
Happy reading ....
Langit mulai gelap saat anak-anak tiba di kediaman Evan. Queena dan Fatima bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari-cari Zemima.
Laura menyusul di belakang mereka. Sementara itu, Amar dan Zein menyempatkan menyapa dan mengobrol sebentar dengan Evan. Alvin tersenyum tipis mendengar tema pembicaraan anak-anak itu tak jauh dari seputar kuda.
Setelahnya, mereka ke ruang keluarga. Di sana, Queena dan Fatima sedang mengajak bicara Zemima yang dibiarkan di atas kasur lantai agar lebih leluasa.
"Auntie, aku boleh gendong nggak?" tanya Fatima.
"Belum boleh, Sayang," sahut Alena. Queena terkekeh pelan melihat raut Fatima yang cemberut.
"Ke kamar kakak yuk!" ajak Queena.
"Ayo. Aku tidur sama kakak ya," ujar Fatima yang beranjak dan menyambut uluran tangan Queena.
"Iya dong." Sahutnya.
"Eh, katanya nginep di sini karna ada Mima. Kok malah ditinggalin? Fatum ...." tanya Alena.
"Nggak ah. Auntie-nya pelit," sahut Fatima polos.
"Pelit kenapa?" tanya Riky yang berpapasan dengan mereka di tangga.
"Masa aku nggak boleh gendong." Deliknya.
"Belum boleh, Fatum. Bukan nggak boleh," sanggah Alena.
"Sama aja. Aku mau main di kamar kakak. Kakak Amar! Kakak Zein, Ayo!" ajak Fatima.
"Amar aja sana. Aku mau sama Baby," sahut Zein sambil menghampiri Zemima.
Amar pun berlari menyusul saudarinya. Sementara Alvin, Riky dan Evan berlalu ke teras.
"Kak, nitip sebentar ya. Auntie mau ke kamar mandi," ujar Alena.
"Iya," sahut Zein.
Zein menatap wajah menggemaskan Zemima. Sorot matanya yang berbinar, membuat Zein tersenyum tipis.
"Hei, Pesek! Ulu ulu jeleknya ...," ujar Zein pelan mengajak bicara sambil menyentuh ujung hidung Zemima.
Zein terkesiap melihat ratu wajah Mima yang seperti akan menangis. Cepat-cepat ia meralat ucapannya sendiri.
"Oh enggak-enggak. Cantik ... lucu ... ciluk ... ba!" Hiburnya sambil membuka tutup kedua tangannya yang ditangkupkan di wajah.
Zein merasa lega melihat senyuman lebar di wajah Zemima. Senyum yang memperlihatkan gusi yang belum ditumbuhi gigi itu terlihat sangat lucu di mata Zein.
__ADS_1
"Dipangku kakak ya, mau?" tanya Zein. Melihat gerakan tangan dan mimik wajah yang senang, Zein mengartikan bahwa bayi itu mau dipangku.
Zein pun duduk bersila di samping Mima. Dengan perlahan kedua tangannya menelusup di bawah tubuh bayi mungil itu.
Satu tangan berada di bawah punggungnya, sedangkan satu tangan lagi di bawah kaki Mima. Saat ia sudah siap akan mengangkat, Laura yang kebetulan melihatnya, cepat-cepat menghentikan Zein.
"Zein. Jangan di angkat sembarangan! Lehernya masih belum kuat," ujar Laura yang menghampiri cepat Zein dan Mima.
"Terus, gimana? Baby-nya minta di pangku." Zein menarik kembali tangannya dari bawah
"Kakak yang mau mangku, Mima kan belum bisa bicara," delik Laura setengah menggoda.
"Itu tangannya tadi begini-begini. Artinya kan minta di pangku," sahut Zein memperagakan.
"Kalau mau mangku, begini ...." Laura mencontohkan, satu tangan menyangga bagian kepala, tangan satunya lagi di bawah p*n**t.
"Ayo coba, pelan-pelan ya."
Zein melakukan apa yang baru saja dilihatnya, namun satu tangan tidak pada tempatnya.
"Tangan yang ini di sini, Kak." Laura menggeser tangan Zein sedikit ke atas.
"Aku pegang p*n**t dong," ujar Zein polos namun terlihat malu.
"Ya memang kenapa? Hmm awas ya! Masih kecil pikirannya udah kemana-kemana. Ini Baby, Kak," ujar Laura.
"Iya, kakak juga tahu kalau ini Baby. Kalau bukan, mana mau kakak mangku. Memangnya pikiran bisa kemana, Auntie?" tanya Zein sambil mencoba mengangkat Mima perlahan dan dibantu Laura untuk memastikan posisinya benar.
"Asik dong, bisa shopping. Gimana caranya?"
"Ish, udah ah jangan dibahas. Lihat tuh, Mima-nya ketawa lihat muka kakak yang jelek," seloroh Laura.
"Enak aja. Kakak kan paling ganteng. Iya kak, Beib?" tanya Zein pada Mima. Mendengar ucapan Zein, Laura sampai menahan tawa.
Alena yang sudah kembali ke ruangan itu, menautkan alisnya melihat ekspresi wajah Laura.
"Kenapa, Kak?" tanya Alena.
"Nggak kenapa-napa. Len, kamu perhatikan dari sekarang ...." Laura berdiri sambil menunjuk pada kepala Zein yang tak acuh dan lebih suka berceloteh dengan Mima.
Alena semakin heran, dan bertanya dengan suara pelan, "Perhatikan apa? Kakak Zein kenapa?"
"Calon mantu, haha ...." Laura pun tergelak sambil berlalu kembali ke dapur.
"Mantu?" gumam Alena heran. Ia pun melihat pada Zein, kemudian bergumam kembali, "Ah, masa."
***
__ADS_1
Dua minggu kemudian ....
Persiapan pernikahan sudah hampir selesai. Dua keluarga dari pihak calon mempelai benar-benar kompak dalam segala hal.
Tak hanya mempersiapkan pernikahan Salma, Salim juga mengurus kepindahan kuliah Ajeng ke kota D.
Pagi ini, Riky yang memang masih menginap di rumah Evan tiba di rumahnya. Ia akan mengantar Salma yang ingin berziarah ke makam suaminya di luar kota.
Salma menolak diantar Aldo. Bagaimanapun, ia tidak ingin jika Aldo sampai melihat sorot matanya yang memang sangat mencintai almarhum suaminya tersebut.
Alhasil, Aldo kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Karena Salma sudah berpesan bahwasanya selama dua hari, ia tak ingin di ganggu.
**
"Pak Aldo, ini sudah malam. Anda harus istirahat, agar saat hari pernikahan nanti wajah anda terlihat segar," tutur asistennya memberanikan diri. Pasalnya, Aldo memang dikenal dingin dan bengis.
"Kamu pulang saja duluan. Saya sebentar lagi," sahut Aldo datar tanpa menoleh.
"Baik, Pak. Saya permisi." Pamitnya.
Aldo tak bersuara, bahkan sampai pintu ruangannya di tutup kembali. Jemarinya masih setia menggenggam pena. Membubuhkan beberapa coretan di setiap lembar berkas yang tersusun rapi di hadapannya.
Sekilas ujung matanya melihat ponsel yang tergeletak tak jauh dari sikunya. Kemudian terdengar satu helaan napas dibuang kasar olehnya.
Menurut Riky, tadi sore Salma sudah kembali dari ziarahnya. Namun ia baru bisa menghubungi jika hari sudah berganti. Ia tak ingin ingkar janji dan memilih menahan diri selama dua hari ini.
"Sudah jam sepuluh. Aah, sebaiknya aku pulang saja," ujar Aldo sembari menyandarkan punggungnya di kursi. Bukan tanpa alasan ia bekerja sampai larut beberapa hari ini. Aldo ingin, pekerjaannya sedikit berkurang. Sehingga nantinya jika sudah menikah, ia punya banyak waktu luang.
Aldo beranjak dari kursi dan menyimpan beberapa berkas ke dalam laci. Kemudian memasukkan dompet dan ponsel ke dalam saku celananya. Ia juga mengunci beberapa lemari dan menyimpan kuncinya di tempat tersembunyi. Setelahnya, Aldo ke luar dari ruang kerjanya.
Aldo berjalan menuju lift eksekutif yang akan membawanya ke basement gedung tersebut. Sepi, tak ada siapapun berlalu lalang. Terlebih karena ruangannya berada di lantai paling atas.
Sesampainya di basement, angin dingin berhembus dari luar. Penerangan yang tidak terlalu terang, membuat suasana tempat itu terasa agak mencekam.
Aldo menghentikan langkah menuju tempat mobilnya terparkir. Ia merasa ada beberapa gerakan yang mengusik nalurinya. Aldo memutarkan pandangan. Tak ada siapapun, hanya beberapa mobil perusahaan yang terparkir di sana.
"Kemana security yang biasanya ada di sana? Apa malam ini tidak ada yang berjaga?" Gumamnya.
Aldo mengeluarkan ponsel hendak menelepon seseorang. Ia kembali meneruskan langkahnya.
Lagi-lagi Aldo merasa, ia tak sendiri. Aldo dengan cepat menoleh saat menyadari ada bayangan seseorang di belakanganya.
"Siapa kalian?" tanya Aldo tegas. Namun kemudian tersentak merasakan ada yang sangat cepat berhasil membekap mulutnya.
Aldo sempat melawan. Ia meronta, memukul serta mendorong beberapa pria yang mengunakan penutup wajah tarsebut.
Namun kemudian, Aldo merasa kehilangan tenaga. Tubuhnya lemas, dan kesadarannya pun menghilang.
__ADS_1
Nah lho, apa yang akan terjadi pada Aldo selanjutnya?