
Happy reading ....
Pras melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Perasaannya tidak karuan saat mengingat Zee. Entah mengapa ia merasa kalau Zee tidak baik-baik saja saat ini.
Sesampainya di depan gedung apartemen, Pras menepikan motornya. Menyempatkan menyapa dan berterima kasih pada security yang membantunya menggunakan lift dengan card miliknya.
Sesampainya di lantai tempat apartemen Risa berada, satu harapan Pras, yakni sandi pintu apartemen itu belum berubah. Rasa lega terlihat jelas di wajah pria paruh baya itu, saat pintu berhasil terbuka.
Pencahayaan di ruangan itu remang-remang. Samar-samar terdengar isakan entah dari arah mana, namun Pras yakin itu isakan Zee.
"Zee. Sayang, ini papa." Panggilnya pelan sambil menyalakan satu persatu lampu ruangan.
Brang!!
Pras segera menoleh ke arah suara.
"Papa ...." Suara lemah itu membuat Pras terkejut. Capat-cepat Pras berjalan ke arah dapur.
Hati Pras seakan terhempas seketika. Gadis kecilnya berusaha bangkit dan tersenyum padanya. Beberapa panci berjatuhan dari salah satu pintu kitchen set yang terbuka. Di tangannya, Zee memegang botol susu kosong yang tutupnya entah di mana.
"Zee, kamu ngapain di situ, Nak?"
"Susu, Paah." Sahutnya lemah sambil menyodorkan botol susu itu.
Pras seketika berlinangan air mata. Perasaannya benar, Zee tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat dan terlihat sangat lemah. Dan apa ini? Ada luka melepuh di punggung tangan hingga lengannya?
Cepat-cepat Pras memeluk anak itu. Zee terisak, mungkin isakan bahagia.
"Ini kenapa, Sayang?" Tanya Pras dengan suara yang bergetar.
Zee menunjuk pada dispenser sambil mengacungkan botol susunya. Pras terkesiap, apakah luka itu karena terkena air panas pada dispenser yang memang selalu menyala?
__ADS_1
"Sakit?" tanya Pras yang menahan tangisannya. Zee mengangguk pelan.
"Kita bikin susu ya. Nanti kita ke dokter," ujar Pras sambil merasakan dadanya yang sesak.
Pras mencari-cari tutup botol susu, namun tidak ketemu. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat susu dengan gelas.
"Oh My God." Lirihnya.
Hanya tersisa sedikit susu di wadahnya. Ia tidak tahu kapan terakhir kali Risa membuatkannya untuk Zee. Pras pun menyeduh susu seadanya itu. Ia mencampur air panas dan dingin agar Zee bisa segera meminumnya. Lagi-lagi hati Pras seakan teriris melihat susu encer yang sedang dibuatnya itu.
Pras memangku Zee yang ingin segera meminum susunya. Membawanya ke kamar Zee, lalu mendudukkannya. Saat Zee meminum susunya, Pras mencari-cari gendongan dan juga pakaian Zee. Ia bertekad akan membawa anak itu ke rumah sakit, dan akan membawa tinggal bersamanya.
"Lagi, Pa." Ujarnya.
"Nanti papa beli dulu ya. Sekarang Zee ganti baju, pakai kaos kaki, pakai jaket. Ikut papa ya, Sayang?" ujar Pras sambil mengenakan pakaian Zee. Pras menundukkan kepalanya sangat dalam saat memakaikan kaos kaki Zee. Ia menyembunyikan air matanya yang luruh melihat anggukan kepala Zee yang terlihat senang mendengar ajakannya.
Pras memasangkan gendongan itu. Ia memang tak pernah menggunakan gendongan itu untuk menggendong Zee. Namun ia ingat pernah pernah menggendong Ajeng kecil dengan gendongan yang hampir serupa.
Sebelum Pras membawa Zee ke luar apartemen, Ia menuju ke kamar Risa. Kamar yang dulu merupakan kamarnya juga. Kamar itu berantakan, beberapa potong pakaian Risa ada di lantai.
Pras mencari kertas di laci, dan menuliskan sesuatu di sana. Setelahnya, ia bergegas ke luar dan menuju tempat di mana motornya berada.
Pras tak bisa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meski jalanan mulai sepi. Selain itu, ia juga harus bisa menyeimbangkan dirinya yang hanya menggunakan satu tangan, karena sebelah tangannya menahan tubuh Zee yang mulai terlelap.
"Tuhan, kehidupan apa ini? Mengapa Kau tempatkan anak tak berdosa diposisi seburuk ini?" Batinnya.
Sesampainya di rumah sakit, Pras segera menuju ruang IGD. Perawat yang menyambut mereka menatap tak ramah pada Pras setelah melihat luka melepuh di tangan Zee. Belum lagi dokter yang mencecarnya karena menganggap telah lalai pada anak sendiri.
Pras menerimanya dengan lapang dada, meski itu bukan kesalahannya. Ia hanya bisa tersenyum masam sambil membujuk Zee yang mulai merengek merasakan perih di tangannya.
"Pak, kenapa baru dibawa ke sini? Jika dibiarkan ini bisa infeksi. Dan sepertinya tidak ada penanganan sama sekali. Melihat dari lukanya, ini sudah ada dua atau tiga hari." Dokter itu sangat menyayangkan sikap orang tua yang abai akan apa yang dirasakan anaknya sendiri.
__ADS_1
Pras hanya bisa tertunduk, tak berani menatap dokter itu. Setelah Dokter dan perawat itu meninggalkan mereka, Pras mengusap kepala Zee yang mulai terlelap kembali.
"Maafkan papa, Zee. Papa benar-benar minta maaf." Lirihnya.
Zee terbangun sebentar, dan menggenggam erat tangan Pras. Dikecupnya kening Zee, lalu berucap, "Papa di sini, Sayang." Zee tersenyum dengan kedua matanya yang sudah tertutup.
Setelah Zee benar-benar terlelap, Pras menghela nafasnya sambil bersandar di kursi. Ia mengusap kasar wajahnya sendiri. Dalam hati ia bertanya, "Inikah hukuman untukku yang dulu telah lalai pada Ajeng?"
***
Dengan langkah gontai, Risa menyusuri lorong gedung apartemennya. Ia baru saja kembali dengan diantar seorang temannya yang seorang bartender.
Risa menahan hawa dingin jam lima pagi dalam balutan pakaiannya yang seksi. Dengan kesadaran yang tersisa, Risa masuk ke dalam apartemennya.
"Zee ...." Panggilnya malas. Risa terperangah, menyadari lampu ruangan itu menyala semua. Ia beranjak sambil menepuk-nepuk wajah, memaksa dirinya untuk sadar sepenuhnya.
"Zee? Zee ...."
Risa mulai panik melihat Zee tak ada di kamarnya. Ia berlari ke dapur lalu ke kamarnya sendiri.
"Di mana anak itu? Tidak mungkin ke luar." Gumamnya. Risa hendak mencari ke kamar mandi, saat ia menyadari ujung matanya melihat secarik kertas di atas nakas.
"Pras?" Keningnya berkerut. Ia pun membaca pesan yang ditinggalkan Pras untuknya.
'Risa, aku membawa Zee. Dia memang bukan putriku, tapi aku berjanji akan merawatnya lebih baik dari dirimu.'
Pras.
Risa menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan yang nanar. Ia telah kehilangan segalanya. Bahkan Zee pun sudah meninggalkannya.
Risa meringkukkan badannya. Air matanya berlinang sambil menatap kertas yang masih dipegangnya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas." Lirihnya, kemudian memejamkan matanya.