My Love My Bride

My Love My Bride
senam hamil


__ADS_3

Happy reading ....


Perpaduan warna pink dan biru muda terlihat serasi dengan stiker lucu di setiap bagiannya. Ranjang berukuran sedang dengan ranjang bayi di sampingnya juga ada di sana.


Semua telah disiapkan sedemikian rupa untuk menyambut cucu pertama keluarga ini. Alena terduduk di tepi tempat tidur memperhatikan setiap detil ruangan itu. Bukan untuk mencari kekurangan, melainkan untuk mengalihkan rasa gugupnya mengingat hari persalinan yang semakin dekat.


"Hei, Sayang. Mama cari-cari ternyata di sini." Mama Widiya yang langsung masuk mengagetkan Alena.


"Ada apa, Ma?" Alena berdiri sambil memegangi perutnya.


"Rik! Di sini, di kamar Baby." Serunya.


"Itu loh Riky, mau ngajak kamu senam tapi kok nggak ada di kamar. Tadi dia nyari ke dapur. Senam yuk, mama temani." Ujarnya dengan antusias.


Akhir-akhir ini, Alena mau tak mau mengikuti saran dokter untuk rutin melakukan senam hamil. Salah satu tujuannya untuk mengurangi ketegangan menjelang persalinan seperti yang saat ini Alena rasakan.


Sebagai suami siaga, Riky mendukung sepenuhnya dengan ikut menemani melakukan setiap gerakan yang dilakukan. Seperti saat ini, pria itu sedang menyiapkan alas berupa matras untuk tiga orang. Juga musik yang menenangkan sebagai pengiringnya.


"Ayo, Sayang. Kamu di sini, aku di situ, mama di sana." Tunjuknya.


"Kok kamu di depan, Rik?"


"Eh, mama nggak tahu sih. Riky ini instruktur senamnya, Ma."


"Masa sih?" Mama menoleh pada Alena dan diangguki oleh menantunya itu.


"Kok bisa?" Mama Widiya menatap horor pada putranya.


"Bisa dong. Mama mau Riky ajarin?"


"Ajarin apa, senam? Enggak ah, buat apa? Mama cuma nemenin Alena aja. Play musiknya, Rik."


"Ya kali aja mama mau hamil lagi," canda Riky.


"Huss, sembarangan." Mama menepuk pundak Riky yang sedang terkekeh.


"Oke, karena mama pemula, Riky ajarkan mulai dari posisi duduknya. Siap? Pertama-tama, duduk nyaman dengan kaki disilangkan. Pastikan antara kepala, bahu, dan tulang belakang dalam keadaan lurus ya, Ma. Kemudian kedua tangan diletakkan di atas lutut dan tarik nafas dalam-dalam lewat hidung, kemudian keluarkan lewat mulut. Ingat, jangan lewat bawah keluarnya. Nanti satu ruangan ini jadi bau."


"Ish, ini anak. Malah bercanda." Alena tak dapat menahan tawanya, begitu juga dengan Riky.

__ADS_1


"Serius ah!" gerutu Mama.


"Oke-oke. Ehhem. Terusin ya, Ma."


"Eeh, kamu ini kalau instruktur beneran udah di pecat. Yang benar." Mama Widiya benar-benar merasa gemas.


"Iya. Ibu hamil bawaannya marah-marah. Hati-hati tensi naik. Yuk biar nggak marah, kita sambung lagi."


Mama Widiya mengulumkan senyum. Riky kembali memimpin senam. Ia sudah mengingat gerakannya karena berkali-kali melihatnya di video, juga sering melakukannya dengan Alena di kamar mereka.


Mama mengikuti setiap gerakan walau masih kaku. Sesekali ia menoleh pada Alena yang terlihat tenang saat melakukannya.


"Gerakan selanjutnya, masih dalam posisi merangkak ya. Punggung kaki menyentuh matras, angkat kaki kanan sejajar tulang belakang dan tahan 4-5 detik, lalu turunkan. Atur nafas, kemudian berganti dengan kaki kiri. Lakukan sebanyak delapan kali." Intruksinya.


Riky menghentikan gerakan untuk memastikan Alena tidak kesulitan.


"Yups! 1, 2, 3, 4, 5, turunkan. Atur dulu nafasnya, Sayang. Baru kaki satunya lagi. Oke, tahan ...."


"Mama dong, Rik. Jangan pilih kasih," gurau mama.


"Ibu ada suaminya? Lain kali didampingi suami ya, Bu." Riky menanggapi menanggapi gurauan mamanya.


"Dasar kamu ya." Mama terkekeh sambil mendorong pelan bahu Riky. Ibu dan anak itu terkekeh begitu juga dengan Alena.


"Kenapa, Sayang?" Riky dan mama terlihat cemas. Riky segera mendudukkan Alena dan mengusap-usap punggungnya.


"Sudak kontraksi? Rik, siapkan mobil."


"Belum, Ma. Masih kontraksi palsu," sahut Alena pelan.


"Atur nafas, Sayang. Biar rileks."


"Kamu sih, bercanda terus," gerutu Mama.


"Besok mama jangan ikutan ah. Riky malu, jadi bawaannya pengen bercanda." Kilahnya.


"Huuu, Mama juga kan mau. Biar rileks," sahut mamanya.


"Yakin nggak mau sekarang, Len?"

__ADS_1


"Enggak, Ma. Nanti aja kalau kontraksinya udah intens."


"Oke. Senamnya mau dilanjutkan apa mau sarapan?"


"Sarapan aja deh ya?" Alena mengangguk sambil merasakan lagi kontraksi di perutnya.


Mama pamit ke dapur, sedangkan Riky mengusap-usap kaki istrinya. Kemudian mereka pun beranjak untuk sarapan.


Di teras belakang, celotehan Salim dan Paijo selalu mewarnai pagi. Terkadang Widiya kesal karena merasa di nomerduakan.


"Jo, nanti kalau cucuku sudah lahir, kamu jangan berisik ya. Awas kamu kalau manggil dia jelek, seperti panggilan kamu ke Alena. Bisa-bisa kamu bapak jual. Mau?"


"Cu, cucu, cu ..."


"Kamu pinter, Jo. Biar nggak dijual ya?" Deliknya.


Widiya mengulumkan senyuman. Itu salah satu hiburan Salim-suaminya. Jika tidak begitu, Salim pastilah merasa jenuh. Terlebih, Widiya sendiri yang melarang Salim ikut bisnis-bisnis yang akan menguras pikiran dan tenaga.


Mereka ingin menikmati hari tua. Tinggal menunggu sampai hari persalinan Alena tiba. Setelah itu, rumah ini akan diramaikan oleh canda ria cucu mereka.


***


Langit nampak cerah, warna birunya berpadu indah dengan awan putih yang mengelayut manja.


Dari teras belakang rumah, Alena memperhatikan itu semua. Dari arah dapur, terdengar suara Mama Widiya yang sedang mengobrol sambil menyiapkan menu makan siang bersama ARTnya.


Sesekali wajah Alena nampak meringis. Sambil mengusap-usap perutnya, Alena bergumam, "Kontraksinya semakin sering dan juga lama. Apa aku akan melahirkan hari ini?"


"Aah ... aww." Alena mencoba untuk berdiri sambil berpegangan pada kursi. Namun rasa sakit memaksa ia duduk kembali.


"Ma!" Pekiknya pelan sambil menahan rasa sakit.


Entah Alena menyadarinya atau tidak, Paijo terlihat gelisah. Burung kesayangan Salim itu terus saja mengoceh.


"Cu, cucu, cucu, cu ...."


"Berisik, Jo. Mama nggak akan dengar panggilanku," ringis Alena.


Widiya mungkin tak acuh dengan suara Paijo. Lain halnya dengan Salim.

__ADS_1


Mendengar Paijo yang tak biasanya mengoceh di siang hari, Salim bergegas menuju ke teras belakang. Melihat Alena yang sedang meringis, cepat-cepat Salim berteriak memanggil Widiya.


"Kamu masih kuat berjalan, Sayang? Ma, cepat ke sini! Eh-eh kamu, bilang sama supir siapkan mobil," titah Salim pada pelayan yang menghampirinya.


__ADS_2