
Happy reading ....
Angin sepoi-sepoi berhembus di teriknya cuaca siang ini. Meski hampir tak terasa, hembusannya cukup mengusik dedaunan pada batang pohon yang berdiri di depan sebuah resto.
Di salah satu meja dalam resto itu, ada empat pria tampan yang nampak gusar. Betapa tidak, mereka mengeluhkan hal yang sama.
"Alya nungguin gue di ruang tamu dan telinga gue ini dijewer sepanjang langkah menuju kamar. Kalian tahu kan, kamar kami ada di lantai dua. Dia sama sekali tidak ada belas kasihan," keluh Rafael.
"Alena meminta gue mencuci kamar mandi pagi ini. Semalam gue muntah-muntah. Dia mengomel dan nyuruh gue tidur di sofa karena bau," timpal Riky.
"Maliek, Lo aman?" tanya Rafael. Namun melihat wajah sendu sahabatnya itu, tentu saja jawabannya tidak.
"Gue disuruh 'puasa' satu minggu sama Meydina," sahut Maliek pelan. Dan membuat ketiga sahabatnya itu melongo.
"Tega banget," gumam Rafael.
"Dan Meydina selalu menepati ucapannya. Benar kan?" tanya Riky yang diangguki lemah oleh Maliek.
"Ini semua gara-gara Lo, Vin. Nasib kami jadi mengenaskan," gerutu Rafael.
"Enak saja. Kalian pikir gue baik-baik aja? Tanya ama Riky, Gue terbangun di kamar tamu. Dan Papa pagi ini nyeramahin gue habis-habisan. Gue hanya ingin mengadakan pesta lajang untuk Aldo, apa itu salah?" kilah Alvin.
"Ini tidak adil, kenapa cuma gue yang dihukum harus 'puasa'. Gue nggak mau tahu, kalian harus setia kawan," ujar Maliek dengan penegasan.
"Maksud Lo? Kita juga harus 'puasa'?" Rafael menautkan alisnya.
"Iya," angguk Maliek.
"Oh, No. Kali ini gue nggak bisa, sorry ya. Itu sih derita Lo," tolak Rafael.
"Sama. Gue juga nggak mau. 'Puasa' aja sendiri, kenapa harus ngajak kita?" delik Riky.
"Hais, sialan kalian," umpat Maliek.
"Nah. Karena Lo biangnya, Lo harus ikut 'puasa'. Titik," ujar Maliek pada Alvin.
"Oh, tidak bisa. Laura mood-nya lagi oke. Bawaan orok. Jadi sorry ya. Lo 'puasa' aja sendiri," tolak Alvin.
Maliek mendengus kesal sambil mendelik. Sementara ketiga sahabatnya hanya berani nyengir sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai permintaan maaf.
"Gue apes banget sih." Gerutunya.
***
Seminggu kemudian ....
__ADS_1
Cerahnya pagi disambut riang cicitan burung di luar sana. Suaranya yang bersahutan bagai harmoni alam yang menenangkan.
Di dalam kamarnya, Salma menatap pantulan wajahnya sendiri sembari tersenyum tipis. Sudah lama wajahnya tak dipulas make-up seperti saat ini.
Cantik. Salma memuji dirinya sendiri di dalam hati. Meski usianya tak muda lagi gurat wajah Salma yang ayu terlihat manis.
Salma menoleh saat ada seseorang yang membuka pintu kamarnya. Di luar kamar terdengar kehebohan dari si kembar yang sudah datang, lengkap dengan keluarga Atmadja. Ah tidak, Rendy ikut bersama keluarga Salman di pihak mempelai pria.
"Sudah siap? Cantik sekali," puji Widiya dengan senyuman merekah di wajahnya.
"Terima kasih, Mbak. Kak Salim di mana?"
"Ada di luar, sama Pak Wira. Mau Mbak panggilkan?"
"Nggak usah," geleng Salma.
"Tante! Wiih, cantik banget. Lena ingin jadi manten lagi deh kalau pakai kebaya gini."
"Ya jangan dong. Tuh biar Ajeng aja yang jadi manten," tunjuk Widiya dengan gerakan bibirnya. Ajeng yang baru masuk ke dalam kamar hanya tersenyum tipis.
"Iya. Kapan nih nyusul? Gagal deh pesta akbarnya," ujar Alena pelan.
"Sabar dong, Len. Kalau calon mantennya belum siap mau gimana lagi," sahut Widiya.
"Salma, berangkat sekarang?" tanya Widiya untuk meyakinkan.
"Iya, Mbak." Salma tersipu malu.
Acara pernikahan, mulai dari akad sampai resepsi akan diadakan di ballroom hotel Al-Azmi. Kedua mempelai, terutama Salma menginginkan acara selesai sebelum malam. Salma tidak sanggup jika harus menerima tamu sampai larut malam.
Sementara itu, Aldo dan keluarga yang mendampinginya sudah lebih dulu tiba di tempat acara. Kedatangan keluarga besar mendiang Salman itu disambut hormat pihak hotel dan penyelenggara acara.
Penghulu dan pihak dari Kantor Urusan Agama (KUA) sudah ada di sana. Tanpa ragu, Aldo menghampiri dan duduk di tempat yang sudah tersedia.
Anak-anak terlihat senang. Queen dan Fatima minta di fotokan oleh Zein diantara hiasan-hiasan yang memanjakan mata.
"Cantik bunganya ya," ujar Queen pada Fatima.
"Kak, itu cake-nya tinggai banget. Ayo kita lihat!" ajak Fatima.
Keduanya bergegas ke tempat dimana kue pengantin itu berada sambil bergandengan tangan. Amar, Arkana dan Zein juga tak ingin ketinggalan.
"Wow! Cake-nya cantik," ujar Queena dengan mata berbinar.
Kue pengantin yang hanya setinggi satu meter itu dihias sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Kakak, aku mau yang begini," pinta Fatima pada Zein.
"Oke. Kita akan minta Mommy Queen membuatnya," sahut Zein asal.
"Hmm enak," ucap Arkana.
"No!" pekik mereka serempak namun sangat pelan. Anak-anak itu menatap horor pada Arkana yang sedang menjilati telunjuk yang penuh dengan krim kue.
Mereka terlalu takjub, hingga tak menyadari Arkana yang berada di sisi lain dari kue itu sudah mencolek dengan jarinya.
"Arka, nggak boleh. Amar, ambilkan tisu," pinta Queena pelan.
Zein dan kedua saudarinya itu celingukan berharap tak ada yang melihat apa yang di lakukan Arkana. Tak jauh dari mereka ada dua pelayan berdiri sambil membuang muka.
"Untung mereka nggak lihat," ujar Fatima pelan.
"Ssttt, jangan berisik," ujar Queena.
"Mau lagi, Kak. Enak," ujar Arkana polos.
Amar memberikan tisu pada Queena. Sambil mengelap ujung jari dan bibir Arkana, Queena pun berkata : "Nanti ya, acara Uncle belum di mulai. Oke? Arka jangan nakal. Besok kita berenang di rumah kakek, mau nggak?" bujuk Queena dan diangguki oleh Zein dan kedua adiknya.
"Oke," angguk Arkana.
"Jangan di sini yuk, ke sana aja. Kalau ketahuan bisa gawat," ajak Amar.
"Iya, ayo!" Mereka berlalu dengan santainya seakan tidak terjadi apa-apa. Melewati kedua pelayan yang masih nampak celingukan.
"Bagaimana ini?" tanya salah satu pelayan itu dengan raut wajah yang cemas.
"Kita juga harus menjauh. Jangan sampai kena marah. Ayo!" Keduanya bergegas meninggalkan tempat mereka berdiri.
Rupanya kedua pelayan itu bukan tidak mengetahui apa yang terjadi. Namun mereka memilih diam, karena tak mungkin menegur apalagi memarahi cucu pemilik hotel tempat mereka bekerja.
Pada acara akad ini, tamu yang hadir tidak terlalu banyak. Hanya tamu inti yang terdiri dari dua keluarga mempelai dan orang terdekat Aldo. Sedangkan para tamu undangan baru akan datang saat waktu makan siang.
Beberapa tamu inti sudah mulai berdatangan. Fatima dan Arka terlihat senang menyambut Riky yang pertama terlihat. Setelahnya ada Rafael yang memegangi tangan si kembar, Nara dan Raya. Suasana pun menghangat seiring berkumpulnya dua keluarga calon mempelai.
Suara riuh itu berhenti. Aldo yang sedari tadi menundukkan kepala, mengernyitkan keningnya. Karena penasaran, Aldo pun menoleh ke belakang.
Aldo tertegun menatap Salma yang menggandeng tangan Salim sedang berjalan ke arahnya. Pria itu terpesona melihat Salma dalam balutan kebaya.
"Ehhem. Jangan lupa mingkem, nanti ileran lho," seloroh Riky.
Menyadari yang lain sedang mengulumkan senyum, Aldo menunduk sambil berdehem. Sekilas Aldo mengangkat wajah untuk sekedar melihat calon istrinya. Keduanya tersipu saat tanpa sengaja pandangan mereka beradu.
__ADS_1