
Happy reading...
"Pak Riky," sapa Risa sambil tersenyum.
"Hei, Ris. Sama siapa?"
"Mengajak bermain anak, Pak." Sahutnya sambil menurunkan gadis kecil dalam pangkuannya.
"Anak, ini anak kamu?"
"Iya, Pak."
"Hai, Cantik. Siapa namanya?" tanya Alena mencolek dagu anak itu.
"Zee, Tante," sahut Risa mewakili.
"Berapa tahun, Mbak?"
"Mau dua tahun, Bu." Sahutnya.
"Jangan panggil ibu dong, Mbak Risa. Mau ini nggak, Sayang?" tawar Alena mengasongkan beberapa kue yang tadi dibelinya pada Baby Zee.
"Maaf, tapi anak saya nggak bisa makan sembarangan."
"Oh iya, maaf." Alena tersenyum kikuk.
Riky menatap gemas pada anak perempuan yang meronta ingin bermain.
"Main sama om, yuk!" Ajaknya sambil mengulurkan tangannya pada Baby Zee.
Dengan senang hati Zee menyambut tangan Riky. Dan pria itu membawanya ke area permainan dengan beberapa anak lain yang sedang bermain.
Alena tersenyum melihat tingkah kekanakan suaminya. Dengan cepat, Riky menjadi dekat dengan putri sekretarisnya itu.
Dalam diamnya, Risa tersenyum menyeringai. Ia beranjak dan menghampiri anak dan atasannya.
Dengan cueknya Riky menuruti setiap permainan yang ditunjuk Baby Zee. Ia tidak memperdulikan keberadaan Risa yang mengekor dan ingin berada di dekatnya.
Di sisi lain, Alena sedang menerima panggilan dari Papa Evan. Cukup lama mereka berbincang, hingga tanpa sadar ia terhenyak saat Riky melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Sudah dulu ya, Pa."
"Jadi kamu akan pulang minggu depan?"
"Iya, Alena pulang minggu depan. Papa jangan kangen ya." Candanya.
__ADS_1
"Papa kangen, Alena. Di rumah papa sendirian. Alvin berangkat ke Timur Tengah siang nanti. Laura dan Queena katanya mau menginap di rumah Zein."
"Jadi papa sendirian ya, kasihan... Kenapa papa nggak punya burung seperti Paijo aja? Kan jadi punya teman ngobrol," ujar Alena asal.
"Hadeuh, Alena. Teman kok burung."
"Ya sudah, kalau nggak mau ditemani burung nanti Alena carikan teman hidup untuk papa." Kelakarnya.
Evan terkekeh di seberang sana. Pria itu kehabisan kata untuk sekedar menimpali kelakaran putrinya.
"Ya sudah sana, katanya udahan. Tapi kok masih berlanjut."
"Hehe iya. Sudah dulu ya, Pa. Daah, Papa!"
"Daah, Sayang. Salam untuk Riky ya."
"Siap. Jangan lupa makan ya, Pa."
"Siap, Nona."
Alena mengulumkan senyum mendengar ucapan papanya. Untuk beberapa hari ke depan, ia harus bisa menahan rindu pada sang papa.
"Teman hidup? Kamu mau mencari pendampinh untuk papa?"
"Nggak tahu, Alena asal bicara. Papa itu tipe orang yang susah move on. Susah juga mencari wanita sebaik Tante Anita. Mbak Risa sama anaknya ke mana?" tanya Alena sambil celingukan.
"Mungkin saja. Mungkin juga dia melakukan itu agar mendapatkan pekerjaan. Kan kalau mengaku sudah menikah apalagi punya anak, susah dapat posisi sekretaris."
"Ya nggak begitu juga, Sayang. Kalau dia ketahuan bohong sama pihak HRD, bisa dipecat."
"Terus, kak Riky mau pecat dia? Jangan dong, kasihan. Mungkin dia butuh uang lebih untuk membeli susu anaknya."
"Aku tidak mau ambil pusing, Sayang. Biarkan itu menjadi urusan bagiannya. Pekerjaanku sudah banyak, nggak ada lowongan untuk mengurusi urusan orang lain. Yang pasti kakandamu ini sudah tidak sabar menunggumu bergabung di perusahaan. Berangkat ke kantor bersama, makan siang bersama, pulang juga bersama, tidur bersama, mandi bersama, apalagi ya?" ujar Riky membayangkan.
"Oh My God. Sudah terbayang bagaimana kehidupanku nanti. Dua puluh empat jam dalam seminggu di kali sisa umurku selalu bersama dengan Kak Riky. Untung ganteng, kalau enggak? Boring banget."
"Yee, enak aja boring. Ya nggak dong, Sayang. Nanti akan ada Riky-Riky junior, Alena-Alena junior juga. Dijamin hidup kita nggak akan boring."
"Riky-Riky? Alena-Alena? Berarti..."
"Kita akan punya banyak anak. Kalau perlu gabungkan jumlah anak-anak temanku ditambah anak Rendy juga. Hayo hitung jadi berapa!" Tantangnya. Pria itu tidak memperdulikan tatapan horor yang diperlihatkan istrinya.
"Semua? Digabungkan?"
"Iya," angguk Riky.
__ADS_1
"Kak Maliek, tiga. Ditambah Kak Alvin, satu. Terus Kak Rafael, dua. Jadi enam dong," ujar Alena dengan cengiran masam.
"Tujuh dong, kan anak Rendy belum dihitung. Nanti dia bisa protes kalau tahu," delik Riky.
"Kenapa nggak sepuluh aja sekalian?" ujar Alena asal.
"Setuju. Sepuluh anak ditambah kita berdua, jadi pas satu lusin. Aah, senangnya. Aku harus semakin giat bekerja, supaya nanti bisa membangun rumah besar untuk kesepuluh anak kita."
Alena menatap horor pada Riky. Dibalik sikap acuhnya, pria ini ternyata terobsesi dengan keberadaan anak-anak yang akan mengisi hari-hari mereka nantinya.
"Semoga secepatnya terkabul, Kak. Tapi ya nggak sepuluh juga," batin Alena.
Setelah puas menikmati kebersamaan di taman, pasangan itupun memutuskan untuk pulang. Keduanya bergandengan tangan menyusuri jalanan kota yang masih cukup ramai.
***
Di tempat lain, dengan kesal Risa memarkirkan mobilnya di basement sebuah gedung apartemen. Panggilan telepon yang diterimanya merusak kebersamaannya dengan sang atasan yang bertemu di taman.
"Kenapa pria tua itu harus datang sih? Kenapa dia tidak pulang pada istrinya saja. Heh, menyebalkan!" decih hati Risa.
Baru saja ia melihat sisi lain dari seorang Riky Salim. Ternyata pria itu tidak sedingin dan sekaku saat di kantor. Tanpa diduga ternyata dia seorang yang family man.
"Mau main lagi sama Om Riky, Zee? Hmm, nanti akan ada kesempatan lain lagi, lagi dan lagi. Sepertinya dia suka pada anak kecil." Seringainya.
Seorang pria paruh baya terduduk menunggu saat Risa masuk ke dalam apartemennya. Pria itu menoleh dan langsung bangun dari duduknya untuk menyambut putri kecilnya, Zee.
"Dari mana, Sayang? Habis main di taman ya?" tanya pria itu sambil mengecup gemas kedua pipi Baby Zee.
"Kenapa? Kok sepertinya kesal?"
"Risa kan sudah bilang kalau Mas Pras nggak bisa membelikan tas pesanan Risa kemarin, lebih baik tidak usah datang." Deliknya.
"Kok begitu sih? Aku di rumah sendirian. Hesty nggak tahu ke mana, mungkin pergi ke luar negeri dengan teman sosialitanya. Ajeng juga sekarang di rumah Tantenya. Jadi ya aku ke sini saja. Bertemu dengan putri kecilku yang lucu, juga karena aku rindu sama kamu tentunya."
"Heh, enak sekali jadi istrimu. Bisa ke luar negeri kapanpun dan dengan siapapun. Sedangkan aku, masih harus bekerja untuk memenuhi keinginanku. Minta tas keluaran tahun lalu saja susahnya minta ampun. Mas Pras hitungan kalau sama Risa dan Zee." Deliknya kesal.
"Ya mau bagaimana lagi? Itu kan uangnya Hesty. Dan lagi pula aku tidak menyuruhmu bekerja. Uang yang kukirim setiap bulannya cukup kok. Duduk manis sambil mengasuh anak kita, hanya itu yang aku minta."
"Terus, tasnya gimana? Pembohong," decih Risa.
"Awal bulan depan, Sayang. Bulan ini aku harus membayar uang kuliah Ajeng. Harga tas kan lumayan, diatas dua puluh juta." Sahutnya.
"Segitu itu murah, Mas. Risa yakin harga tas istrimu satunya lebih dari segitu." Sahutnya ketus.
"Mau nggak? Kok sikap kamu masih judes begitu padaku. Uangku di sesuaikan dengan pelayananmu. Kan kamu sendiri tahu itu. Salah sendiri akhir-akhir ini kamu tidak acuh padaku. Sejak kamu bekerja di perusahaan Bramasta. Bahkan sekarang kamu berani melarangku datang. Jadi nggak salah kan kalau aku mendahulukan Ajeng, anakku."
__ADS_1
Risa buru-buru merubah raut wajahnya. Ia mendekati pria yang sedang memangku putrinya dan bergelayut manja di lengan pria itu.
"Maaf, Mas. Risa janji tidak akan mengulangi." Ujarnya dengan sorot mata yang menggoda. Dan hanya seringaian yang terukir di wajah pria itu.