
Happy reading ....
Sepeninggal anak-anak, Alvin dan kedua menantunya, Salman berlalu ke kamar. Dari balkon kamarnya, terlihat Meydina yang masih setia berada di taman bunga milik Anita. Meydina terduduk sambil mengobrol dengan pelayan wanita yang sedang mengganti media pot untuk beberapa anggrek tersebut.
Salman tersenyum saat bayangan Anita sekilas terlihat di sana. Ia terkesiap saat melihat Anita tersenyum pada dirinya.
"Ayah!" Seruan Meydina mebuyarkan lamunan Salman. Salman tersenyum dan membalas lambaian tangan putrinya.
Salman berbalik, melangkah meningglkan balkon itu. Tiba-tiba saja raut wajahnya meringis seperti sedang menahan rasa sakit.
Berkali-kali ia mengatur nafasnya. Rasa sakit di bagian dada membuat Salman meremas baju yang dikenakan dan merintih pelan.
Sambil tertatih, Salman melangkah perlahan menuju sofa. Ia meraba dinding untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Tidak seperti biasanya, rasa sakitnya semakin menjadi. Jangankan bergerak, menghela nafas pun terasa ada yang menusuk di bagian dada.
Salman menatap nanar ke arah pintu kanarnya, berharap ada seseorang yang membukanya.
"Anita, mungkinkah waktuku sudah semakin dekat?" Batinnya.
Disandarkannya punggung rentanya sambil menahan rasa sakit. Menatap kosong pada langit-langit kamar dengan mata yang berkaca-kaca.
***
Hari mulai sore, Meydina merasa sudah lebih dari cukup berada di tempat itu. Tempat yang selalu jadi favorit almarhum ibunya.
Meydina berjalan menuju dapur. Sekilas ia memandangi seisi rumah. Sepi, anak-anak dan ayah mereka sedang beroffroad-ria bersama putra Paman Ahmed. Sedangkan Amiera dan Laura, menghabiskan waktu mereka dengan belanja.
"Teh Tuan sudah siap?" tanya Meydina pada seorang pelayan.
"Sudah, Nona."
"Biar saya saja yang mengantarkannya."
Meydina membawa nampan berisi teh herbal kesukaan Ayah Salman. Sambil melangkah ia bergumam, "Apa teko ini lebih besar? Kok rasanya agak berat."
Di depan pintu kamar Ayah Salman, Meydina hanya mengetuk sekali. Bukan hal yang aneh jika tidak ada jawaban dari dalam kamar.
__ADS_1
"Ayah ...."
Suara Meydina yang nyaring menggema di dalam kamar. Tatapan istri Malik itu langsung tertuju pada sosok ayahnya yang terduduk di sofa.
"Ayah tidur?" tanya Meydina lembut.
"Yah, kok tidur di sini? Pindah yuk," ucap Meydina sambil meletakkan nampan di atas meja.
Meydina terduduk di samping Ayah Salman yang bersandar dengan mata terpejam. Meydina tersenyum tipis dan bepikir ayahnya teramat mengantuk hingga malas untuk beranjak dari duduknya.
"Yah, nanti pegal lho. Meydina bantu berdiri ya, kita pindah ke kasur." Ujarnya.
Senyum itu seketika sirna. Manakala tangan Meydina yang menggenggam tangan ayahnya merasakan ada yang berbeda.
Tangan ayahnya terasa sangat dingin. Apa karena pendingin udara yang memang selalu menyala?
Meydina mulai terlihat panik. Berkali-kali ia mengusap wajah ayahnya agar terbangun, namun Ayah Salman tak memberikan respon apa-apa.
"Tidak. Ini tidak mungkin," gumam Meydina sambil mengusap air mata yang berderai begitu saja.
Meydina berlari ke arah nakas. Menekan tombol darurat yang langsung tertuju pada nomer Paman Said.
"Ada apa dengan Salman, Mey?"
"Ayah ...." Meydina terisak, tidak sanggup berkata-kata.
"Aku akan ke rumah, bersama Ahmed juga. Tenanglah, Mey."
Meydina tak bisa berucap apa-apa lagi. Ia menjatuhkan gagang telepon begitu saja dan berlari menghampiri ayahnya.
"Yah, bangun. Kita akan ke rumah sakit. Sebentar ya, Mey ambilkan baju hangat ayah."
Meydina merasakan dadanya teramat sesak. Saat mengeluarkan satu baju hangat milik ayahnya, kakinya yang terasa lemas membuatnya bersimpuh di lantai. Diremasnya baju hangat itu sambil menyembunyikan wajahnya yang terisak sangat kuat.
Meydina mencoba untuk tetap sadar. Diambilnya baju hangat yang lain untuk mengganti baju hangat yang basah oleh air matanya.
"Yah, tahan sebentar ya. Paman akan segera datang."
__ADS_1
Kalimat Meydina terasa tersekat di tenggorokan. Ia baru mamasukkan sebelah tangan Ayahnya ke dalam lengan baju hangat itu. Tak kuasa dengan rasa dalam dadanya yang teramat sesak, sambil memeluk Ayah Salman, tangis Meydina pun pecah.
Said dan Ahmed bergegas masuk ke kamar Salman. Mereka terkejut mendapati Meydina menangis sejadi-jadinya.
"Mey, apa yang terjadi?" Ahmed berlari mendekati dan langsung memegang bagian tubuh Salman. Adik Salman itu menatap penuh tanya pada Said, sepupunya.
"Hubungi Alvin. Minta mereka menyusul ke rumah sakit," titah Said.
Dengan raut wajah panik, Ahmed berjalan ke luar dan memanggil beberapa pelayan pria untuk membantu Said menempatkan Salman di tempat tidur yang akan dibawa ke rumah sakit.
Sebuah blankar khusus sudah disipakan untuk keadaan darurat seperti ini. Juga kendaraan yang akan membawanya.
"Paman, Ayah baik-baik saja kan?" tanya Meydina menyela apa yang sedang dilakukan Said.
"Berdolah, Sayang. Semoga masih bisa diupayakan." Sahutnya.
"Mobilnya sudah siap?" tanya Said pada pelayan pria yang baru datang.
"Sudah, Tuan."
"Kalau begitu kita akan membawanya. Ayo!"
Langkah cepat Said masih kalah cepat dengan degup jantung Meydina. Tubuhnya terasa lemas, namun ia harus menyusul ayahnya ke rumah sakit.
"Ayo, Mey. Kita akan juga akan ke rumah sakit."
Ahmed membantu Meydina dan menguatkannya. Mereka mengikuti mobil yang membawa Salman ke rumah sakit.
"Ayah akan baik-baik saja kan, Paman? Mey siap bila harus mendonorkan darah untuk ayah sebanyak apapun juga. Mey mohon paman, pastikan ayah tidak apa-apa." Isaknya.
"Tenanglah, Mey. Tim Dokter akan melakukan yang terbaik. Kita hanya bisa pasrah dan berdoa."
"Bagaiamana Mey bisa tenang paman, tadi ... Ayah baik-baik saja. Ayah tertawa melihat anak-anak memetik kurma. Ayah bahkan berjanji membelikan mobil offroad untuk Zein dan Arka. Ayah juga melambaikan tangannya pada Mey dari balkon kamar. Ayah tadi baik-baik saja paman.... Mey tidak bohong." Isak Meydina seketika menggema di dalam mobil Ahmed.
Ahmed menahan perasaannya agar tidak meneteskan air mata di depan Meydina. Diusapnya punggung Meydina dengan lembut. Tangisan Meydina terasa mengiris hatinya. Gadis kecil yang dulu selalu ingin digendong olehnya ini sedang berduka.
Dering telepon berbunyi. Sambil mengemudi, Ahmed menerima satu persatu panggilan dari anggota keluarga Al-Azmi yang menanyakan kabar kakak tertua mereka.
__ADS_1
Ahmed menoleh pada Meydina yang menahan isakan kerena dirinya yang sedang berbincang. Bayangan Salumi sekilas melintas. Salumi kecil yang menangis merindukan dekapan Salman, berganti dengan Meydina yang menangis karena mengkhawatirkan ayahnya.