My Love My Bride

My Love My Bride
perkelahian di Queen Resto


__ADS_3

Happy reading...


Beberapa hari yang lalu...


Flashback on


Malam hari sepulang dari menjenguk ibunya, Ajeng dikagetkan oleh telepon dari kakak sepupunya, Riky. Gadis itu merasa aneh, karena tidak biasanya Riky menelepon dirinya apalagi di saat seperti ini.


"Apa Kak Riky sudah tahu keadaan mama? Tumben dia menelepon," gumam Ajeng yang tidak langsung menerima panggilan Riky.


"Halo, Kak. Ada apa?"


"Jeng, kamu kenal Agam nggak? Sepertinya dia anak BEM."


"Agam, siapa? Ajeng kan maba, jadi belum kenal banyak orang. Apalagi senior," sahut Ajeng bingung.


"Iya juga ya. Dasar cowok brengks*k!"


Umpatan Riky mengagetkan Ajeng. Karena penasaran, ia pun mencoba menanyakan.


"Brengs*k kenapa memangnya, Kak? Kak Riky ada masalah ya sama yang namanya Agam itu?"


"Dia itu berani-beraninya gangguin Alena. Mau kubuat jontor itu bibirnya, beraninya dia buat kakak cemburu." Dengusnya kesal.


"Apa jangan-jangan cowok yang waktu itu ya?" batin Ajeng.


"Ya sudahlah kalau kamu tidak tahu," ujar Riky hendak mengakhiri namun Ajeng cepat-cepat menghentikannya.


"Ajeng akan bantu, Kak." Ujarnya.


"Kamu yakin, caranya?"


"Ajeng kan bisa bertanya pada mahasiswa lain, siapa Agam itu. Lalu setelah Ajeng tahu, Ajeng harus apa?"


"Kakak ada rencana pulang hari Jum'at ini. Kalau bisa pertemukan kakak dengan orang gila itu."


"Di mana, Kak?"


"Nanti kakak akan hubungi lagi. Kamu cari tahu saja dulu caranya agar dia mau kamu ajak."


"Oke, Kak." Pungkasnya.


Entah Ajeng harus merutuki dirinya atau justru memuji keputusannya membantu Riky. Pasalnya ia memang tidak tahu siapa pria yang di maksud Riky. Namun Ajeng ingin membalas kebaikan Alena dengan menghilangkan kesalahpahaman diantara ia dan suaminya.


Ajeng pun teringat pada sapu tangan itu. Ia berharap memang benar itu pria yang di maksud oleh kakak sepupunya.

__ADS_1


"Agam... semoga saja dia." Gumamnya.


Ke esokan harinya, Ajeng memberanikan diri bertanya pada beberapa orang yang ditemuinya.


"Agam, wakil ketua BEM itu ya? Yang anak hukum, itu orangnya."


Ajeng merasa lega, karena orang yang dimaksud ternyata memang benar pria itu. Pria yang pernah dilihatnya di kantin, juga pria yang bertabrakan dengannya. Pria yang sama, yang menawarkan sapu tangan padanya beberapa hari yang lalu.


Flashback off


Dan di sinilah mereka sekarang. Bersiap menghadapi kemarahan Riky yang berjalan ke arah mereka dengan langkah besarnya.


Bagaimana tidak marah? Selain rasa cemburu yang sebelumnya sudah Riky rasakan, dalam diamnya tadi Ajeng menghubungi Riky dan memperdengarkan percakapan Agam dengan Laura.


"Kak Riky? Kok..."


"Kenapa, Sayang? Kamu kaget ya?" tanya Riky yang melingkarkan tangannya di pinggang Alena. Menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Aku kangen sama kamu, Sayang." Bisiknya.


Walau merasa canggung karena saat ini mereka ada di hadapan umum, Alena tetap membalas pelukan suaminya. Ia tidak menyadari, ada tatapan mata yang menajam terarah pada Agam yang terduduk di dekat posisi mereka berdiri.


Agam membuang mukanya. Melihat Alena dipeluk di hadapannya, membuat sesuatu di hatinya mulai meletup. Sambil mengepalkan tangannya, Agam berusaha untuk mengalihkan pandangannya.


"Kapan datang, Rik?" tanya Laura menghampiri mereka.


"Oh ya? Kok bisa kebetulan banget. Kamu tahu Riky akan ke sini, Len?" Laura mengernyitkan keningnya saat Alena menggeleng pelan.


"Alena kan magnetku. Di mana ada dia, aku pasti ada di sana." Sahutnya sambil menyeringai dengan tatapan tidak lepas dari Agam.


"Kak, pulang yuk," bisik Alena. Entah mengapa ia mulai merasakan sikap suaminya berbeda.


"Nanti, Sayang. Urusanku belum selesai." Sahutnya lembut.


"Kakak punya janji di tempat ini?"


"Bukan janji sih. Lebih tepatnya mau beri peringatan sama orang ini." Ujarnya dengan penekanan di akhir kalimat.


Merasa kalimat Riky diarahkan padanya, Agam menoleh dan bangkit dari duduknya. Ia merasa muak melihat sikap Riky yang seakan ingin memamerkan kemesraan di hadapannya.


Pergerakan Agam tak lepas dari tatapan tajam Riky. Agam menyeringai melihat kilatan emosi dari mata Riky.


"Kamu mau memberiku peringatan apa, hah?" tanya Agam dengan raut wajah menantang.


"Jangan bilang kalau kamu ini mau melarangku mendekati Alena. Kebetulan kalau begitu... Len, aku suka sama kamu." Ujarnya penuh percaya diri.

__ADS_1


Alena dan dua saudarinya menganga tak percaya dengan keberanian Agam. Ketertegunan mereka buyar saat mendengar suara kursi yang terjatuh.


Suara beberapa pengunjung dan karyawan yang histeris membuat ketiganya bingung harus berbuat apa. Kursi dan meja sudah tidak pada posisinya semula. Rasanya sulit memisahkan mereka, melihat keduanya begitu bersemangat untuk saling membalas.


Sayangnya postur tubuh Riky yang lebih berisis dan atletis, bukanlah lawan seimbang bagi Agam yang berperawakan agak kurus. Saat Riky akan melayangkan tinjunya ke wajah Agam, sebisa mungkin Alena berteriak untuk menghentikannya.


Gerakan Riky terhenti. Ia menoleh pada istrinya yang memberinya tatapan memohon. Kemudian kembali menoleh pada lawannya yang sudah mulai terkapar kehabisan tenaga.


Dengan emosi yang masih mengepul di atas kepalanya, Riky melepas kasar cengkeramannya.


"Gue ngomong ini cuma sekali. Kalau loe sayang nyawa loe, jauhi istri gue! Paham!" Bentaknya sambil menendang kaki Agam yang menghalangi langkahnya.


Alena terkesiap melihat ekspresi suaminya yang benar-benar dibakar amarah. Laura memberinya isyarat agar membawa Riky ke lantai atas agar ia bisa membereskan semuanya. Mengerti dengan isyarat kakak iparnya, Alena pun berusaha membujuk Riky agar mau mengikutinya.


"Ri, bawa orang ini ke ruangan belakang. Obati dia," titah Laura pada Ari. Dengan dibantu karyawan lainnya, Ari memapah Agam ke ruang istirahat karyawan.


"Mohon maaf atas ketidak nyamanan kalian. Silahkan dilanjutkan. Dan sebagai permintaan maaf dari saya, maka akan ada diskon lima puluh persen dari bill kalian hari ini. Dengan syarat, tidak ada yang menyimpan apalagi menyebarkan luaskan kejadian yang baru saja terjadi. Jika saya menemukan ada video yang beredar, maka saya pastikan harga yang akan kalian bayar berkali-kali lipat dengan harga makanan yang kalian makan saat ini. Terima kasih," tegas Laura.


Wajah kepanikan yang tadi sempat terlihat, berganti dengan raut wajah senang dari para pengunjung restoran. Mereka kembali menikmati makanan sambil sesekali menoleh pada para pegawai yang merapikan tempat yang cukup berantakan.


Sementara itu di lantai atas, tepatnya di ruangan yang biasa digunakan anak-anak beristirahat, Alena sedang berusaha menenangkan suaminya. Alena memeluk punggung Riky yang sedang berkacak pinggang sambil menatap ke luar. Nampaknya pria itu sedang mengatur emosinya.


Alena menoleh ke arah pintu saat mendengar ada yang mengetuk. Ajeng datang sambil membawa wadah sedang denga bungkusan es batu di dalamnnya. Setelah memberikan wadah itu, Ajeng pun meninggalkan mereka lagi.


"Kak, kompres dulu ya."


"Aku nggak sakit, Sayang." Sahutnya yang masih bergeming.


Alena meletakkan wadah itu di atas nakas. Ia kembali mendekati Riky dan memeluknya lagi.


"Maafkan Lena," ucap Alena pelan.


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Riky dengan raut wajah tak suka.


"Karena Alena kalian jadi berkelahi."


Riky melepaskan tautan tangan Alena, lalu memutar tubuhnya. Di tatapnya Alena yang menundukkan kepala.


"Ini bukan kesalahanmu, Sayang. Ini kesalahan dia yang sudah berani mengutarakan perasannya padamu di hadapanku." Riky menarik Alena kedalam pelukannya.


"Maaf ya, aku tidak bisa mengendalikan emosiku." Ucapnya sambil mengecup pucuk kepala Alena.


Alena tidak menjawabnya, ia hanya mengeratkan pelukannya sambil membenamkan wajahnya di dada Riky.


"Terima kasih, Kak. Terima kasih karena sudah membuat Alena merasa sangat istimewa." Ujarnya sambil mendongakkan wajah.

__ADS_1


"Kamu memang istimewa, Sayang. Kamu segalanya bagiku," sahut Riky disertai kecupan lembut di bibir istrinya.


__ADS_2