My Love My Bride

My Love My Bride
pernikahan SalDo - part 2 (end)


__ADS_3

Happy reading ....


Untuk sesaat terasa hening. Setiap mata terfokus pada Salim dan Aldo yang sudah berjabat tangan untuk mengucap ijab kabul pernikahan.


Dengan lantang Aldo menjawab kalimat ijab yang diucapkan Salim. Saat kata 'sah' menggema, mereka semua terlihat lega dan tentunya turut bahagia.


Tamu yang hadir pun satu persatu mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Lengkap dengan candaan yang dilontarkan teman-teman dekat Aldo yang membuat Salma tersipu.


Saat yang lain menikmati hidangan, Aldo menatap haru pada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Siapa sangka jodoh yang sekian lama ia tunggu ternyata adalah Salma. Wanita dari masa lalu yang kini jadi masa depannya.


"Terima kasih sudah datang kembali dalam kehidupanku. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untukmu," ujar Aldo sembari menggenggam tangan Salma, lalu mengecupnya.


Salma tersipu malu. Ia merasa tersanjung dengan sikap Aldo.


"Sama-sama, Do. Terima kasih juga karena telah menungguku selama ini."


"Kamu nggak punya panggilan lain untukku? Darling, honey, atau apa gitu. Hubby juga boleh," seloroh Aldo dengan tatapan mata yang mendamba.


"Ck, kamu ini. Kita udah tua, Do. Mas aja ya," jawab Salma.


"Hehe, umur memang udah tua. Tapi jangan salah, kalau soal tenaga yang muda kalah loh sama mas-mu ini," goda Aldo.


Salma tersipu sambil menepuk pelan lengan Aldo. "Iya, percaya. Udah ah, malu. Dilihatin banyak orang," ujar Salma pelan.


Aldo menoleh, para tamu itu spontan membuang muka. Termasuk juga Salim yang sedari tadi memperhatikan keduanya dari tempat ia berada.


"Satu tanggung jawab sudah terlepas. Pak Salim tentunya merasa sangat lega," ujar Evan.


"Benar, Pak. Selama ini saya selalu khawatir karena Salma lebih memilih hidup sendiri dan jauh dari keluarga. Nggak nyangka, jodohnya sangat dekat. Coba dari dulu Salma kembali. Mungkin dia sudah menikah jauh-jauh hari," tutur Salim.


"Namanya juga takdir, Pak. Cukup lama kami mengenal Pak Aldo, apalagi Alvin. Begitu juga dengan Riky. Yang saya tahu Riky sangat mengagumi loyalitas Pak Aldo pada mendiang Tuan Salman. Dan sekarang Pak Aldo juga menjadi bagian dari keluarga kita, saya turut senang, Pak."


"Iya, benar. Kalau dipikir, jodoh mereka ternyata memang nggak jauh ya. Ajeng juga kalau ada jodohnya akan dinikahi Andri yang juga orang dekat Riky. Hubungan ini aneh, tapi nyata," gumam Salim.


"Yang penting dalam hubungan ini keluarga kita bahagia," ujar Evan dan diangguki Salim.


***

__ADS_1


Pukul dua siang, acara pun usai. Kedua mempelai beserta pihak keluarga bersiap untuk pulang. Aldo mengantar Salma ke kediaman Salim untuk berkemas. Kemudian akan tinggal bersama Aldo di rumah baru mereka.


Aldo sengaja membeli rumah untuk Salma. Ia tak ingin istrinya itu terkekang di apartemen. Terlebih, kini mereka punya keluarga besar yang bisa datang kapan saja.


Setibanya di rumah Salim, Riky memangku putrinya yang terlelap dan menidurkannya di kamar. Setelahnya, ia kembali untuk bergabung dengan Salim dan Aldo. Sementara itu, Salma pamit ke kamarnya.


"Ajak dong Pak Aldo-nya, Salma. Sekarang dia suamimu loh," ujar Widiya setengah menggoda.


"Iya, Mbak. Tapi ...." Salma terlihat ragu.


"Kenapa? Karena ini masih siang? Ya nggak apa-apa kalau suamimu sudah meminta haknya," sahut Salim sambil melirik pada Aldo yang tertunduk karena malu.


"Ayo, Pak Aldo! Nggak usah nunggu malam pertama. Kalau kata Ajeng sih, di depe aja dulu," kelakar Riky.


"Idih, kenapa bawa-bawa Ajeng?" Ajeng menghentikan langkahnya yang hendak menuju kamar.


"Kan kamu yang bilang begitu," ujar Riky sekenanya.


"Depe? Maksudnya?" Salim mengerutkan kening sambil menoleh pada Ajeng.


"Nggak ada maksud apa-apa, Om. Cuma becanda, hehe. Bravo Pak Aldo, Tante. Semangat!" Ujarnya sambil mengangkat tangan yang terkepal ke udara. Buru-buru Ajeng masuk ke kamarnya. Ia tak ingin dicecar pertanyaan oleh Salim.


Salma terlihat canggung saat mempersilakan Aldo masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang tidak terlalu besar namun sangat rapi dan bersih.


"Mmm mas, Salma mau ke kamar mandi dulu. Tunggu sebentar ya." Saat berbalik, langkah Salma terhenti karena tangannya diraih Aldo.


"Sebentar Sal, ada yang tidak bisa menunggu. Sedari tadi aku sudah ingin melakukannya," ucap Aldo yang terdengar pelan.


Salma tertegun, menerka apa yang diinginkan Aldo. Dalam ketertegunannya, Salma merasakan tangannya ditarik pelan oleh Aldo dan ada tangan yang melingkar dipinggangnya.


"Aku ingin memelukmu, sebentar saja," bisik Aldo sembari mengeratkan lingkaran tangannya.


Salma yang tersadar pun tersenyum tipis. Walaupun masih canggung, ia membalas pelukan Aldo.


***


Malam yang gulita, mulai mendatangkan keresahan pada dua insan yang sedari tadi tidur di ranjang yang sama namun masih belum bisa terpejam. Ini malam pertama mereka, namun belum ada yang berani memulainya.

__ADS_1


"Mau nggak sih? Kok dari tadi diam aja. Kalau enggak, aku kan bisa tidur dengan tenang," batin Salma yang berbaring dalam posisi membelakangi Aldo.


"Gimana mulainya ya? Gimana kalau Salma tidak suka? Aduh, gimana ini? Mana udah mulai keras. Salma udah tidur belum ya?" batin Aldo yang memang belum terbiasa dengan aroma parfum wanita didekatnya.


Aldo memutuskan untuk membalikkan badan, ingin memastikan istrinya itu sudah tidur apa belum. Siapa sangka, Salma juga melakukan hal yang sama.


Untuk sesaat keduanya terkesiap, saling menatap kemudian mengulumkan senyuman. Keduanya bergeser untuk mengikis jarak diantara mereka.


Salma mendekap Aldo dengan kepala berada di bagian dada. Aldo mengecup pucuk kepala Salma sambil mengeratkan pelukannya.


Salma mendongakkan kepala untuk menatap wajah suaminya. Tatapan sayu yang terlihat dari sorot mata Aldo, memperlihatkan pria itu sudah sangat menginginkannya.


"Mas, sekarang aku adalah istrimu. Kamu boleh meminta hakmu kapan saja kamu mau," ujar Salma seakan mengerti rasa canggung di hati Aldo.


"Kamu yakin?" Salma mengangguk sambil tersipu.


Tak perlu menunggu lama, Aldo segera merubah posisi mereka. Menempatkan Salma yang sudah pasrah berada dalam kungkungannya.


Ditatapnya wajah ayu Salma. Perlahan, Aldo mengarahkan bibirnya pada bibir Salma.


Salma sudah menerima Aldo sepenuhnya sebagai suaminya. Mengerti situasi Aldo yang mungkin baru pertama kali melakukannya, Salma pun berinisiatif mencairkan suasana.


Saat bibir Aldo menempel di bibirnya, Salma membuka kedua bibirnya dan meraup bibir Aldo. Ia bisa merasakan bahwasanya Aldo sedikit terkejut, namun tak lama. Dalam sekejap Aldo sudah terbakar n*fsunya.


Tak hanya bertukar saliva, Aldo yang kini sudah merasa leluasa pun mulai menanggalkan satu persatu pakaian mereka. Senyum Salma yang memperlihatkan rasa malu, justru membuat Aldo semakin tak sabar ingin segera merasakan kenikmatan di malam pertama pernikahannya.


Tak hanya Aldo, malam ini juga milik Maliek yang sudah 'berpuasa' selama satu minggu. Peluh yang menetes tak lantas membuatnya berhenti begitu saja. Bibir Meydina yang mengeluarkan d*sahan membuatnya semakin gencar memaju mundurkan pinggulnya.


"Masih kuat, Sayang? Kita akan bermain sepanjang malam. Ini hukuman untuk kamu yang sudah tega membuatku menahannya," desis Maliek sembari memainkan lidahnya pada daun telinga Meydina.


Lagi-lagi Meydina hanya bisa mend*sah. Geliatnya terlihat menggoda di mata suaminya. Wanita itu sudah tak mampu mengimbangi tenaga Maliek yang masih kuat di menit ke empat puluh lima. Meydina hanya bisa pasrah menikmati permainan suaminya.


----


Tak ada satu pun hubungan yang tak diuji. Tuhan mendatangkan ujian itu untuk menguatkan cinta di setiap hati. Teruntuk kamu, cintaku ... pendampingku ... mari kita lalui semua ini hingga maut memisahkan kita suatu hari nanti.


My Love My Bride, My Heart is only for you.

__ADS_1


----


Selesai.


__ADS_2