
Happy reading...
Berita kehamilan Alena menyebar begitu cepat. Membawa kebahagiaan ditengah keluarga besar juga orang-orang yang mereka kenal. Tak terkecuali Ajeng.
Gadis itu menatap kosong pada jendela yang sudah nampak terang terkena pantulan sang surya. Bukan ia tidak ikut senang saat Tante Widiya memberitahukan kabar gembira tersebut. Hanya saja, saat ini hatinya sedang tertaut pada masalah kedua orang tuanya.
Tok ... tok ... tok.
"Jeng, sudah bangun belum?"
Suara Kamil terdengar jelas dari luar kamarnya. Ah, bukan. Ini bukan kamarnya.
Saat ini ia sedang berada di rumah orang tua Kamil. Kemarin orang tua temannya itu sedang tidak di rumah dan sejak masuk ke dalam kamar, Ajeng memilih untuk menyendiri.
Dengan langkah yang dipaksakan, Ajeng membuka pintu dan tersenyum pada Kamil.
"Hei, sudah bangun?" Ajeng mengangguk malas.
"Sarapan yuk. Keluargaku nungguin kamu untuk makan bersama," ujar Kamil dengan senyumnya.
"A-Ajeng malu, Kak."
"Kenapa? Kamu tetap cantik kok," ujar Kamil. Sepertinya pria itu mengerti, Ajeng merasa malu karena wajahnya terlihat jelas habis menangis.
Dengan enggan, Ajeng melangkah ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Bagaimanapun juga ia harus bersikap baik setelah perlakuan Kamil yang sangat mengerti keadaannya.
Dari arah tangga, Ajeng bisa melihat di ruang makan ada dua pria dan satu orang wanita. Dilihat dari postur tubuhnya, sepertinya itu kedua orang tua Kamil dan juga kakaknya.
"Ma ..."
Wanita paruh baya itu menoleh.
"Hei, Sayang. Ini teman kamu yang menginap semalam? Siapa namanya?"
"Ajeng, Ma. Kan Kamil tadi sudah bilang," sahut Kamil sambil menarik kursi untuk Ajeng.
"Ish, Kamu. Mama tanya Ajeng, bukan kamu."
"Nah itu sudah tahu," timpal Kamil.
Ajeng tersipu menyadari dua pria lain yang berada di sana mengulumkan senyum melihat sikap Kamil dan mamanya.
"Mau sarapan apa, Jeng? Mau roti, apa nasi? Ini, ada nasi kuning. Suka nggak?"
"Apa saja, Tante," sahut Ajeng canggung.
"Biarkan Ajeng yang menentukan, Ma. Ngambil sendiri aja, Jeng. Jangan malu-malu, yang penting jangan seperti Kamil dan mamanya," ujar Papa.
"Memangnya kita kenapa?" tanya Mama heran sambil menoleh pada Kamil.
"Malu-maluin," jawab Papa asal.
"Ish, Papa. Tega, masa kita dibilang malu-maluin ya, Sayang?"
"Hmm," angguk Kamil sambil mengunyah makanannya.
"Oh iya, Jeng. Kenalkan, itu kakaknya Kamil. Namanya Andri. Maaf ya, dia agak judes," ujar Mama yang memelankan suara diakhir kalimatnya.
"Andri bisa dengar, Ma."
"Hehe ...." Mama cengir kuda.
__ADS_1
Tak lama, kakak Kamil itu beepamitan untuk bekerja.
***
Kebahagiaan Alena dan Riky rupanya menular pada sang kakak, Alvin. Alvin dan keluarga yang sedang berada di Timur Tengah itupun menelepon Papa Evan untuk memberikan selamat karena akan menjadi kakek untuk kedua kalinya. Ia juga menelepon orang tua Riky untuk mengucapkan selamat kepada mereka.
"Hubby, ada apa? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Laura yang menatapnya dari tempat tidur.
"Aku sedang merasa bahagia. Alena sangat beruntung, dia bergelimang kasih sayang. Aku bersyukur, Riky sangat sabar menghadapinya."
"Riky memang pria yang baik."
"Hmm, hanya Riky? Lalu, bagaimana dengan aku?"
"Kamu juga. Hanya saja Riky ada nilai plus-nya," sahut Laura datar.
"Ya, ya ... aku tahu apa itu. Karena Riky bukan seorang casanova seperti diriku. Benar kan?" tanya Alvin yang kembali naik ke tempat tidurnya. Pria itu langsung mengarahkan wajahnya untuk mengecup Laura.
Laura menyambut hangat perlakuan suaminya. Saat pagutan bibir mereka terlepas, ia pun berkata, "Kalau masa lalumu tidak seperti itu, mungkin kita tidak akan pernah dipersatukan."
Alvin menatap gemas dan hendak meraup kembali bibir Laura. Tepat saat ia hendak membuka mulutnya, terdengar pekikan di luar kamar mereka.
"Daddy! Ayo kita offroad!"
"Aish. Zein ... Zein. Ini masih pagi, tapi sudah berisik," gerutu Alvin.
"Daddy!"
"Iya, sebentar!"
Alvin beranjak dan membuka pintu. Wajah menggemaskan yang diperlihatkan Zein seketika menghadirkan senyum di wajah Alvin.
"Biar Daddy tebak. Papi Zein belum bangun, ya kan?"
"Terus, itu kenapa cemberut?" tanya Laura.
"Nggak boleh sama Mami. Katanya masih pagi," sahut Zein pelan.
"Memang masih pagi. Nanti dong agak siangan," sahut Alvin yang sedang mengenakan kaos oblong polos berwarna senada dengan celana pendeknya.
"Daddy bilang dong sama Mami, pasti diizinin." Rengeknya.
"Tapi ini masih terlalu pagi, Zein. Amar sama Queen sedang apa?"
"Di kebun belakang. Sedang memetik kurma."
"Kok Zein nggak ikut?"
"Nggak mau."
"Fatum lagi apa?"
"Masih tidur di kamar mami."
"Ya udah, temanin Daddy sarapan dulu yuk."
"Kakak udah minum susu."
"Cuma susu. Yang lain belum."
"Nggak mau."
__ADS_1
"Nggak sarapan, nggak offroad ya."
"Aaah, Daddy ...."
"Makanya sarapan dulu dong. Nanti Daddy dimarahin kalau Zein sampai sakit."
Obrolan keduanya terus berlangsung sampai di meja makan. Alvin dan Zein terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka.
"Kakak, lihat deh. Amar bawa kurma yang tadi dipetik berdua sama Queen. Ya kan, Queen?"
"Iya. Seru loh. Hmm, kakak sih nggak ikut," timpal Queena.
"Males ah, nggak seru."
"Seru. Huu ...." Queena terlihat kesal melihat ekspresi Zein yang tidak tertarik dengan apa yang diucapkannya. Gadis kecil itu menghampiri Alvin dan menyuapkan satu kurma yang baru saja dipetiknya.
"Enak, Dad?"
"Mmm, enak. Daddy baru tahu kalau yang setengah matang begini ternyata lebih enak," sahut Alvin.
"Mau lagi?"
"Sebentar, Sayang. Ini masih ada. Uncle Rendy ada di belakang?"
"Iya, tadi ada. Sekarang di ruangan yang ada di sana sama kakek, sama Arka," sahut Queena.
"Auntie sama Mami Mey di mana?"
"Di taman bunga nenek," sahut Amar.
"Lagi ngapain?"
"Nggak tahu," sahut Amar.
"Auntie Amiera lagi nyemprotin bunga, kalau Mami lagi motongin bunga," sahut Queena.
"Baby!" pekik Zein saat melihat Fatima dalam pangkuan Maliek yang sedang menuruni anak tangga.
"Hei, sudah besar masih manja. Berat tahu," goda Laura yang berpapasan dengan mereka.
"Baru bangun, Mommy," sahut Maliek mewakili Fatima.
Fatima mengeratkan tautan tangannya di leher Maliek. Putri bungsu Maliek itu menyembunyikan wajahnya yang habis menangis karena tidak mendapati Maminya ada di kamar saat ia terbangun.
"Kak, panggil Mami dong. Fatum mau Mami katanya."
"Siapa, Pi? Amar apa kakak?" tanya Amar.
"Baby sama kakak ke Mami yuk," ajak Zein.
Fatima mengangguk namun minta digendong.
"Berat, Sayang. Kakak Zein nggak akan kuat," ujar Maliek.
"Kuat kok. Ayo, sini. Kakak gendong di belakang," sahut Zein yang menawarkan punggungnya.
"Awas kejengkang," ucap Alvin.
"Kita bantuin yuk, Amar!"
"Ayo."
__ADS_1
Dari ruang makan, mereka terkekeh melihat tingkah anak anak itu. Amar dan Queena memegangi bagian belakang Fatima dan menahannya agar tidak terjatuh. Meskipun begitu tetap saja Zein berkali-kali berhenti dan membetulkan posisi Baby.