
Happy reading...
Untuk pertama kalinya, Alena merasa canggung saat bersama Riky. Saat ini ia tengah menemani suaminya itu makan siang bersama Elina. Dari meja lain sesekali tatapan beberapa rekannya tertuju padanya, membuat Alena semakin salah tingkah.
"Kamu kenapa nggak makan lagi, Sayang?" tanya Riky setelah Elina berpamitan.
"Sudah kenyang, Kak." Sahutnya pelan.
"Masa sih? Kamu kenapa, kok ekspresinya seperti itu?" tanya Riky lembut.
"Kak Riky jangan panggil Alena 'sayang' kalau di kantor, kan malu." Ujarnya sambil melirik pada rekan-rekannya. Riky menoleh masih dengan raut wajah yang bingung.
"Memangnya kenapa? Sekarang kita tidak sedang di kantor. Ini juga jam istirahat. Jadi sah-sah saja kan?" Kilahnya.
"Tapi ada mereka, Kak."
"Ya nggak apa-apa. Biar saja mereka tahu kalau kamu itu istriku. Apa perduliku dengan yang mereka pikirkan," sahut Riky acuh. Pria itu menatap istrinya yang cemberut.
"Masih ada dua puluh menit lagi. Ke ruanganku yuk, Yang." Ajaknya.
"Mau ngapain?" tanya Alena malas.
"Ayo aja, atau mau aku cium kamu di sini? Bibir kamu yang manyun itu ngegemesin tahu," ujar Riky pelan dengan tatapan menggoda.
Alena tersipu dengan wajahnya yang merona. Mau tak mau dia mengikuti Riky yang hendak membayar di kasir. Sekilas ia menoleh dan tersenyum pada rekan-rekannya yang juga tersenyum canggung padanya.
Sepeninggalnya atasan mereka, Feby dan teman-temannya mulai bisa bernapas lega. Walaupun demikian, ada ketakutan akan Alena yang mengadu pada sang atasan.
"Aduh, gimana nih kalau Alena marah terus mengadu sama Pak Bos?" Feby tersenyum kecut melihat teman-temannya yang juga berekspresi hampir sama dengannya.
"Ah, Pak Riky yang the best, dadanya yang sixpack, ganteng, hitam manis... Kira-kira Alena masih teringat kata-kata kamu nggak ya, Feb?" sindir karyawan pria itu.
"Jangan gitu dong, aku beneran takut. Mana cicilanku masih banyak, kalau sampai dipecat bisa gawat," sahut Feby tersenyum ketir.
"Berdoa saja semoga istri bos itu tidak mengadu," ujar Chelsy.
Sesaat kemudian mereka pun hendak kembali ke kantor. Chelsy memanggil seorang pelayan untuk meminta tagihan meja mereka.
"Maaf, Mbak. Tagihan untuk meja ini sudah dibayar."
Mereka saling menatap dan hanya terpikir satu orang yang telah membayar makanan itu. Siapa lagi kalau bukan Riky.
Di kantor, tepatnya di ruang divisi keuangan, Alena dengan canggung memperkenalkan dirinya secara terbuka. Ia juga meminta maaf pada rekannya karena sempat menutupi statusnya.
__ADS_1
"Ja-jadi kamu istri Pak Riky?" tanya Ike, kepala divisi keuangan yang tanpa sengaja mendengarkan penuturan Alena.
"Iya, Bu. Maaf, hehe." Sahutnya malu.
Ike tertegun sesaat, lalu pamit ke ruangannya. Meninggalkan para bawahannya yang juga salah tingkah.
"Risa tidak bilang kalau Alena itu istrinya Pak Riky. Tidak mungkin kalau dia tidak tahu. Heh, apa dia sengaja melakukannya? Yang aku dengar istri Pak Riky saudari istrinya Tuan Maliek. Kalau aku bersikap lancang, bisa jadi aku akan didepak dari posisiku ini. Untung saja aku cepat mengetahuinya. Dasar Risa, ternyata dia tidak setia kawan." Gumamnya kesal.
Sementara itu...
"Alena, eh maaf. Bu, eh salah. Apa ya... ee itu, aku mau minta maaf tentang ucapanku tadi," ujar Feby tergagap.
"Ucapan yang mana?"
"Yang itu, yang..." Feby ragu melanjutkan kalimatnya. Ia menoleh pada Chelsy berharap temannya itu mau membantu.
"Yang kata kakak, Pak Riky ganteng, hitam manis, atau yang berharap Pak Riky melirik kakak? Yang mana?" telisik Alena datar membuat Feby semakin merasa kebingungan.
"Maaf, ya. Aku beneran cuma bercanda. Mana mungkin Pak Riky melirik padaku kalau istrinya secantik kamu," sahut Feby dengan wajah memelas.
Alena mengulumkan senyum melihat ekspresi rekannya itu.
"Sudahlah, Kak. Lena nggak marah kok. Asalkan itu memang sebatas hanya mengagumi, tidak lebih. Dan jangan panggil 'bu', ya. Panggil saja Alena seperti tadi, oke?"
"Iya. Sekali lagi maaf ya, Alena."
***
Hari berlalu begitu cepat bagi Riky. Rasanya belum puas ia menghabiskan waktu dengan istrinya. Dan hari ini dengan berat hati ia mengantarkan Alena ke bandara.
Sepanjang perjalanan, berkali-kali ia menoleh pada Alena yang hanya bisa mengulumkan senyum padanya.
"Sabar dua minggu lagi ya. Lena usahakan mengurus semua agar bisa secepatnya magang."
"Iya Sayang, aku tahu. Kakandamu ini akan selalu sabar menunggu." Sahutnya sambil mengecup punggung tangan Alena.
Perjalanan melalui udara memanglah tidak lama. Karena masih siang, Alena meminta Nindy menjemputnya di bandara. Sahabatnya itu tentu saja heboh menyambut kedatangannya. Tak lupa Nindy juga menanyakan oleh-oleh untuk dirinya.
"Thank you." Ucapnya senang saat mendapatkan oleh-oleh berupa panganan khas kota D.
"Sama-sama. Gimana ospek anak baru, rame?" tanya Alena sambil mengenakan helm yang diperuntukkan baginya.
"Lumayan, acaranya sukses. Gila ya, si Agam nggak ada bosennya setiap hari nanyain kamu. Padahal aku sudah bilang kalau kamu itu lagi bulan madu kedua sama sang arjuna, eh tetap saja besoknya nanyain lagi. Sampai-sampai aku menghindar kalau lihat dia," ujar Nindy kesal.
__ADS_1
Alena hanya tersenyum tipis menanggapinya. Kemudian bertanya, "Mau kemana nih kita?"
"Ke Queen Resto dong, Len. Biar gratisan sepuasnya," sahut Nindy dengan wajah memelas.
"Idih, dasar muka gratisan. Weekend gini Kak Laura nggak ada di restoran. Aku malu kalau makan gratis Kak Laura-nya nggak ada. Mmm ke restoran Om Wira aja yuk! Siapa tahu ada Tante Nura di sana, biar sekalian ketemu. Jadi aku nggak harus ke rumah mereka."
"Oke. Kemana aja, yang penting makan gratis." Kelakarnya.
"Dasar kamu ya," timpal Alena.
Sepanjang perjalanan, dua sahabat itu saling bercerita sambil diselingi tawa. Nindy juga mangatakan bahwasanya ia bertemu dengan Ajeng di kampus mereka. Tak lupa Nindy juga mengutarakan kekesalannya karena beberapa kali menyapa, Ajeng tidak terlalu mengacuhkan dirinya.
***
Hari mulai sore, saat Alena tiba di depan gerbang rumah keluarga Salim. Setelah berterima kasih pada Nindy, Alena melangkah memasuki pekarangan rumah yang cukup luas.
Di dalam rumah, ia disapa beberapa pelayan. Tidak ada Ajeng ataupun mertuanya di sana.
"Pada ke mana, Mbok?"
"Bapak sama Non Ajeng tadi ke luar, Non. Kalau ibu ada di kamarnya," sahut Si Mbok.
"Oh, terima kasih."
"Mau Mbok bawakan susu dingin ke kamar, Non?" Tawarnya.
"Tidak usah, Mbok. Nanti saja Lena ambil sendiri. Mau ke kamar mama dulu," sahut Alena yang berlalu menuju tangga.
Alena berjalan dengan tidak menimbulkan suara langkah kaki. Ia ingin memberi kejutan pada Mama Widiya yang sudah sering menanyakan kepulangannya. Ia dan Riky sengaja tidak memberitahukannya, agar bisa memberi kejutan pada sang mama.
Perlahan ia memutar gagang pintu kamar itu. Dengan sangat hati-hati ia mengendap masuk karena rupanya Mama Widiya tidak ada di bagian utama kamar tersebut.
Melihay pintu walk-in closet sedikit terbuka, Alena langsung menerka Mama Widiya ada di dalam sana. Ia kembali mengendap dengan raut wajah yang mengulumkan senyum membayangkan raut wajah mertuanya yang bahagia.
Langkahnya terhenti saat mendengar Mama Widiya sendang berbicara dengan seseorang di ujung teleponnya.
"Ajeng sedang pergi sama Mas Salim. Ada yang harus dibelinya, kebetulan Mas Salim juga ada perlu. Jadi sekalian saja, soalnya ini kan sudah sore. Bagaimana pengobatanmu, Hesty? Apa kamu sudah memikirkan saran Mbak tentang Ajeng?"
Hening, tak terdengar suara Mama Widiya. Sepertinya ia sedang mendengarkan lawan bicaranya. Alena mendekatkan daun telinga ke sela pintu yang terbuka. Ia penasaran karena mendengar nama Ajeng disebutkan.
"Ajeng harus tahu. Mbak yang akan memberitahunya. Perasaan anakmu akan tersiksa di kemudian hari, Hes. Beri dia kesempatan untuk memperlihatkan rasa sayangnya padamu. Kamu harus bahagia, walau mungkin kebahagiaan itu tidak akan lama."
Alena tertegun mendengarkan obrolan itu. Terbayang wajah ibunda Ajeng saat bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1
Dibalik polesan make-up yang cukup tebal, sorot mata Tante Hesty tidaklah berbinar. Melainkan sayu, seperti seseorang yang menyembunyikan sesuatu.
"Jadi Tante Hesty sakit, dan Ajeng tidak mengetahuinya." Batinnya.