My Love My Bride

My Love My Bride
Risa beraksi


__ADS_3

Happy reading ....


Deringan ponsel yang entah keberapa kali mengusik tidur Riky. Pria itu mengerjap dan menjawab panggilannya. Sesuai pesannya, Andri membangunkan tepat satu jam sebelum acara di mulai.


"Andri, pakaianku sudah siap?"


"Sudah, Bos. Saya sudah meminta Risa mengambilnya dan akan mengantarkannya ke kamar anda."


"Oke."


Riky menutup panggilannya dan mengusap kasar wajahnya. Ia masih sangat mengantuk dan enggan menghadiri acara itu. Namun mengingat acara tersebut agenda akhir dari pekerjaannya di kota ini, ia pun bangkit dan bergegas menuju kamar mandi.


Tak lama suara ketukan pintu terdengar dan menghentikan langkah Riky. Pria itu berbalik arah dan membuka pintu.


"Pakaian anda, Pak." Risa menerobos masuk dan menggantungkan pakaian yang akan dikenakan Riky di acara malam ini.


"Terima kasih," ucap Riky sambil berlalu ke kamar mandi.


Suara gemericik air menandakan Riky sudah mulai membersihkan diri. Risa yang telah mengenakan gaunnya yang seksi mengagumi pantulan dirinya sendiri. Ia berlenggok di depan cermin sambil sesekali memutar tubuhnya memastikan semua tampak sempurna.


Deringan ponsel Riky terdengar dari atas nakas. Risa mendekati dan menyeringai melihat nama dan wajah yang terlihat di layar ponsel.


Risa menoleh ke pintu kamar mandi. Ia mengambil ponsel itu dan memposisikan diri berbaring di salah satu sisi tempat tidur.


"Kak, sudah bangun?"


"Pak Riky di kamar mandi, Non." Sahutnya pelan.


Mendengar suara Risa yang berada di ujung ponselnya, Alena mengalihkan panggilan ke panggilan video. Maniknya membulat melihat bagian dada Risa yang terbuka.


"Sedang apa kamu di situ?"


"Maaf, tadi saya mengantarkan pakaian Pak Riky. Sa-saya tidak bermaksud apa-apa, tapi Pak Riky ...."


"Pak Riky apa!"


"Pak Riky ... anda tahu kan maksud saya? Mungkin karena Pak Riky sudah beberapa hari ini tidak bertemu anda." Risa menunduk dengan raut wajah yang sendu.

__ADS_1


Panggilan diakhiri. Risa tidak dapat melihat reaksi Alena. Tapi ia yakin istri atasannya itu pasti sangat marah. Risa tersenyum bahagia dan cepat-cepat menaruh kembali ponsel itu di atas nakas.


"Aku harus merapikannya lagi," gumam Risa sambil menaikkan kembali lengan bajunya yang tadi sengaja diturunkan. Ia juga mengacak sedikit rambutnya agar lebih meyakinkan. Risa pun bergegas keluar dari kamar Riky.


Riky keluar dari kamar mandi dan langsung bersiap. Setelah menggunakan jam tangan dan merapikan pakaian, Riky memasang mode silent pada ponselnya.


***


Suasana makan malam itu terasa formal di awal. Riky berkesempatan menyampaikan sepatah dua patah kata di bagian depan.


Risa menatap atasannya itu dengan tatapan berbinar. Meski Riky hanya mengenakan setelan kemeja polos, pria itu nampak berkharisma dengan postur tubuh dan gaya bicaranya yang meyakinkan.


Risa melihat ke sekitar. Ia pun menyadari tidak hanya dirinya yang terpesona pada sosok Riky. Beberapa wanita muda yang tentunya berpenampilan elegan juga menatap dengan tatapan yang sama.


"Sial. Usahaku menggoda Pak Riky terancam gagal," batin Risa mengumpat.


Acara selanjutnya terasa santai. Para tamu terlihat berbaur sambil membicarakan banyak hal.


"Anda tidak minum, Tuan?" tanya seseorang pada Riky, karena pria itu lebih memilih koktail dari pada wine.


"Nyonya tidak ikut?"


Risa mendekati Riky dan menggangguk pelan pada teman bicaranya.


"Ini sekretaris anda? Cantik." Ucapnya.


"Terima kasih, Tuan," sahut Risa. Pria itu hanya tersenyum tipis. Sementara Riky tidak acuh akan kehadirannya.


"Bagaimana kabar Nyonya?"


"Baik."


"Tuan Evan Atmadja beruntung memikili menantu potensial seperti anda." Pujinya.


"Tidak, anda salah. Saya yang beruntung menjadi menantu Tuan Evan. Anda tahu kan bagaimana ayah mertua saya itu?"


"Benar. Anda dan Tuan Evan sama-sama mengagumkan. Pandai memainkan tender. Belum lagi Tuan Alvin, yang saya dengar sekarang beliau menjadi penerus Tuan Salman. Saya melihat Tuan Rafael di pernikahan anda. Saya mendengar beliau juga anggota keluarga nyonya."

__ADS_1


"Ya, begitulah."


"Saya iri, anda dikelilingi orang-orang luar biasa." Kelakarnya.


"Ah, anda bisa saja."


"Saya serius. Pernikahan anda dengan nyonya benar-benar sebuah anugerah."


"Tentu. Saya sangat beruntung, istri saya mau menikah dengan saya. Saya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Tuan Evan, apalagi Alvin."


"Anda merendah." Keduanya tertawa pelan. Mereka tidak menyadari ada Risa yang merasa geram mendengar mereka memuji Alena.


Dengan perasaan kesal ia mengundurkan diri meninggalkan mereka yang tidak menganggapnya ada. Risa mendelik saat melihat dua wanita cantik dan seksi menghampiri Riky dan teman bicaranya tadi. Ia pun mengambil kesempatan dengan memotret dari angle yang pas.


***


Sementara itu di tempat lain, Alena terlihat gelisah. Berkali-kali ia menelepon Riky namun panggilannya tidak dijawab. Jangankan untuk melanjutkan menyelesaikan tugasnya, selera makannya juga menghilang. Berganti dengan rasa geram dan juga kesal.


"Lena, yuk makan, Sayang!" ajak mama Widiya yang masuk ke kamarnya.


"Ajeng sudah datang, Ma?"


"Sebentar lagi, lagi naik taksi dari bandara ke sini. Makan aja duluan, mama nggak mau kalau cucu mama nanti kelaparan." Ujarnya sambil mengusap perut Alena.


"Sebentar lagi deh ya, Ma."


"Kenapa? Lihat dulu dong menunya. Yuk! Kalau mau nunggu Ajeng, kamu bisa sambil nyomotin sedikit-sedikit. Dijamin ketahigan."


Alena pun menurut. Ia berusaha menyembunyikan kekesalannya dengan bergelayut manja di lengan mamanya.


Malam ini, Ajeng akan datang. Papa Salim sengaja memintanya untuk menemani mama Widiya saat pulang nanti. Ada satu hari sebelum mereka pulang. Ajeng berencana akan menikmati kesejukan kota itu dengan jalan-jalan.


🌿


Akankah Ajeng bertemu Risa?


Nantikan episode selanjutnya ya🤗

__ADS_1


__ADS_2