My Love My Bride

My Love My Bride
Zein vs Amar


__ADS_3

Happy reading ....


Sore yang menjingga mengiringi laju roda mobil yang dikemudikan Aldo ke kediaman Meydina. Sepulang bekerja, Aldo sengaja mampir ke rumah itu.


Aldo masuk ke dalam rumah dan mendapati anak-anak sedang bermain di depan tv. Langkahnya terhenti pada pigura besar yang menampilkan wajah tuannya yang selama ini sangat ia hormati.


"Tuan ...." Lirihnya dalam hati.


"Uncle!"


"Selamat sore, semua."


"Sore, Uncle."


"Uncle mau ketemu Mami?" tanya Fatima.


"Benar, Nona."


"Uncle, kapan kita naik pesawat lagi?"


"Nona kecil ingin pergi ke suatu tempat?"


"Iya, aku ingin ke pantai. Ayo, Uncle!" ujar Fatima manja.


"Di sini juga ada pantai. Iya kan Uncle?" tanya Amar yang sedang asik dengan lego creator yang cukup rumit.


"Betul."


"Tapi aku ingin yang jauh."


"Biar naik pesawat. Iya kan, Baby?" ujar Zein.


"Iya. Mau, Uncle."


"Boleh. Bilang sama Mami ya. Pesawatnya nggak akan terbang kalau nggak dibolehkan Mami."


"Aah, Uncle gitu." Rengeknya.


"Nanti kalau kakak udah gede, Baby bilang aja sama kakak kalau mau pergi ke pantai. Kakak yang jadi pilotnya," ujar Zein sambil memutar-mutar bola di ujung jarinya (spinning).


"Janji?" Zein mengangguk pasti.


"Masih lama. Jadi pilot kan harus segede Papi. Benar kan Uncle?" ujar Amar.


"Enggaklah." Jawabnya asal.


"Kakak, aku maunya sekarang. Kalau nunggu kakak gede masih lama. Akunya juga udah gede."


"Kenapa memangnya kalau baby udah gede?"


"Fatum udah punya pacar, Kak. Gitu aja nggak tahu," ujar Amar santai tanpa menoleh.


"Nggak boleh. Baby nggak boleh punya pacar," ujar Zein ketus sambil melempar bola yang dipegangnya tepat pada lego yang sudah susah payah disusun Amar.


"Kakak! Jadi berantakan lagi." Dengan kesal Amar mengambil bola itu dan meleparkannya pada Zein, namun sang kakak berhasil menghindar.


"Uncle, berikan bolanya!" Amar terlihat kesal karena Aldo mengambil bola yang akan diambilnya.


"Tuan Muda, jangan bertengkar karena hal sepele."


"Kakak yang mulai duluan!"


"Amar yang bilang baby punya pacar!"


"Eh-eh, kenapa? Siapa yang punya pacar?" Meydina bergegas menuruni tangga mendengar kedua putranya saling memekik.


"Masih kecil, kenapa ngomongin pacar?"


"Amar yang bilang, Mi."


"Kakak ngerusak lego Amar, Mi."


Meydina menatap putranya bergantian. Menghela napas, kemudian menoleh pada Aldo.

__ADS_1


"Mereka hanya memperdebatkan hal kecil, Nona."


"Mami, aku kan mau ke pantai. Kata Uncle harus bilang dulu sama Mami. Kata Kakak Zein nanti kalau udah gede, bilang aja sama kakak. Tapi kata kakak Amar, kalau aku udah gede akunya punya pacar. Kakak Zein marah, lego kakak Amar dilempar bola. Berantakan deh, jadi Kakak Amar juga marah," jelas Fatima.


Meydina melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya lurus pada Amar dan Zein yang menundukkan kepala.


"Dengarkan Mami. Kakak, belajar untuk tidak cepat marah. Jangan suka merusak hasil kerja keras orang lain. Dan Amar, jangan asal bicara. Fatum punya Papi, punya Zein, punya Amar, jadi nggak harus punya pacar. Juga jangan mudah terpancing emosi, Sayang. Kalian harus belajar menahan amarah. Mengerti?"


"Iya, Mi," sahut keduanya pelan.


"Pak Aldo tumben ke sini. Makan malam di sini ya."


"Ada yang mau saya bicarakan, Non Mey."


Meydina mengernyitkan keningnya melihat raut wajah Aldo yang nampak malu dan ragu. Ia pun mengajak Aldo ke ruang kerja ayahnya.


"Sstt, kalau ada yang usilin kita, masa nggak boleh marah?" tanya Zein setengat berbisik pada adiknya.


"Kata Mami nggak boleh. Bilangin aja sama Uncle-uncle yang suka ngikutin kita. Sama Uncle Aldo juga boleh," sahut Amar malas.


"Ck, nggak seru," decih Zein.


"Kak, kita ikut latihan taekwondo yuk."


"Ayo. Kapan mulainya?" Zein terlihat sangat antusias.


"Tanyain aja sama Uncle Aldo."


"Oke."


"Ikut. Aku juga mau ikut taekwondo, Kak," rengek Fatima.


"Nggak boleh. Baby-kan perempuan. Ikut les piano atau balet, bukan taekwondo," ujat Zein sambil menggerak-gerakkan telunjuknya di udara.


"Ck, kakak nggak seru. Apa-apa nggak boleh," gerutu Fatima sambil berlalu ke ruang makan. Sementara Zein menoleh pada Amar yang kembali menyusun legonya.


"Mau dibantuin nggak?" Tawarnya.


"Kakak mana bisa."


"Coba aja. Iih, Kakak. Bukan di situ. Ini di sini. Lihat nih gambarnya." Amar mulai kesal karena Zein memasang seenaknya.


"Ah males. Kakak mau main sama Baby aja." Ujarnya berlalu sambil memainkan bolanya lagi.


"Bilanga aja nggak bisa," delik Amar.


"Gampang, cuma masang-masang doang."


"Kakak tuh yang bisanya cuma ngomong doang."


"Kakak lempar bola lagi nih ya."


"Mami!"


"Nggak jadi, Mi! Wlee."


***


Beberapa hari kemudian ....


Ajeng menjemput seluruh anggota keluarga Salim di bandara. Gadis itu terlihat sangat senang melihat kedatangan mereka.


"Kak Riky mana?"


"Nyusul sama Nak Andri besok," sahut Widiya.


"Paling juga pura-pura nggak tahu," sindir Salim.


"Om tahu aja," sahut Ajeng sambil tersipu.


"Itu Pak Aldo," ujar Salim.


"Ciee, Tante. Ehhem, ada yang kangen nih," goda Alena.

__ADS_1


"Selamat sore," sapa Aldo.


"Selamat sore, Pak Aldo," sahut Salim.


"Silahkan, Tante. Kita nggak akan ganggu kok," ujar Alena yang membuat wajah Salma merona.


Salma tersipu sambil menoleh pada Salim dan Widiya. Dengan anggukan kecil, Salim mempersilakan.


Keluarga Salim akan mengadakan makan malam bersama besok. Acara itu juga dimaksudkan untuk menetapkan hari pernikahan Salma dan Aldo.


Pihak keluarga sudah menyepakati bahwa pernikahan mereka akan dipercepat. Hanya tinggal menentukan hari dan tanggalnya saja.


"Apa sih?" Salma memutar bola mata malas melihat Aldo yang sedari tadi senyum-senyum tanpa bicara apa-apa.


"Terima kasih."


"Untuk apa?"


"Untuk persetujuan kamu menikah denganku."


Salma mengulumkan senyum sambil memalingkan wajahnya. Sampai saat ini ia belum bisa memastikan perasaannya terhadap Aldo. Namun ia berniat untuk menjalani dengan harapan ini lebih baik dari pada menjalani kehidupan sendiri.


***


Keesokan harinya ....


Sejak siang hari, suasana di kediaman Salim sudah terlihat sibuk. Ada Nura dan keluarga Atmadja juga di sana. Kecuali keluarga Alvin dan Rendy.


Sementara itu, Riky dan Andri berpisah di bagian depan bandara. Riky dijemput Rafael, sementara Andri dijemput oleh Kamil. Selama di kota ini, Andri akan tinggal di kosan adiknya tersebut.


"Dari tempat kerja langsung ke sini, Mil?"


"Iya, Kak."


"Jauh nggak?"


"Lumayan."


Sesampainya di tempat kos, Andri memperhatikan keadaan kamar yang selama ini Kamil tempati. Sangat sederhana, hanya ruangan dengan sebuah kamar mandi di dalam.


"Kamu kenapa nggak mau tinggal di apartemen sih?"


"Ah males, enakkan di tempat begini. Penghuninya lumayan care. Terkadang malam Minggu kita ngumpul bareng di warung depan. Kalau di apartemen, jangankan kumpul-kumpul, kenal kamar sebelah juga belum tentu," tutur Kamil sambil memberikan minuman kaleng yang diambilnya dari lemari pendingin pada Andri.


"Iya juga sih."


"Mil, ditunggu anak-anak di warung!" seru seorang pria dari luar.


"Siap. Gue mandi dulu ya."


"Oke."


"Kak Andri berangkat jam berapa?"


"Mungkin jam tujuh."


"Aku mandi dulu ya, Kak." Ucapnya sambil mencharger ponselnya yang diletakkan di meja belajar.


Andri tersenyum tipis melihat Kamil yang berjalan ke kamar mandi dengan handuk di pundak. Adiknya itu sangatlah sederhana. Menjalani kehidupan biasa walaupun sebenarnya keluarga mereka terbilang kaya.


Andri melangkah melihat-lihat setiap hal yang ada di sana. Foto-foto Kamil bersama teman-temannya terlihat sangat bahagia.


Dering ponsel Kamil mengalihkan perhatian Andri. Saat didekati, panggilan itu sudah diakhiri. Ada rasa ingin tahu yang teramat besar dalam hati Andri. Ia pun mengusap layar ponsel Kamil.


Andri tertegun, melihat foto Ajeng pada layar kunci ponsel Kamil. Dalam foto itu Ajeng nampak sedang melihat ke sisi lain berlawanan dengan kamera.


Ceklek.


Andri menoleh pada Kamil yang sedang menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Kenapa, Kak?" tanya Kamil yang heran melihat tatapan Andri padanya


"Apa maksudnya ini?" tanya Andri sambil memperlihatkan layar ponsel pada Kamil.

__ADS_1


"Sial. Kenapa gue bisa lupa sih," batin Kamil merutuki diri.


__ADS_2