
Happy reding...
Flashback on
"Ish, aku kenapa sih? Nggak biasanya ingat Kak Riky terus." Batin Alena bergumam.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan rekan kerjanya yang sedang serius dengan pekerjaan mereka. Bahkan ada yang menggaruk-garuk kepala, entah memang gatal atau karena pusing melihat jejeran angka.
"Ke sana jangan ya?" batinnya lagi.
Alena menyempatkan untuk membalas senyum Chelsi yang kebetulan meliriknya. Setelah itu, ia beranjak dari kursi.
"Mau ke mana, Len?" tanya Feby yang bersebelahan dengannya.
"Aku mau ke toilet sebentar," sahut Alena pelan.
"Oh, oke. Jangan lama-lama ya. Aku mau minta kamu memeriksa berkas dari Bu Ike.
"Siap, Kak. Sebentar kok," sahut Alena.
Ada rasa bersalah di hati Alena karena berdusta pada Feby. Pikirnya, tak apalah toh memang niatnya juga hanya sebentar saja ingin melihat Riky.
"Mbak Risa kemana?" gumamnya saat melewati meja kerja Risa.
Tanpa berpikir panjang, Alena melangkah menuju pintu ruangan suaminya. Senyum sumringah itu seketika memudar, manakala pintu terbuka. Alena tertegun mendapati Risa berada sangat dekat dengan suaminya.
"Kak Riky dan ... mereka sedekat itu?" batinnya.
Flashback off
"Sa-sayang." Riky terlihat sangat gugup. Cepat-cepat ia menepis tangan Risa dari pundaknya. Sial bagi Riky, sekretarisnya itu justru semakin mendekat padanya.
Alena tersenyum tipis sambil melenggang mendekati meja. Tatapannya yang tajam mengarah pada Risa.
"Mbak Risa sudah bosan kerja ya?" tanya Alena datar.
Risa terperanjak mendengarnya. Ia sudah tahu siapa sosok istri atasannya itu. Bukan perkara sulit bagi Alena untuk memecat dirinya. Walaupun bukan Alena yang memecatnya langsung, namun satu keluhan yang didengar Alvin Al-Azmi tentang dirinya, tentu akan sampai di telinga Maliek Bramasta.
"Ti-tidak. Tadi saya hanya ingin membantu Pak Riky mengurangi pegal-pegalnya saja." Sahut Risa tergagap. Kini ia mulai melangkah mundur menjauhi kursi Riky.
"Oh, begitu. Sekarang sudah ada saya, bisa kan Mbak Risa meninggalkan kami berdua?" Alena terduduk di ujung meja dengan kedua tangannya terlipat di dada.
"Bi-bisa," sahut Risa yang sudah siap memasang langkah seribu untuk meninggalkan ruangan itu.
"Sebentar."
__ADS_1
Seketika langkah Risa terhenti. Ia berbalik dan memberanikan diri menatap Alena yang masih di posisinya semula.
"Saya peringatkan ini hanya satu kali, dan tidak akan pernah saya ulangi lagi. Jangan coba-coba menggoda suami saya. Paham?" tegas Alena dengan penuh penekanan.
Alena bisa melihat, bahwasanya Risa mengangguk ragu. Wanita itu meremas jemarinya sendiri seakan sedang menahan perasaannya.
"Saya, permisi." Ujarnya, kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Alena masih menatap Risa sampai pintu benar-benar tertutup. Ia tidak menyadari sadari tadi Riky menatapnya tak percaya. Pria itu tidak menyangka bahwasanya yang sedang bicara itu seorang Alena yang manja.
"Apa lihat-lihat?" delik Alena sambil mendekati suaminya.
"Kamu nggak lagi kerasukan kan, Yang?" tanya Riky spontan.
"Kerasukan? Mmm, mau tahu ya gimana Alena kalau sedang kerasukan? Dasar, ya!" geram Alena.
Karena kesal, Alena memukul-mukul pelan punggung Riky dengan kedua tangannya yang terkepal. Ia tidak menghiraukan keluhan Riky akibat pukulannya yang bertubi-tubi.
"Aww! Aww! Sayang, udah dong. Sakit ..." dustanya.
"Sakit? Tadi aja sama Mbak Risa bilangnya pegal. Nih! Nih! Biar pegalnya hilang," geram Alena.
Riky terkekeh pelan sambil berusaha meraih pinggang Alena. Ia menahan tawa melihat ekspresi wanita yang kini berada di atas pangkuannya tersebut.
"Kamu cemburu ya?" ujarnya dengan tatapan menggoda.
"Ular? Memangnya ini hutan? Ada ular segala," sahut Riky, masih dengan tatapan menggoda Alena yang berusaha menghindarinya.
"Bukan hutan, tapi rawa. Tempat para buaya berada. Kak Riky salah satunya," ujar Alena sinis.
"Enak aja. Ganteng gini di samain dengan buaya."
"Pe-de banget," ketusnya.
"Harus dong. Eh, tapi nggak apa-apa deh di samain dengan buaya juga ..."
"Tuh, kan! Ngaku."
"Dengar dulu, buaya itu binatang paling setia loh. Dia akan memilih sendiri saat betinanya sudah mati."
"Oh, jadi Kak Riky nyumpahin Alena mati?" tanya Alena dengan kedua mata yang membulat sempurna.
"Bukan, Sayang. Bukan itu maksudku. Kamu ngegemesin deh," sahut Riky salah tingkah.
"Bohong!"
__ADS_1
"Beneran. Mana bisa aku berpaling dari kamu. Tadi aku tuh nggak enak perut, Sayang. Mungkin asam lambungku sedang naik. Nggak biasanya juga tanganku ini mudah kram," tutur Riky sambil membuka tutup telapak tangannya.
"Sekarang gimana, masih sakit perutnya?" tanya Alena lembut.
Riky tersenyum menyadari nada suara istrinya telah berubah. Pria itu menggeleng pelan, lalu mengecup bagian dada Alena.
"Nanti ke dokter ya," pinta Alena.
"Aku udah baikan, Sayang. Andri sudah membelikanku minuman tadi di apotik." Sahut Riky yang mulai mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Alena.
"Minuman, bukan obat?"
"Nggak tahu Andri malah ngasih minuman. Tapi manjur juga. Mungkin dia nanya dulu ke apotekernya."
"Ooh."
Riky mulai mengendus leher Alena. Gerakannya terhenti saat Alena tiba-tiba saja terperanjak.
"Ya, Tuhan. Lena kan sudah janji akan sebentar. Lena ke ruangan dulu ya, Kak. Bye ..."
"Yang ... Yang! Kok gitu sih? Sebentar aja," ujar Riky sambil beranjak dari kursi.
Alena berbalik, lalu melambai dan memberikan sebuah kecupan di tangannya sebelum membuka pintu.
"Bye, awas kalau macem-macem!" ancamnya.
Lagi-lagi Riky terkekeh mendengar ucapan Alena. Pria itu tersenyum lebar menyadari kecemburuan yang dirasa istrinya.
Sementara itu, Alena menaikkan satu ujung bibirnya saat melewati meja Risa. Mengetahui dirinya keluar dari ruangan Riky, sekretaris suaminya itu berdiri dan tertunduk seakan menghormati dirinya.
"Sial. Jika saja dia tidak ada hubungannya dengan keluarga Bramasta." Batin Risa menggeram saat ujung matanya melihat pintu lift itu tertutup.
***
"Kamu dari mana sih, Len? Tadi Bu Ike nyariin kamu," ujar Feby.
"Maaf, Kak. Alena sakit perut," dustanya.
"Ya sudah, kamu ke ruangan Bu Ike sana. Bawa ini juga ya," ujar Feby yang menyerahkan beberapa map berisi berkas kepada Alena.
"Siap," sahutnya riang.
Alena melangkah menuju ruangan kepala divisi keuangan. Ingin rasanya ia tertawa mengingat ekspresi Risa saat di ruangan Riky tadi. Ia tidak menyangka bisa bersikap seperti itu. Ternyata benar, cemburu bisa membuat seseorang jadi pribadi yang berbeda.
Cemburu? Akh. Jadi benar, perasaannya tadi itu sebuah kecemburuan.
__ADS_1
Tapi, bukankah cemburu itu tanda dari rasa cinta? Tentu saja. Karena bagi Alena, Riky adalah cintanya. Pria yang akan mendampinginya sampai ajal memisahkan mereka.