantik," ujar Riky.
"Benarkah? Aku tidak melihatnya. Apa dia seksi? Bagaimana dadanya, besar tidak?" cecar Rafael.
"Entahlah, aku tidak melihatnya lagi. Alena melotot padaku. Jadi aku tidak berani menatapnya," sahut Riky.
"Ah kau ini, kenapa takut pada perempuan. Aku tidak takut pada Alya. Malam ini, aku tidur di tempat lain saja. Alya akan marah jika tahu aku baru main dengan j*lang. Hei, Supir! Antarkan aku ke rumah Wira Atmadja. Alya tidak akan menemukanku di sana," tutur Rafael.
"Bodoh. Itu kan rumah mertuamu," ujar Alvin sengaja menoleh ke kursi belakang untuk menoyor kepala Rafael.
"Aww. Kenapa kalian suka sekali dengan kepalaku ini," gerutu Rafael.
"Tadi itu tidak ada j*lang, Raf," ujar Riky.
"Kau bilang ada. Lalu Alena itu siapa? Bukankah dia j*lang?" tanya Rafael.
Mendengar hal itu, meski dalam keadaan mabuk Riky masih bisa merasa kesal. Ditoyornya lagi kepala Rafael, lalu menarik kerah bajunya untuk kemudian mengunci leher Rafael dengan kedua tangannya. Alvin yang melihatnya bersorak dan membangunkan Maliek yang sedari tadi sudah tertidur.
"Ish, kalian ini. Merepotkan saja," ujar Rendy sambil menghela napasnya.
"Pak Aldo, kami pulang." Pamitnya.
"Baiklah. Hati-hati, Ren."
"Bye, Tuan Salman," ujar Rafael sambil melambai.
"Itu bukan Tuan Salman, Bodoh. Itu ... siapa ya? Ah sial, aku ingin ke kamar mandi," umpat Riky.
"Di sini saja, aku tidak akan mengintip," ujar Rafael dengan tangan yang menangkup wajah namun jemarinya di renggangkan.
__ADS_1
"Hehe, kau curang. Coba buka, baa ...." Riky dan Rafael tertawa lepas. Sementara itu Rendy berkali-kali menepuk kening mendengar percakapan mereka yang terus saja berlanjut. Empat sekawan itu benar-benar mabuk berat. Entah akan seperti apa nantinya jika mereka sampai di rumah.