
Happy reading ....
Dengan berat hati, Alvin dan kedua adiknya meninggalkan kediaman Daddy Salman. Mereka akan kembali disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Masa liburan anak-anak juga telah usai.
Sebelum pulang, mereka berziarah ke makam Salman. Dengan diantar Sami, selanjutnya perjalanan pun menuju bandara.
"Ayah, selamat tinggal. Mey pasti akan sangat merindukan ayah," batin Meydina.
"Dad, terima kasih atas sagalanya. Sampai kapan pun Alvin tidak akan melupakan kebaikan Daddy. Alvin berjanji akan menjalankan wasiat daddy sebaik mungkin," batin Alvin.
"Daddy, terima kasih telah memberikan yang terbaik untuk Amie," gumam Amiera dalam hatinya.
Selain keluarga Salman, Aldo dan juga Riky ikut bersama dalam perjalanan mereka.
***
Di kediaman Salim, Ajeng sedang menerima panggilan telepon dari Kamil.
"Kamu sudah di rumah Tantemu?"
"Sudah. Maaf, Kak. Ajeng sudah merepotkan. Apa kakak kemarin ditegur atasan kakak di tempat magang?"
"Sedikit, hehe. Tapi tenang aja, masih aman kok. Bagaimana keadaanmu?"
"Baik. Ajeng sudah lebih baik. Di sini Ajeng tidak sendiri. Kak Alena juga ada."
"Oh ya? Dia sih enak, magang di kantor suaminya. Salam ya buat Alena. Jeng, aku harus siap-siap dulu. Nanti ke kampus nggak?"
"Siang Ajeng ke kampus, Kak. Ya sudah, selamat bekerja. Daah ...."
Ajeng menutup panggilan dan tersipu sambil menatap layar ponselnya. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Sedih dan bahagia bercampur jadi satu dalam hatinya.
Sementara itu di ruang makan, Widiya dengan semangatnya menyiapkan sarapan sehat untuk anggota keluarga, terutama menantunya. Sesekali ia menoleh ke teras belakang dan tersenyum tipis melihat Alena dan Salim menggoda Paijo yang sedang diberi makan.
Setelah berpulangnya Hesty, tanggung jawabnya bertambah. Ia ingin melakukan yang terbaik untuk keluarganya.
***
Di tempat lain, Pras mengarahkan mobilnya memasuki area gedung apartemen. Di bagian taman, sekilas ia melihat Zee bersama pengasuhnya.
Pras menepis pandangannya. Pikirnya, tidak mungkin Risa mengizinkan Zee keluar sepagi ini. Langkah gontai Pras tertuju pada lift di basement gedung apartemen. Beberapa hari ia tidak pulang ke tempat ini setelah kembali dari rumah almarhum Hesty.
__ADS_1
Pras menghabiskan hari di tempat hiburan dan menginap di sana. Untuk membuang rasa sesal dan kesedihan, Pras menghibur diri dengan mabuk-mabukan.
Dengan penampilannya yang acak-acakan dan tubuh yang beraroma alkohol, Pras menekan sandi pintu apartemen. Alisnya berkerut saat melihat ke dalam aparteman yang tidak ada siapa-siapa. Tidak ada Zee di sana. Jangan-jangan benar yang dilihatnya tadi memanglah putrinya.
Pras hendak memanggil Risa. Namun urung setelah mendengar suara yang tak asing baginya.
"Risa mend*sah? Pasti dia main sendiri karena kesepian tidak ada aku." Batinnya.
Pras segera menuju ke kamarnya. Ia ingin memberi kejutan pada Risa dengan kehadirannya. Pria itu memutar gagang pintu dengan sangat pelan. Saat pandangannya tertuju ke tempat tidur, wajahnya seketika memerah karena marah.
Bagaimana tidak, di tempat tidur itu Risa sedang berg*mul dengan seorang pria. Gerakannya yang er*tis melebihi saat bersama dengannya. Risa berkali-kali meng*rang dan mer*ntih menikmati permainan. Hal serupa juga dilakukan pria yang sedang memaju-mundurkan pinggulnya.
Brakk.
Suara pintu yang ditutup kasar seketika menghentikan permainan mereka. Wajah Risa memucat melihat kemarahan di wajah pria yang sedang menatap nyalang padanya.
Cepat-cepat Risa mendorong pria yang sedang menggagahinya. Pria itu seakan mengerti situasinya. Ia segera turun dan memungut satu persatu pakaian yang berserakan di lantai.
Melihat Pras menghampiri Risa, pria yang berada di sisi lain tempat tidur itu pun bergegas meninggalkan kamar. Ia cepat-cepat mengenakan pakaiannya.
Langkah pria itu sempat terhenti saat mendengar pekikan suami Risa. Tak ingin terkena imbasnya, pria itupun cepat-cepat ke luar dari apartemen itu.
"Dasar j*lang! Jadi ini yang kau lakukan di belakangku selama ini, hah!"
Anenya, kali ini Risa tidak menangis atau mengiba seperti terakhir kali Pras menyiksanya. Wanita yang dinikahi Pras secara siri itu memungut dress yang tergeletak di lantai dan dengan tenang memakainya.
"Jawab aku. Siapa dia!"
"Dia pacar Risa. Memangnya kenapa?"
Plak! Spontan Pras menampar wajah Risa.
Lagi-lagi bukan isakan yang terdengar. Risa justru balik menatap nyalang pada Pras.
"Siapa yang akan tahan dengan pria sepertimu? Hesty itu terlalu bodoh bisa bertahan begitu lama dengan pria menjijikkan sepertimu. Tidak pernah bisa memuaskan, tapi berlagak seperti pria yang 'jantan'."
Plak. Sekali lagi Pras menampar Risa. Terlihat wanita itu mulai meneteskan air mata. Mungkin karena rasa sakit di bagian pipi yang sudah tak bisa ditahannya lagi.
"Jangan pernah menghina Hesty. Selama pernikahan kami, aku tidak pernah kasar padanya," tegas Pras.
"Heh, tidak kasar tapi menduakan. Kau sama br*ngseknya karena telah menyakiti perasaan Hesty. Aku yakin, dia sangat menderita. Kalau aku jadi dia, aku lebih baik memilih mati dari pada harus sakit hati oleh pria menjijikkan seperti kamu." Decihnya.
__ADS_1
Risa bersiap mendapat tamparan lagi dari Pras. Namun ia merasa heran karena Pras justru terdiam dan terpaku di tempatnya.
"Keluar dari apartemen ini," ujar Pras yang seketika menghentikan langkah Risa yang hendak menuju ke luar.
Risa berbalik dan berjalan menuju lemari. Dari dalam lemari, ia mengeluarkan baju-baju Pras dan melemparkannya ke hadapan pria itu.
"Apa kau lupa? Heh, dasar tua bangka. Baiklah aku ingatkan lagi. Apartemen ini atas namaku. Kau tahu kan apa artinya itu? Aku lah pemilik apartemen ini. Kalaupun ada yang harus keluar, itu adalah kamu." Tegasnya.
Pras benar-benar merasa tertampar dengan ucapan Risa. Memang benar ia membeli apartemen ini atas nama Risa. Dengan amarah yang masih membakar dadanya, Pras mencengkram rahang Risa.
"Aku tidak akan miskin hanya kerena kehilangan satu apartemen." Geramnya.
"Heh, hidup dari uang Hesty saja kau bangga." Prass menguatkan cengkramannya hingga Risa meringis. Lagi-lagi Risa benar, uang yang ia miliki memanglah hasil bagi hasil dari investasi yang ditanam bersama almarhum Hesty.
"Aku akan membawa Zee." Tegasnya sambil melepaskan cengkramannya.
Pras berlalu dengan delikan tajam pada Risa yang mengusap-usap rahangnya.
"Zee bukan putrimu."
Langkah Pras seketika terhenti. Pria itu berbalik dan menatap nyalang pada Risa.
"Apa kau pikir aku ini bodoh, mau memiliki anak dari pria tua sepertimu?" ujar Risa dengan tatapan menantang.
Pras mengepalkan tangannya, namun pria itu kembali berbalik dan berlalu keluar dari apartemen Risa.
Dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dada, Pras mengendarai mobilnya keluar dari basement. Setibanya dipinggir taman, Pras menghentikan laju mobilnya. Ditatapnya Zee yang sedang berlari kecil diikuti pengasuhnya.
Seketika wajahnya Pras memerah. Bukan karena marah, melainkan karena merasa terluka mengetahui gadis cilik yang menggemaskan itu ternyata bukanlah putrinya.
"Pa-pa!"
Lamuanan Pras buyar mendengar suara Zee yang memukul-mukul pelan pintu mobilnya dari luar. Pras membuka pintunya sangat pelan dan memangku Zee.
"Maap, Pak. Non Zee tadi segera berlari saat melihat mobil bapak."
"Tidak apa-apa. Tinggalkan kami sebentar. Saya akan memanggil kamu nanti."
"Baik, Pak."
"Pa-pa."
__ADS_1
Hati Pras terasa hancur saat Zee memeluk erat lehernya. Zee pastinya sangat rindu setelah beberapa hari tidak bertemu. Berat rasanya melepaskan Zee. Haruskah ia meminta Zee pada Risa?