
Happy reading ....
Senyum itu terlihat indah di pagi hari yang cerah. Sambil bersandar di ujung lemari, Riky memperhatikan istrinya dengan tangan yang dilipat di dada.
Sedari tadi Alena hanya berdiri di depan cermin. Mengagumi pantulan dirinya dalam balutan kebaya rancangan Amiera. Obi yang diletakkan diantara dada dan perut membuat tampilannya semakin manis. Alena tak henti-hentinya melenggok sambil memegangi perutnya.
"Yang, ini udah siang. Ayo, kita kan harus jemput papa," ujar Riky yang kini menghampiri istrinya. Memeluk dari belakang, lalu mendaratkan sebuah kecupan di pundak.
"Lena cantik nggak, Kak Riky?"
"Banget. Cantik, seksi, manis, ngegemesin, manja, ngangenin, semua itu ada di kamu." Sahutnya sambil menatap pada cermin. Manik keduanya beradu di cermin itu, membuat Alena tersipu.
"Kak Riky mau anak kita laki-laki atau perempuan?"
"Aku? Mmm, aku mau anak perempuan. Yang kedua, baru laki-laki."
"Kok gitu?" Alena menatap heran.
"Biar cepat punya cucu. Katanya kalau anak pertama perempuan, cepat jadi kakek neneknya."
"Oh ya? Orang lain nggak mau cepat tua, Kak Riky justru mau. Aneh."
"Nggak apa-apa. Asal tua-tua keladi, makin tua makin happy." Alena tersenyum lebar dan mencium pipi suaminya.
"Yuk. Kasiahan papa nungguin. Udah rapi kan, Kak?"
"Udah, Sayang."
"Tinggal pakai sepatu sandalnya."
"Jangan pakai heels ya."
"Enggak kok, pakai flat shoes."
__ADS_1
Riky mengambilkan sepatu dan sling bag milik istrinya yang berwarna senada. Tampilan Alena terlihat menawan dengan make up natural dan tatanan rambut yang sederhana.
"Cantiknya anak mama," sambut Mama Widiya dengan senyum sumringah. Begitu juga dengan Ajeng yang mengacungkan dua ibu jarinya.
"Eits. Masa Riky cantik sih, Ma? Udah keren gini dibilang cantik," protes Riky, yang ditanggapi tawa oleh papanya.
"Idih, siapa juga yang muji kamu. Maksud mama, Alena."
"Mama sih, bilangnya anak mama. Kan anak mama cuma Riky," sahut Riky dengan gayanya yang melambai.
"Iiih kamu. Kok jadi begitu. Amit-amit jabang bayi," Mama Widiya mengusap-usap perut menantunya.
"Udah-udah, nanti kalian telat." Papa Salim menengahi sambil terkekeh. Pasangan itu pun berpamitan pada mama yang mengantar sampai ke depan.
Alena mengerti benar mama sangat ingin menemaninya. Namun karena undangan terbatas, mama mengalah dan justru meminta Papa Evan yang menemani Alena di hari wisudanya. Sementara mama, papa dan Ajeng akan menyusul nanti. Karena mereka ingin mengabadikan kebahagiaan Alena dengan foto bersama. Begitu juga dengan Alvin dan keluarganya.
Setibanya di rumah Papa Evan, Queena yang menemani Daddy-nya memeriksa mobil terlihat senang sambil melambaikan tangan.
"Auntie, cantik deh."
"Papa."
"Hai, Sayang. Selamat ya." Papa Evan mengecup kening putrinya. Terlihat keharuan yang luar biasa dari sorot matanya.
"Vin, nanti jangan lupa ya. Biasalah nyokap gue, ada-ada aja."
"Siap, Bro. Justru itu ide bagus. Jarang loh kita foto bareng, paling juga waktu married, iya kan?"
Riky mengacungkan ibu jarinya dan berpamitan pada mereka.
***
Meski sebenarnya tanda kelulusan proses perkuliahan adalah saat mahasiswa yudisium di fakultas masing-masing, acara wisuda tetaplah menjadi acara ditunggu-tunggu bagi setiap mahasiswa dan orang tua mahasiswa. Terlihat jelas rona bahagia di wajah mereka, apalagi para orang tua yang anaknya masuk dijajaran mahasiswa yang mendapatkan predikat cumlaude. Haru, dan pastinya bangga.
__ADS_1
Cukup lama acara itu berlangsung. Alena yang memang tidak terbiasa dengan pakaiannya mulai merasa tidak nyaman, terlebih dengan kondisinya yang membuatnya mudah merasa gerah.
Sesekali Alena celingukan mencari sosok Riky pada barisan tamu undangan, namun nihil dan membuatnya hanya bisa menghela napas pelan. Ia tidak menyadari, ada sepasang mata yang diam-diam menatapnya dari tadi. Siapa lagi kalau bukan Agam, pria yang masih mendambanya.
"Sst, turunin pandangan Lo. Dia bini orang, Bro," bisik Kamil.
"Iya. Gue juga tahu. Tapi dia kok makin cantik ya? Tadinya gue pikir, perempuan hamil itu nggak menarik. Alena justru kelihatan seksi," ujar Agam pelan.
"Ya iya lah cantik dan seksi. Namanya juga istri CEO. Nggak mungkin kucel," timpal Kamil.
"Hmm, gue nggak lihat Ajeng. Padahal gue kan udah dandan keren gini. Percuma dong." Dengusnya pelan.
"Keren apaan? Biasa aja," delik Agam.
Acara pun akhirnya selesai. Setelah mereka menyalami para dosen, dekan, dan rektor. Para wisudawan itu berkumpul dengan teman-temannya sambil berfoto ria, bahkan sambil melempar toga.
Bagi beberapa orang, moment ini mungkin akan jadi perpisahan bagi mereka. Setelahnya, mereka akan meniti karir di dunia kerja yang kemungkinan besar di kota yang berbeda.
"Cheese!" Gelak tawa Alena dan teman-temannya terdengar menggema.
Mereka berfoto-ria dengan berbagai gaya. Bahkan ada yang usil sambil mencium perut Alena.
Dari kejauhan, Riky dan Evan menatap dengan senyum yang terkulum. Setelah ini, Alena mungkin akan jarang bertemu dengan teman-temannya. Mereka sengaja membiarkan Alena menikmati kebersamaan dengan teman-temannya.
Jika setelah ini teman-temannya akan disibukkan dengan urusan pekerjaan, maka Alena akan disibukkan dengan status baru yang akan ia sandang. Yaitu menjadi seorang ibu dari anak yang beberapa bulan lagi akan dilahirkan.
Senyum Riky memudar saat melihat sosok yang tak asing itu mendekati Alena. Pria itu dengan lancangnya memberi buket bunga pada istrinya.
"Hai, Lena. Selamat ya atas kelulusanmu." Ujarnya sambil menyodorkan bunga yang dibawanya.
"Terima kasih. Selamat juga untukmu, Gam." Sahutnya ragu.
"Kamu cantik sekali hari ini." Pujinya.
__ADS_1
"Huuuu, hahahaha." Teman-teman Alena menertawakan pujiannya. Namun tatapan pria itu tak teralihkan dari sosok Alena yang seakan menghopnotis dirinya.