
Happy reading ....
Hangatnya mentari mengiringi langkah Ajeng menyusuri sebuah gang yang ada di kota D. Hari ini terakhir kalinya ia berada di kota ini, setelah satu minggu lebih ia habiskan untuk merawat papanya.
Dari teras sebuah rumah kontrakan yang sederhana, senyum Pras menyambutnya. Senyuman paling tulus yang dirasa Ajeng dari sosok papanya.
"Papa."
"Hei, Sayang. Ayo masuk! Belum sarapan kan?"
Ajeng melihat ada dua bungkus lontong sayur diletakkan di dua manggok di atas meja. Ia tersenyum tipis sambil bertanya, "Papa belum sarapan? Ini sudah hampir jam sepuluh."
"Papa nungguin kamu. Sudah agak dingin, tapi masih enak kok." Sahutnya sambil menyentuh bungkus plastik itu dengan punggung tangannya.
Ajeng membuka satu persatu bungkusan itu. Sementara Pras berlalu ke dapur mengambilkan minum.
Pras memilih untuk hidup mandiri dan membangun usaha bersama Andri. Pria itu masih punya harga diri untuk dikasihani keluarga mantan istri. Bukan apa-apa, ia tak bisa menanggung rasa malu seumur hidupnya.
Namun Ajeng bukanlah anak yang pendendam. Ia mengembalikan uang hasil bagi investasi milik papanya. Ia berharap dengan uang itu papanya bisa lebih leluasa mengembangkan usaha yang akan digelutinya.
"Pa, hari ini Ajeng pulang." Ucapnya pelan sembari memaksa untuk menelan makanan itu karena sebenarnya ia sudah sarapan.
Pras mengangguk, ia mengerti benar perasaan putrinya saat ini.
"Jangan mengkhawatirkan papa. Belajar yang rajin, tapi jangan terlalu diporsir. Papa percaya, kamu bisa membuat papa dan almarhumah mamamu bangga. Di sini, Papa janji akan berusaha lebih baik lagi. Papa juga ingin menjadi sosok yang bisa kamu banggakan."
Ajeng menatap haru dengan mata yang berkaca-kaca. Ia bersyukur kejadian tempo hari menjadi pelajaran berharga untuk papanya. Meski harus dimulai lagi dari awal.
Tak lama, suara seorang pria terdengar mengucap salam di depan rumah. Ajeng cepat-cepat beranjak saat melihat siapa yang berdiri di teras rumah itu.
"Kak Andri."
"Hai. Lama nggak nungguin aku?"
"Enggak. Ayo masuk!"
"Selamat pagi, Om." Sapanya saat melihat Pras dibelakang Ajeng.
"Pagi, Nak Andri. Silahkan masuk! Maaf ya, keadaannya seperti ini."
"Tidak apa-apa, Om."
Tadi, Ajeng diantar supir saat ke rumah papanya. Ia meminta supir itu kembali karena Andri yang akan mengantarnya ke bandara.
Setelah bercengkrama agak lama, dengan berat hati Ajeng berpamitan pada Pras. Saat melewati gang itu lagi, Ajeng bergelayut manja di lengan papanya. Pras merasa sangat terharu. Setelah hampir dua puluh tahun, ia baru merasakan bagaimana rasanya hati seorang ayah yang tertaut pada putrinya.
"Hati-hati ya, kabari papa setelah sampai di sana." Ucapnya saat mereka sampai di tempat mobil Andri terparkir.
__ADS_1
"Iya, Pa. Papa jaga kesehatan ya. Kalau ada apa-apa bilang sama Ajeng. Janji?"
Pras mengangguk pelan sambil membalas pelukan Ajeng dengan mata berkaca-kaca.
"Tenang aja, Jeng. Aku akan sering-sering nengokin papa kamu," ucap Andri setengah bercanda.
"Terima kasih banyak, Nak Andri. Om akan berusaha yang terbaik dalam usaha yang akan kita jalankan nanti."
"Sama-sama, Om. Siapa tahu berawal dari partner bisnis om, saya bisa jadi partner hidup anak om." Kelakarnya.
"Boleh, boleh." Pras tertawa pelan, begitu juga dengan Andri yang menertawakan wajah Ajeng yang merona.
Andri tak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya. Wajah asisten Riky itu bersemu setiap kali lirikannya dengan Ajeng beradu. Berkali-kali ia berdehem untuk menetralkan perasaannya. Entah mengapa suasana menjadi kaku, karena tak satupun memulai pembicaraan.
"Kak." "Jeng."
Keduanya berucap bersamaan. Lalu mereka melengoskan wajah karena malu.
"Kakak dulu deh."
"Kamu aja. Ladies first." Ucapnya.
Ajeng mengulumkan senyum, kemudian berkata, "Terima kasih untuk semuanya, dan Ajeng, mau nitip papa." Andri mengangguk cepat.
"Kak Andri, mau bilang apa?"
"Ayo kita nikah."
Ajeng menganga tak percaya tanpa bisa berkata apa-apa. Gadis itu menutup wajahnya sesaat lalu menoleh pada Andri dan menutupnya lagi, lalu melengos ke arah jendela.
Andri tersipu melihat Ajeng yang salah tingkah. Sekali lagi ia mencium punggung tangan Ajeng dan menepikan mobilnya.
"Aku serius. Aku ingin menikah denganmu. Will you marry me?"
Ajeng hanya tersenyum, dan kembali melengoskan wajahnya ke jendela.
"Hei, jangan cuma senyum. Jawab dong," pinta Andri sambil menatap lekat pada wajah Ajeng.
"Ajeng masih kuliah, Kak."
"Terus?"
"Setelah kuliah, Ajeng mau kerja dulu. Kakak lihat kan bagaimana papa? Ajeng ingin menata masa depan Ajeng dengan papa dulu, baru setelah itu memikirkan untuk menikah."
"Yaa, aku ditolak. Hancur hatiku ...." Ucapnya lemas.
"Lagian Kak Andri, ngajaknya langsung nikah. Kenapa nggak ngajak pacaran dulu?"
__ADS_1
Andri langsung menoleh dengan kedua ujung bibirnya yang terangkat sempurna. Dengan antusias pria itu pun bertanya, "Kalau pacaran mau?"
Andri menatap dengan penuh harap. Ajeng menatap sesaat pria yang sedang menunggu jawabannya, kemudian mengangguk pasti.
"Yes. Akhirnya aku punya pacar juga."
"Kak Andri belum pernah punya pacar?" tanya Ajeng heran.
"Belum pernah. Memangnya kamu pernah?"
"Pernah dulu. Waktu SMA. Memangnya Kak Andri waktu SMA nggak punya pacar?" Andri menggeleng cepat dengan polosnya.
"Kok bisa?" gumam Ajeng bingung.
"Bisa laah. Kamu kan ditakdirkan jadi yang pertama untukku."
"Hehe gitu ya." Ajeng tersenyum masam.
"He-em. Kamu sendiri, berapa kali pacaran?" tanya Andri sambil kembali memutar kemudinya.
"Dua kali."
"Udah ngapain aja?" Selidiknya.
"Ish, kok nanya gitu? Yaa orang pacaran emangnya ngapain aja?"
"Aku nggak tahu, kan belum pernah."
"Oh iya ya." Ajeng menggaruk tengkuknya sendiri.
"Nggak yang aneh-aneh kan?"
"Aneh gimana? Pacaran anak sekolah ya gitu, jalan bareng, nonton, main ke game m*ster, makan, hangout, yaa gitu deh."
"Kalau ini?" Andri memajukan bibirnya dengan mata yang sedikit terpejam. Ajeng memukul lengannya sambil terkekeh pelan.
"Pernah nggak?" Andri terlihat penasaran. Namun kemudian seperti kecewa saat Ajeng menganggukan kepala.
"Cuma ngecup aja kok. Nggak sampai gimana gitu."
"Gimana, gimana?"
"Ya nggak sampai ... ya gitu deh ah." Wajah Ajeng memerah menyadari Andri menatapnya lekat.
"Udah ah, bentar lagi sampai tuh."
Andri tersenyum sambil sesekali melirik pada Ajeng.
__ADS_1
Andri menggandeng tangan Ajeng saat memasuki area bandara. Pria itu bahkan menarik Ajeng agar mendekat padanya. Ajeng hanya tersipu dan membalas genggaman tangan pria yang kini jadi kekasihnya.