
Happy reading ....
Riky menepikan mobilnya di pelataran rumah sakit. Pria itu memasuki gedung dengan tergesa-gesa. Ia berniat menemui klien, saat mama menelepon memintanya datang ke rumah sakit ini.
"Ruang bersalin di sebelah mana, Mbak?"
"Di lantai empat, Pak."
"Terima kasih." Riky bergegas menuju lift. Antara bahagia dan cemas, pria itu jadi salah tingkah.
Setibanya di lantai empat, tatapan Riky langsung tertuju pada orang tuanya yang nampak cemas. Mama Widiya mondar mandir di depan ruang bersalin.
"Ma, Pa, sudah ada kabar dari dokter?"
"Belum, Rik. Kamu temani Alena di dalam. Beri dia support," pinta mama.
Riky langsung mengetuk pintu. Tak lama seorang perawat membukanya. Rintihan Alena terdengar menggema, membuat mama semakin cemas saja.
"Saya suaminya, Sus. Boleh saya masuk?" Suster itu menoleh ke dalam sesaat lalu mempersilahkan Riky untuk masuk.
"Yang ...." Alena yang sedang meringis menyempatkan untuk tersenyum tipis. Riky langsung menggenggam tangan istrinya yang sedang mendengarkan aba-aba.
Beruntung Alena punya cukup tenaga untuk proses persalinannya. Ia mencoba untuk tenang sambil terus mengejan.
"Ya ... ya tinggal sedikit lagi, Bu. Atur nafasnya dulu, coba lagi ya."
Keringat mengucur dari kening Alena. Riky terduduk di salah satu tepi ranjang dan Alena bersandar di dadanya.
"Kamu bisa, Sayang." Bisiknya.
Setelah mengatur nafasnya, Alena mencengkram kuat tangan Riky. Kemudian mengejan sekuat tenaga.
Tangisan bayi pun menggema di ruangan itu. Riky sampai tertegun mendengarnya. Ditatapnya wajah Alena yang menoleh padanya dengan mata berkaca-kaca. Riky mencium pipi Alena sambil membisikkan kata, "Terima kasih, Sayang."
"Selamat, Bapak, Ibu, putrinya cantik," ucap dokter sambil memangku bayi yang masih berlumur darah itu.
"Putri, Dokter?" Riky dan Alena saling menoleh dengan senyuman lebar. Dokter itu mengangguk, lalu meletakkan bayi merah itu di dada Alena.
"Sudah bisa menyusu, Dok?" tanya Riky.
"Belum, Pak. Biarkan saja begitu dulu. Melatih naluri untuk mencari p*ting susu ibunya."
__ADS_1
Riky dan Alena menatap haru bayi yang perlahan menggerakkan kepalanya itu. Riky sampai meneteskan air mata melihat bayi mungilnya yang menempel di dada Alena.
"Aakh," ringis Alena.
"Kenapa, Sayang?" Riky menoleh, rupanya dokter sedang menjahit bekas jalan lahir bayinya.
"Dok, kok di jahit? Nanti saya gimana?" tanya Riky polos.
"Gimana, gimana, Pak?" Dokter itu balik bertanya dengan santainya sambil terus fokus melanjutkan pekerjaannya.
"Baby lahirnya lewat jalan itu kan? Kalau dijahit gimana?" Riky menoleh pada Alena yang wajahnya sudah memerah. Merasa malu dan sakit dalam waktu yang bersamaan.
"Tenang, Pak. Saya sisakan sedikit untuk bapak," ujar Dokter yang telah selesai itu sambil mengulumkan senyum.
"Syukur lah. Kalau jadi nggak ada saya gigit jari dong, Dok." Riky tidak menyadari tingkahnya membuat mereka yang ada di sana menahan tawa. Membuat Alena ingin sekali mencubit suaminya agar berhenti bicara.
***
Setelah selesai diganti pakaiannya, Alena akan dipindahkan ke ruangan. Mama Widiya dan Papa Salim segera menghampiri Riky yang keluar dari ruang bersalin.
"Bagaimana, Rik? Tadi mama dengar tangisannya. Alrna bagaimana keadaannya?"
"Alena baik, Ma. Sekarang sedang bersiap akan dibawa ke ruangan. Cucu mama perempuan," ujar Riky dengabln wajah berseri.
Pintu ruangan itu terbuka. Kedua orang tua Riky berhambur menghampiri Alena yang terbaring di ranjangnya.
"Ma, Pa ...." Sapanya sambil tersenyum.
"Sayang, terima kasih." Mama mencium kening dan pipi Alena sambil menggenggam tangannya. Papa menghampiri mengusap pucuk kepala Alena, lalu mencium keningnya.
"Maaf, kami akan membawa Bu Alena ke ruangan."
"Silahkan, Sus. Cucu saya di mana?"
"Ada di dalam, Bu. Ibu bisa menunggu di ruangan, nanti perawat akan membawanya ke sana."
"Oke, oke. Dah, Sayang. Mama nyusul ya." Alena melambaikan tangannya sambil tersenyum. Riky membantu mendorong dan ikut masuk ke dalam lift khusus, sedangkan kedua orang tuanya menggunakan lift yang lain.
Sesampainya di ruang rawat inap, Riky langsung menelepon Papa Evan. Satu kali, panggilan tak terjawab. Mungkin Papa Evan sedang berada di tempat kerja. Panggilan kedua di jawab Evan, Riky pun langsung mengalihkan ke panggilan video.
"Papa ...." Alena melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Lena, kamu di mana itu, Nak? Seperti di rumah sakit. Kamu kenapa?" tanya Evan yang terlihat cemas.
Tak lama orang tua Riky masuk ke ruangan itu. Mendengar suara Evan, Widiya pun menghampiri Alena.
"Pak Besan, selamat ya!"
"Selamat untuk apa?"
"Selamat punya cucu. Itu datang," suara Widiya yang riang berbanding terbalik dengan Evan yang masih heran.
"Kamu sudah melahirkan, Len?" Alena mengangguk, lalu mengarahkan kameranya pada bayinya yang berada diantara Riky dan kedua orang tuanya.
"Selamat, Sayang."
"Terima kasih, Pa."
"Rik, udah diberi nama?"
"Belum, Pa."
"Beri nama dong, papa mau dengar."
"Mmm Maminya aja deh yang memberi nama."
"Mami, siapa nama Baby-nya?"
Alena tersipu mendengar Papa Evan menggodanya dengan panggilan barunya. Tidak hanya papanya yang ingin mendengar nama putrinya, tapi juga Riky dan kedua orang tuanya.
"Zemima. Panggilannya Mima." Sahutnya malu.
"Zemima. Mima putrinya Mami?"
"Aah, Papa. Biarin, Lena mau itu namanya."
"Iya, Sayang. Namanya bagus. Queen udah tahu?"
"Belum, Pa."
"Pasti heboh dia kalau tahu. Nanti papa sama semuanya ke sana ya. Alvin akan atur waktunya, yang pasti secepatnya. Kata Amiera sih ke sana pakai pesawat Daddy-nya, biar nggak usah urus-urus tiket. Dan bisa kapan saja."
"Oke, Opa. Ditunggu sama Mima di rumah Oma," sahut Widiya.
__ADS_1
"Udah dulu ya, Len. Papa lagi di proyek. Bye baby Mima!"
"Bye, Opa." Seaat Alena dan Evan saling menatap haru. Evan melambaikan tangan, lalu menutup panggilan.