My Love My Bride

My Love My Bride
kedatangan Ajeng (bagian 1)


__ADS_3

Happy reading...


Udara pagi yang menyegarkan menyambut kedatangan Ajeng di kota ini. Perlahan gadis itu meregangkan otot-otot tangannya yang dirasa pegal setelah hampir sepuluh jam perjalanan kereta.


"Taksi, Mbak." Tawar seorang pria yang merupakan seorang driver terlihat dari seragam yang dikenakannya.


"Iya. TY Apartement tahu, Pak?"


"Tahu, Mbak. Di sekitar jalan Rengganis," sahutnya setelah sesaat seperti berpikir.


"Iya, betul. Antar saya ke sana ya, Pak."


"Iya, Mbak." Baru saja pintu bagian depan tertutup, Ajeng dan supir taksi itu dikejutkan dengan seorang pria yang masuk begitu saja.


"Kak Kamil, mau apa?"


"Mau ikut kamu. Masa iya aku ditinggal sih, Jeng. Jalan, Pak. Saya pacarnya, dia sedang marah jadi begini. Hehe ...."


Ajeng melongo mendengar pengakuan Kamil. Sudah cukup ia mendengar celotehan pria ini selama berada dalam perjalanan kereta. Haruskah Kamil juga mengekor padanya?


"Kak, Ajeng ada urusan penting. Lain kali ikutnya ya."


"Aku juga ada urusan penting." Sahut Kamil cepat.


"Ya udah kalau Kakak punya urusan penting, naik taksi lain saja. Ajeng ongkosin deh."


"Ish. Apaan sih, Jeng?" Gerakan tangan Kamil menghentikan Ajeng yang hendak mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.


"Urusanku itu jagain kamu. Memastikan kamu selamat sampai tujuan. Aku janji, setelah kamu sampai, aku akan pulang ke rumahku. Janji." Ucap Kamil dengan kedua jari membentuk huruf 'v' terangkat ke udara.


"Janji?"


"Janji, Sayang." Sahut Kamil. Pria itu seakan tidak perduli dengan delikan tajam yang diarahkan padanya.


***


Pagi yang sama di kota yang sama pula. Alena menatap heran pada pintu kamar mandi yang sedari tadi dikunci Riky. Pria itu terdengar sedang muntah-muntah dan tidak membiarkan Alena membantunya.


"Hubby, buka dong pintunya. Aku bawa air hangat nih," ucap Alena sambil mengetuk pintu.


"Udah kok, Yang. Sebentar lagi aku keluar," sahut Riky dari dalam.


Tatapan Alena teralihkan pada ponselnya yang berdering. Setelah melihat siapa yang meneleponnya, Alena pun menerima panggilan tersebut.


"Hallo, Ma."


"Hallo, Sayang. Sudah bangun? Mama tidak mengganggu kan?"


"Enggak, Ma. Alena sudah bangun kok. Mama sedang apa? Pasti sedang buatin kopi ya? Papa sedang memberi makan si Paijo kan?"


"Kok tahu?"

__ADS_1


"Tahu dong. Alena gitu loh, hehe. Kangen, Ma ...." rengeknya.


"Mama juga kangen. Riky sudah bangun?"


"Sudah. Dari tadi muntah-muntah di kamar mandi. Dari kemarin diajak ke dokter nggak mau."


"Riky sakit? Mana mau dia ke dokter. Minum obat aja nggak suka."


"Oh, pantas saja. Terus, kalau Kak Riky sakit, obatnya apa dong Ma?"


"Suruh saja istirahat yang cukup. Makan yang banyak, jangan lupa vitamin juga."


"Oke deh, Ma. Mama mau bicara? Kak Riky sudah keluar."


"Boleh."


Setelah meneguk air hangat yang disodorkan istrinya, Riky berbincang dengan Mama Widiya di telepon. Setelah menaruh gelas di atas nakas, Alena kembali menghampiri Riky dan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya tersebut.


"Hubby, jangan dulu ke kantor ya." Pinta Alena setelah panggilan diakhiri.


"Kamu pergi sama siapa dong?" tanya Riky sambil mengusap pucuk kepala Alena.


"Naik taksi aja."


"No, Sayang. Aku akan minta Andri ke sini sambil membawa berkas untuk kukerjakan di rumah."


"Kok masih kerja sih?"


"Aku bisa mengerjakannya setelah merasa lebih baik."


"Iya, Sayang." Sahutnya, lalu mengecup lembut bibir Alena.


"Mau sarapan apa? Nasi goreng?"


"Mmm nggak deh. Dari kemarin aku merasa mual kalau mencium bau bumbu masakan." Geleng Riky.


"Terus, apa dong? Sandwich, mau?"


"Boleh," angguknya.


"Lena buatkan sekarang ya."


Alena meninggalkan kamarnya sambil membawa gelas kosong yang tadi diletakkannya di atas nakas. Sementara itu, Riky langsung menelepon Andri untuk memintanya datang.


Entah mengapa pagi ini Riky merasa benar-benar lemas. Setelah mengeluarkan semua makanan yang tersisa dalam perutnya, ia seakan kehabisan tenaga.


"Ada apa denganku? Tidak biasanya seperti ini. Akh, sepertinya aku memang harus beristirahat," gumamnya.


Beberapa saat kemudian, dengan berat hati Alena berangkat ke kantor dan meninggalkan Riky di apartemen mereka. Suaminya itu melarang Alena bolos kerja dengan alasan bahwa pria itu tidak bisa istirahat jika ada Alena di sampingnya. Setelah memastikan Riky menghabiskan sarapannya, Alena dan Andri pun berangkat bersama.


"Semoga lekas sembuh, Bos."

__ADS_1


"Terima kasih, Ndri. Maaf merepotkan."


"Tentu tidak, Bos. Ini kan memang tugas saya."


Riky tersenyum manatap kepergian mereka dengan tatapan yang sayu. Berkali-kali ia melambaikan tangan pada Alena yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya. Setelah pintu lift dilihatnya tertutup, Riky kembali ke kamarnya.


***


"Terima kasih, Pak." Ujar Kamil setelah membayar ongkos taksi.


"Katanya Kak Kamil akan pergi setelah Ajeng sampai, kok ikut turun?" Ajeng benar-benar tak habis pikir dengan pria satu ini. Sikapnya ngeyel dan tentunya menjengkelkan.


"Aku kan masih harus lihat kamu sampai di dalam." Sahutnya ringan.


"Harus?"


"Iya. Yuk ke dalam. Apartemen Papamu di lantai berapa?" tanya Kamil mendahului Ajeng berjalan menuju lobi.


Sesaat Ajeng tertegun. Bukan karena Kamil, melainkan karena kesadarannya telah kembali.


Ocehan Kamil selama perjalanan telah mengalihkan pikirannya. Sekarang, ia kambali mengingat misinya datang ke tempat ini.


Ditatapnya gedung apartemen itu. Entah mengapa tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Selain itu juga kakinya seakan berat untuk dilangkahkan.


"Hei, Cantik. Kok melamun? Ayo dong." Genggaman tangan Kamil yang menarik pelan tangannya membuyarkan ketertegunan Ajeng. Tanpa berkata apapun juga, Ajeng memaksakan langkahnya untuk masuk dan menemui sang papa.


Sementara itu di bagian lain gedung tersebut, Risa nampak kesal karena Baby Zee yang rewel dan tak mau ditinggal. Kekesalannya bertambah saat mendengar Pras justru memintanya untuk tidak berangkat kerja.


"Mbak, bawa mainan atau apa saja gitu biar Zee mau dipangku sama kamu. Jangan diam saja," ujarnya kesal.


"I-iya, Bu."


"Huft, emang dasar nggak niat kerja," decihnya.


"Ris, aku kan sudah bilang, izin saja untuk hari ini."


"Enggak, Mas. Aku nggak mau ya kalau sampai gajiku bulan depan dipotong," deliknya.


"Aku ganti. Aku tambahin, Risa. Apa kamu nggak kasihan sama Zee? Mungkin dia sedang kangen sama kamu," ujar Pras yang sedang menikmati kopinya.


"Heh, kangen? Setiap hari kan ketemu. Masa iya kangen? Ini sih manja, bukan kangen." Dengus Risa dengan tatapan kesal terarah pada putri kecilnya.


Pras terdiam, sesaat bayangan Hesty yang dengan sabar membujuk Ajeng kecil berkelebat di pelupuk matanya. Diakuinya, Risa sangat berbeda dengan mantan istrinya itu. Hesty sangat sabar dalam menghadapi Ajeng yang memang aktif dan suka mencari perhatian kedua orang tuanya.


Ajeng. Sudah lama ia tidak menanyakan kabar putri sulungnya itu. Entah mengapa, Pras tiba-tiba merasa rindu.


Ting ... tong.


Ting ... tong.


"Mbak! Buka pintunya." Pekik Risa.

__ADS_1


"Baik, Bu."


"Siapa sih bertamu pagi-pagi begini?" dengusnya kesal.


__ADS_2