My Love My Bride

My Love My Bride
pacar Ajeng


__ADS_3

Happy reading ....


Hari berganti, setiap orang kembali pada rutinitasnya masing-masing. Begitu juga dengan Pras. Sejak Zee diperboleh pulang, Pras menjalani hari-harinya bersama Zee.


Pras meminta pengasuh Zee kembali bekerja. Namun hanya sampai sore saja. Selain itu, para tetangga juga terlihat sangat menyukai kehadiran Zee yang memang selalu ceria. Pras meminta pengasuh Zee untuk diam. Oleh sebab itu, mereka hanya tahu bahwa Zee adalah anak Pras dengan mantan istrinya.


Di tempat lain, ada Andri yang menjemput Ajeng di bandara. Pasangan itu bergandengan ke luar bandara dengan wajah yang bersemu merah.


"Kangen nggak?" tanya Andri dan diangguki cepat oleh Ajeng.


"Mojok yuk!" Ajaknya, membuat Ajeng menautkan alisnya.


"Canda, Yang." Kilahnya.


"Ajeng kira beneran," ujar Ajeng pelan.


"Emang mau kalau beneran?" Ajeng mencubit lengan Andri yang kemudian mengaduh kesakitan.


Tujuan mereka saat ini adalah kediaman Salim. Ajeng berniat menginap di rumah papanya, jadi mengunjungi Baby Mima terlebih dahulu.


"Besok ke rumahku ya."


"Nanti malu nggak, Kak?"


"Kenapa malu? Kan kamu sudah kenal sama mama."


"Ya kali aja. Mama Kak Andri belum tahu kalau kita pacaran," ujar Ajeng pelan.


"Nanti aku yang bilang. Jangan khawatir ya. Mama suka kok sama kamu." Andri menepikan mobilnya di jalan yang cukup sepi membuat Ajeng menatap heran padanya.


"Mau ngapain, Kak? Mau pipis ya? Emang nggak malu pipis di sini?" Tuduhnya asal.


"Ish, siapa yang mau pipis di sini?"


"Terus, mau ngapain dong?" Raut wajah Ajeng yang semula terlihat heran jadi merona melihat Andri menunjuk pada pipinya.


"Sun dong, Yang," pinta Andri.


"Nanti ada yang lihat, Kak."


"Nggak akan. Ayo dong."


Ajeng tersenyum tipis, kemudian memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada wajah Andri yang dicondongkan. Sedikit lagi bibir Ajeng mendarat di pipi Andri, pria itu menoleh cepat dan mengecup bibir Ajeng.


Ajeng pun terkesiap dengan wajahnya yang merona. Andri tersenyum manis melihat raut wajah Ajeng yang malu.


Andri menangkup wajah Ajeng. Mendekatkan wajah itu pada wajahnya. Hembusan nafas keduanya terasa menyapu lembut di wajah. Rasa gugup yang dirasa Ajeng terlihat dari gerakan matanya yang berkedip berkali-kali.


Menyadari tatapan Andri tertuju pada bagian wajahnya yang paling bawah, Ajeng mengatupkan bibirnya. Andri menatapnya penuh tanya, membuat Ajeng tersenyum lebar.


Tak ada kata yang terucap, seolah mereka bicara menggunakan bahasa cinta. Andri mempertemukan bibir mereka sambil merasakan detak jantungnya yang meronta.


Tak ada yang dilakukan Andri selain memejamkan mata dan menggerakkan bibirnya yang terkatup secara perlahan. Ajeng yang mulai merasa gemas dengan apa yang dilakukan kekasihnya, menarik kerah baju Andri dan meraup bibir pria itu.


Kedua mata Andri yang tertutup seketika terbelalak. Seiring detak jantungnya yang berpacu. Berkali-kali matanya berkedip merasakan tarikan lembut di bibir bawahnya.


Tak mendapat respon dari kekasihnya, Ajeng menghentikan aksinya. Baru saja ia akan melepaskan tautan bibir mereka, Andri menarik tengkuknya dan mel*mat bibir Ajeng.

__ADS_1


Keduanya pun saling berbalas. Menumpahakan kerinduan dengan saling bertukar saliva.


Namun sayang, backsound-nya bukanlah alunan musik yang menghanyutkan. Suara klakson yang saling bersahutan membuat meraka tersadar dan mau tak mau melepaskan tautan.


Andri tersenyum menggoda melihat wajah Ajeng yang merona. Keduanya tersipu sambil mengusap sisa saliva.


"Jeng, kumohon pikirkan lagi. Aku ingin menikahimu," pinta Andri.


"Ajeng nggak mau LDR, Kak."


Ajeng tersenyum masam melihat raut wajah Andri yang kecewa. Pria itu menghela nafas dan melanjutkan perjalanan mereka.


"Maaf, Kak." Sesalnya.


Andri menoleh pada Ajeng, menggenggam tangan, lalu mengecupnya.


"Aku yang seharusnya minta maaf, Sayang." Ujarnya.


Andri mengerti, tak mudah bagi Ajeng membangun hubungan jarak jauh setelah apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Bukan hal yang mudah untuk menepis rasa kecewa pada sosok pria yang menyia-nyiakan anak dan istrinya.


"Mmm tapi aku bolehkan mengumumkan hubungan kita pada semuanya?"


"Mengumumkan? Memangnya penting, kok diumumkan?" Deliknya malu.


"Penting dong. Biar semua tahu kamu itu sudah bersegel. Pacar Andri." Tegasnya.


Ajeng mengulumkan senyum sambil mendelik. Ia merasa terharu ada seseorang yang menganggapnya istimewa.


Mobil yang dikemudikan Andri memasuki halaman rumah Salim. Kedatangan mereka disambut Rikt yang sedang belajar memangku putrinya.


"Sore, Bos."


"Mima!" Ajeng langsung berhambur pada Riky dan meminta untuk memangku Mima.


"Bisa nggak? Ini masih baby. Nggak boleh sembarangan."


"Ish, Kak Riky mulai posesif. Bisa laah, Ajeng kan perempuan." Deliknya.


Riky memberikan Mima pada Ajeng sambil berkata, "Tangan kamu jangan begitu, nanti lehernya kecengklak."


"Iya-iya. Papi Mima bawel ya," gerutu Ajeng sambil berlalu ke dalam rumah.


"Masuk, Ndri," ajak Riky, yang langsung diangguki Andri.


"Tante! Oma!" seru Ajeng sambil melangkah ke ruang keluarga.


Mendengar panggilan Ajeng , Widiya dan Salma langsung menghampiri dengan raut wajah bahagia. Salma mengambil alih Mima saat Ajeng asik bercerita. Tak lama, Alena pun bergabung dengan mereka.


"Baru datang, Jeng?" tanya Salim yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya, Om."


"Dijemput siapa? Andri?" tanya Salim saat menyadari dari ruang tamu terdengar suara Andri yang sedang mengobrol dengan Riky. Ajeng pun mengangguk.


"Siapa Andri?" tanya Salma.


"Rik, Nak Andri ajak gabung sini!" seru Widiya yang tak langsung menjawab pertanyaan Salma.

__ADS_1


Riky dan Andri pun menghampiri. Andri menyapa semua, termasuk juga Salma.


"Pacar Ajeng?" todong Salma saat Andri menyalaminya.


"Iya, Bu." Angguknya malu.


"Panggil aja, Tante." Andri mengangguk pelan.


Andri tersenyum kikuk saat menyadari tatapan yang lain tertuju padanya dan juga Ajeng.


"Ciee, yang udah jadian," ujar Alena sambil menyenggol lengan Ajeng. Gadis itu hanya tertunduk malu.


"Kalian udah jadian, kapan?" tanya Widiya senang.


"Belum lama, Tan."


"Mmmm pantesan ada yang jadi suka senyum-senyum sendiri. Ternyata eh ternyata ...," goda Riky sambil menahan tawa melihat wajah Andri yang merona.


"Kenapa nggak langsung nikah aja?" tanya Salim.


"Ajeng nggak mau LDR, Om."


"Pindah aja ke sini. Ya nggak, Pi?" Riky mengangguk setuju.


"Nak Andri serius sama Ajeng? Maaf ya, bukan Om mau ikut campur. Tapi kalau nggak ada niat serius, lebih baik mundur." Suara Salim terdengar lembut, namun terkesan dingin.


"Serius, Pak. Sangat serius. Sejak awal saya sudah meminta Ajeng untuk menikah," sahut Andri pasti.


Salim mengangguk pelan, lalu menoleh pada Ajeng. "Kamu bagaimana, serius sama Nak Andri?" Tanyanya, dan dijawab anggukan oleh keponakannya itu.


"Ajeng sih dari pertama emang udah suka sama Nak Andri," imbuh Widiya.


"Oh ya?" Riky menoleh pada Ajeng, lalu menoleh pada Andri yang terlihat sangat senang.


"Kalau memang kalian serius, ya menikah. Kalau kuliah kamu yang jadi masalahnya, seperti yang Alena bilang tadi, pindah. Om bisa bantu urus, kalau memang kamu mau."


"Gimana, Jeng?" tanya Widiya.


"Pindaaah, Jeng. Nanti keburu lumutan ini si Andri, haha," kelakar Riky, membuat wajah Andri semakin merah.


"He-em, pindah aja," timpal Alena.


Ajeng menunduk sambil mengulumkan senyum. Karena tak kunjung menjawab, Salim pun berkata, "Pikirkan secara matang. Bicarakan juga dengan Pras. Kami akan mendukung keputusan kamu."


"Terima kasih, Om." Ujarnya pelan.


"Ayo, Ndri. Pepet terus jangan kasih kendor," ujar Riky.


"Siap, Bos," sahut Andri sambil mengacungkan ibu jarinya dan melirik pada Ajeng yang mendelik manja.


🌿


Hai, Readers! Masih setia menunggu cerita ini up nggak?😁😁


Semoga ya, maaf jika kurang memuaskan.


Boleh tahu dong, siapa tokoh favorit kalian?

__ADS_1


Tulis di komentar ya, sertakan juga alasannya🤗


__ADS_2