My Love My Bride

My Love My Bride
panik


__ADS_3

Happy reading ....


Udara pagi terasa sejuk menembus pori. Kabut tipis yang tersapu angin perlahan menghilang seiring keluarnya sang mentari.


Masih di rumah peninggalan kakek dan neneknya, Ajeng terduduk seorang diri di sebuah kursi di taman belakang. Tampaknya, gadis itu sedang mengenang kebersamaannya dengan almarhum mamanya di rumah tersebut.


Dari balik kaca jendela ruang makan, Widiya menatap dengan tatapannya yang sendu.


"Ma ...."


"Selamat pagi, Sayang." Widiya tersenyum tipis pada Alena. Kantung mata Alena menarik perhatian Widiya.


"Tidurmu tidak nyenyak?"


"Lumayan, Ma. Papa belum bangun?" tanya Alena yang melihat ke bagian dalam rumah.


"Papa sedang menemui seseorang untuk meminta merawat makam." Alena mengangguk-anggukan kepalanya pelan.


"Sayang, maaf ya. Sepertinya mama belum bisa menemani kamu."


"Tidak apa-apa, Ma," sahut Alena. Ia mengerti dilema yang dihadapi ibu mertuanya itu.


Di satu sisi mama Widiya pastinya sangat ingin menemaninya melewati masa kehamilan. Tapi di sisi lain, tidak mungkin meninggalkan Ajeng dalam keadaannya sekarang.


"Kamu ngidam sesuatu?" tanya Mama antusias.


"Enggak ah. Cuma kadang-kadang kalau malam ingin dibuatkan makanan sama kak Riky," sahut Alena malu.


"Kalau itu sih biasa. Riky bagaimana? Masih suka muntah?"


"Masih. Tapi nggak sering."


"Syukurlah. Yang sabar ya, biasanya di trimester kedua juga enggak."


"Iya, Ma."


***


Sementara itu di Timur Tengah ... Heningnya pagi buta membuat Salman larut dalam lamunan. Meski kini ia berada di rumah, alat medis yang masih terpasang membuat ayah Meydina itu tak bisa berbuat apa-apa.


Sepi. Salman merasa kesepian. Ia kemudian menoleh pada Alvin yang tertidur di sofa. Kilasan wajah polos Alvin ketika pertama kali bertemu dengannya, melintas begitu saja. Tidak disangka, anak laki-laki itu kini dapat diandalkan.


Lagi-lagi karena Anita. Jika saja hati Alvin tidak tertaut pada Anita, mungkin ia akan tumbuh menjadi seorang pria serakah seperti mommy-nya.


Sekilas, sosok Anita berkelebat. Menghadirkan seulas senyum di wajahnya yang memucat. Ah, seandainya saja ....


Salman merindukan masa-masa itu. Masa di mana Meydina belum ada. Hanya berdua dengan Anita, menikmati rumah tangga yang baru dibina.


"Anita. Mungkinkah Badr sedang menungguku?" Gumamnya, sesaat kemudian, dada Salman kembang kempis tak beraturan.

__ADS_1


Salman mengeratkan cengkraman tangannya pada seprai. Kedua bola matanya membulat seperti akan keluar.


Ceklek.


Dokter yang berniat memeriksa keadaan Salman secepat kilat berlari ke arah tempat tidur. Refleks ia memencet panggilan darurat yang tertuju pada Dokter Said.


Lengkingan bedside monitor, mengganggu tidur Alvin. Ayah Queena itu terperanjat melihat dokter yang sibuk melakukan penindakan.


"Dokter, apa yang terjadi?"


"Tuan, tolong panggilkan para perawat."


Secepat yang ia bisa, Alvin keluar kamar untuk memanggil perawat. Di luar kamar, Ia berpapasan dengan Rendy yang berniat melihat keadaan mertuanya.


"Ada apa, Kak?"


"Aku akan memanggil perawat. Ren, panggilkan Meydina dan Amiera!" seru Alvin sambil berlalu.


Rendy belum bisa mengerti situasi saat ini, namun saat melihat Dokter Said berlari ke arahnya, tanpa pikir panjang ia menuju ke tangga.


"Mey, Meydina!" Serunya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Amiera yang keluar dari kamarnya yang berada di samping kamar Meydina.


"Amie, pergilah ke kamar ayah. Mey!" Rendy mengetuk-ngetuk kamar Meydina.


Melihat ekspresi wajah suaminya, Amiera yakin terjadi sesuatu dengan Daddy-nya. Putri kedua Salman itu bergegas menuruni tangga.


Ceklek.


"Ayah, Kak. Meydina sudah bangun?"


"Ayah? Mey sedang di kamar mandi. Aku akan memberitahunya," ujar Maliek.


"Baiklah." Rendy berbalik kembali menuruni tangga. Dari atas, Maliek bisa melihat Amiera dan Alvin menuju kamar mertuanya dengan raut wajah yang tegang.


Maliek kembali ke kamar dan mengetuk pintu kamar mandi.


"Mey! Sayang, kalau sudah selesai ke kamar ayah." Serunya.


Langkah Maliek baru tiba di ambang pintu saat Meydina keluar kamar mandi. Istrinya itu segera menghampiri sambil membetulkan piyamanya.


"Ada apa dengan ayah, Pi?"


"Ayah ...."


Tanpa menunggu Maliek menyelesaikan kalimatnya, Meydina berlari melewati suaminya dan menuruni tangga.


"Sayang, hati-hati!" seru Maliek yang juga mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Anak menantu Salman di pagi itu diliputi rasa panik yang luar biasa. Alvin dan Rendy bergantian melakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP), sementara Dokter Said dan dokter pendampingnya menyiapkan alat kejut listrik (defibrilator) sebagai antisipasi lanjutan.


Raut wajah mereka terlihat lega saat bedside monitor memperlihatkan denyut itu kembali. Dokter segera memasangkan alat medis untuk membantu pernafasan Salman.


Tiga wanita yang berada diruangan itu saling menenangkan. Tidak berselang lama, Salman membuka kelopak matanya dengan sangat perlahan.


"Vin." Ucapnya pelan.


"Iya, Dad." Alvin menggenggam tangan Salman sambil mendekatkan wajahnya ke wajah daddy-nya tersebut.


Amiera dan Meydina mendekati tempat tidur Salman, begitu juga dengan tiga menantu keluarga itu.


"Jaga adik-adikmu," ucap Salman terbata dan sangat pelan.


Meydina membungkam mulutnya yang terisak. Sedangkan Amira memeluk Laura dan terisak di pundaknya.


"Mey, maafkan ayah." Ucapnya mencoba untuk tersenyum. Meydina menggeleng cepat lalu mencium wajah ayahnya.


Di bagian luar, Zein yang baru bangun hendak menuju tangga mencari maminya. Seorang pelayan memberitahu bahwa semua sedang berkumpul di kamar sang kakek. Putra sulung Meydina itupun menuju kamar kakeknya.


Anak lelaki itu nampak bingung melihat maminya terisak. Maliek meminta Zein mendekat dan berdiri di sampingnya.


"Kakek kenapa, Pi? Kok mami nangis?" tanya Zein yang kemudian menurunkan lengan papinya yang berada di pundak. Zein berjalan memutar untuk kemudian berada di samping Mami Meydina.


"Kek." Ucapnya.


Bola mata Salman bergerak mengarah pada cucu kesayangannya itu. Air mata berderai di ujung mata saat tatapannya bertemu dengan sepasang mata milik Zein.


"Badr," batin Salman.


"Kakek cepat sembuh ya. Biar bisa main lagi." Ucapnya sambil mencium kening kakek Salman.


Air mata Salman seketika tumpah mendengar ucapan Zein. Walau tak bersuara, Salman merasakan kesedihan yang teramat sangat dalam.


Ditatapnya satu persatu anggota keluarganya itu. Amiera mendekati dan langsung memeluknya.


"Maafkan ayah, Ami."


Amira menggeleng lalu berucap, "Ayah yang terbaik."


Meydina yang menggenggam tangan ayahnya, berusaha memberi kehangatan dengan menggosok pelan dengan telapak tangannya. Tangan itu terasa sangat dingin dan semakin dingin saja.


Meydina tertegun. Tangan ayahnya terkulai dalam genggamannya.


"Yah, Ayah. Paman!" Meydina memekik memanggil dokter Said. Sontak saja mereka panik melihat garis lurus pada bedside monitor.


Dokter Said dibantu dokter lain juga perawat segera mempersiapkan defibrilator. Wajah-wajah itu menatap dengan tatapan nanar dan hati berdebar. Saat Dokter Said memberi kejut jantung dan tubuh Salman tersentak berkali-kali.


Mereka tak henti berdoa di dalam hati. Mengharap belas kasih Tuhan untuk memanjangkan umur orang terkasih yang terbaring tanpa daya.

__ADS_1


"Paman, kenapa diam? Coba lagi, Mey mohon." Meydina langsung menghampiri dokter Said saat melihat pamannya itu berhenti menempelkan alat kejut jantung di dada ayahnya.


"Maaf, Mey. Salman sudah tiada."


__ADS_2