
Happy reading ....
Langit malam yang gulita, berpadu dengan angin dingin yang menyertainya. Udara gurun di malam hari, masih terasa hangat sebelum datang dini hari.
Dalam keheningan, suara itu menggema. Suara alat bantu medis yang terpasang terdengar perlahan namun terasa menusuk jiwa.
"Ayah ...." Lirih suara Meydina terdengar bergetar, manakala melihat sosok tinggi besar itu tebaring lemah tak berdaya.
Meydina menyentuh alat pacu jantung yang ditanam di dada ayahnya. Hatinya teriris mengetahui kondisi ayahnya yang benar-benar lemah. Diciumnya kening Ayah Salman dengan lembut, sambil menahan air mata yang akan terjatuh membasahi kening tersebut.
"Maafkan, Mey. Tidak bersama ayah saat itu. Ayah pasti merasa sangat sakit. Mey minta maaf, Yah." Isaknya dengan telapak tangan yang menutup mulutnya.
Meydina terkesiap, Ayah Salman menggerakkan kepalanya meski itu sangat perlahan.
"Yaah ...."
Meydina memegang tangan ayahnya. Ia merasa bingung, tidak tahu apakah boleh membuka alat bantu pernapasan yang menutupi sebagian wajah ayahnya itu. Karena di sisi lain, seperti ada yang ingin disampaikan ayah Salman.
"Mey ...." Suara Ayah Salman terdengar sangat lemah.
Meydina pun akhirnya mendekatkan telinganya pada wajah ayahnya. Ia tidak berani jika harus membuka alat itu.
"Ayah istirahat ya. Mey, Kak Alvin, dan Amiera ada di luar menjaga ayah. Ayah tidak sendiri. Kak Maliek dan Rendy juga ada di sini. Kami semua sayang ayah. Ayah harus kuat," ujar Meydina dengan suara tertahan.
"Mey ...."
Meydina mengangguk pelan.
"Ayah ingin bertemu ibumu ...." Ujarnya dengan suara pelan dan terbata.
Rasanya ingin menangis sejadi-jadinya mendengar Ayah Salman mengatakan hal itu. Namun sebisa mungkin Meydina menahan hanya sampai ditenggorokannya saja. Dadanya terasa sesak. Namun ia juga harus kuat.
"A-ayah rindu ..." Ucapnya lagi dan Meydina mengangguk pelan.
"Setelah ayah sembuh, kita akan ke makam ibu. Ayah harus sembuh ya," ucap Meydina dengan tatapan sendu.
Ayah Salman terdiam. Air mata berderai di salah satu ujung matanya. Dengan senyum yang dipaksakan, Meydina mengusap air mata itu.
Salman mengangkat sebelah tangannya sangat pelan. Pria berwajah eksotis itu bahkan tak memiliki tenaga untuk melakukannya.
__ADS_1
Meydina segera meraih tangan itu. Ia mengerti apa yang diinginkan ayahnya.
Ditempelkannya punggung tangan itu pada pipinya. Meydina menggosokkan pipinya seolah Ayah Salman sedang mengusap lembut pipinya tersebut.
Sorot mata Ayah Salman nampak senang. Meydina pun mencium punggung tangan itu berulang-ulang.
"Mey sayang ayah. Ayah harus sembuh," ucap Meydina sambil mencium lagi kening ayahnya.
***
Laju roda mobil yang dikemudikan Salim berputar sangat cepat di jalan bebas hambatan yang sedang dilaluinya. Ayah Riky itu terlihat fokus memperhatikan laju kendaraannya.
Sesekali Salim menoleh pada istrinya. Wanita yang terduduk disampingnya itu terlihat gelisah dan juga cemas.
Ini diluar dugaan. Saat Ia dan Widiya bersiap akan berangkat ke bandara, pihak rumah sakit menelepon Widiya. Kondisi Hesty tiba-tiba saja menurun, dan kini sedang ditangai oleh dokter di ruang ICU.
"Halo, Jeng. Kamu di mana, Nak?" tanya Widiya di ujung ponselnya.
"Ajeng masih di rumah teman, Tante."
"Bisa ke rumah sakit nggak? Sepertinya mama kamu ingin kita menjenguk," ujar Widiya mencoba menutupi agar Ajeng tidak merasa khawatir.
"Ya sudah, kita ketemu di sana ya. Tante sama Om juga lagi di jalan. Hati-hati ya, Jeng."
"Iya, Tante."
Widiya menutup panggilannya. Ia kemudian kembali hendak menghubungi seseorang namun nampak ragu.
"Kenapa, Ma?"
"Riky ditelepon jangan, Pa?"
"Nanti sore atau malam saja. Sekarang pasti sedang di kantor."
"Iya, ya. Semoga Hesty tidak kenapa-napa."
"Ajeng di mana katanya?"
"Katanya sih di rumah teman. Tapi kok mama dengar suara klakson sama suara mobil gitu? Ada apa dengan Ajeng ya, Pa? Seperti ada yang disembunyikan dari kita."
__ADS_1
"Tapi dia bilang mau ke rumah sakit?" Widiya mengangguk.
"Satu-satu saja dulu. Kita tanya dia setelah urusan Hesty selesai. Kasihan kalau kita tanya di saat yang tidak tepat. Bisa-bisa dia merasa dipojokkan."
"Iya, Pa."
Keduanya pun merasa cukup lega setelah tahu keberadaan Ajeng yang akan ditemuinya di rumah sakit.
Sementara itu ....
Di dalam mobil yang dikemudikan Kamil, Ajeng terlihat panik. Raut wajahnya memerah, menahan rasa ingin menangis.
"Jeng, lepaskan saja. Kalau kamu ingin menangis, menangislah. Jangan ditahan, nanti dada kamu terasa sakit," ujar Kamil.
Ajeng tidak menanggapi ucapan Kamil. Namun isak tangis mulai terdengar.
Bagaimana tidak terkejut, Ajeng sedang bersama Kamil di teras rumah, tengah bercanda dan berencana memesan tiket kereta mendapat telepon dari Om Edo, adik ayahnya.
"Jeng, tadi mamamu telpon Om. Setelah mengobrol, Om menceritakan tentang kamu yang mencari papamu. Mamamu sepertinya terkejut. Dari suaranya juga dia terdengar lemah. Memangnya mamamu lagi di mana, Jeng? Bukannya dia lagi di luar negeri?"
"Lalu, mama bilang apa, Om?"
"Nggak bilang apa-apa. Om panggil-panggil juga dia diam saja."
Setelah mendengar hal tersebut dari om Edo, Ajeng cepat-cepat menelepon mamanya.
Sekali, tidak ada yang menjawab.
Dua kali, juga belum ada yang menjawab panggilannya.
Ajeng mulai khawatir. Dia tahu betul, dokter menyarankan ibunya harus merasa tenang dan juga senang. Saat ini ibunya pasti sedang mengkhawatirkan dirinya.
Dicobanya lagi panggilan itu. Setelah panggilan ke sembilan, barulah ada jawaban.
"Suster? Di mana mama? Kok Suster yang ngangkat?"
"Pasien berada di ruang ICU. Nona sebaiknya sekarang juga datang ke sini. Pihak rumah sakit telah menghubungi Nyonya Widiya."
Seketika Ajeng merasa lemas. Beruntung Kamil yang mengetahui, menawarkan diri untuk mengantarnya ke rumah sakit yang berada di luar kota tersebut.
__ADS_1