
Happy reading...
Ajeng terpaku menatap sosok pria yang bergegas menyusulnya ke dalam lift. Tidak mungkin itu Kamil. Ia sudah meminta pria itu pergi dan tidak mungkin Kamil sengeyel itu.
"Huft. Hehe ...."
"Kakak belum pergi?" tanya Ajeng. Ia langsung mengusap wajah sembabnya saat menyadari Kamil sedang memperhatikan.
"Aku menunggu diusir dua kali, hehe." Sahutnya dengan dua jari terangkat di depan wajah.
Ajeng merasa kesal, namun justru senyum yang tersungging di wajahnya.
"Sekarang mau kemana?"
"Kemana aja," sahut Ajeng datar.
"Mau ke rumahku? Tadi mamaku sudah menelepon, nanyain calon mantu."
Seketika manik Ajeng membulat sempurna. Tatapan horor Ajeng tertuju pada pria yang sedang cengengesan sambil menggaruk tengkuk lehernya.
Benar-benar pria yang aneh.
***
Sedari tadi, Andri cukup kewalahan dengan tugas-tugas kantornya. Bukan hanya Riky yang tidak masuk kerja, tapi juga Risa. Sekretaris atasannya itu bahkan tidak mengaktifkan ponselnya.
"Pak Andri, punya nomer telepon dokter yang bisa visit nggak?" tanya Alena yang sengaja datang menghampirinya.
"Ada, Non. Sebentar," sahutnya. Meskipun ia sibuk, tetap saja tidak mungkin menolak Alena.
"Mbak Risa tidak masuk?" Alena berjalan ke luar untuk memastikannya lagi.
"Tidak, Non." Sahut Andri tanpa menoleh.
"Apa karena kejadian kemarin ya?" Batin Alena.
"Pak Andri, ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak usah, Non. Tenang saja, ada bagian lain yang sudah membantu saya. Oh iya, nomernya sudah saya kirim. Dokter Ine, beliau dokter langganan mama saya."
"Yakin nih? Alena beneran bisa bantu kok," ujar Alena sambil membaca pesan dari Andri.
"Tidak usah, terima kasih."
"Oke, deh. Terima kasih ya, Pak Andri."
Andri mengangguk dan tersenyum menatap kepergian Alena. Sepertinya, istirahat makan siang nanti akan digunakan Alena untuk pulang dan melihat keadaan suaminya.
***
Bunyi pintu yang terbuka, mengagetkan Riky yang sedang asik dengan laptopnya. Pria itu sudah merasa lebih baik dan memilih untuk meneruskan pekerjaan yang tertunda.
"Silahkan masuk, Dok."
"Yang ...." Riky beranjak dan menautkan kedua alisnya melihat wanita berpakaian formal yang bersama istrinya.
__ADS_1
"Kak Riky sudah baikan? Alena manggil dokter," ujar Alena pelan.
"Aku udah nggak apa-apa." Riky bersalaman dengan Dokter itu dan melingkarkan lengannya di pinggang Alena.
"Periksa aja deh ya," ujar Alena dengan tatapan memelas yang diarahkan pada Riky. Ia merasa tidak enak hati pada dokter yang tadi ditunggunya di depan lobi.
Riky merasa bingung. Pria itu mengerti situasi istrinya, namun juga tidak mau kalau harus diperiksa. Apalagi dokternya seorang wanita.
"Tidak apa-apa kalau memang sudah merasa sehat. Saya bisa kembali lagi," ujar Dokter Ine seakan mengerti apa yang ada dipikiran pasangan muda tersebut.
Riky merasa lega, namun hanya sesaat. Karena Alena buru-buru mencegah dokter tersebut.
"Tidak, Dok. Periksa saja. Soalnya saya khawatir sekali. Pola makan Kak Riky itu terjaga, tapi kok bisa asam lambungnya naik. Kira-kira kenapa ya, Dok?"
Mau tidak mau, Riky pun mengalah. Ia berbaring dan membiarkan dokter itu memeriksanya.
"Apa saja keluhan Pak Riky?"
"Sejak kemarin saya sering mmerasa mual bahkan sampai muntah-muntah. Tadi pagi juga," sahut Riky datar. Ia merasa risih saat menjelaskannya.
"Bisa lebik spesifik penyebab mualnya karena apa, Pak? Karena biasanya, seseorang yang mengalami asam lambung naik itu juga merasakan sakit kepala. Pak Riky bagaimana, kepalanya sakit tidak?"
"Enggak juga sih. Saya hanya merasa lemas. Mungkin karena muntah itu. Mmm awalnya saya merasa mual saat mencium aroma masakan yang dihidangkan di restoran siang kemarin. Ya, sepertinya karena masakan itu," sahutnya.
Dokter itu mengernyitkan keningnya. Ia lalu menoleh pada Alena.
"Nona sedang tidak datang bulan kan?"
Alena terkesiap. Tidak mengerti maksud dari ucapan dokter itu. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Alena dan Riky saling bertukar pandang. Masih belum memahami maksud dokter tersebut.
"Ada, Dok."
"Kenapa dengan istri saya, Dok? Kan yang sakit saya," tanya Riky heran.
"Apakah Pak Riky merasakan ada kram atau semacam penurunan nafsu makan? Selain mual dan muntah yang sudah Pak Riky utarakan barusan."
"Iya, Dok. Saya juga merasa heran, tidak biasanya tangan saya mudah sekali kram. Memangnya kenapa?"
"Bisa saja itu gejala sindrom kehamilan simpatik."
"Sindrom?" ucap Riky dan Alena bersamaan.
"Bukan sindrom yang menyebabkan kelainan secara fisik. Disebut sindrom kehamilan simpatik, karena yang mengalami gejala kehamilan seperti mual dan lainnya itu suami, bukan istri yang merupakan calon ibu."
"Memang ada yang seperti itu, Dok?" tanya Riky heran.
"Ada. Biasanya, semakin kuat ikatan batin suami dengan sang istri, maka gejala yang ia alami juga akan lebih intens." Sahut Dokter Ine panjang lebar.
"Jadi maksud dokter, istri saya hamil?"
"Baru kemungkinan, Pak. Untuk lebih pastinya, harus di tes urine dengan alat penguji kahamilan. Memang sebaiknya pagi hari, tapi ...."
"Sayang, cepat ambil alat itu. Kamu menyimpannya di mana?"
__ADS_1
Dokter Ine terdiam menyadari pasangan itu tidak membiarkannya menyelesaikan penjelasan. Wajahnya menyunggingkan senyum melihat Riky dan Alena yang kebingungan mengingat di mana alat itu terakhir kali diletakkan.
"Ketemu!" seru Alena senang. Saat mendapatkan teaspack itu di laci ke tiga nakasnya.
"Cepetan pake, Yang." Pinta Riky yang sudah tidak sabar. Ia mengikuti Alena sampai di depan kamar mandi.
"Kak Riky jangan ikut masuk," cegah Alena.
"Kan aku mau lihat."
"Ish, malu." Riky nyengir menyadari gerakan mata Alena mengarah pada Dokter Ine. Ia pun menunggu di depan pintu dengan perasaan tidak menentu.
"Sudah belum, Yang!"
"Sebentar!"
Riky benar-benar merasakan degup jantungnya tidak beraturan. Pria itu menengadahkan kedua tangan sambil melapalkan doa di dalam hatinya. Berharap kabar baik itu akan segera didengar olehnya.
Ceklek.
"Gimana, Sayang?" tanya Riky tidak sabar.
Raut wajahnya berubah melihat Alena yang tertunduk seperti seseorang yang kecewa.
"Tidak apa-apa, Sayang. Belum rezeki kita." Riky menarik pinggang Alena dan memeluknya. Meski berat, ia harus bisa menghibur istrinya tersebut. Ia cukup senang mengetahui Alena ternyata sudah tidak menggunakan alat kotrasepsi lagi.
"Terima kasih, Kak." Ucap Alena dengan suara terisak.
"Kita akan berusaha lebih baik lagi. Kamu jangan sedih ya," ucapnya sambil mengusap dan mengecup pucuk kepala Alena.
Alena mengangguk pelan sambil berkata, " Terima kasih sudah membuat Alena menjadi wanita yang sempurna. Alena berjanji akan menjaganya dengan sangat baik."
Riky tertegun, mencoba mencerna ucapan istrinya. Ditatapnya wajah Alena yang kini tersenyum tipis padanya. Dalam kebingungannya itu, Alena justru mengagetkan Riky dengan pekikannya.
"Taraaa!"
Tatapan Riky langsung tertuju pada garis dua dalam alat itu.
Garis dua?
Bukankah itu artinya ....
"Kamu hamil?" tanya Riky dengan raut wajah senang.
Alena mengangguk, bukan hanya sekali tapi berkali-kali.
Riky mengusap wajahnya dan kembali melihat senyum itu masih ada di wajah istrinya. Kini ia yakin, ini benar-benar nyata.
Di tangkupnya wajah Alena dan dikecupi hampir di semua sisi. Wajah Alena merona menyadari ada orang lain di kamar mereka. Pasangan itu saling memeluk erat dengan Riky yang mengusap air mata di ujung pelupuk matanya.
Air mata bahagia, setelah sekian lama menantikan buah cinta yang kini ada di rahim istrinya.
*****
Selamat ya ....😁
__ADS_1