
Happy reading ....
Cicitan burung di pagi hari terdengar saling bersahutan menyambut sang mentari. Hangatnya pagi ini, selaras dengan hangatnya perasaan Pras yang mendengar gelak tawa dua putrinya.
Pras yang baru kembali dari membeli sarapan, melewati kamar mandi untuk mengambil piring di dapur. Dari dalam kamar mandi, terdengar celotehan Zee, yang sedang mandi bersama Ajeng.
Pras tersenyum tipis sambil membuka satu-persatu makanan yang dibelinya. Ia sangat bersyukur, Ajeng tumbuh menjadi sosok yang terbuka dan mudah berempati.
"Ayo sini sarapan, Sayang!" ujar Pras saat mendengar mereka sudah keluar dari kamar mandi.
"Mau pakai baju dulu, Pa," jawab Zee dengan riangnya.
"Oke, papa tunggu."
Hari ini, Ajeng berencana akan mengunjungi rumah Andri. Tidak hanya sendiri, tapi juga mengajak Zee.
"Kamu yakin mau mengajak Zee, Jeng? Papa bisa menjaga Zee kalau kamu tidak membawanya."
"Mau ikut," ujar Zee disela suapannya. Ajeng tersenyum sambil mengusap makanan di ujung bibir Zee.
"Iya, ikut. Kalau Zee ikut, Ajeng jadi nggak grogi, Pa. Sebenarnya Ajeng pernah ke sana. Dulu, waktu Ajeng ke apartemen papa, pulangnya nginep di rumah Kak Andri."
"Kamu sudah lama kenal Nak Andri?"
"Adik Kak Andri, senior Ajeng, Pa. Namanya Kamil, Kak Alena juga kenal."
"Hmm, jangan bilang kalau dia suka sama kamu."
"Sepertinya gitu deh, Pa."
"Terus kamu mau gimana? Mau adiknya apa kakaknya?"
"Kak Andri lah, Pa. Kak Kamil juga baik, tapi Ajeng lebih suka kalau dia jadi teman aja. Orangnya asik," sahut Ajeng.
"Itu kan menurut kamu, gimana kalau dia serius suka sama kamu. Apa nggak masalah kalau kamu menikah dengan kakaknya?"
"Aah, Papa. Jangan bikin Ajeng galau dong." Pras terkekeh melihat raut wajah putrinya.
Sementara itu di tempat lain, seorang wanita paruh baya tengah menatap sendu dua pria beda usia yang saling mengoper kok. Dua pria itu adalah Andri dan papanya.
Di satu sisi, wanita itu bahagia melihat keceriaan di wajah putra sulungnya. Di sisi lain, ia bingung dengan reaksi putra bungsunya nanti, jika mengetahui sang kakak berniat memperistri wanita yang diidamkannya.
Satu helaan napas dibuangnya, tepat di saat yang bersamaan, Kamil menyapa dan membuatnya terkejut.
"Kenapa, Ma? Seperti orang kaget begitu? Mama melamun?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Kamu ngagetin mama, tiba-tiba ada di belakang. Mama kira kamu belum bangun." Kilahnya.
"Hehe Kamil kan datang tak diundang, pulang tak diantar." Kelakarnya.
"Ish, jailangkung dong," delik Mama, dan hanya ditanggapi tawa ringan oleh Kamil.
"Mil, gantian ya. Papa capek," ujar Papa dengan napas yang terengah.
"Ah, Papa. Baru juga segitu," protes Andri.
"Curang kamu, Ndri. Sama papa nggak mau ngalah."
"Yee, kalau Andri ngalah, curang dong namanya Pa. Harus sportif."
"Ayo, Mil! Balaskan kekalahan papa. Kakakmu ini sedang senang, makanya dia mood-nya lagi on."
"Iya nih Kak Andri, tumben. Biasanya weekend gini rebahan, malas-malasan, senang kenapa memangnya?"
"Eh, kamu ketinggalan berita. Andri itu sudah-."
"Pa, diminum dulu. Atur napasnya, pelan-pelan kalau bicara." Mama menyela ucapan Papa.
"Eh iya. Papa ketularan senangnya Andri, hehe."
"Yups, betul. Bukan cuma pacar, malahan mau dijadikan istri."
"Oh ya? Asik dong. Kalau Kak Andri sudah menikah, Kamil juga boleh menikah kan, Pa?"
"Eh nanti dulu. Jangan asal nyomot anak orang."
"Nggak dong, Pa. Siapa calon kakak ipar Kamil, cantik nggak?" tanya Kamil pada Andri yang sedang meletakkan raketnya.
"Kamu juga kenal," ujar Papa.
"Kamil kenal? Siapa?" Kamil terlihat bingung sekaligus penasaran.
"Sarapan yuk, Nak," ajak Mama pada Kamil. Mama beranjak dari duduknya. Ia tak ingin melihat raut wajah Kamil yang mungkin akan terluka.
"Sebentar lagi, Ma. Siapa, Pa?"
"Ajeng. Teman kamu," sahut Andri.
"Ajeng?" Seketika hati Kamil terhempas.
"Iya, yang pernah menginap di rumah kita. Papa nggak nyangka, dia akan berjodoh dengan manekin rumah ini, haha." Kelakarnya.
__ADS_1
"Andri manekin, Pa?"
"Iya, kamu kan tanpa ekspresi. Belakangan ini aja kamu suka senyum-senyum sendiri. Papa nggak sabar lihat kamu ... apa itu namanya mmm bucin. Nggak kebayang kamu begitu Ndri, hehe."
Dalam diamnya, Kamil memperhatikan ekspresi wajah Papa dan kakaknya. Mereka terlihat sangat bahagia, tanpa tahu bagaimana perasaan dirinya.
Kamil tertunduk, menekan perasaan dalam hatinya saat ini. Dari ambang pintu, Mama menatap sendu punggung Kamil.
Setelah sarapan, Andri pamit ke kamarnya. Ia akan mandi dan bersiap, sebelum menjemput Ajeng dan Zee.
Kamil juga pamit ke kamarnya. Sedari tadi, ia tak bisa menelan makanannya dengan baik. Sementara papa, beranjak ke teras belakang, hendak memberi makan ikan di kolam.
Mama melangkah menuju kamar Kamil. Hatinya benar-benar bingung harus apa dan bagaimana. Diketuknya pintu kamar Kamil, kemudian membukanya.
"Mama boleh masuk?"
"Silahkan, Ma."
Mama menghampiri Kamil yang sedang mematikan rokoknya. Jendela kamar itu terbuka lebar, dan Kamil terduduk di sana.
"Kamu nggak apa-apa kan, Nak?" tanta Mama lembut.
"Memangnya Kamil kenapa, Ma?" tanya Kamil mencoba untuk tersenyum lebar. Tentu saja senyuman hambar yang disadari Mamanya.
"Kamil, maafkan Andri ya. Dia tidak tahu kalau Kamu juga menyukai Ajeng. Maafkan mama, yang tidak bisa mengatakan hal itu pada Andri." Ujarnya sambil tertunduk.
Kamil menatap Mama sesaat lalu berucap, "Mama santai aja, Kamil nggak apa-apa kok. Lagi pula Ajeng bukan siapa-siapa Kamil. Jadi tidak ada yang perlu meminta maaf. Papa benar, tidak sembarang gadis bisa membuat menekin rumah ini jatuh cinta. Jadi Mama tidak usah merasa bersalah pada Kamil."
"Kamu yakin tidak apa-apa?" Kamil mengangguk dengan senyuman semu di wajahnya.
"Mereka akan menikah?" Mama mengangguk pelan.
"Kalau begitu, kita akan menyambut Ajeng dalam keluarga ini dengan kegembiraan. Sedikit banyaknya, Kamil tahu bagaimana Ajeng. Kasihan dia, Ma."
"Iya, Mama juga tahu bagaimana latar belakang keluarganya."
"Syukurlah, kalau mama sudah tahu. Tapi percaya deh, Ajeng itu gadis yang baik."
"Iya, Mama percaya. Kalau dia tidak baik, mana mungkin dua jagoan mama menyukainya." Kamil terkekeh pelan.
Mama mengusap rambut Kamil sambil menatap wajah putranya itu. Mama tahu, saat ini Kamil sedang menyembunyikan perasaannya. Dipeluknya Kamil sambil berbisik, "Terima kasih, Sayang." Kamil mengangguk pasti.
Satu helaan napas dibuang kasar saat pintu kamarnya di tutup Mama. Benarkah ia baik-baik saja? Tentu. Meski tak mudah, ia mencoba mengalah. Bagaimanapun, Andri dan Ajeng adalah dua orang yang memiliki tempat di hatinya.
"Selamat datang dalam keluarga ini, Jeng. Semoga bahagiamu ada bersama Kak Andri. Biarkan aku menyimpan perasaan ini untuk sementara waktu. Sampai suatu hari nanti, akan kuberikan rasa ini pada wanita yang tepat untuk mendapatkannya."
__ADS_1