
Happy reading...
"Len, kapan kamu pulang, Sayang?"
Pertanyaan Mama Widiya membuyarkan lamunan Alena. Entah sejak kapan ibu mertuanya itu ada di situ.
"Baru saja, Ma." Sahutnya kikuk.
Alena tersenyum dan memeluk Mama Widiya yang membuka tangan sebagai isyarat memanggilnya dalam pelukan.
"Bagaimana, betah?" Alena mengangguk cepat dan membuat wanita paruh baya itu tersenyum lebar.
"Ma, Tante Hesty sakit? Maaf, tadi Alena mendengarkan percakapan mama di telepon," ujar Alena yang menatap sendu pada Mama Widiya.
Untuk sesaat, Widiya terdiam. Namun kemudian, ia mengajak Alena duduk di tepi tempat tidur dan mulai menceritakan segalanya.
"Ini berawal dari ketidaksengajaan Hesty yang memergoki Pras selingkuh. Hesty syok mengetahui ternyata selama ini Pras main perempuan dibelakangnya. Entah kenapa ia berinisiatif memeriksakan diri ke dokter. Dan ternyata, justru penyakit mematikan yang didapatnya dari hasil pemeriksaan." Widiya tertunduk sangat dalam saat menjeda kalimatnya.
"Ajeng tahu?"
Widiya menggeleng pelan.
"Kalau tentang perselingkuhan papanya, Ajeng tahu. Tapi kalau tentang penyakit mamanya, dia tidak tahu."
"Lalu di mana Tante Hesty sekarang, Ma?"
"Awalnya itu hanya indikasi stadium awal. Hesty yang tidak ingin siapapun mengetahuinya, memilih berobat ke luar negeri dengan alasan jalan-jalan. Beberapa kali ia berobat, dokter menyatakan penyakit itu hilang. Beberapa tahun berjalan, tiba-tiba saja belakang dia merasakan gejala yang sama tapi lebih parah. Saat diperiksakan, ternyata penyakit itu ada lagi bahkan sudah stadium akhir. Itu sebabnya dia menitipkan Ajeng pada Mama. Hesty memilih untuk bersembunyi di sebuah rumah sakit sambil berusaha mengobati penyakitnya." Widiya terisak, Alena memeluknya dan membiarkannya terisak dalam pelukan.
Dalam diamnya, Alena teringat pada Ajeng. Dibalik sikapnya yang cukup menyebalkan, ternyata ada luka yang ia sembunyikan.
***
Suasana makan malam di rumah keluarga Salim kini lebih ceria dengan kehadiran Alena. Salim dan Widiya tergelak mendengar penuturan menantunya tentang bagaimana karyawan Bramasta Corp. menganggapnya adik dari Riky, suaminya sendiri. Dibalik gelak tawa itu, ada Ajeng yang merasa tersisihkan.
__ADS_1
Gadis itu tertunduk dan susah payah menelan makanannya. Sesekali Alena melirik pada Ajeng. Hatinya terenyuh namun bingung harus memulainya dari mana.
Setelah makan malam, Ajeng pamit ke kamarnya. Ia tidak berminat berkumpul apalagi ikut tertawa dengan keluarga itu.
Sementara itu Widiya terkejut mendengar Alena yang berencana magang di kota D bersama Riky.
"Kok di sana sih, Len. Kan nanti juga setelah kuliahmu selesai kamu akan ke sana. Masa magang juga di sana," ujar Mama Widiya dengan raut wajah kecewa.
"Kak Alvin sama Kak Riky mau Alena magang di sana, Ma. Maaf ya..."
"Ih, Mama. Kalau anak zaman sekarang menyebutnya itu 'lebay'. Kita bisa ketemu mereka setiap minggu. Mereka pulang ke sini atau kita yang ke sana. Gampang kan?" ujar Salim datar.
"Ah, Papa. Kemarin saja ditinggal seminggu, rumah sepi. Apalagi berbulan-bulan." Deliknya.
"Hmm, harusnya Riky punya adik lagi."
"Yee, Papa. Riky punya anak baru benar," sahut Widiya sambil memajukan bibirnya.
"Sabar, Ma. Tinggal beberapa bulan lagi," ujar Salim sambil tersenyum pada Alena. Menantunya itu hanya membalas dengan hal serupa.
Perlahan Alena melangkahkan kaki menuju kamar Ajeng. Ditempelkannya telinga di daun pintu berharap bisa mendengar sesuatu. Dan benar saja, dalam keheningan, Alena mendengar seseorang sedang menangis.
"Apa Ajeng sedang menangis?" Batinnya.
Dengan sangat pelan, Alena memutar gagang pintu. Ia berharap pintu itu tidak terkunci. Seulas senyum terukir saat harapannya terkabul, dengan sangat pelan ia mendorong pintu kamar Ajeng.
Tatapan Alena langsung tertuju pada punggung Ajeng. Menyadari ada cahaya masuk dari luar kamarnya, Ajeng terhenyak dan langsung menoleh ke arah pintu.
Alena masuk dan menutup pintu kamar itu. Dalam keremangan ia bisa melihat tatapan Ajeng yang sedang marah padanya. Alena menyalakan lampu, Ajeng turun dari tempat tidurnya dengan tatapannya yang nyalang.
"Eits, tunggu. Jangan marah dulu," pinta Alena dengan tangan yang mencoba menahan agar Ajeng tidak mendekatinya.
"Heh, belagu loe ya. Mentang-mentang disayang sama keluarga ini, seenaknya aja masuk ke kamar gue. Puas loe sekarang, hah? Kalau ada loe, om sama tante nggak akan lagi nganggep gue." Deliknya tajam.
__ADS_1
Alena tertegun mendengar ucapan Ajeng. Ia tidak menyangka Ajeng bisa bersikap seperti itu padanya.
"Maksud kamu apa sih, Jeng? Oke, aku minta maaf karena sudah masuk tanpa izin. Tapi itu karena tadi aku dengar..."
"Keluar!" Hardiknya memotong kalimat Alena.
"Jeng, aku nggak bermaksud untuk..."
"Keluar!" Ajeng membalik paksa tubuh Alena dan sedikit mendorongnya.
Alena yang mulai kesal melepaskankan tangan Ajeng yang mencoba mendorongnya ke arah pintu.
"Cukup. Oke, aku keluar. Asal kamu tahu, tadinya aku ingin memberitahukan perihal mama kamu yang sakit itu. Aku tidak tahu kenapa kamu berpikir buruk tentangku. Padahal tadinya aku berniat berteman denganmu. Bagaimanapun juga kita tinggal di rumah yang sama. Tapi ternyata kamu seperti ini, menyebalkan." Balas Alena ketus.
Kini giliran Ajeng yang tertegun. Bukan karena ocehan Alena, tapi dua kata yang baru saja didengarnya.
"Mama sakit? Apa maksudnya itu?" Gumamnya.
Ajeng menatap punggung Alena yang berjalan cepat menaiki tangga. Ia bingung apakah harus mengejar Alena untuk menanyakan maksud ucapan istri dari sepupunya itu.
Malam semakin larut. Heningnya mulai terasa dalam balutan malam yang gulita. Namun keheningan itu nyatanya berbanding terbalik dengan suasana hati Ajeng. Sampai selarut ini, ia belum bisa memejamkan mata.
Sesekali ia melirik pada ponsel yang tergeletak di atas nakas. Ingin sekali ia menelepon sang mama, namun ini terlalu malam dan tak ingin mengganggu tidur mamanya. Namun rasa penasaran yang teramat besar, memaksa Ajeng ke luar kamar dan menuju kamar Alena.
"Salah sendiri membuatku tidak bisa tidur," gumam Ajeng yang terus melangkah menuju lantai dua rumah itu.
Pelan-pelan ia mengetuk pintu kamar itu. Ajeng tak mau kalau apa yang dilakukannya saat ini, membangunkan tidur om dan tantenya.
Sementara itu, di dalam kamar...
Alena terbangun dari tidur karena ingin ke kamar mandi. Ia tertegun mendengar pintu kamarnya di ketuk seseorang. Alena menoleh pada jam di dinding, dan mencoba menerka kira-kira siapa yang mengetuk kamarnya itu.
"Hii... Siapa ya? Kalau pencuri kan nggak akan permisi. Kalau hantu juga nggak akan mengetuk dulu. Terus siapa dong?" Alena bergidik dan ragu meneruskan langkahnya ke kamar mandi. Wanita itu memilih untuk bergegas naik lagi ke atas tempat tidurnya.
__ADS_1
"Len, Alena... Ini gue Ajeng, buka dong." Samar-samar terdengar suara seseorang di luar sana. Menghentikan Alena yang hendak bersembunyi dibalik selimutnya.
"Ajeng? Masa sih? Mau apa dia malam-malam begini ke kamarku, apa dia mau minta maaf?" gumam Alena bingung. Sekali lagi ia mendengar suara itu, dan akhirnya memutuskan untuk membuka pintu.