My Love My Bride

My Love My Bride
Baby?


__ADS_3

Happy reading ....


Dengan langkah berat, Risa memasuki ruangan atasannya. Suasana di ruangan itu sontak berubah saat Risa ada di sana.


Masih terlihat jelas kemarahan di mata Widiya. Begitu juga Ajeng yang memutar bola mata karena jengah dengan sosok Risa.


Di meja kerja Riky, Alena sedang menikmati makan siangnya. Disuapi Riky yang masih mencoba untuk merayu istrinya.


Melihat Risa sudah ada di ruangan itu, Alena mengambil alih sendok yang dipegang Riky. Setelah mengusap ujung bibir Alena dengan tisu, barulah Riky menghampiri mereka yang terduduk di sofa.


Tanpa ada yang menyadari, diam-diam Andri memperhatihan Ajeng. Saat manik keduanya beradu, cepat-cepat mereka memalingkan muka dengan wajah yang merona.


"Apa maksud kamu melakukan ini," tegas Widiya menunjuk pada video Risa yang dijeda.


"Kamu mau membuat menantu saya cemburu, hah? Sekarang juga jelaskan krinologi kejadiannya." Imbuhnya lagi masih dengan ketegasan yang serupa.


Risa tak mampu berkilah lagi. Ia pun akhirnya menjelaskan semuanya dari awal. Tidak hanya itu, dengan suara bergetar Risa mengutarakan maksudnya yang dengan sengaja melakukan hal tersebut.


Widiya semakin geram, begitu juga Alena yang mendengarkan sambil mengunyah makanan. Sementara Riky mengusap kasar wajahnya. Seandainya saja Risa bukan seorang wanita, mungkin sudah babak belur ia hajar. Namun ia berusaha tetap menggunakan akal sehatnya.


"Kamu saya pecat. Saya tidak mungkin lagi bisa mempekerjakan kamu, apalagi sebagai sekretaris saya. Andri, tolong kamu urus semuanya. Bicarakan ini dengan bagian HRD."


"Baik."


Andri meminta Risa mengemasi barang pribadinya. Pria itu tidak ada rasa iba sedikitpun. Seperti halnya Riky, ia merasa geram dan berusaha untuk tetap tersadar bahwasanya Risa seorang wanita.


"Ma, Alena ke ruangan Lena ya. Mama nggak apa-apa kan?"


"Sayang, menurut mama sebaiknya kamu pulang."


"Enggak dong, Ma. Magang Lena juga kan sebentar lagi udahan. Lena tidak ingin menyisakan pekerjaan yang sudah dipercayakan."


"Baiklah. Jangan terlalu lelah ya."


Alena mengangguk dan berlalu meninggalkan ruangan tersebut. Riky menelan ludah menyadari Alena tidak menoleh padanya.


"Apa dia masih marah?" batin Riky ketir.


"Yang sabar, Rik. Perempuan memang begitu. Mama yakin Alena sudah tidak marah. Dia hanya ingin melihat kamu lebih berusaha lagi merayunya." Mama Widiya seolah mengerti arti tatapan putranya.


"Iya, Ma. Mama sama Ajeng belum makan siang."


"Gampang, pulang dari sini kami bisa mampir ke restoran. Kamu makan saja makanan itu, ajak juga Andri. Dia belum istrirahat apalagi makan siang."


"Iya, Ma."

__ADS_1


"Rik. Mama minta, pekerjakan seorang sekretaris pria. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi. Mama tidak ingin ada Risa-Risa lain yang akan menyulut api di kehidupan rumah tanggamu. Kesuksesan kamu tidak ada artinya jika istrimu sendiri tidak merasa tenang di rumah."


"Iya, Ma. Riky mengerti."


"Ya Sudah, Mama sama Ajeng pulang dulu. Tidak usah diantar, makan dan bekerja dengan benar. Mama pergi ya," pamit mama yang menolak saat melihat Riky bersiap mengantarnya ke lobi.


Riky hanya bisa menuruti permintaan mamanya. Ia hanya mengantar sampai di depan lift.


"Mari saya antar, Bu," ukar Andri yang berpapasan dengan mereka di lobi.


"Tidak usah. Maaf ya sudah merepotkan." Tidak hanya pada Andri, Widiya juga tersenyum tipis pada para karyawan yang ada di sana dan juga security yang dilaluinya.


"Terima kasih. Jangan lupa makan ya," pesan Widiya pada Andri yang membukakan pintu untuknya.


"Sama-sama. Terima kasih juga atas perhatiannya." Ujarnya sopan.


Andri tidak menyadari, sedari tadi Ajeng memperhatikan dirinya. Gadis itu mengagumi Andri sambil menopang dagu di bagian atap mobil.


"Bukain," pinta Ajeng pelan sambil tersenyum dengan gerakan mata mengarah ke pintu mobil.


Andri mengerutkan keningnya dengan tatapan heran. Melirik sebentar pada mama Riky dan berjalan memutar untuk membukakan pintu.


"Terima kasih," ujar Ajeng dengan senyum yang lebar. Dengan riangnya ia melambaikan tangan pada Andri yang memberinya tatapan membingungkan. Namun saat mobil itu hilang dari pandangan, Andri tersipu sambil memegangi sebelah kiri dadanya.


Sementara itu di dalam mobil, Widiya merasa heran dengan sikap Ajeng barusan.


"Oppa, Tante. Bukan Opa."


"Iya, itu maksud tante. Setahu tante, Andri itu baik. Melihat dia mengingatkan Tante pada Riky waktu masih jadi asisten Maliek." Tuturnya dengan tatapan menerawang.


Ajeng hanya mengulumkan senyum, entah apa yang ada dibenak gadis itu. Siapa yang menyangka, sikap dingin Andri saat mereka bertemu di rumah orang tuanya justru mengusik perasaan Ajeng dengan banyak tanya.


***


Riky sengaja menuntaskan pekerjaannya lebih cepat. Selain ia sudah lelah karena pekerjaannya di luar kota, ia juga tak ingin melewatkan pulang bersama dengan Alena.


"Hai, Sayang!" Sapanya. Saat Alena dan beberapa rekan kerjanya terlihat keluar dari lift. Mereka pun menyapa Riky sekaligus berpamitan pada Alena dan atasannya tersebut.


"Sayang, mau langsung pulang apa makan di luar?" tanya Riky sambil menggandeng lengan istrinya.


"Mama mau masak untuk makan malam kita, Kak." Sahutnya datar.


"Oh, oke deh. Berarti langsung pulang nih?" tanya Riky dengan raut wajah menggoda.


"Memangnya Kak Riky mau kemana?"

__ADS_1


"Ke hotel mungkin," sahut Riky asal.


"Ada apartemen kok ke hotel. Kak Riky biasa ngajak perempuan lain ke hotel ya?" todong Alena ketus.


"Enggak," geleng Riky cepat. Ia merutuki bibirnya sendiri yang asal-asalan menjawab saat mood istrinya belum benar-benar baik.


Alena mendelik dan langsung masuk ke dalam mobil. Riky yang salah tingkah menggaruk tengkuk lehernya dan bergegas masuk ke dalam mobil.


"Yang, aku minta maaf." Ujarnya lembut.


"Alena capek, Kak. Ingin rebahan," sahut Alena malas.


Riky mengangguk, namun sebelum menyalakan mesin mobilnya, pria itu mengusap lembut perut Alena dan menciumnya. Riky menempelkan telinganya di perut itu dan kembali mengecupnya.


Selama perjalanan, tidak ada yang bersuara. Sesekali Riky meraih tangan Alena dan mengecup punggungnya. Ia hanya bisa berharap kekesalan istrinya itu cepat reda.


"Kok berhenti di sini?" tanya Alena heran sambik memperhatikan area sekitar.


"Baby ingin makan es krim, Mi."


"Baby?" Alena terlihat bingung sambil melihat ke bagian perutnya.


"He-em. Tadi kan aku nempelin telingaku, terus aku dengar dari dalam sana ada yang bilang, 'Papi, mau es klim lasa stobeli'," ujar Riky berdusta dengan ucapan yang dicadelkan.


Alena mendelik sambil tersipu menyadari sikap Riky yang menggodanya. Riky tentu tahu, es krim strawbery adalah kesukaannya.


"Yuk. Nanti baby-nya keburu marah loh."


Riky turun dari mobilnya. Belum sempat ia membukakan pintu mobil untuk Alena, istrinya itu sudah mendahului turun.


"Tunggu aku bukakan pintunya dong, Sayang."


"Katanya takut baby-nya keburu marah?"


"Oh iya ya. Jangan marah ya, Nak. Baik-baik sama Mami." Ujarnya sambil mengusap perut Alena.


"Mau yang besar es krimnya, Pi."


"Boleh. Sekalin untuk mami juga ya?"


"Kan emang buat Mami," delik Alena.


"Bukan ah, Papi beliinnya buat baby. Mami salah dengar kali ...." Candanya.


"Aah, Kak Riky gitu. Alena yang mau." Rengeknya.

__ADS_1


"Oh, Mami toh. Tadi Papi kira baby yang mau. Balik lagi yuk ah. Ternyata bukan baby yang minta." Riky yang menggandeng Alena pura-pura memutar badan dan langsung ditahan oleh tarikan tangan Alena. Pria itu berbalik lagi dan terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya yang cemberut.


"Iya, Sayang. Untuk kamu." Ujarnya sambil mengecup punggung tangan Alena.


__ADS_2