My Love My Bride

My Love My Bride
Alena vs Ajeng


__ADS_3

Happy reading...


Suasana kelas selalu ramai saat mata kuliah selesai. Para mahasiswa itu satu persatu keluar meninggalkan kelas sambil tergelak entah menertawakan apa. Menyisakan dua orang yang masih mengemasi alat tulis mereka.


"Gila kamu, Nin. Bisa-bisanya izin ke toilet sampai pelajaran Pak Prof. hampir selesai."


"Aku ngantuk, Len. Profesor kalau ngasih kuliah udah seperti ibu-ibu meninabobokan anaknya."


"Nggak sopan," delik Alena.


"Memang benar kan? Kamu juga sering menguap."


"Iya juga sih," sahut Alena yang menyunggingkan senyuman.


"Lena, sejak kapan Agam menyukai kamu?"


"Agam? Kata siapa dia suka sama aku? Ngaco kamu, Nin."


"Ih, dasar nggak peka. Kalau dia nggak suka sama kamu, terus ngapain juga dia minta nomer ponsel kamu."


Alena menautkan alisnya lalu berkata, "Mungkin ada yang mau dibicarakan. Kita kan mau ngadain ospek minggu depan. Tapi bukannya dia udah punya nomerku?"


"Nah itu dia. Kamu sendiri, kenapa jarang balas pesan dia?" selidik Nindy.


"Malas aja. Nggak penting banget yang diobrolin. Dia itu kalau nge-chat, nanyain udah makan apa belum? Hari ini ada acara nggak? Nyebelin banget kan?"


"Kok nyebelin? Yang begitu itu namanya perhatian."


"Sorry ya, nggak butuh. Aku udah punya Kak Riky, yang lain lewat."


"Iya deh, babang Riky memang the best. Kapan ya aku punya suami seperti dia?"


"Kapan-kapan, itupun kalau ada. Limited edition gitu lho," ujar Alena bangga.


"Hmm, dasar 'nyonya'." Ledeknya.


Dua sahabat itu berlalu meninggalkan kelas mereka. Tanpa mereka sadari, dibalik salah satu jendela yang terbuka, ada seseorang yang menundukkan kepala sambil mengepalkan tangannya.


Alena berpamitan pada Nindy. Ia menghampiri mobil Riky dengan wajah yang ditekuk. Pria yang sedang membukakan pintu itu hanya tersenyum tipis padanya.


"Kok kamu di depan?"


"Suka-suka Ajeng dong. Ini kan mobil Kak Riky." Deliknya.


"Sudahlah, biarkan saja."


"Kak Riky gitu deh," delik Alena.


"Cuma sebentar, Sayang. Jangan marah dong," goda Riky yang mencolek dagu Alena.


"Hii..." Kedua ujung bibir Alena terangkat memperlihatkan deretan giginya yang di katupkan. Riky menahan tawa melihat ekspresi istrinya yang memaksakan diri untuk tersenyum.


Setelah menutup pintu mobil, Riky duduk di kursi kemudi. Sambil masang sabuk pengaman, tatapannya tak beralih dari kaca spion yang memantulkan wajah istrinya yang masih kesal.


"Kak, ke mall yuk!"


"Nggak bisa, Jeng. Kakak ada urusan di kantor."


"Lho bukannya kantor Kak Riky di kota B?"

__ADS_1


Tiba-tiba Riky terkekeh, sesekali lirikan matanya mengarah pada kaca spion yang kali ini memperlihatkan gerakan bibir Alena yang sedang meledek adik sepupunya. Ajeng merasa heran dengan sikap Riky. Ia pun menoleh pada Alena yang melempar tatapan ke luar kaca mobil.


"Kak Riky kenapa?" Tanyanya heran.


"Oh, nggak apa-apa. Kamu tanya apa tadi?" ujar Riky mencoba menghentikan kekehannya.


"Kantor Kak Riky kan di kota B, terus di sini kantor siapa?"


"Di sini kantor pusatnya. Jadi kalau pulang ya harus mampir dulu."


"Ooh. Kak Riky kenal dekat nggak dengan CEO-nya?" tanya Ajeng antusias.


"Kenal. Teman dekat malahan."


"Oh ya? Kenalin dong," pinta Ajeng manja.


Riky mengerutkan keningnya.


"Mau ngapain kamu minta kenalan sama Kak Maliek?" tanya Alena penuh selidik.


"Kak Maliek? Kamu juga kenal? Eh maksudku, Kak Alena juga kenal sama temannya Kak Riky yang CEO itu?"


"Ya iya laah."


"Kalau begitu, kenalkan Ajeng juga dong Kak Riky. Masa istri Kak Riky aja dikenalkan, Ajeng enggak." Rengeknya.


Alena dan Riky sesaat saling menatap. Keduanya merasa bingung dengan pemikiran Ajeng.


"Eh, kalau aku jelas kenal dong. Aku kasih tahu ya, Kak Maliek itu... suami Kak Meydina, sahabat kakak sepupuku juga adik dari Kak Alvin, kakakku. Nah Kak Alvin sama Kak Maliek itu, sahabatnya Kak Riky. Selain itu juga, Papaku mitra bisnis perusahaan Kak Maliek. Jadi nggak mungkin dong kalau aku nggak kenal," tutur Alena.


Ajeng yang mendengarkan penuturan Alena dari raut wajahnya nampak bingung.


"Iya, Ajeng belum ngerti."


"Mendingan nggak usah ngerti," timpal Alena.


"Kok gitu? Itu CEO-nya udah punya anak belum?"


"Udah, tiga."


"Tua dong."


"Memang tua," ujar Alena yang menoleh pada Riky saat mengucapkan kata 'tua'.


"Katanya teman Kak Riky, kok tua? Kak Riky kan belum tua. Masih ganteng, gagah..."


"Terus?" Alena menatap tidak suka pada Ajeng yang menatap suaminya dengan tatapan berbinar.


Riky tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut. Tidak biasanya Alena memperlihatkan ekspresinya yang seperti itu. Sementara Ajeng, mendengus kesal dan membuang muka dari tatapan Alena.


Seketika suasana di mobil Riky jadi hening. Kedua wanita itu terdiam dalam keadaan hati yang kesal. Berbanding terbalik dengan Riky yang terlihat santai. Pria itu bahkan bersiul sambil menunggu lampu lalu lintas berganti warna.


Sesampainya di halaman rumah, Riky turun dari mobilnya. Ajeng dan Alena masih terduduk di kursi mereka. Tak bergeming, seolah tak ingin keluar dari mobil tersebut.


Riky membukakan pintu depan mobilnya, mempersilahkan Ajeng keluar. Ajeng merasa tersanjung dan melangkahkan kakinya secara perlahan.


Riky juga membukakan pintu untuk Alena. Istrinya itu keluar dengan raut wajah yang ditekuk.


"Heh, memangnya enak dinomer dua kan," decih Ajeng dalam hatinya.

__ADS_1


Ajeng berlalu meninggalkan mobil Riky. Begitu juga dengan Alena. Namun baru selangkah, Riky menarik pelan lengannya.


"Kamu ikut denganku, Sayang. Kita makan siang ya," ujar Riky lembut.


Perlahan raut wajah Alena mulai nampak cerah. Riky menatap gemas pada wanita yang berdiri di hadapannya. Pria itu mempersilahkan istrinya duduk di kursi depan. Ia terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala melihat Alena yang mengelap kursi itu dengan tisu sebelum akhirnya didudukinya.


Saat Riky berjalan memutar, Alena menatap pantulan Ajeng di kaca spion yang berada di luar pintu. Ia tersenyum tipis melihat raut wajah Ajeng yang kesal.


"Kok gitu sih, Sayang?" tanya Riky yang memasangkan sabuk pengaman Alena.


"Biarin. Habisnya dia ngeselin," sahut Alena ketus.


Riky menyempatkan mengecup bibir Alena, kemudian memasang sabuk pengaman miliknya sendiri.


"Ngeselin gimana?" tanya Riky yang mulai memutar kemudinya.


"Kemarin pas datang, bukannya menyapa, Ajeng justru mendelik. Terus kalau berpapasan sama Alena, dia judes. Memangnya kita bermusuhan? Kenal juga enggak." Gerutunya.


"Tapi diakan sepupuku, Sayang. Usianya juga muda banget."


"Memangnya kalau muda kenapa? Kak Riky suka yang muda-muda ya?" tanya Alena ketus.


"Iya. Buktinya kamu lebih muda dari aku," jawab Riky santai.


"Kak Riky! Maksudnya apa?" pekik Alena.


"Aku bercanda, Sayang. Kamu cantik kalau marah. Apalagi kalau lagi cemburu, lucu." Sahutnya.


"Siapa yang cemburu?" Deliknya.


"Istriku dong."


"Enggak. Alena nggak cemburu." Kilahnya.


"Ah, masa. Tadi apa?"


"Alena kesel aja, apa coba maksudnya Ajeng minta dikenalkan sama Kak Maliek. Bilang Kak Riky ganteng laah, gagah laah..."


"Dia sepupuku, Sayang. Kamu nggak usah kesal begitu," bujuk Riky.


"Kak Riky lupa ya. Kak Maliek sama Kak Mey juga sepupu. Tapi mereka bisa menikah. Apa bedanya Kak Riky sama Ajeng. Ibu Anita sama Tante Resty. Mama sama Tante Hesty. Sama kan?"


"Beda dong. Aku ya aku. Aku sudah memiliki kamu, Sayang. Dan selamanya hanya akan ada kamu seorang." Sahutnya sambil mengecup punggung tangan Alena yang sedang di genggamnya.


Alena tersipu, merasa malu atas sikapnya yang sudah berlebihan.


"Maaf," ucap Alena pelan.


"Kenapa minta maaf? Aku suka kok. Sikap kamu yang seperti barusan akan membuatku tidak sabar untuk pulang."


"Bohong," delik Alena manja.


"Nggak percaya? Aku belok di depan ya. Tuh ada hotel," tunjuk Riky dengan tatapan penuh arti.


"Ish, Kak Riky. Nanti aja di rumah. Sekarang ke kantor Kak Maliek aja dulu. Terus makan siang."


"Terus... kita ngamar deh!" seru Riky riang.


Alena mengulumkan senyumnya sambil menatap Riky yang sesekali menoleh dengan senyum manis terukir di wajahnya.

__ADS_1


Diakuinya, Ajeng memang benar. Pria ini tampan dengan perawakannya yang gagah. Jika Ajeng saja mengagumi suaminya, apalagi wanita di luar sana?


__ADS_2